"HALO."
Haechan berkata sembari tertawa kecil. Saat ini, ia duduk berhadap-hadapan dengan Mark yangâseperti biasanyaâtengah memacari sebuah buku tebal yang isinya tidak jauh dari ilmu-ilmu fisika lanjutan yang hanya dapat Haechan mengerti sebagian.
Selama dua hari, Mark menjauhkan diri dari Haechan. Sudah dicari kemanapun, tempat persembunyian pemuda itu tidak dapat digapai dengan mudah oleh Haechan yang sering kali ditemani Chenle atau Renjunâsalah satu dari mereka yang memilih untuk mengalah dan menemani Haechan berkeliling sebelum sesi dimulai.
Tetapi, entah siapa yang memberi tahu, Haechan datang.
Habis sudah keinginan Mark untuk belajar dengan tenang dan tentram tanpa adanya suatu keributan apapun. Kini, Haechan telah mendatanginya dengan senyuman lebarnya yang siap mengeroyak Mark kapanpun ia bertingkah.
Pemuda itu hanya bisa mendengus.
"Apa maumu sebenarnya?"
Pertanyaan itu lebih pantas dikatakan sebagai sebuah sindiran keras. Mark tidak suka berterus terang. Ia lebih suka menyaksikan lawan bicaranya memutar otak untuk memahami arah pembicaraan yang ia maksud. Secara tidak langsung, ia tahu ia telah membantu orang mengasah kemampuan bekerja otak mereka.
"Apa... mau ku?" Lagi-lagi, Haechan mengulang pertanyaannya dan mendapat sebuah anggukan sebagai jawaban.
"Ya," Mark berkata. "Apa yang membuatmu resah dan menggangguku setiap hari sementara kau memiliki lebih dari seorang teman yang dapat kau ganggu setiap saat karena mereka tidak keberatan denganâ"
Kalimat Mark yang berikutnya sama sekali tidak didengar dan diindahkan oleh Haechan. Pemuda itu justru sibuk berpikir mengenai alasannya membuntuti Mark.
Seolah tidak ada suara yang mampu menginterupsinya, Haechan terdiam sebelum berkata,
"Aku hanya ingin berteman denganmu."
Jawaban itu murni berasal dari lubuk hati Haechanâwalau nyatanya, sebagian kecil dari hatinya berkata jika ia hanya menginginkan eksistensi Mark di sekitarnya setiap kali ia merasa tidak bersemangat.
Mendengar penuturan Haechan, Mark menghela nafas.
"Jika kita berteman," sulit untuk mengatakannya bagi Mark. "Apakah kau... akan berhenti mengejarku?"
Dengan senang hati, Haechan mengangguk bersemangat.
"Ya, ya, ya!" Serunya, melupakan fakta jika keduanya kini tengah berada di perpustakaan kota tanpa sepengetahuan para panitia pelaksana yang melarang para peserta olimpiade untuk keluar dari hotel tanpa sepengawasan pembimbing maupun pihak panitia yang berwenang.
"Aku akan sangat senang jika kau mau menjadi teman-ku."
Seolah mengulang hari pertama pertemuan mereka, Haechan mengulurkan tangan kanannya dan tersenyum lebar. Surainya turut bergoyang ketika pemuda tersebut memiringkan kepalanya.
"Kini, kita berteman, ya?"
Berdecak, Mark hanya mengangguk. Tidak memiliki niat sedikit pun untuk membalas salam dari Haechan yang selalu ia hiraukan.
"Turunkan tangan gendutmu," ujarnya ketus. "Kotor dan jorok."
Haechan yang mendengar kata-kata olokan seperti itu hanya tertawa. Sejauh ini, ia hanya menganggap semua kalimat serupa sebagai angin laluâtidak penting dan tidak diperlukan dalam hidupnya.
"Akhirnya kita berteman!" Pemuda itu bersorak sambil berbisik. "Entahlahâeuforia ini menguasaiku."
Mark mendengus.
Tetapi, tanpa sepengetahuan Haechan, pemuda itu menyeringai licik.
Bye, bye, sweetheart, maki Mark di dalam hatinya.
Tidak. Haechan tidak tahu jika Mark gemar menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan sebuah kemenangan yang ia dambakan selama ini.
Termasuk membohongi hati mungilnya yang berkata jika tidak seharusnya ia berbuat seperti ini kepada Haechan.
***
"ADA apa?"
Haechan beranjak dari bangku di dalam ruang belajarnya hanya untuk menemui seseorang yang berdiri di ambang pintu dengan tangan yang bersedekap di dada.
Para pengajar belum memasuki ruang kelas. Karena itu, ada kesempatan bagi Haechan untuk keluar dan menemui Jeno yang entah mengapa mengunjunginya.
Tepat di malam hari.
"Kau," Jeno mengernyit. "Lee Haechan, bukan?"
Sang pemilik nama mengangguk membenarkan. "Iya, itu aku. Dan kau pasti Lee Jeno-hyung yang digandrungi oleh Na Jaemin, bukan?"
Mau tidak mau, Jeno membenarkan fakta tersebut.
"Kau anggota grup merah?"
"Begitulah."
"Bisakah aku meminta tolong?" Jeno bertanya sembari mengeluarkan sekaleng susu putih dari saku yang terdapat di sisi kanan ranselnya. Kemudian, pemuda itu menyerahkan kaleng susu tersebut kepada Haechan yang menerimanya dengan senang hatiâtentu saja, karena Jeno meminta sebuah pertolongan, Haechan tidak bisa berharap jika susu ini diberikan untuknya.
"Tolong aku," Jeno sekali lagi memohon. "Antarkan susu ini ke kamarku. Kau tahuâkita berseberangan bukan?"
Haechan mengangguk dengan tidak santai hingga rambutnya bergerak naik turun sesuai dengan ritme.
"Tolong, ya?" Jeno benar-benar memelas dan berhasil meluluhkan hati Haechan yang bahkan baru mengenalnya selama empat hari.
"Baiklah," pada akhirnya, kalimat itu keluar dari mulut yang lebih muda. "Ku taruh di depan pintu saja atauâ"
"Berikan kaleng susu itu kepada Mark Lee."
"Lalu, bagaimana dengan kelasku?"
"Mudah. Aku akan mengurusnya."
***
"PERMISI."
Kata itu diucapkan lebih dari satu kali oleh Haechan yang kehabisan ide. Tidak ada orang yang mau membukakan pintu baginya dari dalam ruang kamar.
Tok, tok, tok, tok.
"Permisi," Haechan mendengus, merasa kakinya sudah cukup lelah dan panas di tangannya mulai berpindah ke kaleng susu yang ia genggam. "Aku ingin mengantarkan kaleng susu dari Lee Jeno-hyung yang secara tidak sengaja bertemu denganku danâ"
Kriiieeet.
Balok kayu di hadapannya itu kini terbuka dan di baliknya, terdapat sosok seorang pria bertubuh tinggi yang hampir menutupi pandangannya dari depan kamar.
"G-good morning, s-sir!"
Tiba-tiba saja Haechan berujar dengan bahasa Inggris ketika ia menyadari jika pria yang membukakan pintu baginya ini merupakan pria asing. Sama sekali tidak terlihat seperti warga Korea Selatan.
"Saya bilingual," pria itu membuka mulutnya. "Ada keperluan apa?"
"O-oh?" Haechan yang menyempatkan diri untuk mengedarkan pandangannya ke dalam kamar tiba-tiba menangkap sosok Mark yang kini tengah duduk rapi di atas bangku sembari mengerjakan tumpukan latihan soal yang disediakan secara khusus untuknya.
"A-ah," ia terbata-bata. "Ini! Saya mau menyerahkan ini!"
Segera saja ia mengeluarkan tangan kanannya dari balik jaket yang menggenggam erat sebuah kaleng susu pemberian Jeno yang dititipkan kepadanya.
"Apaâ"
"Susu! Untuk Mark-hyung."
Pria tersebut melirik ke arah Haechan sebentar sebelum memusatkan pandangannya kepada putra semata wayangnya di dalam kamar. Dapat dilihatnya jika Mark tengah mengernyit heran atas kedatangan Haechan yang sungguh di luar dugaan.
"Maaf, saya tidak menerimanyaâ"
"Ku mohon, please?" Haechan menjulurkan kakinya sesaat sebelum pria tua tersebut benar-benar menutup pintu kamar. "Mark-hyung butuh istirahat dan rekreasi."
"Dia tidak butuh."
"Kalau begitu, setidaknya minuman ini dapat membuatnya merasakannya."
Pria itu menghela nafas, membuka pintu dengan cepat, mengambil sekaleng susu putih dari genggaman Haechan, dan langsung menutup pintu kamarnya kembali.
Bahkan sebelum Haechan sempat melihat sosok Mark lagi. []
***
© Rayevanth, 2019