JENO tidak pernah menyangka jika sahabat sehidup sematinya itu memiliki sisi lain dalam dirinya selain pribadinya yang gila belajar.
Pemuda itu meninggalkan Mark sendirian di dalam kelas untuk sesaat sementara kedua tungkai jenjangnya membawa tubuhnya pergi menjauhi kelas dan beranjak ke toilet yang untungnya terletak tidak begitu jauh dari ruang kelas milik keduanya. Sewaktu pemuda berdarah separuh Kanada itu bercerita mengenai perasaannya, tiba-tiba saja Jeno merasa ingin buang air kecil. Jadi, dengan terpaksa ia harus menghentikan cerita Mark dan pergi ke toilet guna menuntaskan urusannya saat itu juga.
Perjalanan menuju toilet hanya mengambil waktu lima menit.
Tetapi, sial.
Jeno justru berpapasan dengan Jaemin di sudut kanan koridor.
Pemuda bermata sipit itu sudah bersiap-siap untuk menghindar dari serangan maut yang akan menghampirinya. Bahkan Jeno memojokkan dirinya pada sisi koridor yang tersusun atas jendela-jendela besar. Wajahnya mengernyit, mencoba untuk menghindar dari segala sesuatu bentuk serangan yang akan segera ia dapatkan.
Ketika ia menutup kedua matanya, Jeno berpikir jika sesuatu akan terjadi.
Namun, tidak.
Jaemin hanya berjalan melaluinya. Pemuda manis itu bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arahnya. Alih-alih mengenakan kontak lensa berwarna cokelat seperti biasa, saat ini ia justru membiarkan kacamata berbingkai kotaknya bertengger di atas batang hidung bangirnya. Surai hitamnya tidak tertata rapi dan ia jelas terlihat tidak baik-baik saja.
"Oof, rare situation," Jeno bergumam.
Pemuda itu menghela nafas dan kembali berjalan menuju toilet.
Baguslah. Ia sedang tidak ingin diganggu oleh Jaemin saat ini. Tidak bisakah Jeno membiarkan lengannya terbebas dari pelukan pemuda itu untuk satu hari saja? Bahkan kalau bisa untuk selamanya. Agar ia tidak merasa pegal setiap hari.
Tetapi, tetap saja.
Jeno menoleh ke arah belakang.
Ke arah sosok yang kini berjalan menjauhinya dengan langkah gontai dan tangan yang sesekali mengusap matanya dengan ujung jari telunjuk.
Jeno mengernyit heran. Hari ini Na Jaemin tidak seperti biasanya. Bukan seperti bocah tengil yang ia kenal gemar sekali mengikutinya ke sana dan kemari dengan tangan bergelayut manja di lengan kekar Jeno.
Pemuda itu menggeleng.
"Ada apa, 'sih, dengan dia?"
âââ
SUDAH dua hari berlalu sejak kejadian di koridor lantai dua itu.
Jeno menghela nafas.
Sudah dua hari juga Jaemin tidak mengikutinya kemanapun ia berada.
Tidak. Pemuda itu bahkan tidak meliriknya sama sekali. Menolehkan kepalanya pun tidak. Apalagi memanggil namanya dengan ribuan panggilan aneh yang ia miliki. Bergelayut manja di lengan pemuda yang lebih tua itu. Mencolek pipinya sambil menjerit gemas. Menguntitnya hingga sepulang sekolah. Mengantar pemuda itu walau tidak diminta.
Tidak.
Jaemin tidak melakukannya.
Satu pun tidak.
Hal itu tentu saja membuat Jeno bertanya-tanya di dalam hati. Mengapa setiap kali ia berpapasan denga Jaemin, pemuda manis itu selalu tidak menaruh atensi padanya? Bahkan menganggapnya hidup saja mungkin tidak ia lakukan.
Seperti saat ini.
Ketika Jeno tengah berjalan menuju kafetaria sekolah. Jelas-jelas ia berpapasan dengan Na Jaemin yang berjalan sendirian tanpa Renjun atau Chenle mendampinginya. Pemuda itu masih menggunakan kacamatanya. Tetapi, ia berjalan melewati Jeno seolah ia tidak bisa melihatnya.
"Oi, Na Jaemâ"
Keramaian di sekelilingnya membuat Jeno kehilangan sosok Jaemin di tengah kafetaria yang penuh akan lautan para murid yang kelaparan.
Pemuda itu berdecak.
Ia memperlambat laju jalannya. Beruntung, ia sudah menikmati sarapan pagi ini sehingga ia tidak merasa terlalu lapar. Kalau boleh jujur, ia hanya ingin membeli sekotak susu pisang di kafetaria. Tidak ada niatan untuk membeli hidangan utama sama sekali hari itu.
Tiba-tiba saja, ia bertemu Renjun.
"Huang!" Panggilnya, membuat pemuda berdarah Tiongkok itu menoleh dan membungkuk kecil ke arahnya. "Sudah berapa kali ku bilangâaku bukan senior yang gila hormat. Tidak usah membungkuk begitu."
Renjun terkekeh. "Kalau begitu, ada yang bisa ku bantu, hyung?"
"Kau tahu apa yang terjadi dengan Na Jaemin si bocah tengil?" Jeno berdecih. "Beberapa hari ini ia tidak menemuiku. Menoleh saja tidak."
Perlahan namun pasti, Renjun mengangkat kedua buah bahunya. "Aku tidak tahu apa-apa tentang itu," jawabnya ragu. "Kenapa kau tidak tanya saja sendiri padaâ"
"Ogah."
Renjun menghela nafas. Bergaul dengan Mark si pemuda Kanada itu lambat laun membuat Jeno menjadi senior yang menyebalkan juga.
"Lantas jika begitu, seharusnya kau senang bukan? Tidak ada lagi yang mengusilimu dan membuatmu risih."
Raut wajahnya tiba-tiba saja berubah. Jeno sangat tidak suka mendengar Renjun berkata seperti itu.
Tetapi, belum sempat ia melayangkan protes kepada pemuda berdarah Tiongkok tersebut, Renjun sudah terlebih dahulu beranjak pergi meninggalkannya dan beralih menyusul kekasihnya yang tengah bersenda gurau dengan seorang pemuda Jerman menyebalkan.
Jeno berdecih. Suasana di sekelilingnya semakin membuatnya kehilangan selera makan.
"Aku kembali saja keâ"
Sesaat setelah pemuda itu memutar badannya, ia bertemu dengan Jaemin yang tengah membawa segelas tteokbokki dengan tingkat kepedasan ter-rendah di tangan kanannya.
Keduanya sempat bertemu pandang sejenak sebelum Jaemin memutusnya.
Keringat dingin turun dari pelipisnya. Tangannya gemetar, nyaris menjatuhkan segelas kue beras saus pedas yang ia beli di salah satu penjual makanan di kafetaria. Kakinya ia gunakan untuk berjalan selekas mungkinâtidak menaruh perhatian sama sekali kepada Jeno yang mengikutinya di belakang.
Dengan sekali usaha, pemuda bermata sipit itu berhasil meraih tangan kiri Jaemin dan menariknya.
"L-lepaskan!"
Jaemin meronta heboh. Ia mencoba memberontak agar Jeno kewalahan dan melepas genggamannya. Tetapi sayang, ia melupakan fakta jika pemuda itu merupakan anggota dari ekstrakurikuler basket dan tenaganya berkali-kali lipat lebih kuat ketimbang Jaemin yang hanya bermodal olahraga dalam kamar.
Jeno pun berhasil membawaâlebih tepatnya, menyeretâJaemin menuju salah satu toilet pria terdekat.
Setelah memastikan jika toilet itu sepenuhnya kosong dari para murid, Jeno mendorong tubuh pemuda manis di hadapannya hingga Jaemin tersentak. Punggung pemuda itu bertubrukan dengan dinding toilet yang terasa begitu dingin.
"Kau aneh."
Sebelum Jaemin sempat memberontak pergi dari hadapannya, Jeno sudah mengurungnya terlebih dahulu di bawah kungkungannya.
"Kau terlalu aneh."
Jaemin berdecak. "Permisi. Aku sedang tidak berminat berbicara denganmu maupun melihatmuâ"
"Kau menghindariku?"
Pemuda manis itu meneguk ludahnya sendiri, merasa gugup seketika. "T-tidak. Tidak sama sekali!" Bantahnya. "Kau saja yang sering berprasangka buruk terhadapku!"
Jeno berdecih. "Terus saja bohong."
"Aku tidakâ" Jaemin berhenti berbicara ketika Jeno menatapnya dengan tajam. "âbaiklah, aku bohong. Aku menghindarimu."
"Jelaskan."
Ugh.
Jaemin benci ini.
Ia benci ketika Jeno berhasil mendominasinya. Ketika pemuda bermata sipit itu menyuruhnya untuk melakukan sesuatu, ia pasti akan menurut. Ketika pemuda itu menginginkan sesuatu, ia pasti akan berusaha mewujudkannya.
Mengapa? Karena Jaemin selalu lemah di hadapan Jeno.
"Eung, h-habisnya," pemuda manis itu mulai menjatuhkan air matanya. Beberapa kali ia sempat menahannya karena tidak mau dianggap cengeng dan lemah. Tetapi, persetan dengan hal tersebut. Ia tidak ingin pulang dengan mata bengkak akibat menahan tangis terlalu kuat.
"H-habisnya, kau bilangâhiksâaku menyebalkan," ia menjawab. "Kau bilang k-kau benciâhiksâketika aku mengikutimu. K-karena kau tidak suka, aku berhentiâhiksâmengikutimu saat itu juga."
Jaemin menggigit bibirnya agar tangisannya tidak semakin pecah.
"A-aku menyukaimu, Lee J-Jeno."
Tetapi justru setelah ia menyatakan perasaannya, tangisan Jaemin semakin menjadi-jadi. Pemuda itu tidak kuasa menahan diri untuk mengeluarkan segala uneg-unegnya.
"Terserah kau mau panggil aku bodoh! Terserah kau mau memaki aku lagi! Terserah! Aku hanya ingin kau tahu jika aku benar-benar menyukaimu, Lee Jeno! Aku tidak berbohong kali ini. Kau harus tahu jika aku benar-benar sukaâ"
"Ikuti aku."
Jaemin berhenti menangis ketika Jeno mendekatkan wajahnya. Pemuda itu membuatnya merasa geli ketika ia menghembuskan nafasnya tepat di depan telinganya yang kini tenggelam dalam rona merahâhal yang sama rupanya terjadi pula di pipinya.
Tetapi, ia kembali berseru sakit ketika Jeno mendorongnya ke dinding.
"Ikuti aku!" Ujarnya. "Ikuti aku jika kau memang mau! Pegang tanganku jika kau memang mau! Peluk aku jika kau memang mau! Silahkanâaku tidak masalah! Lakukan segala sesuatu yang kau mau, Jaemin!"
Belum sempat Jeno selesai memarahinya, Jaemin sudah mendorong tubuh milik pemuda kekar itu ke bawah sehingga keduanya berada di posisi yang cukup ambigu jika dilihat dari berbagai sudut.
"Boleh melakukan semuanya?"
Jeno kehilangan keseimbangan ketika Jaemin menarik dasinya secara tiba-tiba. Pemuda itu bergegas mempertemukan bibirnya dengan miliknya sendiri, membuat Jeno membelalakan matanya.
Pada awalnya, kecupan itu tulus.
Hanya ada perasaan yang cukup kentara di dalamnya. Tidak ada lumatan. Tidak ada gigitan. Tidak ada desahan yang terdengar saat itu.
Tetapi, semua hal mendadak berubah ketika Jaemin merasa tidak nyaman dengan posisinya dan memilih untuk mendudukkan dirinya di atas pangkuan Jeno yang terkejut.
Tiba-tiba saja ciuman itu memanas.
Pada awalnya, Jaemin mencoba untuk membuka mulutnya dan memulai permainan terlebih dahulu. Tetapi, Jeno mengambil alih dan mendominasi ciuman tersebut sehingga pemuda manis di hadapannya itu kewalahan. Ia memukul pelan dada Jenoâmemberi kode jika ia mulai kehabisan nafas.
Keduanya pun berakhir dengan deru nafas yang tidak beraturan.
Jeno melepas pagutannya terlebih dahulu. Kemudian, pemuda bermata sipit itu memandang ke depan.
Na Jaemin.
Pemuda yang selalu membuatnya risih akibat perilakunya yang menyebalkan. Pemuda yang selalu membuatnya gemas akibat tingkahnya yang selalu membuat orang penat. Pemuda yang ia ketahui sebagai sosok yang menaruh minat padanya selama lebih dari tiga tahun.
Dan, kini?
Pemuda yang baru saja menciumnya dan memberikannya pandangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kalimat.
Wajahnya merah. Matanya menatap sayu. Mulutnya terbuka, tampak sebuah benang saliva entah milik siapa. Bibirnya membengkak, nyaris terluka. Sejujurnya, wajahnya merupakan definisi sempurna dari sosok pemuda manis yang banyak digemari baik pria maupun wanita liar di luar sana. Tidak tahu saja Jeno jika dirinya memiliki keuntungan luar biasa dimana tanpa usaha sekecil apapun, Na Jaemin yang manis sudah menaruh minat kepadanya.
"Jadi, Jeno," tiba-tiba saja mulut mungilnya berbicara. "Kau suka pada ku... atau tidak?"
Setelah berkata seperti itu, Jaemin menutup wajahnya. "Tidak, tidak, tidak. Aku belum siap jika ternyata kau tidak menerimaku dan justru menjauhiku, menolakku, atauâ"
"Dengan apa yang kita lakukan tadi, bukankah kau dapat menyimpulkan jawabanku, Na Jaemin?"
Saat itu juga, pemuda manis tersebut berseru nyaring. Bersorak atas keberhasilannya memikat hati seorang pemuda dingin bernama Lee Jeno selama lima tahun belakangan.
"Lain kali, akan ku buat kau mengakui perasaanmu padaku!"
Jeno mengernyit. "Heh? 'Kan sudah?"
"Maksudku, membuatmu berkata jika kau mencintai ku seumur hidup dan berjanji akan membuatku senang, bla bla bla," Jaemin berkata dengan ekspresi yang dibuat-buat, membuat Jeno tidak tahan untuk tidak mengambil tangan pemuda tersebut dan mengaitkannya dengan jemari miliknya.
"Ya, ya. Terus saja bermimpi."
Jaemin menggembungkan pipinya. "Tidak mau, tidak mau!"
"Kenapa?"
Ia tersenyum.
"Karena aku lebih memilih untuk bertemu denganmu di sini."
Ah, rasanya lima tahun tidak sia-sia juga. []
ââfinââ
special chapter
© Rayevanth, 2019