Pada akhirnya, aku tetap harus sampai di sini juga. Di sebuah ruko tiga lantai dekat kampus yang berada di Jakarta Barat.
Percetakan itu letaknya sekitar 700 meter dari kampus itu sendiri. Selain percetakan, tempat itu juga menyediakan jasa fotokopi dan pengetikan. Pegawainya sendiri ada tujuh orang.
"Permisi," hiruk- pikuk di dalam ruko itu langsung berhenti, begitu aku beruluk salam. Semuanya menatapku dengan raut wajah penasaran bercampur tawa. Untuk kali ini, aku cuek saja. Aku tahu, mereka menertawakan apa.
"Firmannya ada nggak?"
"Firman?" seseorang menyahut. "Maksudnya bos Firman?"
"Iya."
Sore ini, mendadak napasku jadi ngos- ngosan. Aku belum timbang lagi berapa bobotku. Yang jelas, melangkah rasanya kelewat berat. Kayak semacam harus membawa beban berupa sekarung sampah di badan. Belum lagi, sepatu datar yang kukenakan ini rasanya kayak hampir jebol aja gitu. Barangkali memang sudah nggak tahan menerima gempuran berat badanku yang semakin lama semakin masif.
"Eh, Kodir. Panggilin bos Firman tuh! Bilang ada yang nyariin!"
Yang bernama Kodir itu melemparkan tatapan ke arahku dengan malas- malasan. "Kalo emang dia temen, bos, kenapa nggak telepon langsung aja!" tatapannya itu loh, sinis bangeeeettttt! Aku jadi kepingin melindas mulutnya pakai sepatuku yang bekas kena mencret kuda deh!
Ini pegawainya si Firman pada nggak punya akhlak ya?
"Nggak ada!" sambut yang lain dengan suara sengak. "Firmannya nggak ada! Elu salah alamat kali. Laen kali aja elu balik di mari. Ini kite lagi pade sibuk. Elu," dia mengarahkan telunjuknya ke padaku, "mendingan pergi sekarang juga deh,"
Dasar nggak sopan.
Tapi aku nggak boleh baper. Biar badan gendut, muka berminyak macam wajan punya kang martabak telor, bau badan aduhai, aku mesti tetap punya power di hadapan orang- orang yang nggak punya adat ini.
"Eh, Pak. Saya ke sini tuh bukan mau minta makan gratis ya! Saya ke sini, mau nyetak undangan! Jumlahnya 800 buah!" bentakku balik.
Kurogoh tas dan mengeluarkan amplop berisi DP 70 % yang sudah kutentukan, kuacungkan benda itu seperti memancing sekawanan monyet urakan dengan setandan pisang.
"Tapi kalo cara kalian memperlakukan klien kayak begini, saya nggak sudi tuh nyetak undangan ke sini! Offset masih banyak kok! Bukan cuma di sini doang! Nggak usah sombong! Bhay!" Aku melotot. Nggak yakin seperti apa penampakan wajahku saat itu.
Kemudian balik kanan dan melenggang kembali ke mobil, bertepatan dengan teriakan seseorang yang menyerukan namaku.
Tapi kupingku sudah terlanjur panas. Mataku juga rasanya sudah nyeri, menahan keinginan air mataku untuk jebol dan meleleh di tempat umum begini.
Aku nggak tahu, apa salahnya jadi gendut. Toh aku nggak minta makan sama mereka. Aku cari duit sendiri. Nggak ngerepotin juga. Ini orang- orang Firman memang nggak punya attitude. Aku benci mereka.
Tahu- tahu, badanku diputar mendadak oleh sebuah tangan. Aku sudah nggak tahan. Langsung kutubruk dada Firman. Dia menangkapku.
"Fen, elo kenapa?"
Tubuhku bergetar hebat karena tangis. Aku terisak di dada Firman. Seperti anak SD yang habis dipalak tukang gencet di sekolah.
****
"Elo udah makan belom? Ada toko kue, warung nasi padang, masakan sunda, kafe yang jual makanan western. Mau yang mana. Biar dibeliin sama anak- anak di bawah tuh. "
Aku menggeleng. Di waktu yang lain, tawaran Firman pasti bakalan kusambut dengan senang hati. Bahkan mungkin akan kumanfaatkan buat ngasih pelajaran sama tuh orang- orang belagu.
Tapi saat ini bahkan buat napas aja aku malas banget. Kok hidupku kayak begini banget. Sudahlah timbangan larinya ke kanan terus, kerjaan belakangan nggak ada yang beres. Eh, sekarang masih sempat- sempatnya kena body shaming.
Aku itu juga nggak mau kali punya badan yang kayaknya setiap hari harus melembung gitu. Berat tahu, bawanya. Mana kalo badan udah gendut, produksi minyak dan keringat itu pasti berlimpah ruah.
Setiap menit, aku mesti mengendus- ngendus tubuh. Mencari tahu, apa sudah waktunya nyemprot parfum. Belum lagi pilihan fashion yang jadi terbatas. Belakangan, pakaianku hanya sebatas kaus oversized, celana dengan ban karet. Semuanya itu out of the fashion. Nggak ada modelnya. Jauh dari kata modis.
Belum lagi sepatu. Dalam sebulan, aku sudah habis empat pasang sepatu. Karena solnya gampang tipis dan berakhir jebol sewaktu- waktu.
Nah, kalau semua proyek yang kukerjakan berakhir seperti Emma dan Tion, dengan apa aku beli sepatu yang nyaris harus setiap minggu itu?
Repot jadi aku tuh.
Mau diet, cuma wacana doang. Belum punya motivasi dan konsistensi. Pernah aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku nyaman dengan bobot tubuh yang semakin bertambah setiap harinya? Jawabannya adalah nyaman kalau nggak ada yang mengusik.
Sayangnya kan mulut sama mata orang- orang tuh emang banyak yang nggak punya sopan santun.
"Nggak deh, Man. Lagi males. " Ucapku lirih.
Saat itu Firman membawaku masuk ke ruangan kerjanya yang berada di lantai tiga. Yang juga jadi area pribadinya.
Aku bisa melihat sofa dan televisi, dapur mungil, dua pintu yang satu tertutup--- kemungkinan besar adalah kamar mandi--- lalu pintu satunya lagi sedikit terbuka dan menampakkan ranjang di dalamnya. Mungkin itu kamarnya.
Ruang kerjanya sendiri berada di meja makan dengan empat kursi kayu yang kelihatannya kokoh. Di atasnya ada stoples kerupuk yang tinggal setengah, stoples berisi kacang teri balado, kentang mustofa, abon, rempeyek, botol kecap dan botol saus sambal.
Lalu ada laptop, map, beberapa contoh kartu undangan yang terhampar di atas meja, tablet. Firman sendiri cuma pakai kaus oblong biru gambar Minions dan celana pendek warna khaki. Emang mantep sih kalau kerja di tempat sendiri. Mau berpenampilan gimana saja tetap suka- suka dia.
"Elo? Malas makan?"
Aku mengangguk lesu.
"Lah, tumben. Kenapa?"
Aku langsung melotot ke arahnya.
"Ya udah kalo nggak mau. Nggak perlu melotot ini." Dia akhirnya menyerah. "Jadi ini undangan buat nikahan Dessy sama Erwan? Kok lo yang bikin?"
"Mereka jadinya pake Stardust. Pernikahannya mau diundur dua bulan lagi."
"Elo nggak apa- apa?" nada suaranya terdengar prihatin. Dan aku nggak suka dikasihani. Kesannya kok jadi lemah banget.
"Emang harus kenapa- napa?" tantangku. Mode senggol bacok ke luar.
"Iya, iya, oke. "
Firman mulai memberikan contoh- contoh undangan. Mulai dari yang biasa sampai yang selembarnya berharga 125 ribu.
"Mahal amat? Kalo tamunya 2000 orang bisa bangkrut dong?"
"Tapi kan reusable. Ini bisa dijadiin suvenir juga."
"Tapi undangan di gedung macam ballroom hotel atau balai Sarbini gitu misalnya kan harus diserahin ke penerima tamu kan?"
"Undangan begini memang biasanya buat orang yang punya relasi penting. Lagian lo udah berapa lama sih, berkutat sama dunia planner begini? Kok kaget segala dengar harga undangan yang lebih murah dari harga sepatu teplek elo tuh."
"Eh, sepatu gue ini paling enggak bisa tahan seminggu ya? Lagian sepatu itu fungsional. Ini undangan kawinan, paling banter sih gue di harga 65 ribu. Habis acaranya selesai Itu undangan pasti dibuang aja. Gue pesannya aja sampe ketar- ketir kok. Takut kalo tiba- tiba calon mempelainya mutung, batal kawin, terus tuh nasib DP melayang kan sayang banget!"
"Trus gimana cara lo ngebujuk klien buat milih undangan yang berkelas, kalo pendapat lo tentang kartu undangan aja hanya sebatas pada fungsional benda itu?"
"Gue nggak pernah mengarahkan mereka buat milih yang mahal. Tapi gue bisa pastiin kalo mereka pilih yang bagus. Begini- begini selera gue tinggi tauk!"
"Ya udah, deh. Gini aja," Firman mengusulkan. "Besok lo ke sini lagi sama calon mempelainya kan?"
Aku mengangguk.
"Nah, berarti, sekarang masalahnya udah beres. Gue yakin, sepupu lo nggak bakalan nyerahin pilihan desain kartu undangan ke elo. Dia pasti panas banget. Mendingan sekarang temenin gue makan nasi padang aja. Dari tadi belum makan nih. "
"Oke aja sih!"
Diet? Besok lagi aja ya?
****