Chapter 8: Part 07

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 10607

"KAU pasti bisa!"

Chenle berusaha untuk menyemangati Haechan yang kini sibuk membersihkan wajahnya dari peluh dengan kepala yang tertunduk.

Hari ini adalah hari Sabtu-tepatnya, hari pelaksanaan olimpiade fisika tingkat nasional di Korea Selatan.

Chenle melihat ke sekelilingnya.

Semua peserta yang tadinya hanya mengenakan seragam bebas sepanjang hari kini diwajibkan unik memakai kemeja putih yang sama dengan logo olimpiade di bagian kanan. Para perempuan harus mengenakan rok hitam dan para laki-laki diharuskan untuk memakai celana berwarna senada. Beberapa peserta bahkan sudah mengambil nomor milik mereka dan menyematkannya di bagian atas lengan kemeja. Separuh dari mereka merasa gugup dan separuhnya lagi penuh dengan euforia.

Haechan adalah salah satu contoh dari jenis peserta yang pertama-gugup dan penuh rasa kekhawatiran.

Chenle yang sedari tadi duduk di sebelahnya sibuk menenangkan pemuda tersebut dan berusaha untuk membuatnya kembali ceria seperti sedia kala. Ia mengerahkan segala cara untuk membuat Haechan kembali tersenyum lebar.

"A-aku," Haechan berucap terbata. "Aku tidak yakin dapat melakukannya, Chenle-ya."

"Kau. Pasti. Bisa!"

Keduanya menoleh ke arah sumber suara sebab suara lantang itu bukan berasal dari Chenle yang kini malah tersenyum kikuk melihat rambut klimis yang sengaja ditata oleh sang pemilik suara.

"Jaemin-hyung, rambutmu kenapa?" Chenle bertanya-lebih terdengar seperti mengejek. "Bahkan aku bisa bercermin di rambutmu."

Jaemin yang merasa tersinggung akibat tawa nyaring milik Chenle yang menggema di seisi ruang tunggu itu memukul bahu temannya dengan tidak santai.

"BRENGSEK!"

Setelah berucap demikian, Jaemin menghentakkan kakinya dan keluar dari ruang tunggu-dapat dipastikan sedang menunggu kehadiran Jeno di depan pintu utama.

"Kau tahu," Chenle berujar. "Terkadang, ada suatu hal yang dapat kau tiru dari Jaemin-hyung."

Haechan terkekeh dan bertanya, "Apa?"

"Pemuda itu selalu santai menghadapi apapun dan kau harus mencoba melakukannya juga, hyung-"

Anak itu tersenyum sesaat.

"-karena terkadang, kegugupan dapat membabat habis harapanmu untuk mendapat sesuatu yang kau mau."

***

"HYUNG!"

Haechan berlari kecil ke arah Mark yang kini duduk di atas bangku restoran sendirian dengan senyum mengembang di wajah manisnya.

Mark yang melihat hal tersebut spontan memutar bola matanya.

"Bagaimana sesi pertamamu?" Haechan bertanya terlebih dahulu seperti biasa. Pemuda itu tersenyum sangat lebar sehingga seekor lalat pun dapat memasuki rongga mulutnya dengan sangat mudah.

"Mudah."

Lagi-lagi, Mark menjawab tanpa niat. Pemuda itu tidak memalingkan pandangannya sedikit pun dari arah buku-buku yang ia baca. Bahkan, Haechan dapat merasakan adanya kobaran api di dalam manik obsidian milik pemuda tersebut.

"Aku juga tidak menyangka," Haechan berkata dengan bersemangat. "Sesi satu berjalan dengan sangat lancar tanpa kesulitan sama sekali!"

Untuk pertama kalinya, Mark merasa setuju dengan pendapat Haechan mengenai soal-soal yang ia kerjakan selama sesi satu berlangsung. Berada di satu ruangan yang sama dengannya, Mark menyadari jika ia mengumpulkan lembar jawaban dan lembar soal di waktu yang bersamaan dengan Haechan-sekedar info, keduanya merupakan dua peserta pertama yang mengumpulkan lembar jawab kepada pengawas yang bertugas.

"Hyung," Haechan memanggil. "Setelah ini sesi dua, bukan?"

"Sudah tahu, masih tanya."

Ia terkekeh pelan. "Kalau begitu, bolehkah aku menanyakan sebuah soal yang kemungkinan besar keluar nanti?" Tanya Haechan, sedikit berhati-hati. "Taeyong-ssaem pintar memprediksi sesuatu dan ia memberikan soal ini kepada ku beberapa saat yang lalu."

Pintar memprediksi sesuatu, katamu?, Mark tertawa meremehkan Haechan dan guru pembimbingnya dalam hati.

"Bisakah-" Haechan memasang tampang memelas dengan wajahnya yang lesu. "-kau membantu ku?"

Di luar dugaan, Mark mengangguk.

Oh, astaga. Pemuda itu yakin seratus persen jika soal ini tidak akan dikeluarkan selama sesi ke-dua berlangsung dan apa salahnya ia memperulur waktu belajar milik pesaingnya?

***

HAECHAN bersembunyi di balik bilik toilet ketika ia mendengar derap kaki seorang pria paruh baya dengan bunyi sepatu pantovel yang khas memasuki ruangan.

Sesi ke-dua diadakan di ruangan yang berbeda dan suhu di dalam ruangan tersebut ternyata jauh lebih rendah ketimbang ruangan besar yang digunakan untuk pelaksanaan sesi pertama sehingga Haechan benar-benar ingin segera pergi ke toilet ketika waktu istirahat diberikan.

Pemuda itu sudah menyelesaikan urusan pribadinya di dalam sana. Tetapi, sebuah keadaan tidak memungkinkannya untuk keluar dari dalam bilik sekarang juga.

Derap kaki pria tersebut semakin jelas di telinganya. Kemudian, derap kaki lainnya menyusul. Namun, kali ini terdengar lebih ringan-seperti suara pergesekan sepatu olahraga dengan sol yang cukup tebal.

Singkatnya, pria berpantovel itu membawa seseorang lainnya masuk ke dalam toilet.

Tetapi, tiba-tiba saja-

PLAK!

-sebuah tamparan keras terdengar di sepenjuru toilet dan membuat bulu roma milik Haechan meremang seketika.

"DIMANA HASIL DARI USAHA KERAS YANG KAU JANJIKAN ITU?!" pria itu berseru dan membuat Haechan menutup mulutnya.

Ia tahu suara ini-

PLAK!

Tamparan ke-dua kembali menggema.

"AYAH INGIN KAU MENANG!" pria itu kembali berseru. "MENANG! MENANGKAN OLIMPIADE INI DI TAHUN TERAKHIRMU-"

Haechan terdiam detik kemudian.

"-DAN KALAHKAN LEE HAECHAN!"

Suasana di toilet mendadak menjadi hening. Tidak ada barang seorang pun yang ingin membuka suara-apalagi menjelaskan situasi apa yang terjadi di dalam toilet saat ini. Rasanya Haechan tidak mengerti mengapa namanya ikut terseret di dalam masalah antara kedua lelaki ini.

Tetapi, tidak salah lagi-suara itu sama sekali tidak asing baginya.

PLAK!

Tamparan ke-tiga terdengar lebih menyakitkan dan Haechan mampu mendengar sebuah ringisan dari sosok yang kini menderita sengsara.

Suara itu, batinnya. Ah, tidak mungkin.

Haechan tersenyum meyakinkan dirinya sendiri sebelum senyum tersebut perlahan luntur akibat kalimat berikutnya yang dapat ia dengar dari dalam bilik toilet yang tertutup rapat.

"Menangkan ini untuk Ayah, Mark."

***

"PERTANYAAN terakhir."

Salah satu dari seorang panitia yang bertugas untuk membacakan soal kepada para peserta itu kini tersenyum sebelum membacakan pertanyaan berikutnya.

"Sekadar mengingatkan," ia berkata. "Pertanyaan ini akan mengakhiri segala sesi dari olimpiade fisika ini dan siapa yang mampu menjawab tepat dengan lebih cepat adalah pemenangnya-dikondisikan dengan hasil dari ujian pada sesi pertama."

Kedua peserta yang tersisa kini mengangguk paham.

"Pertanyaan terakhir," wanita pembaca soal itu menarik nafasnya. "Tinjau sebuah kumparan solenoida besar yang digunakan untuk-"

Chenle yang berada di tim yang sama dengan Haechan itu kini berbisik dengan sangat pelan sehingga hanya keduanya saja yang dapat mendengarnya di sela pembacaan soal terakhir,

"Hyung," panggilnya. "Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat, lho."

Haechan tertawa kecil sembari mengangguk-mencoba menyembunyikan permasalahan kecil yang timbul di dalam dirinya.

"Tidak apa-apa. Aku baik."

"-Berapa tekanan ke arah luar pada kumparan yang disebabkan oleh gaya magnetik?"

Tiba-tiba saja, soal sudah selesai dibacakan dan dengan segera, Chenle mengangkat tangan kanannya dan menanyakan kembali soal yang baru saja selesai dibacakan. Beruntung, wanita itu memiliki hati yang baik sehingga mau melakukannya kembali.

Kemudian, pertanyaan yang sama kembali terulang.

Ah.

Pertanyaan mengenai solenoida raksasa.

Rupanya, prediksi Taeyong cukup akurat. Beruntung Haechan sudah mempelajarinya terlebih dahulu sebelum mengikuti sesi ke-dua. Bahkan, pemuda berkulit tan itu telah mengerjakan beberapa latihan soal berjenis serupa dan jika diingat-ingat kembali, pertanyaan yang sama pernah ia dapatkan di salah satu latihan soal mengenai solenoida raksasa.

Berapa tekanan ke arah luar pada kumparan yang disebabkan oleh gaya magnetik?

Pertanyaan yang sangat mudah bagi Haechan yang sudah mempelajari segala sesuatunya hingga matang.

"Waktu mengerjakan," wanita di tengah kedua meja berseru. "Dimulai!"

Haechan dan sosok pemuda di hadapannya kembali disibukkan dengan soal terakhir yang akan mengakhiri semuanya.

Olimpiade fisika ini.

Persekutuan tim merah.

Pertemuan mereka.

Bahkan, hubungan keduanya.

Semua itu akan segera diakhiri oleh pertanyaan ini.

Haechan kembali mengingat pertanyaan yang telah dibacakan oleh sang pembaca soal dan mengerjakannya secepat kilat.

Berapa tekanan-

Permasalahan pertama, ketemu.

-ke arah luar-

Perhitungan berikutnya, ketemu.

-pada kumparan-

Sedikit lagi.

-yang disebabkan oleh gaya magnetik?

"DING!" "DING!"

"Selesai!"

Bunyi bel dari kedua pihak tim berbunyi berbarengan sehingga wanita pembaca soal akan menentukan giliran di antara keduanya.

"Lee Haechan."

Sang pemilik nama menghela nafas.

"Kau bisa memulai terlebih dahulu," wanita itu kembali menerangkan. "Namun, jika kau salah dan tim lawan memberi jawaban yang benar, maka kau akan didiskualifikasi. Sementara itu, nilai tambahan akan diberikan kepada pihak yang memenangkan sesi dua. Mengerti?"

Haechan mengangguk.

"Kalau begitu, apa jawabanmu?"

Di sela waktu yang begitu sempit, Haechan menyempatkan diri untuk menatap sosok yang berdiri di hadapannya.

Mark Lee.

Pemuda yang sinis dan menyebalkan. Pemuda berdarah Kanada yang pandai berbahasa asing. Pemuda dengan sejuta kemampuan dalam hal berpikir dan mengolah logika. Pemuda yang tidak pernah menaruh atensi kepadanya.

Sekaligus, pemuda yang membutuhkan sebuah kemenangan.

Haechan tersenyum manis ke arah pemuda di seberangnya itu. Di sisi lain, Mark memandang lesu ke arah lantai dengan pipi yang masih berdenyut nyeri.

Ia tahu.

Haechan sudah pasti mendapatkan jawaban yang benar. Prediksi konyol itu ternyata tidak melenceng dan Mark tahu jika Haechan pasti akan segera memenangkan olimpiade ini. Pemuda itu sudah siap mental jika setelahnya, Ayah-nya akan menamparnya kembali dan melayangkan sejuta kata makian kepadanya karena terus-menerus menjadi si juara dua yang abadi.

Ia sudah siap.

"Jadi-" wanita itu kembali bersuara. "Apa jawabanmu, Lee Haechan?"

Sekilas, Mark melirik ke arah lembar jawabannya dan di sana, tertera sederet angka berupa dua puluh empat ribu delapan ratus enam puluh tujuh koma enam sembilan Newton per meter kuadrat. Jawaban itu sudah pasti benar dan tidak akan mungkin salah.

Karenanya, ia sudah siap untuk kalah saat Haechan mengatakan jawabannya.

"Jawabanku," Haechan menggantung ucapannya sebelum membuat Mark terdiam detik kemudian.

"Dua puluh lima ribu delapan ratus enam puluh tujuh koma enam sembilan Newton per meter kuadrat."

... Apa? []

***

© Rayevanth, 2019