Chapter 3: Part 02

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 7149

"NAMANYA Mark."

Chenle berujar sembari mengeluarkan beberapa potong pakaian hangat dari dalam koper berwarna putihnya. Sementara itu, Haechan duduk di atas ranjangnya dengan dagu yang bertumpu di sisi bantal berwarna hitam milik si rambut pirang.

"Mark?" Haechan mengulang. "Seperti nama orang asing saja."

"Tatsächlich," sebuah jawaban dilontarkan oleh Yangyang. "Ayahnya seorang Canadian dan mendiang ibunya adalah warga Korea Selatan. Dia berada satu tahun di atas kita, kalau kau mau tahu."

Haechan mengernyit. Merasa jika terdapat sesuatu yang ganjal dan ia baru menyadarinya sekarang.

"Bagaimana kalian tahu?"

Renjun yang tengah berbaring di ranjang paling atas dengan ponsel di hadapannya kini membuka mulutnya dan turut ambil bagian dalam percakapan tidak penting teman-temannya mengenai seorang peserta di luar sana.

"Perwakilan dari sekolah yang sama, tingkat yang berbeda."

"Dia dan Lee Jeno—kawannya—adalah murid kelas sebelas. Kami bertiga dan Na Jaemin adalah murid kelas sepuluh," Chenle bantu menjawab. "Ah, ya. Tentang Na Jaemin, kau mungkin akan bertemu dengannya saat makan malam nanti."

"Hoo, begitu."

Ada satu hal yang mampu membuat Haechan berkecil hati; ke-tiga temannya ini berasal dari sekolah internasional dengan peringkat terbaik di wilayah ibu kota dan sekitarnya. Sejauh memorinya berkelana, terdapat dua belas peserta yang mewakili wilayah Seoul.

Dan separuh dari mereka adalah anak-anak ini, batinnya.

"Omong-omong," Chenle melanjutkan penjelasannya yang sempat terhenti. "Mark-hyung adalah kompetitor yang berbahaya."

"Sangat berbahaya."

Haechan meneguk ludah. Entah apa yang membuat dirinya sempat menganggap jika olimpiade ini bersifat ringan dan tidak membebani padahal faktanya, banyak peserta yang lebih pintar dan berpengalaman dari padanya.

"Seberbahaya apa?"

"Pokoknya, sangat berbahaya."

Dan pemuda itu memutuskan untuk mencoba menyelidiki jawabannya.

***

"SELAMAT datang di olimpiade fisika tingkat nasional Korea Selatan!"

Ketua panitia memberikan sambutan yang meriah kepada para peserta. Sebagai hadiah pembuka, pihak penyelenggara menyediakan makan siang bagi mereka yang kelaparan. Cukup menggugah selera menurut Haechan. Dimulai dari ayam panggang hingga hidangan penutup seperti es krim dan puding susu tersedia di sini.

Tetapi, sayang.

Pemuda berkulit tan itu sama sekali tidak merasa lapar. Kenyang, malah.

Sebelum Haechan dan ketiga temannya memutuskan untuk menduduki bangku di area barat, sebuah seruan yang cukup lantang mampu ditangkap oleh gendang telinga mereka.

"CHIN~GU!"

Seorang pemuda bersurai cokelat madu menghampiri ketiganya sembari membawa sepiring penuh makanan ringan. Tidak ada hidangan utama tersedia di sana. Hanya terdapat dua buah roti cokelat, tiga potong puding susu, dan dua buah hotteok dengan baluran keju di atasnya. Rasanya sama saja—memakan sebuah ayam panggang dengan menghabiskan hidangan ringan sebanyak itu.

"Jahat, jahat, jahat!" Serunya dramatis, mendapatkan tiga tatapan kecut. "Kalian berada di satu kamar dan aku tidak! Kalian jahaaat!"

"Ya, 'kan, yang mengatur bukan kami," Chenle menjawab sekenanya, kemudian duduk di samping Haechan sembari mengunyah roti isi yang ia ambil dari pojok ruangan. Kedua pemuda lainnya ikut menduduki kursi masing-masing—hal yang sama juga dilakukan oleh pemuda asing yang baru datang ini.

"Kalau kami boleh mengatur juga kami tidak ingin berada di kamar yang sama denganmu."

"Jahaaaat! Keterlaluan!"

Pemuda yang tidak jauh berbeda dengan seorang gadis itu menghentakkan kakinya dan membuat Renjun menatapnya risih. "Sudahlah, kau diam saja."

"Memangnya aku kenapa?" Si rambut cokelat kembali mendramatisir suasana dengan membulatkan matanya dan memperlembut suara. "Aku ini manis dan semua orang suka padaku. Everyone likes me, okay?"

"Everyone likes you my ass."

"Di. Am. Kau. Yang. Kuadrat!" Pandangan sinis ia layangkan ke arah Yangyang dengan bibir yang mencebik lucu.

Setelahnya, pemuda itu duduk di sebelah kiri Renjun dan bercerita mengenai segala sesuatu yang menimpa dirinya selama perjalanan menuju hotel berlangsung. Baterai ponsel yang hanya tersisa sepuluh persen, lah. Buku tulis yang tertinggal di dalam bus, lah. Pemandangan tidak menyenangkan di luar bus, lah. Pemuda itu benar-benar menceritakan semuanya dari awal hingga akhir.

Barulah kemudian ia berhenti berbicara tatkala menyadari eksistensi seseorang yang tidak ia ketahui namanya di meja yang sama.

"Siapa... dia?" Tanyanya sembari mencolek lengan Renjun dengan tidak santai.

"Lee Haechan. Teman sekamar," pemuda berdarah Tiongkok itu kemudian beralih memandang Haechan. "Ini Na Jaemin, kalau kau mau tahu."

Jaemin tersenyum ke arah Haechan dan melambai. "Panggil saja Jaemin! Atau calon kekasih Lee Jeno juga boleh kalau kau mau," katanya sebelum gelak tawa meledak di sayap kanan ruangan dan membuat beberapa peserta lainnya mendelik ke arah kelima pemuda tersebut.

"Lee Jeno?"

"Temannya Mark," bisik Chenle yang sengaja memelankan suaranya.

"Mereka belum menjadi sepasang kekasih?" Haechan balas berbisik. Tangan kanannya menutupi perbincangan mereka dengan memblokir pandangan.

"Tidak akan—karena hanya Jaemin-hyung saja yang mau."

Chenle tertawa, Haechan terkekeh. Hal itu mampu membuat Jaemin yakin jika keduanya sedang memperbincangkan kisah asmaranya yang selalu pahit adanya.

"Aku mendengarmu, sialan."

***

PEMBAGIAN grup ternyata sama saja dengan pembagian kelas pada umumnya.

Pembelajaran hari ini dilakukan usai makan malam—tepatnya, pukul tujuh. Tidak ada peserta yang terlambat dan hal tersebut membuat para pengajar senang.

Setiap grup memiliki ruang belajar dan guru yang berbeda. Beruntung bagi Haechan karena pengajar di dalam grupnya adalah guru fisikanya sendiri dan ruang kelas yang ia gunakan sebagai tempat belajarnya selama satu minggu adalah ruangan terluas dari semua ruang belajar yang disediakan oleh pihak hotel.

Sesuai perjanjian, Haechan duduk berdampingan dengan Yangyang sementara Chenle dengan Renjun.

Haechan tidak bisa menyangkal jika dirinya merasa gugup. Begitu mendapat informasi jika Mark pernah memenangkan olimpiade yang sama sebagai juara ke-dua satu tahun yang lalu, ia benar-benar merasa jika pemuda tersebut berada di dunia yang berbeda dengannya.

Sialnya, pemuda tersebut berada di grup yang sama dengannya.

"—Chan."

Yangyang berujar lirih sambil memegangi perutnya. Sontak hal itu membuat Haechan memandang ke arah teman barunya tersebut.

"Kau... kenapa?"

"Perutku—ugh!"

Tidak lama kemudian, di tengah pembelajaran yang tengah berlangsung, Yangyang berjalan cepat menuju ke depan dan segera mendapatkan izin untuk keluar dari kelas oleh kedua pengajar. Sepertinya ia pergi ke toilet untuk muntah.

Haechan mendengus. Kini ia menjadi sendirian. Tidak ada yang menemaninya di sebelah kiri selama pelajaran berlangsung hingga pukul sembilan malam. Tidak ada yang mengajaknya berbicara selama hal tersebut terjadi. Semua ia pikirkan—

"Bangku di depan kosong. Kau bisa mengisinya, Mark Lee-ssi."

—sebelum Mark menduduki bangku kosong di sebelah miliknya akibat sama-sama tidak memiliki teman sebangku. []

***

© Rayevanth, 2019

[a/n]

tadinya mau update semalem.

tapi ketiduran HEHE maaf