Chapter 8 of 23

Tujuh

Fat And Fabulous1,214 words~7 min read

Aku lagi nongkrong di Geprek Jotos sambil serius lihatin  gambar- gambar mobil bekas di website mobil bekas.

Mobil yang kupakai sekarang terlalu kecil. Aku susah masuknya. Rencananya mau ganti Avanza atau yang sejenis. Pokoknya yang harganya terjangkau lah.

Iwan lewat. Siang ini geprek Jotos ramai banget. Aku duduk di pojok. Berharap jadi nggak kasat mata. Meja di sebelahku diisi oleh sekumpulan anak sekolah yang berisiknya bukan main.

Cekikikan, hahahihi, jeprat- jepret pakai kamera ponsel. Bikin kesel banget.

Aku cuma pesan chicken strips sama segelas jumbo lemon squash. Gelasnya segede gentong. Tapi konsentrasiku buyar saat kudengar bisik- bisik cewek- cewek SMA yang masih sambil cekikikan nggak jelas itu.

"Lihat tuh," aku mendengar salah satu dari mereka berkata pada temannya, "gue jamin deh pasti belom kawin!"

"Ah jangankan kawin, punya pacar aja belum tentu!" sambut yang lain dengan antusias. "Lo perhatiin deh. Umurnya paling banter di atas tiga puluh. Kakak gue yang bohai aja susah hari gini dapat pacar!"

"Kakak lo yang mana?"

"Kak Siska lah! Yang mana lagi!"

"Bukannya dia udah kawin tiga tahun yang lalu!"

"Cere!"

"Gila sih!  Secara Kak Siska kan pramugari rute internasional gitu, "

Mendengar obrolan para cewek berseragam putih abu- abu yang semakin lama makin berisik, aku cemberut. Kemudian sebuah suara bariton yang empuk dan enak didengar, menyapaku ramah.

Kudongakkan kepala. Senyum pria berkacamata yang siang itu pakai Polo shirt abu- abu dan celana jin dengan warna senada.

Wuih!!! Ganteng abis deh pokoknya! Auranya meeen! Mirip sama Ji Chang Wook! Giling sih ini cowok kelas A++. Sedang tersenyum ke arahku.

"Lagi sibuk Fen?" tanyanya.

"Bukannya elo nih? Lihat full banget nih warung. "

"Alhamdulillah. Rezeki anak soleh!"

"Wah, bisa jayus juga ya lo!"

"Jadi lagi sibuk apa?"

Aku tertawa garing. Masa mau ngaku kalau lagi cari mobil sih? Kesannya kan kayak sombong gitu nggak, sih? Cari mobil kayak mau beli baju di online saja.

"Nggak sih. Iseng- iseng aja. "

"Pesen ini doang ya? Nggak mau nambah?" dia melihat ke piringku yang hanya tersisa dua potong chicken strips. Padahal meskipun cuma pesan satu jenis doang aku tadi pilih yang jumbo. Isinya empat belas pcs. Habis kalau yang porsi reguler cuma dapat lima biji sih.

"Ini aja udah cukup. Tadi di Stardust udah dikasih banyak snek kok sama Mbak Dara. "

Alvin manggut- manggut. Aku merasa dia memperhatikanku. Kemudian tatapan mata kami bertemu. Aku buru- buru memalingkan wajah karena malu. Pasti saat ini mukaku udah mirip kepiting rebus, udang rebus, dan semua yang direbus. Memerah gitu lho.

Kami kemudian ngobrol ngalor- ngidul. Soal pekerjaanku. Dan ternyata selain sebagai pemilik ayam geprek Jotos, Alvin punya profesi lain yang nggak kalah menariknya; guru SD.

Aku benar-benar terpukau, terperangah, tertegun, terheran- heran. "Serius?" tanyaku nggak percaya. Soalnya di kota sebesar Jakarta ini semuanya berebut buat masuk ke perusahaan multinasional, perusahaan start up, atau perusahaan bonafide lainnya.

Yang bercita- cita menjadi guru semakin ke sini semakin nggak banyak. Makanya aku kagum banget.

"Kok bisa gitu? Emang udah cita- cita sejak dulu apa gimana?"

"Mamaku dulu guru SD. Setiap lebaran rumah rame banget sama murid- muridnya yang pada datang buat silaturrahim. Gue ngelihatnya sih itu seru banget! Terus pas waktu gede gue jadi punya cita- cita jadi guru,"

Aku manggut- manggut juga. Tanpa sadar udah nyomot dua biji chicken strips yang terakhir. Minumanku pun tandas. Emang sih ngelihatin orang ganteng tuh bisa bikin mood balik enak lagi. Dan bikin kita jadi keterusan makan.

"Emang ngajar apa?"

"Ngajar olahraga sih. Anak kelas satu sampai kelas tiga aja,"

Mulutku membulat sambil manggut- manggut entah untuk yang keberapa kalinya hari ini. Bisa- bisa aku disangka mirip ayam kena tetelo. Ajep- ajep gitu.

Lagi asyik ngobrol, eh si Firman datang. Ngajakin si Disa. Aku melongo. Dua orang ini datang di saat yang nggak tepat banget. Aku kan lagi mendekatkan diri sama bakal calon pacar baru ini.

Iya bener! Aku naksir Alvin. Tepatnya naksir berat gitu. Dia itu teladan banget. Udah ganteng, karismatik dan teladan. Kurang apa coba.

"Ngapain lo pada di sini?" tanyaku. Mungkin terdengar agak sewot juga. Dasar pengganggu.

Aku sama Disa emang deket. Tapi ini bukan waktu yang tepat buat ngobrol sama Disa. Ini waktunya aku tebar pesona!

"Kiana. Denger- denger lagi ada di Jakarta. Mo mampir nggak lo?" Firman yang jawab. Disa seperti biasa, diem aja di samping Firman.

Rata- rata anak Stardust itu ceriwis soalnya mereka basic nya marketing separuhnya lagi makelaran. Tapi Disa ini semacam anomali. Pembawaannya yang kalem bikin banyak pria sukses baper. Dia emang nggak banyak ngomong, tapi tingkat kesuksesan acara yang ditanganinya juga tinggi. Karena itu mbak Dara dan Mbak Kanaya meletakkannya di EO. Karena banyaknya kejadian pernikahan yang gagal akibat mempelai pria yang malah kepincut sama agent Wedding organizer atau wedding planner.

Jadilah Disa ini hanya menangani acara ulang tahun, seminar, event- event peluncuran produk dan baby shower.

"Lha terus?" tanyaku bego.

Haloooo! Emangnya mereka nggak lihat apa aku lagi ngobrol- ngobrol sama cowok cakep--ngobrol akrab mengarah ke mesra gitu. Main serobot aja ini si Kunyuk Firman. "Gue udah lama nggak ketemu Kiana nih," ujar Firman yang nota bene pernah ngaku secara pribadi ke aku kalau dia sempat naksir Kiana di awal- awal masuk Stardust.

"Percuma!" cibirku. "Kiana kan udah tunangan!"

"Masa?"

"Halah! Pura- pura bloon. Waktu itu gue udah pernah bilang ke elo deh kayaknya!" ujarku gemas.

"Eh, kok berdiri aja sih. Silahkan duduk!" Alvin malah bangkit dari kursinya. Mempersilakan Disa dan Firman duduk. "Fen, gue tinggal ke belakang bentar ya. Lanjutin aja ngobrolnya. Ntar gue suruh Iwan antarin minuman!"

***

"Lo berdua tuh nggak ngerti orang lagi pedekate juga! Pake acara nyela- nyela segala! Ke tempat Kiana kan masih bisa besok! Gue nggak bisa setiap saat beruntung ketemu sama Alvin tauk!" Aku masih betah menggerutu meskipun kini sudah ada di dalam mobil yang dikemudikan Firman menuju rumah Kiana di Mampang.

Disa yang sudah paham betul tabiatku, hanya diam sambil nyengir- nyengir ke arah Firman. Cewek berhijab berusia 25 tahun itu menoleh ke arah Firman.

Dia duduk di jok penumpang di samping Firman. Sementara aku di jok tengah. Males tahu dekat- dekat sama Firman. Nyebelin banget. Entah kenapa aku terkadang itu bisa sebeeel banget kalau lihat Firman itu. Padahal dia nggak salah apa- apa. Sejak dulu kalau lagi  bad mood atau PMS, lelaki itu yang selalu jadi pelampiasanku.

"Kiana kan nggak tiap hari juga ada di Jakarta, Fen." Anehnya Firman itu masih bisa meladeniku dengan sabar. Terlebih kalau aku lagi uring- uringan begini.

Ibarat kata kalau sama Firman itu aku jauh lebih manja ketimbang sama Ferdi. Atau Firman ke adik- adiknya. Padahal dia juga punya dua adik perempuan.

Aku melengos mendengar pembelaan Firman.

***

Kiana sih tetap kayak Kiana yang dulu. Cantik, langsing, tapi kali ini dia kelihatannya agak murung dan pucet banget kayak tembok. Saat mataku memindai seluruh tubuhnya dan berhenti di perut bagian bawahnya, aku tertegun. Bagian itu agak sedikit membuncit. Mirip orang lagi bunting.

"Lo hamil, Ki?" spontan saja aku bertanya. Dan dapat hadiah berupa injakan kaki dari Firman. Aku melotot.

"Bukan. Tapi mioma."

Sekejap aku kembali tertegun. Mioma? Itu kan sejenis tumor jinak yang meskipun biasanya tumbuh di luar rahim tapi tetap berpotensi bikin orang sulit hamil!

Kami pun akhirnya berakhir dengan sesi tangis- tangisan di halaman belakang rumah Kiana yang asri. Penuh dengan bunga- bunga dan aneka tanaman cantik. Bukan seperti halaman belakang rumahku yang penuh dengan sangkar burung peliharaan bapak plus tahinya juga.

***

Contents
Contents