Chapter 14 of 23

Tiga belas

Fat And Fabulous1,230 words~7 min read

Trik lama yang membosankan dan udah ketebak itu, ajaibnya bisa bikin Vita keki.

Dia kayak nggak senang gitu melihat aku sudah menggandeng cowok lain selain kakak kebanggaan sepanjang masanya itu!

Uh! Dasar nenek lampir!

Tanpa pamit lagi, Vita langsung melengos meninggalkanku. Membuatku kesal setengah mati. Sambil menghembuskan napas setengah legal setengah nggak enak hati sama cewek yang sampai saat ini masih memperhatikanku dengan penasaran.

***

Siang itu aku menyeret Disa ke geprek Jotos. Gabut banget kerja di kantor. Terlebih, pagi tadi ada insiden mengerikan.

Lagi- lagi ada yang dilabrak klien gara- gara dituduh keganjenan sama calon mempelai pria.

Yaitu Loli.

Jadi vibes di kantor jadi nggak enak. Panas gitu hawanya.

Untung Disa mau kuseret ke tempat Alvin ini. Lagipula ini hari Sabtu. Sekolah tempat Alvin ngajar pasti lagi libur dong. Nah, siapa tahu orangnya lagi nongkrong di tempat ayam geprek!

"Wuih! Jam segini udah nongol aja nih," sambut Iwan tengil, yang kuhadiahi dengan pelototan sebal. Anak ini mirip cewek mulutnya. Apa- apa dikomentarin.

Tapi jam memang masih menunjukkan pukul sebelas lewat kok. Hari ini tugasku hanya menghubungi MUA untuk pernikahan Vera.

Tempo hari, Vera sempat ngomel- ngomel ke aku. Perkaranya apa lagi kalau bukan pusing sama kelakuan Kay yang absurd.

"Bayangin nih, Fen. Masa aku lagi ada kelas, eh dia nelepon- nelepon melulu! Pusing banget nggak?"

Saat aku konfirmasi ke Kay, cewek itu bilang bahwa jas buat calon suami Vera itu belum fix. "Lo tahu, dalam seminggu berat badan itu orang udah naik tiga kilo! SAS Groomsmen juga nolak bikin ulang jasnya karena waktunya mepet kalau nunggu tuh orang punya waktu senggang!" Dumal cewek itu gemas.

Hidup ini sungguh banyak lelucon. Kemarin- kemarin Vera nawarin aku buat ikut kelas aerobik yang dipimpinnya, tapi dia nggak sadar kalau calon suaminya yang pengusaha itu juga butuh pertolongan.

"Nah mau mesen apa?"

"Lo mau mesen apa, Dis?"

"Mesen minum aja deh. Strawberry milkshake satu."

"Gue sama. Tapi tambahin chicken pop corn ya! Yang jumbo. Pakai saus PD."

"Itu aja?" alis Iwan naik. " Hari ini bos bikin menu baru lho. Pisang goreng sambal roa! Enak!"

Pisang goreng sambal roa ya? Hmmm kayaknya enak tuh! Tapi kan...

"Lain kali aja deh, Wan. Gue nggak boleh terlalu banyak makan gorengan nih!" Dia mencibir. Kemudian berlalu ke belakang.

"Ngeri ih si Loli tadi."

"Belakangan dia emang suka main gila."

"Maksud lo?"

Disa mengangkat bahu. Gadis ini memang jarang banget mau mengumbar gosip. Kecuali kalau sudah kebangetan sih. Dan kalau memang gosip itu sudah banyak diketahui umum. "Loli tuh naksir sama Pak Sis."

"Haaaa?" mulutku menganga lebar.

"Ya."

"Sebentar, sebentar," aku memejamkan mata. Mencoba mencerna informasi yang baru saja dibeberkan Disa. "Pak Sis ini siapa coba?"

"Pengusaha. Dia itu klien Mbak Kanaya. Udah empat puluh. Baru mau nikah sama salah satu mbak- mbak SCBD gitu. "

Aku manyun. Gagal paham.

"Hei... Ladies!" Suara bariton Alvin tahu- tahu menyapa. Aku otomatis menoleh. Terpana dengan pemandangan yang kudapat. Alvin dalam balutan Polo shirt warna putih dan celana pendek selutut. Wah, aku meleleh banget pokoknya! Mirip keju mozzarella yang di- torch di atas ayam geprek!

Sambil membawa piring yang menguarkan harum yang manis. "Pisang goreng nih," ujarnya. Seraya meletakkan piring itu di atas meja. "Cobain dong!" Dia menatap bergantian ke Disa dan aku. "Tapi kan gue lagi diet minyak?"

"Gue gorengnya pakai minyak canola." Jelasnya, "lagian kalau cuma cobain sepotong juga nggak bakalan bikin pingsan kok."

Disa yang pertama kali mengulurkan tangan untuk mencomot pisang goreng itu. Tapi Alvin keburu menyodorkan selembar tisu. "Panas kali, Dis. Nih, pakai tisu."

Aku memperhatikan interaksi dua orang itu. Kayaknya kok mereka dekat banget ya?

***

Sore hari selepas mendampingi klien untuk fitting gaun, aku kembali ke Stardust. Karena malam harinya masih ada klien yang harus kutemui di kantor.

Saat turun dari taksi daring yang kutumpangi, mataku sudah menangkap pemandangan itu. Mobil Kijang Innova. Firman lagi ngobrol- bareng Mbak Kanaya yang kayaknya udah mau pulang.

"Eh, Fen. Baru kelar? Ini kita kok nggak tahu ya kalau Firman punya offset. Tahu gitu kan bisa cetak undangan di sana!"

Aku bengong. Firman menatapku seperti tengah menuntut penjelasan. Padahal aku ngerti kok, Firman nggak menuntut penjelasan kenapa aku nggak ngasih tahu orang- orang di Stardust.

Sebentar kemudian, sebuah mobil BMW meluncur memasuki halaman Stardust. Suami Mbak Kanaya. "Eh, kalian berdua! Aku duluan ya?" Mbak Kanaya pamitan dengan wajan semringah.

Setelah mengklakson dua kali dan putar balik, mobil itu meluncur pergi.

Meninggalkan Firman dan aku berdua di pelataran Stardust yang sunyi menjelang magrib.

Aduh, tapi kok aku jadi canggung ya?

"Lo udah lama di sini?" tanyaku pada akhirnya. Nggak tahan dikungkung oleh kesepian.

Firman cuma menatapku lurus- lurus. Bikin aku menerka- nerka, sebenarnya apa salahku? Kenapa jadi canggung begini sih? Apa ini karena efek aku kabur begitu sudah mengantar nenek dan adik Firman ke dalam mal di Gandaria kemarin?

Tapi aku begitu kan karena menghindari di tanya- tanya. Lagian aku kemarin pamitnya jelas kok. Keburu ditunggui orang di kantor. Dan nenek Firman tuh baik banget.

Aku iri setengah mati, karena diusia Firman yang setua ini, dia masih punya nenek. Nah aku? Kakek meninggal waktu aku masih SMP. Sedih banget soalnya kakek suka diam- diam nambahin uang saku. Kalau habis gajian suka ngajak ke pasar malam.

Lalu pas aku kuliah, giliran nenek dari pihak ibu yang pergi. Padahal nenek dari pihak ibu orangnya asyik banget. Aku sering dibikinin jajanan pasar. Kalau ibu ngamuk, nenek juga yang belain.

Bahkan aku masih ingat waktu kecil sering dipangku dan disuapi bubur di teras rumah.

"Gitu ya?" tahu- tahu Firman berkata.

Aku cengo. "Gitu apanya?"

"Setelah ngaku- ngaku jadi pacar orang, terus lo bisa seenaknya main kabur aja!"

Aku cuma bisa meringis. Habis gimana, aku sendiri kemarin juga nggak punya muka di depan Firman kok. Takut dia marah- marah karena secara sembarangan aku ngaku- ngaku jadi pacarnya.

"Sori dori stroberi deh, Man..." ujarku pelan. "Habis kemarin itu nggak sengaja ketemu mantan calon adik iparku dulu. Yah gitu deh. Dia itu sombong banget gitu. Sejak aku masih jalan sama kakaknya, sampai sekarang kakak dia udah mau nikah sama Dessy, dia tetap aja hobi menghinaku." Aku manyun.

Terdengar helaan napas.

Tiba- tiba teringat proyek dietku yang belakangan ini balik amburadul lagi.

Siapa bilang sih jadi perencana pesta itu bukan pekerjaan betulan? Pekerjaan ecek- ecek? Sini gantiin aku biar ngerasain gimana stresnya kalau semuanya nggak sesuai schedule. Klien yang banyak mau. Pertikaian calon mempelai. Curhatan calon mempelai perempuan soal calon ibu mertua mereka yang suka maksa- maksa pakai baju adat tertentu.

Belum lagi kisruh antarbesan cuma gara- gara nggak cocok soal kateringnya. Dan lagi baru- baru ini ada mempelai pria yang sepanjang acara resepsi nggak berhenti memandangi biduanita di atas panggung hiburan.

Si pengantin perempuan sampai nangis- nangis di kamar hotel tempat acara. Aku, Kay, dan orangtua si mempelai akhirnya malah sibuk bujukin si pengantin wanita supaya mau keluar kembali ke ballroom untuk dipajang di pelaminan.

Begitu sampai pelaminan, si pengantin pria udah nongkrongin biduanita berbodi bohai itu.

"Fir," panggilku. Soalnya kukira dia mau marah- marah atau nggak terima karena aku mengaku jadi pacarnya. Yang ada dia malah ikutan diam.

"Fir, lo marah sama gue? Sori deh, gue nggak bermaksud ngaku- ngaku, kok. Gue tuh cuma kepingin..."

"No problem," sambarnya cepat. "Gue nggak marah."

"Kenapa diem?"

Dia menggeleng. "Gimana proyek diet lo?"

Giliran aku yang mendesah. Menghela napas panjang. Dengan ekspresi penuh penderitaan di wajah. "Itu dia!" ujarku nelangsa. "Gue terlalu stres deh kayaknya, sampai- sampai gue balik lagi kebanyakan ngemil kayak dulu! Gimana dong!"

***

Contents
Contents