Sekarang kalau sudah kayak gini gimana?
Dokter Tirto akhirnya merujukku ke rumah sakit di Pancoran. Tempat yang menerima pasien BPJS, kerena kebetulan aku juga terdaftar dan rutin bayar iuran. Bapaklah yang mewanti- wanti semua anggota keluarga kami untuk mendaftar BPJS kesehatan. Supaya kalau sakit nggak ribut mikir biayanya.
Aku ditempatkan satu ruangan dengan abege yang mengidap tipus dan sedang ditunggui pacarnya.
Sepanjang malam mereka asyik ngobrol, sementara yang nungguin aku kan bapak. Terang aja bapak lebih suka nonton siaran langsung sidang anak pejabat yang sempat menghebohkan netizen beberapa bulan yang lalu, ketimbang mengajakku ngobrol. Uh, sebel!
Ponsel juga sepi macam kuburan. Teman- temanku belum ada yang datang menjenguk, tapi ibu sudah menelepon ke kantor . Aku merana. Gabut. Boring. Mati gaya. Pokoknya semua yang nggak enak- nggak enaknya ngumpul jadi satu.
Tepat pukul delapan malam, aku punya pengunjung pertama selain keluargaku. Yaitu Disa dan--- oh my God! Alvin!
Yap. Dalam balutan kemeja berlengan panjang warna biru tinta dan celana chino hitam. Rambutnya ditata sedemikian rupa menggunakan gel, kacamata yang bertengger di hidung mancungnya menambahkan poin kegantengan pria berusia 32 tahun itu.
Pokoknya cakep banget deh! Seketika aku lupa kalau aku lagi sakit. Dan malah sibuk cengengesan.
Tapi menilik penampilanku yang sekarang tentu saja mirip gembel kolong jembatan, mau nggak mau aku jadi minder sendiri. Dibandingkan Disa yang malam itu tampak anggun dalam balutan kemeja warna putih polos dan pleated skirt warna salmon serta hijab pasmina yang berwarna senada dengan roknya sih, aku terkesan mirip babunya Disa malah.
Tiba- tiba aku manyun. Kehilangan kesempatan untuk ngobrol berdua dengan Alvin.
"Kenapa Mbak? Kok begitu mukanya?" tanya Disa dengan nada khawatir. "Mau aku ambilin sesuatu?"
"Nggak usah,"
"Gimana perasaan lo, Fen. Udah enakan?" kali ini Alvin yang bertanya. Raut wajahnya tampak khawatir. Ah, pasti dia khawatir kan sama aku? Setelah melihat keadaanku, apakah dia akan perhatian?
"Ya gini deh. "
"Makanya, kalau udah keluar dari sini, elo harus mulai hidup sehat." Ujar Alvin seraya tersenyum lembut. Uh! Sumpah deh, ganteng banget ini orang! Waktu dalam kandungan nyokapnya ngidam apaan ya, sampai melahirkan pria secakep ini?
"Kata dokter sih untung belum terlambat. Gue masih Selamat. Masih hidup. Masih bisa lihat ka... eh, kalian semua." Aku tersipu.
"Ya udah. Entar kalau sembuh, gue bakalan bantuin lo supaya disiplin olahraga, gimana?" tawar Alvin tetap dengan muka ramah.
Hatiku semakin mekar. Ya Ampun! Olahraga bareng Alvin? Siapa yang nggak mau! Orang itu pasti tolol banget deh!
"Kenapa, Mbak? Kok jadi senyum- senyum sendiri?" tiba- tiba Disa nyeletuk.
"Ha? Eh, enggak kok. Enggak."
***
Sudah tiga hari aku tinggal di rumah sakit. Dokter Tirto mengatakan bahwa keadaanku sudah semakin membaik. Pusingku pun berkurang. Rasa kaku yang belakangan sering menekan bagian belakang leherku pun kini sudah enyah sedikit demi sedikit.
Terima kasih pada makanan rumah sakit yang hambar itu.
Semua keluarga sudah menjenguk. Saudara dari pihak ayah yang jumlahnya lusinan, dan dari pihak ibu yang cuma beberapa orang.
Kebanyakan saudara ibu banyak yang merantau ke luar pulau Jawa. Yang di Jakarta cuma Bik Maemunah sama Paklik Kasam yang tinggal di Cilincing.
Dan dari semuanya itu, aku merasa ada yang kurang. Entah apa.
Fira datang untuk menggantikan ibu menemaniku di rumah sakit. Jadi ibu akan datang menungguiku dari jam lima pagi sampai jam satu, kemudian ganti Fira sampai jam tujuh malam, lalu sisanya bapak.
Kalau Ferdi sih udah nggak mungkin jagain aku. Sebab aku lagi sehat aja dia kayak males gitu berurusan sama aku. Apalagi lagi sakit begini.
Untung istrinya nggak ikutan cuek. Malahan Mbak Intan banyak banget ngobrol- ngobrol sama aku, bawain makanan bikinannya sendiri, dan menawarkan aku untuk ikut kelas aerobik kenalannya di Jakarta.
"Makanya kalau punya badan tuh dijaga baek- baek! Jangan makan melulu dikebut!" dengus Ferdi setengah jengkel.
"Lo itu mikir dong, Fen. Bapak ma Ibu tuh umurnya udah tua. Nggak kasihan lo bikin pikiran mereka tambah berat. Punya anak yang secara umur harusnya udah mandiri."
"Aku mandiri kok,"
" Mandiri dari mananya sih? Lo tahu nggak apa yang dipenginin ibu?" tanya Ferdi sinis. Aku tertegun.
"Ibu pengin lihat kamu mapan. Menikah. Eh, lo pakai putus sama si Erwan segala! Malahan dia sudah mau nikah sama Dessy! Lo pikir hati ibu itu nggak ngenes? Anaknya yang udah umur rawan begini gagal nikah pula!"
Aku tergugu.
Yang aku tahu selama ini ibu tetap tabah. Tetap mendukungku meskipun aku gagal mengakhiri masa lajang tahun ini.
Tapi memangnya cuma keluargaku yang sedih? Aku sendiri gimana? Pernah nggak sih orang lain mikirin gimana perasaanku? Pernah nggak mereka mikir gimana caranya supaya aku nggak stres berat dan berakhir di jalanan Jakarta dalam keadaan ketawa- ketawa sendiri.
Justru karena aku sangat peduli dengan perasaan kedua orangtuaku, sehingga aku selalu menampakkan wajah tegar. Ceria. Bahagia.
Padahal mah dalam hati aku hancur lebur. Aku lari ke makanan. Makan ini. Makan itu. Apapun asalkan kesedihanku lenyap.
Lagipula aku heran mengapa kakakku sendiri malah membela Erwan ketimbang aku sendiri yang nota bene adalah adik kandungnya. Padahal, dulu sewaktu dia pacaran sama cewek yang beda keyakinan sampai bikin bapak murka setengah mati, aku tetep dukung dia. Belain dia.
Kenapa sekarang malah kakakku berbalik menyerangku?
"Pokoknya lo mesti mikirin ini, Fen. Perbaiki hidup lo. Kalau bisa, cepet- cepet dapat calon suami. Biar nggak ngerepotin orangtua melulu!" semburnya sadis.
Mbak Intan yang waktu itu juga ada di kamarku ikutan berjengit ngeri. Begitu Ferdi pergi, Mbak Intan mengelus lenganku. "Sabar ya, Fen. Masmu tuh lagi pusing soal kerjaan. Lagi ribet gitu pokoknya. Maklum, pihak manajemen perusahaan tempat Mas Ferdi kerja kan lagi banyak tuntutan. "
Aku mengangguk. Agak aneh rasanya kalau Mbak Intan yang nota bene umurnya sepantaran denganku, kupanggil dengan sebutan Mbak.
***
Namun waktu terbangun keesokan paginya, aku kaget banget begitu mendapati pagi- pagi Firman sudah duduk di kursi di sisi ranjangku.
Dengan muka bantalnya, dia memandangiku dengan tatapan aneh banget. "Kenapa Man? Eh, kok pagi- pagi lo udah ada di sini aja sih?" tanyaku heran.
"Ya." Ujarnya pendek, "sori kalau gue baru datang jenguk lo sekarang. "
"Disa yang kabarin?"
Dia menggeleng.
"Gue ke rumah lo semalam. Terus Fira baru turun dari motor. Cerita deh kalau lo lagi opname di sini."
"Pasti dia nambah- nambahin dramanya, ya?" aku mengernyitkan hidung. Fira kan emang tukang drama nomor satu gitu, lho!
Tapi anehnya Firman cuma tersenyum dan menunduk. "Gimana perasaan lo saat ini?"
"Lumayan. Kalau hari ini gue betulan membaik, besok gue udah boleh balik."
"Lo sih gimana bisa kolestrol sama tensi darah setinggi itu. Pasti karena makan steak kemarin kan?"
Aku manyun.
Kemarin tuh padahal aku happy banget. Makan steak premium kenyang dan puas. Ada yang bayarin pula!
Ya! Waktu Pramusaji ngasih bill, langsung disambar gitu sama Firman. Aku sempat ngelirik sedikit sih. 645 ribu! Dan Firman tanpa berkedip langsung keluarin dompetnya. Nyabut duit dari dalam dompet udah kayak nyabut rumput bandel di halaman rumah aja.
"Lho, Man! Gue kan mau bayar sendiri! Kok jadi lo yang bayarin sih? Kan itu banyak banget gilak!" seruku nggak enak.
"Gampang lah itu. Entar kapan- kapan lo bayarnya ke gue!"
Lah, gitu!
"Habis ini mau nggak mau lo harus olahraga dong?"
"Iyeee!" Ih, tiba- tiba kok aku berubah jadi sok manja gini ya?
Lagi- lagi Firman balik menatapku dalam diam. Dengan sorot yang nggak kumengerti sama sekali. Tapi rasanya aneh dan bikin aku merinding.
***