Chapter 15 of 23

Empat belas

Fat And Fabulous1,374 words~7 min read

Keesokan harinya, pagi- pagi banget, Fira dengan sadis menggedor- gedor pintu kamarku dengan kencang. Macam ada kebakaran saja.

Semalam aku baru pulang ke rumah jam sepuluh. Konsultasi klien yang ingin pesta pernikahannya diadakan dengan tema bawah laut.

Awalnya aku melongo parah. Umur berapa sih klien ini? Tema bawah laut kan buat ulang tahun anak- anak!

"Ya soalnya saya suka banget sama Ariel, Mbak. " Jawabnya dengan mata menerawang. Aduh.

Stardust belum pernah menangani hal aneh seperti itu. Tapi toh aku menyanggupinya. Meskipun dengan berat hati.

Kostum sama make up sih nggak jadi masalah. Hanya saja dekorasinya yang agak dilematis. Kalau ada yang bisa pun sudah pasti biayanya nggak murah.

"Ada batasan budget?" Aku memang harus menanyakan ini. Bukan bermaksud untuk meremehkan. Bukan. Hal yang paling penting adalah menentukan batasan.

"Berapapun biayanya, aku  siap kok, Kak. " Kata klienku itu mantap.

Oke.

Yang aneh itu semalam dia datang sendirian. Tanpa didampingi oleh salah satu keluarganya atau calon suaminya.

Namanya Mutiara Khairani. Umurnya baru 26 tahun. Dia berpeofesi sebagai akuntan sebuah perusahan multinasional. Cantik. Meskipun tubuhnya berisi. Yah paling nggak bobotnya nggak jauh- jauh dari enam puluh lumaan lah.

Dengan tinggi badan yang hanya 164 sentimeter tentu saja dia kelihatan gemuk. Entahlah, belakangan aku agak sensitif mendengar dan melihat sesuatu yang diasosiasikan dengan frasa "gemuk" .

Jadi gemuk itu memang nggak mudah.

Buktinya pagi- pagi begini, Fira udah main seret aku supaya lekas bangun dari kasur. Padahal mumpung aku baru ada janji sama klien saat makan siang, kan enaknya tidur sampai jam sembilan kek.

"Kak buruan!"

"Apaan sih lo, Fir! Gue tuh baru tidur jam tiga pagi tahu! Seenaknya aja bangunin orang. Masih ngantuk juga!" aku kembali menarik selimut. Menutupi seluruh tubuhku hingga ke wajahku. Supaya nggak perlu mendengar suara Fira yang mengganggu kayak lalat di lubang telinga itu.

"Ish! Ini orang beneran kebo ya? Secara harafiah kakak emang pantas dibilang sebagai kebo! Udah tahu badan segede kasur air, pagi- pagi masih molor aja! Ini kesempatan bagus buat mulai diet! Udaranya masih bersih noh!"

Nggak cukup mulutnya yang merepet mirip tukang sayur di pasar pagi, tangan Fira yang kurus itu dengan sekuat tenaga menyeret selimutku, lantas menendangnya jauh- jauh ke lantai.

Tentu saja hal itu bikin aku kesal bukan main. Aku ini nggak sekedar capek fisik, pikiranku jauh lebih lelah. Penat. Jemu. Pokoknya jadi satu.

Asalkan tahu saja, orang yang berpikir keras selama satu menit itu sama kayak olahraga lari selama satu jam. Dan meskipun aku bukan akuntan atau ekonom yang fotonya sering nampang di videotron depan IDX, dalam balutan setelan kerja super rapi dan riasan paripurna, tapi percayalah, otak kreatifku harus kuperah setiap saat.

Apa lagi kalau klienku itu orang berduit yang ingin mewujudkan pesta pernikahan gemerlap yang bakalan diingat orang sepanjang hayat masih dikandung badan. Tentu aku harus pintar- pintar mencari ide.

Siapa bilang sih pekerjaanku itu cuma sekedar nongkrong santai di mal ditemani secangkir frappucino dan kue- kue cantik sambil hahahihi doang? Nih, orang yang bilang begitu, biar saja ngerasain seminggu jadi aku. Jadi Wedding Planner yang selalu dituntut untuk menciptakan pesta paling spektakuler. Mengalahkan pesta- pesta manusia lainnya.

Setiap menit aku mesti buka situs berita online di seluruh dunia. Apalagi berita tentang pernikahan. Bagian mungkin klienku bisa saja tertarik dengan pernikahan ala novel- novel historical romance ala Julia Quinn atau Lisa Kleypas. Dengan bunga- bunga heather, kastil zaman Victoria, musim panas di pedesaan Inggris dan pohon willow.

Atau pernikahan ala selebriti Hollywood yang diadakan di Maui atau Malibu, atau di manapun itu yang melibatkan gaun- gaun desainer sekelas Valentino, Dior, Vera Wang, Alexander McQueen, atau Stella McCartney. Entah siapa lagi.

Aku juga masih rutin membaca Harper Bazaar, Cosmopolitan, Vogue, Hong Kong Tatle, untuk melihat- lihat siapa tahu ada pernikahan yang patut dicontoh. Bahkan aku juga mencari tahu lewat novel- novel. Seperti yang dilakukan Kiana.

Jadi intinya tidur itu penting buat mengistirahatkan otakku yang terus bergerak bagaikan roda mekanik jam , selama mataku masih melek. Bahkan lagi beol pun aku masih sempat- sempatnya mikirin soal konsep pernikahan.

Sialannya, setelah semua hal yang menguras pikiran itu, kenapa tubuhku tetap gendut dan susah banget dikempesin?

***

"Mbak Fenita harus mengurangi konsumsi karbohidrat sederhana," ujar Ribka Meilani. Seorang perempuan sepantaranku. Atau mungkin usianya di atasku beberapa tahun.

"Karbohidrat sederhana?" mendengar hal itu, aku seperti menghadapi sekumpulan larutan kimia dalam laboraturium farmasi. "Saya nggak ngerti, Dok?"

"Karbohidrat sederhana adalah jenis yang langsung bisa diserap tubuh menjadi gula darah. Contohnya adalah gula. Sirup. Mbak pasti pernah dong jajan di gerai kopi dan pesan vanilla latte, frappucino, caramel macchiato, dan sejenisnya? Nah, dalam minuman itu terkandung gula. Mulai dari sirupnya, susunya, belum lagi SKM, kalau ada. " Dokter Ribka ahli gizi klinis itu tersenyum padaku.

Aku menoleh ke arah Firman. Iya, si Kampret yang pagi- pagi menginvasi rumahku dan membuat Fira mau sukarela jadi anteknya dan membuat pagiku seperti di neraka jahanam.

"Lalu jus buah yang dicampur gula sama SKM. Salad buah yang pakai keju sama mayonnaise."

Mendengar keterangan yang dijabarkan oleh dokter Ribka tadi membuatku melongo. Semua yang manis- manis, tentu saja menjadi favoritku. Kue tar lemon, apple pie, muffin, fudge, brownie, dan martabak Pecenongan kacang, keju, cokelat adalah soulmate ku selama ini.

Belum lagi cokelat. Silver queen, Cadbury Dairy Milk, Tobleron, Kit Kat... Ya Tuhan! Sebentar lagi aku harus mengucapkan Selamat tinggal pada para kekasihku di dunia nyata selain Cha Eun Woo Oppa!

Melihat tampangku yang lemas, dokter muda itu kemudian tersenyum padaku. Senyum penuh pemakluman. "Sebenarnya nggak semengerikan itu. Mbak Fenita masih bisa konsumsi makanan yang mbak suka..."

Pupilku melebar. Seolah ada pengumuman bahwa aku boleh ambil cutie dua puluh hari pertahun. "Tapi saat akhir pekan saja. Mbak Fenita akan saya beri menu diet. Yang enak, gampang, dan praktis. Bisa dibuat di rumah sendiri."

Dan pengumuman cuti dua puluh hari tadi disertai dengan syarat harus lembur saat Tahun Baru!

Alias sama juga bohong!

"Sekarang resto yang menjual makanan diet sudah banyak. Dan mereka juga enak- enak." Dokter Ribka mulai menulis sesuatu di kertas . Mungkin resep diet untukku. Tamatlah riwayatku setelah ini.

"Yang perlu Mbak Fenita ingat, diet ini bukan pemaksaan. Dan bukan bertujuan untuk body shaming atau yang semacam itu. Ini demi kesehatan mbak di masa depan. Sebab orang dengan bobot tubuh berlebihan alias obesitas rentan terkena penyakit. Terlebih karena mbak Fenita juga perempuan. Mioma, endemetriosis, dan lainnya itu bisa juga disebabkan oleh obesitas. "

"Meskipun dewasa ini banyak kampanye yang mendukung big size untuk alasan kepercayaan diri, namun segala sesuatu tentu ada batasannya kan?"

***

Bukannya berterima kasih atau minimal bermanis muka pada Firman yang telah repot- repot membawaku konsultasi ke klinik di Cikini itu, aku malah memasang tampang senewen maksimal.

Sialan Firman ini. Dia mau menerorku apa gimana? Sekarang yang ada aku malah ketakutan dan nggak nafsu makan. Semua makanan seperti teror  bagiku.

"Lo mau makan di mana?"

Aku tetap diam. Malah melengos. Mengawasi jalan raya sepertinya jauh lebih menarik ketimbang melihat tampang nyebelin Firman. "Fen?"

Tiba- tiba kemarahanku mendidih. Berfluktuasi hingga sampai titik kulminasi, dan aku meledak bagaikan mercon banting yang masih eksis di kawinan Betawi. "Maksud lo bawa gue ke sana tadi tuh apa?"

Firman mengernyit.

"Lo mau neror gue lewat pakar? Gue nggak butuh perhatian lo ya?! Gue bisa urus diri gue sendiri. Soal diet, ada Alvin yang bakalan bantu gue. Dia udah janji. Lo datangnya telat tahu nggak! Lo mengacaukan mood gue! Dan sekarang gue nggak bakalan bisa minum Choco malt sama makan martabak Pecenongan lagi tanpa merasa seperti kriminal. Dan gue merasa tubuh gue bakalan menggendut mirip babi betina yang lagi bunting. Puas lo?"

Firman tampak terperangah.  Kaget luar biasa mendengar kata- kataku barusan. Tapi yang kudengar hanya helaan napasnya.

"Kalau lo ngerasa kayak gitu, gue minta maaf. Tapi gue cuma mau nolongin lo sebagai teman. Nggak ada niatan buat neror atau ngeledek lo. Sama sekali nggak ada. Tapi kalau lo nyangka gue begitu, gue minta maaf. "

Dan kemudian hening.

Aku sendiri juga nggak tahu. Mengapa aku seemosional begini. Apa benar ini hanya gara- gara mood yang jelek karena dipaksa bangun sama Fira. Sampai pakai acara diseret- seret dari tempat tidur segala?

Atau sebenarnya aku hanya kecewa karena mengharapkan orang lain yang peduli padaku. Seperti Alvin misalnya. Bukannya Firman.

Aku menoleh ke sampling sekilas. Dan perasaan itu mulai menyerbu dadaku seolah air bah yang datang tanpa peringatan. Rasa bersalahku pada Firman membuatku diliputi penyesalan saat ini.

****

Contents
Contents