Chapter 21: Part 20

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 8505

"WAJAHMU jauh dari kata tampan kalau kau selalu menekuknya seperti ini, Tuan Muda Lee Minhyung."

Jeno berkomentar dengan dagu bertumpu di atas mejanya. Aksi mengelabui Na Jaemin dengan pergi selekas mungkin ke kantin, bersembunyi di toilet hingga sosok itu menghilang, lalu kembali ke dalam ruang kelas dan menikmati makan siang di sana bersama sahabat sehidup sematinya itu berhasil. Ia berterima kasih banyak kepada internet yang memberinya saran.

Di hadapan pemuda bersurai hitam itu, Mark duduk dengan sekotak kimbap tuna di atas pangkuannya.

Anak ini makan seperti perempuan saja. Rapi, batin Jeno dalam hati.

"Jangan memanggil ku dengan nama sialan itu. Aku membencinya," Mark berujar dengan mulut penuh kimbap. "Lebih baik kau diam saja."

"Baiklah, maaf."

Jeno tidak berani berkutik jika sahabatnya itu sudah bersabda. Mark memang bermulut kasar, tetapi ia bukan tipe orang yang cepat tersulut emosinya. Jika pemuda itu sudah terlanjur marah, maka ia akan berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan—seperti buto ijo.

Tetapi, tiba-tiba saja pemuda itu memanggil sosok di depannya.

"Jeno. Lee Jeno."

Yang terpanggil menoleh.

"Apa yang kau rasakan terhadap sosok tengil bernama Na Jaemin itu?"

Jeno melongo. Jarang sekali ia melihat sisi Mark yang seperti ini. Tidak normal menurutnya. Sebab Mark pada hari biasa tidak akan pernah bertanya dengan pandangan mengarah ke luar jendela, memperhatikan dedaunan yang jatuh dan gugur dari rerantingannya.

"Apa yang kau rasakan?" Pemuda itu mengulang pertanyaannya.

"Eh? Tentu saja, benci!" Jeno menjawab dengan mantap. "Bayangkan saja—diekori setiap hari tanpa diberikan kelonggaran. Dikuntit hingga pemuda itu tahu dimana letak rumahmu dan berkata jika rumahmu tidak terlalu jauh dari miliknya sehingga ia akan bersedia mendatangi rumahmu kapanpun ia mendapat waktu senggang! Kau akan muak jika setiap hari mendapatkan perlakuan menyebalkan yang sama!"

Mark membulatkan mulutnya, beralih memandang sahabatnya dengan bertopang dagu.

"Benci dan cinta itu beda tipis, Jen."

Pemuda itu segera melotot ke arah Mark yang kini bersiul ria.

"Jangan sok menggurui ku!" Bentaknya. "Kau tidak pernah merasakan apa itu cinta. Pacaran apa lagi. Karena itu, jangan pernah sok menggurui ku jika pada kenyataannya kau belum pernah mengalami hal tersebut—"

"Justru aku mau menanyai hal yang sama kepadamu, Lee Jeno."

Mark menghela nafas, bersiap-siap menerima segala bentuk cemooh yang Jeno lontarkan kepadanya.

"Cinta itu," ia mendekatkan wajahnya ke arah Jeno. "Bagaimana, 'sih?"

Pemuda bermata sipit itu segera tertawa. Ia tahu jika sosok penerima penghargaan sebagai peringkat pertama seantero sekolah seperti Mark ini juga memiliki kelemahan. Namun, Jeno tidak tahu jika kelemahan yang ia bicarakan itu berupa keluguan dalam hal perasaan.

Kasarnya, Mark itu bodoh dan dungu mengenai hal tentang cinta.

"Sahabatku yang lugu dan—"

"Aku tidak lugu!"

"Baiklah, sahabatku yang tampan dan menggemaskan," Jeno tersenyum. "Rupanya kau sedang jatuh cinta."

Semburat merah mulai menyebar di sekujur wajah Mark.

"Aku tidak sedang jatuh cinta!" Pemuda berdarah separuh Kanada itu memberontak ketika Jeno beralih memeluknya dengan wajah yang menggelikan. "Minggir kau, Jeno! Aku hanya bertanya kepadamu apa itu cinta—bukan mengatakan jika aku sedang mengalami jatuh cinta!"

"Baiklah, baiklah."

Jeno tertawa lagi sebelum ia mengalah dan menunjukkan wajah serius di hadapan Mark yang tampak putus asa.

"Cinta itu sebuah perasaan ketika dua belahan jiwa merasa tertarik dengan satu sama lain," jawabnya. "Kau merasa nyaman jika kau berada di sebelah orang tersebut. Kau merasa ingin melindungi sosoknya setiap saat seolah ia adalah barang pecah belah. Kau merasa ingin membuatnya terus bahagia dan tersenyum setiap hari."

Ia menepuk pelan pundak Mark.

"Shakespeare berkata jika cinta itu buta. Dan orang yang tengah mencintai tidak dapat melihatnya."

"Ya, ya. Seperti Jeno terhadap Jaemin," Mark menimpali.

"BRENGSEK!"

Kemudian, keduanya tertawa beriringan. Sudah lama mereka tidak bersenda gurau seperti ini. Sejak pengumuman mengenai olimpiade fisika itu beredar di awal semester lalu, Mark sedikit banyak menjauh dari Jeno dan ia terus-menerus belajar hingga lupa bagaimana asyiknya bersenda gurau.

Seperti nostalgia saja.

"Mark," tiba-tiba Jeno memanggil.

"Jika kau mencintainya,"

Ia tersenyum.

"Maka jangan sampai kau membuatnya menangis lagi."

***

PEMUDA itu berlari di sekeliling lapangan. Berusaha menyeimbangkan kecepatannya dengan anggota kelas lainnya yang mengikuti sesi marathon bersamanya pada saat mata pelajaran olahraga berlangsung saat ini.

PRIIIIT!

Peluit dibunyikan oleh sang guru olahraga merupakan pertanda jika mereka telah melalui satu putaran. Kini, kesepuluh orang dalam satu sesi yang sama tersebut harus menyelesaikan lima putaran lagi sehingga genap sepuluh putaran sesuai dengan ketentuan penilaian yang telah ditetapkan sebelumnya.

Mark sudah tidak dapat bernafas dengan benar sehingga ia memutuskan untuk berhenti sejenak. Tangannya ia letakkan di atas lutut sehingga tubuhnya membungkuk.

Pemuda itu memejamkan kedua matanya sehingga apa yang tampak hanya berwarna hitam legam.

Tiba-tiba saja—

"Kau selalu membayangkannya tersenyum bahagia, merasa ingin melindungi senyum tersebut."

Mark menggelengkan kepalanya.

Perkataan Jeno terulang di dalam benaknya beserta bayangan seorang pemuda manis yang tengah tertawa akibat guyonan para temannya.

Berusaha menghilangkan pikiran tersebut, Mark kembali menggeleng dan menegakkan tubuhnya kembali. Beberapa temannya beralih mengomelinya sebab membuat mereka harus menunggu pemulihannya yang cukup mengganggu proses pengambilan nilai.

"Ya, ya! Tunggu sebentar!"

Kemudian, Mark kembali berlari.

Lima belas menit berlalu dan sepuluh putaran berhasil mereka lalui dengan cukup mudah. Sesi satu berakhir dan dilanjutkan dengan tiga sesi berikutnya yang berlari secara bergilir. Sebagai apresiasi dari usaha setiap anggota kelompok marathon sesi pertama, sang guru mempersilahkan mereka untuk kembali ke ruang ganti lebih dahulu dan bersantai di ruang kelas.

Beberapa temannya merangkul pundak Mark. Tetapi, sentuhan di sekitar lehernya itu hanya membuat pemuda tersebut berpikir lain.

"Kau menginginkan sentuhan lain darinya dan kau menemukan rasa nyaman kala melakukannya."

Perkataan Jeno kembali terulang di dalam benaknya. Lagi-lagi, beserta bayangan seorang pemuda manis yang tengah menggandengnya erat sembari mengaitkan kesepuluh jemari milik keduanya dan tersenyum lebar ke arahnya.

Sontak, Mark menepis lengan milik temannya dan membuat pemuda di sebelahnya itu sedikit terkejut.

"Kenapa kau, Mark?"

"A-ah, maaf!"

Baru saja ingin menyingkirkan seluruh perkataan yang dilontarkan oleh Jeno dalam benaknya, satu kalimat lagi muncul beserta dengan gambaran seorang pemuda merajuk kepadanya dengan bibir mengerucut.

"Kau merasa tidak tenang ketika ia melihatmu bersama orang lain, seolah kau tidak ingin meninggalkannya sendirian."

Mark mengerang. Ia berlari menuju ruang ganti, meninggalkan beberapa temannya di belakang dan membuat mereka bertanya-tanya sendiri—apa yang salah dengan sosok anak penerima peringkat pertama itu?

Sungguh, Mark sudah tidak peduli.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tenggelam dalam semburat rona merah dan rasanya sangat panas di dalam sini.

"Dan ketika kau memikirkannya, wajahmu akan merona."

Mark tidak dapat memungkiri jika wajahnya merona hanya karena memikirkan sosok pemuda manis yang sama di dalam benaknya.

Pemuda yang menemaninya belajar di malam hari selama masa karantina berlangsung walaupun ia memaksanya untuk tidak mengikuti. Pemuda yang selalu ia manfaatkan keluguannya disaat ia perlu. Pemuda yang menggemari buku fiksi ilmiah dan percaya terhadap apa yang ditulis di dalam sana. Pemuda yang tinggal dan besar di Busan. Pemuda yang menampar balik kehidupannya serta membuatnya membuka mata akan kesalahan yang telah ia perbuat. Pemuda yang sempat bertengkar dengan dirinya di bandara sehingga tertinggal penerbangan dan kini harus tinggal di kediamannya. Pemuda yang kemarin malam tertidur pulas di dalam dekapannya. Pemuda yang memilihkannya sandal kamar berkepala paus beluga.

Pemuda manis yang mampu membuat wajahnya merah merona.

"Jika semua itu benar, maka selamat—kau sedang jatuh cinta."

Mark menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah sebelas dua belas dengan kepiting rebus.

Detik itu pula, ia menyadarinya—

"Aku... harus bagaimana?"

Ya, seorang Mark menyukai Haechan. []

***

© Rayevanth, 2019