Rupanya yang datang adalah Alvin.
Tapi dia nggak sendirian, melainkan mengajak pegawainya yang paling ceriwis sedunia.
Siapa lagi kalau bukan Iwan?
Tapi itu nggak penting sih. Yang penting siang itu Alvin tampak ganteng banget. Bikin aku bengong mampus.
Kacamata yang bertengger di hidung mancungnya itu nggak pernah bikin aku bosan buat memandanginya sepanjang waktu. Belum lagi kali ini dia pakai kemeja hitam lengan panjang yang sudah digulung ke siku. Lalu dipadukan dengan celana chino warna khaki.
Ya Ampun ganteng banget ini anak orang! Jadi pengin meluk deh! Cuma cewek belok yang nggak ngakuin kalau Alvin Mahendra Datta itu cakepnya ngalah- ngalahin oppa favoritku sepanjang masa; Cha Eun Woo.
Saking fokusnya aku ngelihatin muka ganteng itu, sampai- sampai nggak sadar Iwan sudah berdiri di sampingku. Menyenggol bahuku yang tebal dengan bahunya yang runcing.
"Muka tolong dikondisikan! Gue nggak bawa tadah buat iler lo!" bisik Iwan yang sama sekali nggak kugubris.
Bodo amatlah sama dia! Gangguin aja.
Jadi ceritanya tuh si Alvin datang ke Stardust sambil bawain makanan buat aku dan seluruh penghuni Stardust. Dua keresek jumbo berisi ayam geprek. "Syukuran kesembuhan lo aja." Jawab lelaki itu ketika aku menanyakan alasannya. "Habis beberapa hari ini kedai Jotos tuh sepi. Kemungkinan besar karena nggak ada lo yang nongkrong di sana!"
Aku mendorongnya dengan ekspresi pura- pura sebal. "Ih, lo kira gue semacam penglarisan apa? Tapi kan gue masih disuruh diet minyak!" Mukaku seketika manyun.
"Oh, soal itu lo nggak perlu khawatir," tangannya merogoh ke dalam sebuah kantong kresek warna putih. "Apaan tuh?" tanyaku penasaran.
Tangan Alvin yang dilingkari arloji Seiko hitam bergaya klasik nan elegan itu membuka bungkus styrofoam. "Gado- gado." Ujarnya dengan senyum seratus watt. Aku terpana.
"Belinya di Cikini,"
Aku manggut- manggut.
Sebenarnya, aku lebih suka ketoprak sih.
***
Hari ini mondar- mandirnya diantarin abang Grab. Ke Grand Indonesia, ke Bintaro, ke Gandaria City. Pokoknya sibuk bangetlah.
Aku mendelegasikan Kay buat ngambil undangan ke percetakan di Ciganjur. Kay dengan Suzuki Swiftnya yang mungil dan sama lincahnya nggak pernah keberatan meskipun cuma dikasih tugas- tugas remeh gitu.
Malahan kalau nggak dikasih tugas dia itu ribut macam lalat di mix dengan nyamuk. Bikin telingaku pengang.
Sore ini Icha ngajak ketemu di Gandaria City. Mal yang terletak di Kebayoran itu sore ini nggak begitu ramai. Aku langsung menuju ke gerai kopi sejuta umat.
Tumben Icha belum datang. Aku memesan green tea latte dan lemon tart. Tahu habis ini pasti bakalan lapar lagi, tapi dokter menyarankan aku makan sedikit demi sedikit. Jangan langsung banyak, karena rupanya lambungku juga terganggu.
Sekarang rasanya malah setiap lewat di depan restoran apa gitu, terus kecium baunya dari luar dan aku pengin, kalau nggak dituruti pasti perutku rasanya macam dipelintir- pelintir. Periiiihhh banget.
Tapi karena kolestrol, aku nggak bisa menuruti apapun yang dimau sama lidah dan hidungku. Pokoknya complicated banget deh.
Sebagai gantinya, aku disuruh untuk memperbanyak makan buah- buahan, dan makan- makanan sehat; sayur.
Untuk progres penurunan berat badan juga belum menampakkan hasilnya yang gilang- gemilang. Turun satu ons saja belum kok.
Icha senang banget waktu melihatku. Dia sampai cipika- cipiki, nggak peduli kulit mukaku sedang jadi penambang minyak. Aku nggak tahu lagi, deh. Segala produk sudah kucoba supaya minyak di pori- pori kulit wajahku berhenti nongol. Tapi yang ada, semakin aku keras berpikir, semakin mukaku macam panen minyak saja.
"Katanya Mbak Fenita sakit ya? Udah sembuh?"
"Alhamdulillah udah, Cha. Eh gimana, gimana? Udah sampai mana aja sama Kay kemarin?"
Mendadak mendung menyaput wajah cantik nan cerah itu. "Aji ngomel- ngomel sih waktu itu, Mbak. Soalnya temen Mbak Feni itu nelepon mulu. Nagih- nagih kayak debt collector. Nelepon juga nggak kenal waktu. Masa sih jam sembilan malam, lagi capek- capek mau istirahat, eh dia nelepon lagi. Cuma mau mastiin warna undangan. Mau gold sama maroon, atau silver sama maroon? Habis itu dia yang nyaranin milih gold- maroon. Haloooo! Padahal dari awal juga kami milih warna itu. Kan sesuai tema pernikahan!"
Aku meringis.
"Dia orangnya memang gitu sih. Tapi kerjaannya semua perfect kok. Kamu nggak usah khawatir. Nah sekarang aku perlu kamu buat menyetujui estimasi biaya seluruhnya. Soalnya kan ada beberapa yang perlu disesuaikan lagi."
"Oh, oke. "
"Tumben kamu nge- mal di sini?"
"Ya lagi iseng aja. Ada yang dicari di sini. Dan lagi males aja ke GI."
Mata bulat Icha kemudian menyapu penampilanku yang ala kadarnya. Semenjak keluar dari rumah sakit, aku memang belum sempat ke salon untuk sekedar creambath atau facial. Begitu masuk kantor, pekerjaan udah nodong.
"Weekend ini Mbak Fenita ada acara nggak?"
"Emang kenapa?"
"Aku mau ngajak Mbak pergi aja. Tapi jangan tersinggung, ya, Mbak. Aku mau ngajak Mbak ke tukang jahitku. Model baju Mbak Fenita udah perlu diperbaruin sih menurutku..."
****
Selesai dengan Icha yang sekarang udah pergi sama salah satu sepupunya yang aku yakin wajahnya pernah nongol di iklan kosmetik di videotron yang biasanya terpampang supergede di tengah jalan utama, aku turun ke bawah. Mau jajan bakso kaki lima dekat sini.
Namun ketika baru saja melewati lobi, nggak sengaja berpapasan sama Vita, mantan calon adik iparku. Alias adik bungsu si Erwan.
Aku sih males ketemu dia. Soalnya dia tuh mirip banget sama calon kakak iparnya yang sekarang.
Tadinya aku optimis banget karena mungkin nggak perlu berbasa- basi dengannya, mengingat saat itu dia masuknya barengan segerombol orang sekaligus.
"Mbak Fenita?"
Eh tahunya. Dia kayak punya mata di punggung atau di belakang kepala gitu. Tahu aja aku lagi nyempil di situ.
Seperti biasanya, standar penilaian ala Vita sedang bekerja. Memindai tubuhku, pakaianku, wajah, muka, bahkan mungkin kotoran di hidungku pun juga kelihatan sama dia.
Setelah itu terdengar bunyi dengusan dan tatapan yang absolutely meremehkan. Sebelum berbicara padaku dengan cara mirip seperti guru Sekolah Luar Biasa pada salah satu murid yang mengidap retardasi mental alias imbesil. "Semakin hari, keadaan Mbak Fenita itu... semakin memprihatinkan ya?" Sorot matanya memang memancarkan iba yang dibuat- buat.
Bertujuan untuk menjatuhkan lawan bicara yang nggak disukainya. Memang sejak awal Erwan memperkenalkanku dengan keluarganya, cewek yang berprofesi sebagai personal shopper di sebuah butik yang lagi nge- hits belakangan ini memang sudah menampakkan tanda- tanda kalau dia sama sekali nggak menyukaiku.
Menurutnya, seharusnya kakak sulungnya yang gemilang dan menurutnya ganteng abis itu, bisa mendapatkan pendamping yang minimal sekelas dirinya lah.
Nggak kayak aku.
Yang nggak bisa bedain kardigan dengan haori.
Yang nggak tahu apa itu flare skirt atau pleated skirt.
Mana yang boyfriend jeans, mana yang low rise jeans.
Sebab yang aku tahu cuma satu. Celana bahan hitam atau warna gelap lainnya, dan blus atau kaus yang ukuran jumbo.
" Untung aja Mas Erwan cepat sadar."
Aku menatapnya seperti orang tolol. "Sadar gimana ya?"
"Ya sadar. Kalau yaahhh... seleranya waktu itu nggak memenuhi syarat buat jadi anggota keluarga Suhardi. Rata- rata kami ini good looking, lho!"
Dia mengangkat bahu dengan cueknya. Tatapannya tetap merendahkanku seolah- olah aku ini mahluk bersel tunggal yang masih berkembang biak dengan membelah diri. Alias mirip amoeba.
"Gitu ya," tatapan mataku beredar ke ke area depan mal. Mataku menyipit seketika, saat kutemukan sosok itu.
Sosok bertubuh jangkung, berdada bidang, bahu lebar, namun gaya fashion nya parah banget. Yap, Firman. Dengan kemeja flannel kotak- kotak hitam putih andalannya dan celana jin warna biru yang membungkus paha ke bawah dengan sangat pas.
Rambutnya dikuncir jadi satu di belakang tengkuknya.
Ini dia! Mainkan, Fen...
Tanpa pikir panjang, aku melambaikan tangan dengan heboh ke arah Firman yang sedang membantu seorang perempuan tua dan cewek berusia SMA turun dari Kijang Innova hitam yang tempo hari digunakan untuk keliling mengantarku.
"Maaan! Firmaaaan! Aku di sini!"
Kontan aku jadi tontonan. Beberapa orang langsung menoleh ke arahku. Tersenyum geli, mungkin merasa lucu dan takjub karena ada Baymax yang lompat- lompat di lobi mal.
Firman memandang beloon ke arahku. Sementara Vita tetap menatapku dengan sinis. Aku segera menyerbu ke arah Firman yang sedang membantu perempuan tua itu menaiki undakan.
Setelah dekat, aku ikut memapahnya. Cewek yang masih muda menatap bingung ke arah Firman. Sementara perempuan sepuh itu menatapku dengan senyum lebar. Firman bengong. Terlongong- longong.
"Eh, Vit. Sori ya, kenalin ini pacarku. Namanya Firman. Man, ini adiknya Erwan. Yang waktu itu aku ceritain ke kamu... "
Dan semua yang ada di lobi itu ikutan bengong.
***