Chapter 3 of 23

Dua

Fat And Fabulous1,382 words~7 min read

"Kak Fen, anterin yuk. Jahit kebaya buat nikahan Kak Dessy?" Fira merapatkan dirinya di kusen pintu kamarku yang malam ini lagi rebahan sambil maraton nonton drakor.

Kuputar bola mata dengan jengah. Tepat saat muka ganteng Cha Eun Woo muncul di layar laptop 17 inci milikku,  rengekan adikku itu kembali menggangguku. Mirip nyamuk tahu nggak.

"Kak... Ayolah! Nikahannya kan dua bulan lagi!" Fira mulai rese. Dia masuk dan ikut rebahan di atas kasurku yang mungkin sebentar lagi sudah mau jebol, karena sudah nggak  kuasa lagi menahan berat badanku yang setiap hari kian bertambah itu. Mungkin kalau bisa bicara, kasur ini bakalan protes.

"Nah, itu dia!" kataku sinis.  "Masih dua bulan lagi kenapa sekarang lo udah  ribut- ribut aja? Berapa lama sih jahit kebaya?"

"Aduh, Kak Feni ini gimana sih? Penjahit langganan aku ini orangnya laris banget loh! Daftar tunggunya konon lebih panjang ketimbang antrian minyak goreng di minimarket bulan apa itu! Ciamik deh pokoknya hasilnya! Atau... Kakak masih dendam karena akhirnya Mas Erwan milih Kak Dessy?" todong anak ingusan itu sok tahu.

Jarak usia antara aku dengan Fira memang cukup jauh. Delapan tahun. Sekarang ini Fira masih menyelesaikan skripsinya. Hanya Tuhan yang tahu kapan dia lulus dan mulai berguna untuk dirinya sendiri.

Kami sebenarnya tiga bersaudara. Kakak sulungku bernama Mas Ferdi, bekerja di perusahaan perakitan mobil di Tangerang. Usia Mas Ferdi lebih tua tiga tahun dariku. Menikah dengan Mbak Intan yang asli Malang dan mereka sudah dikaruniai dua orang anak.

Sementara ayahku adalah guru geografi di sebuah SMA negeri. Usia beliau kini sudah memasuki akhir lima puluhan. Sekarang ini selain  sibuk mengajar, Ayah sibuk memelihara burung dan memancing--- seperti hobi bapak-  pada umumnya--- bedanya, Ayah membuka toko perlengkapan alat memancing dan pakan burung serta ikan. Dia bahkan menyediakan sangkarnya.

Sementara ibu berjualan nasi uduk di depan gang. Sudah sejak beliau menikahi ayah hampir tiga puluh tujuh  tahun yang lalu.

Tadinya ibu bilang hanya mau punya dua anak. Tahunya keluar si Fira pada saat usia ibu tak lagi muda. 34 tahun tepatnya.

Sejak dulu Fira memang ngeselin dan hobi bikin gara- gara denganku. Kalau aku nggak menanggapinya, cewek centil itu pasti akan mengadu pada ibu bahwa aku hobi ngerjain dia. Padahal kan dia yang sering rese. Suka minjem- minjem tas kek, baju, kek , sepatu kek, pokoknya apa aja yang bisa dipinjem sama dia pasti bakalan dipinjem deh. Kalau ukuran kolor sama bra kami sama, pasti juga dipinjem sama tuh bocah baru gede.

Sampai sekarangpun adikku itu tetaplah seorang cewek yang haus perhatian. Lebih heran lagi, si Dodi, pacar Fira kok ya betah punya pasangan yang  tukang ribut begini!

"Ngomong apaan sih? Itu lagu lama tahu. Sudah nggak musim!" aku melengos. Nggak terima dong dikatain begitu! Lebih- lebih sama si centil satu ini.

"Halah, aku tahu sendiri kok. Kalau Mas Erwan lagi ngapel, Kak Feni pasti pulangnya larut banget. " Bibirnya mencong- mencong.

Memang rumah Bik Maemunah berada tepat di depan rumah orangtuaku. Itu pula yang jadi awal malapetaka hidupku.

Kalau Erwam ngapel ke rumah, Dessy kadang kayak semacam sok nimbrung gitu. Dia sih bukannya genit atau apa. Tapi kelihatan banget dia itu selalu cari perhatian kalau ada Erwan yang sedang mampir ke rumah buat ngapelin aku.

Sok monopoli Erwan gitu. Bikin males lah pokoknya.

Kadang minta tolong benerin tivilah, masukin mobil ke garasilah, minta tolong ganti bohlam lah. Singkatnya, di hadapan Erwan, Dessy selalu berperan sebagai putri yang lemah lembut dan harus ditolong.

Padahal aku saja benerin genting bocor juga sendirian. Mau minta tolong siapa? Ayah pasti encok kalau pinggangnya keseleo saat naik tangga. Fira? Dia kan takut gosong. Sementara Mas Ferdi punya rumah dekat tempat kerjanya sana.

Aku nggak  bisa setiap saat  mengandalkan Erwan  karena dia itu juga punya kesibukan lain selain mendengar rengekanku soal mobil mogok atau genteng yang bocor.

Pernah suatu ketika mobilku mogok di tol Jagorawi kapan dulu itu aku nggak  minta tolong Erwan  kok. Aku malah nelepon Deo. Udahannya dia malak aku. Minta ditraktir di Sushi Tei masa?

Gila sih anak muda zaman sekarang. Mainnya ke Sushi Tei. Sekali makan siang aja habis berapa tuh. Sementara harga ayam geprek di kedai Jotos paling mahal cuma 22 ribu. Itupun ayamnya segede paha bayi umur enam bulan. Atau nasi bungkus dari rumah makan padang yang harganya cuma 35 ribu  dapat lauk ayam bakar. 16 ribu kalau pakai telur dadar.

"Gini ya, Fir..." akhirnya aku bangkit dan menegakkan tubuh--- yang kulakukan dengan susah payah. "Gue tuh udah nggak mungkin mikirin kadal satu itu,"

"Ih, gitu- gitu kan Kak Feni udah pacaran sama Kak Erwan selama tiga tahun. Masa enggak ada sakit- sakitnya sih?" matanya memicing dengan gestur kepo.

Tengilnya kumat nih anak!

Sakit? Ya jelaslah! Tapi mau ngaku jelas gengsi dong.

Orang kalau Erwan selingkuhnya sama teman satu kantornya sih aku masih bisa terima dikitlah. Tapi ini Dessy. Yang sejak zaman kami masih pakai popok, aku curiga dia iri berat padaku.

Usia kami selisih tiga tahun. Aku 30, Dessy 27 . Waktu SD dia memplagiat semua gayaku. Aku punya mainan Barbie, dia ikutan beli.

Aku mengalihkan minat pada miniatur dump truck, anehnya dia juga sama. Aku punya kakak, dia ngambek sama orangtuanya dan menyalahkan mereka karena nggak  bikinin  Dessy kakak.

Akhirnya dia mulai memonopoli Ferdi. Terlebih kakakku itu ganteng banget. Mirip Oka Antara gitu. Waktu kelas VIII SMP, Dessy nekat nembak Kak Ferdi. Padahal, Kakakku waktu itu sudah pacaran sama Kak Tasya yang notabene gampang banget cemburuan.

Jadi liburan waktu itu Kak Ferdi pulang ke rumah. Dia berkuliah di Bandung, dan hanya pulang sebulan sekali soalnya dia juga nyambi kerja di percetakan.

Kebetulan, Tasya punya saudara yang timggal di Bulungan. Jadi waktu itu dia ikut mampir ke rumah kami.

Begitu mendengar Ferdi pulang, Dessy langsung meluncur ke rumah ibu. Menyapa Kak Ferdi dengan manja bahkan memonopolinya dari Tasya.

Pokoknya, setiap Tasya mampir, Dessy akan terus menggelibet di sekitar Ferdi. Bahkan ketika Ferdi mengajak Tasya dan aku ke kebun binatang Ragunan. Sehingga Tasya tobat dan memilih putus dari Ferdi.

Setelah itu, Ferdi jarang pulang ke Pasar Minggu. Dan Dessy menyalahkanku karenanya.

Mungkin karena itu dia merasa berhak merebut Erwan dariku. Merasa bahwa aku menggagalkan cinta pertamanya.

***

"Woi, ngelamun mulu!" tahu- tahu Deo sudah berdiri di sampingku. Tangannya dengan lancang merayap ke tabung keripik kentang punyaku. Entah mengapa hari ini nafsu ngemilku raib.

Semacam lagi nggak mood gitu. Malas ngapa- ngapain. Maunya rebahahan sambil nonton drakor gitu.

Tapi apa mau dikata? Namanya juga masih ngebabu ya kan. Apalagi jam satu siang nanti aku punya janji sama klien. Ini klien ngajak ketemuan di tempat paling sehat sedunia.

Yep, McDonald's. Betapa sehatnya ayam goreng tepung, burger, dan kentang goreng! Wah, cacing- cacing di perutku sih bisa pesta pora. Tapi jantungku waspada.

Belakangan saja rasanya aku kayak sesak banget gitu. Engap. Ngos- ngosan. Jalan lima langkah aja rasanya macam naik gunung.

Karena merasa aku nggak merespon tindakannya yang ngembat keripik kentangku sembarangan, si Deo malah makin jadi. Dalam sekejap, Pringles itu kosong.

Begitu kaleng Pringles kosong, aku memutuskan untuk mengakhiri sesi melamunku, dan lanjut ngemil. Begitu kuangkat si tabung keripik, eh kosong!

Deo kutu kupret! Made kipe nih orang!

Eh, dia malah meringis. Mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk tanda peace!

Peace Embah lo!

"Ganti nggak?" desisku sengit. Sangat pelan. Mirip kalau Kak Ros di Upin- Ipin lagi murka. Mungkin kalau dijadikan komik, sudah keluar sinar laser dari kedua mataku.

"Peace, dong. Fen. Yaelah, ini cuman keripik doang! Berapa sih harganya?! Gue ganti deh!" matanya kemudian menyapu tubuhku dengan tatapan penuh penghakiman. Aku tahu kata- kata selanjutnya yang akan terlontar dari mulut lebar mirip buaya itu.

"Lagian badan udah segede gitu cemilan yang sehat dikit kek,"

Aku nggak terima dong.

"Nggak usah melotot! Mata lo udah sipit gitu kegencet sama pipi!"

"Kurang ajar tuh mulut nggak sekolah lo! Asal ngejeplak aja! "

Saat itu masuklah Firman yang belakangan hobi beredar di kantor Stardust. Padahal dia sudah punya usaha sendiri. Firman bersama seorang temannya mendirikan usaha cuci motor dan mobil,  usaha percetakan, serta usaha apparel.

Aku sih agak apatis soal usaha apparel itu. Soalnya lihatlah dandanannya? Celana jin biru belel yang mungkin udah dipakai ratusan purnama, kemeja flanel kotak- kotak warna biru tinta, rambutnya gondrong dan ikal udah mirip sama Sabrang Damar Mowo Panoeloh alias "Noe" vokalisnya Letto, band yang populer tahun 2006- an itu.

Belum lagi tas gaya post man itu. Ya Ampun, yang kayak gini mau usaha apparel? Gimana nasib pelanggannya coba?

***

Contents
Contents