Chapter 17 of 23

Enam Belas

Fat And Fabulous1,155 words~6 min read

"Apa nggak bisa dipikirin lagi, Em? Ini persiapannya udah kelar 80 persennya, loh. Dan duit DP udah jelas nggak bakal dikasih balik. Udah kubagi- bagi ke vendor. "

Buat membujuk Emma, aku bela- belain keluar modal banyak ngajak dia ketemuan di toko kue fancy yang ada di Mal premium kawasan Jakarta Pusat.

Hmmmmh, tenang, Fenita. Ini investasi. Bukan pengeluaran. Meski agak gimana gitu soalnya aku tahu, calon suami Emma ini memang persilangan antara buaya dan kampret! Yang minta dikebiri banget burung kutilangnya biar kapok!

Emma adalah jenis alpha female. Dia tahu persis apa yang dia mau. Dia memikirkan setiap tindakannya, reputasinya, dan juga masa depannya. "Tapi aku nggak sudi menghabiskan hidup sama pria macam itu, Fen. Kamu juga pasti ogah kan kalo menikah dan tahu, bahwa ujung- ujungnya pasti cerai. Karena aku nggak bisa noleransi perselingkuhan. Matre masih jauh lebih berguna. Nah ini? Mungkin suatu saat nanti kalo dia beneran selingkuhin aku dan membiayai perempuan itu, buntutnya, aku juga yang tekor!"

Aku mengangguk miris.

"Soal DP, nggak usah dipikirin. Nggak apa- apa kalo emang nggak bisa balik. Aku masih punya banyak waktu buat ngumpulin duit."

Mau nggak mau, aku salut pada pemikiran wanita satu ini. Dia benar - benar dewasa banget. Kalau aku yang  amit- amit naudzubillah mengalami hal tersebut, pasti sudah kusantet calon suami nggak tahu diri begitu. Udah dipungut dari kenistaan masih nggak tahu diri juga!"

" Terus, terus, ke depannya kamu mau gimana, Em?"

"Ya kerjalah, Fen." Emma yang sejak tadi menampilkan wajah tegar, kini tersenyum lelah menanggapi pertanyaanku.

"Ya emang nggak gampang sih, ngelaluin ini semua. Lebih- lebih keluarga itu nganut paham patriarki banget. Mama minta aku ngalah aja. Katanya, laki emang suka begitu. Suka main- main sebelum benar- benar settle down. Tapi aku mikirnya gimana mau hidup tenang kalo yang kunikahi malah bikin aku terancam. Aku pasti bakal terus hidup dalam kecurigaan kan? Dan udah kupastikan, itu bakal nggak enak banget . Jadi.... ya beginilah!" pundak kecil berbalut blazer dari Balenciaga itu terangkat acuh tak acuh.

Aku hanya menatapnya, tanpa tahu apa yang sebenarnya kupikirkan. Tapi yang jelas, aku nggak bisa berbuat apa- apa untuk saat ini. "Semoga kamu dapat ganti yang lebih baik deh, Em."

****

Saat kembali ke Stardust dengan langkah gontai, mataku menangkap pemandangan janggal di halaman bangunan tiga lantai itu.

Mazda hijau bertahta di sebelah carport. Aku tahu siapa pemiliknya. Tapi mengapa orangnya sampai nyasar ke mari?

Aku melangkah masuk bertepatan dengan si pemilik Mazda itu ke luar. Kami bertatapan sebentar. Kupalingkan wajah karena entah mengapa aku kok merasa sangat jengah lama- lama ditatap oleh sosok berkaus putih yang dilapisi jaket denim warna biru, celana jin dan sepatu keds. Rambutnya makin gondrong. Matanya tajam mengamatiku.

"Baru balik lo?"

"Heeh,"

Dia cuma mengangguk- angguk sebelum mengangkat bahu dan lenggang kangkung tanpa pamit.

Aku melongo. Sudah? Begitu saja?

"Ngapain lo bengong di tengah pintu gitu?" tahu- tahu, Deo sudah muncul saja.

"Ngapain tuh Firman ke mari?"

"Lo ngarep kalo dia cariin elo?" Deo kacrut itu menelengkan kepala, alisnya terangkat tinggi dan mimik wajahnya minta ditabok sandal bekas nginjek tahi kuda banget!

"Enggak tuh!"

"Halah, ngaku aja deh lo! Pake sok denial segala!" sekarang si Kacrut satu itu berkacakpinggang. Gayanya sok petantang- petenteng. Apa banget deh!

"Asal lo tahu, selera gue bukan yang kayak begitu!"

"Songong beud jadi cewek! Kalo dia dateng ke dukun terus lo dijaran goyang, bau tahu rasa lo! Cowok tuh kalo sakit hati tuh sebenarnya jauh lebih ngeri ketimbang cewek, tahu!"

"Sotoy lo!" aku mendengus keki. Kemudian menghentakkan kaki dan melenggang melanjutkan langkah kembali ke ruanganku.

Harus segera lapor ke Mbak Dara kalo Emma batal kawin. Dia pasti kecewa berat, si Mbak Dara nanti. Tapi kalo pernikahan si Emma diterusin juga nggak ada faedahnya sama sekali. Ngapain juga mempertahankan penyakit.

Aku hendak mengisi tumbler dengan air dari dispenser, ketika Disa memasuki ruangan. "Mbak Fen? Gimana?"

"Batal." Aku berkata lesu. "Itu tadi ngapain si Firman ke mari?"

"Oh, taken kontrak sama Mbak Dara. Dia bersedia ikut kerjasama jadi vendor kartu undangan. " Disa menarik kursi lantas mengistirahatkan tubuhnya. "Kay mana, Dis?"

"Oh, disuruh Mbak Dara buat ngecek venue di Bogor. Yang kawinan tema pesta kebun itu."

"Oh," jeda yang amat panjang menurutku. Dan kurasa, Disa sedang mengamatiku diam- diam. Aku selalu ngerasa kok kalau lagi diamati seseorang tuh. Rasanya horor sih, sungguhan!

"Kenapa sih lo ngeliatin kayak gitu, Dia? Ada yang salah sama penampilan gue nih? Kenapa? Lo ngomong aja nggak usah takut."

Disa tetap menggeleng. Tapi dari raut wajahnya, aku tahu, bahwa gadis itu menyimpan sesuatu dariku.

***

"Dibatalin?" Mbak Dara bertanya dengan tenang. Tapi aku tahu, ketenangan itu hanya kedok. Sejak pernikahannya dengan Mas Dimas gagal tiga tahun yang lalu, Mbak Dara  memang jadi sosok lain.

"Kenapa bisa begitu?"

"Ya saya nggak enak Mbak ngomongnya. Kesannya jadi kayak jelek- jelekin klien. Tapi, saya udah ngajak Emma ngobrol- ngobrol tadi. Dan emang fix, dia nggak mau ngelanjutin pernikahan sama Tion. Since she's know Tion wandering eyes itu udah nggak bisa diperbaikin lagi." Akhirnya, kumuntahkan juga.

Emang kayak gimana ya? Ini bisnis Wedding Organizer yang paling agak laen sih. Secara pemiliknya ini pernah ada kisah gagal nikah. Tapi sekalinya garap proyek nikahan orang, selama itu Mbak Dara yang ngerjain tetek bengeknya sendiri mulai dari pertama meeting sampai mengurusi perintilan macam konsep, gedung, gaun, katering, bunga, kartu undangan, hingga suvenir, pasti hasilnya exceptional banget.

Semua orang bakalan ngomongin pesta itu sampai berbulan- bulan. Hal itulah yang bikin Stardust tetap diperhitungkan sebagai Wedding planner untuk kaum berduit.

Mbak Dara mengangguk- angguk. Sementara ekspresi di wajahnya sama sekali nggak kebaca blas. Berhadapan dengan jenis manusia seperti Mbak Dara ini memang kudu waspada. Salah ngomong sedikit saja bisa jadi berbuntut pertanyaan panjang.

"Kamu nggak mau cuti gitu, Fen? Kurasa karena kegagalan ini bakalan bikin kamu semacam menyalahkan diri sendiri?"

Ini semacam pertanyaan jebakan apa gimana?

"Mungkin minggu depan aja, Mbak."

Telepon ekstensi di atas meja Mbak Dara berdering. Dia menatapku seolah meminta izin untuk mengangkat panggilan itu. Aku balas mengangguk. Sungguh ini komunikasi yang aneh banget.

"Ya, Nes?"

"Oh, gitu? Oke. Antar ke ruang meeting. Jangan lupa kasih snek sama minum ya."

Panggilan telepon diputus. Mbak Dara menatapku dengan sorot mata yang tenang dan teduh. Kedua tangannya terlipat di atas meja. "Ini ada klien datang. Kesempatan buat kamu. "

Firasatku saat ini sungguh nggak enak.

Mbak Dara bangkit membawa map, notes, dua tablet. Ia melangkah anggun, dan aku mengekorinya bagai anak ayam ngikutin buntut induk ayam.

Dari luar ruangan meeting yang berdinding kaca itu, aku tahu pasti penyebab perasaanku mendadak jadi nggak enak banget itu.

Di sana, di atas sofa warna krem pucat, duduklah pasangan yang akan melangsungkan pernikahan tak lama lagi. Seharusnya, mereka memang menikah sebulan lagi.

Tapi menurut Fira, si biang gosip, diundur jadi tiga bulan lagi. Dan tadinya, mereka mau urus sendiri pernikahan itu. Sebab, aku tahu, si calon mempelai pria itu pasti bakalan rewel kalau disuruh pakai jasa wedding planner yang memang cukup pricey.

Aku merasa seperti hendak menuju ke tiang gantungan. Selesai sudah nasibku.

****

Contents
Contents