"Sedih banget nggak sih, Kiana jadi gitu?"
Aku yang masih kebawa suasana mellow yellow karena mengetahui kondisi Kiana yang lagi nggak baik-baik aja, masih merasakan kesedihan.
Masih mewek di dalam mobil yang dikemudikan Firman kembali ke Stardust buat ngedrop Disa. Kalau aku habis ini ada janji mau nemenin klien fitting gaun pengantin di Shandara Hakim jam lima. Sekarang sudah mau jam empat. Semoga macetnya nggak nyebelin deh.
"Ya namanya juga musibah, Fen. Mau diapain lagi. Lo sih tadi kagetnya lebai banget. Untung aja Kiana nggak histeris terus pingsan,"
"Habis gue kan syok, " kilahku membela diri sambil manyun nggak terima.
"Ya syok sih, syok. Tapi kira- kira dong! Kiana udah kayak yang pasrah gitu. Masih aja lo takut- takutin!"
Firman teruuusss aja ngebela Kiana. Mentang- mentang pernah naksir.
Aku cemberut di bangku belakang. Sementara Disa seperti nggak kasat mata. Sebab kalau aku dan Firman mulai ribut adu mulut, dia pasti menyingkir atau diam atau tidur.
***
Selesai mengedrop Disa ke kantor Stardust, Firman mengantarku ke butik Shandara Hakim. "Lo duduk depan dong, Fen. Lo sangka gue sopir lo? Sini!" Firman mengarahkan dagunya ke jok penumpang depan.
Aku tetap manyun.
Aku sampai heran sama diriku sendiri. Manyun kok terus- terusan. Nggak takut kalau bibirku maju kayak bebek?
"Males tahu." Ujarku dengan tampang bete. "Mesti keluar turun, naik lagi. Mager."
Firman menghela napas. Nggak ngomong lagi. Setelah memutar kunci kontak mobil, Innova hitam yang entah milik siapa ini meluncur mulus ke tempat janjianku sama klien.
***
Klienku yang ini bernama Winny. Seorang penyiar radio top di Jakarta. Dia akan menikahi seorang pengusaha F& B bernama Putra.
Sesuai dengan konsepnya yaitu pernikahan luar ruangan, Winny ingin gaun pengantinnya tampil beda. Bukan tipe yang menyapu lantai.
Butik Shandara Hakim terkenal dengan gaun pengantin gaya Korea dan Hong Kong. Selain modelnya bagus, chic dan nggak kelihatan tua kalau dipakai, tentu saja butik ini juga lebih murah dibandingkan dengan Valentino atau Alexander McQueen.
Mungkin calon mempelai perempuan yang memuja dan berkiblat pada gaun- gaun pengantin ala barat serta punya budget lebih, pasti merengek minta didatangkan gaun- gaun pengantin ala putri- putri Eropa begitu. Paling dekat ke Singapura. Tapi kebanyakan langsung minta ke Paris atau Milan.
Pernah suatu kali aku harus menggantikan Mbak Kanaya untuk menemani klien untuk hunting gaun pengantin sampai ke butiknya Giambattista Valli yang di Paris. Itu pengalamanku yang paling menakjubkan. Sekaligus menakutkan.
Orang mungkin banyak yang bercita- cita untuk pergi ke luar negeri atau punya angan- angan keliling dunia. Tapi aku anehnya belum punya keinginan sejauh itu. Paling mentok pengin ke Korea. Ke pulau Jeju. Ke Daegu. Ke Busan. Lihat langsung muka Cha Eun Woo, Park Seo Joon, atau Song Jong Ki atau Han So Hee. Meskipun pelakor, aku suka banget sama kecantikan aktris Korea yang satu itu. Biar seluruh dunia menghujatnya, namun bagiku, Han So Hee adalah yang paling cakep selain Song Hye Kyo, Park Shin Hye, dan Rose Blackpink.
"Lo kenapa sih diem aja."
" Lagi males."
Firman melirik sekilas ke arahku. Aku? Tetep asyik cari mobil bekas lewat website. Giling deh. Mobil bekas di web hampir setara dengan satu mobil baru.
"Lagi sibuk ngapain sih?"
"Mau tau aja!"
"Feeennn..."
Aku langsung menegakkan tubuh. Entah kenapa mendengar suara Firman yang barusan itu bikin aku merinding disko. Firman jarang marah soalnya. Sedikit banyak, aku agak takut kalau dia marah betulan sama aku.
Hubungan pertemananku sama cowok satu ini memang nggak bisa dibilang semulus jalan bebas hambatan. Tapi aku betul- betul menghargai dia sebagai teman yang sejak dulu selalu ada kalau aku butuh.
"Gue pengin beli mobil. Ganti maksudnya. Yang sekarang ini gue susah pakainya. Kadang menurut gue bannya kempes terus. Padahal enggak pas gue lihat."
"Rencananya mau ganti yang kayak gimana?"
"Yang gede lah. Macam Avanza, APV, atau jenis SUV lainnya. Eh yang kayak begini mahal ya pasti?"
"Nggak juga. Tergantung budget. Kalau mau, gue bantuin. Gue punya temen yang kerja di showroom mobil bekas. Kapan lo longgar, gue ajak ke sana deh. Kalau cari lewat web mahal soalnya."
Lagi- lagi aku manggut- manggut.
"Terus yang lama mau lo kemanain?"
"Gue jual buat nambah. Tapi aslinya sayang juga sih Fir. Mobil yang itu kan banyak kenangannya. Mau gue kasih ke Fira, tapi duitnya takut kurang. Menurut lo gimana ya?"
Firman tampak berpikir sejenak. "Entar deh gue lihat barangnya. Siapa tahu gue bisa bantuin jual. "
Aku mengangguk. Tanpa terasa mobil yang kutumpangi ini sudah berada di depan butik Shandara Hakim yang masih berada di kawasan Bintaro. Heran deh aku, di kawasan ini aja ada tiga rekanan Stardust. Ngumpul di satu area. Ada SAS Groomsmen, lalu ada butik Inge.
"Eh, Fir. Bukannya lo jijay sama Iin? Lo yakin mau nemenin gue ke dalam? Sekarang dia makin badai lho! Bisa- bisa elo kewalahan. Kemarin aja pas gue ke sini bareng Deo dia diuyel- uyel sama tuh manusia!"
Sekilas wajah Firman tampak ngeri mendengarku menyebut nama salah satu asisten Shandara. Pada zaman dahulu, Firman pernah punya satu pengalaman buruk sama Indra alias Iin.
Yaitu Firman hampir... hampiiirrr... aja dicium manusia itu. Aku nyebut begitu soalnya nggak tega bilang dia bencong. Soalnya biarpun masuk kategori cowok melambai, Iin kadang masih bisa mengeluarkan sisi maskulinitasnya kalau berada di dekat Hera, adik tirinya.
"Gue tunggu di kafe itu gimana?" Firman menunjuk kafe yang berada persis di seberang butik bernuansa pink sakura dan putih. Cantik dan ceria banget.
"Oke. Kalau ada pesenin gue chocomalt ya. Yang dingin. Terus sama donat!"
Aku pun berusaha keras untuk turun dari mobil yang setelah kutinggalkan joknya jadi melesak ke dalam. Aku tersenyum malu ke arah Firman yang mendesah pasrah melihat jok mobil pinjamannya jadi nggak karu- karuan.
***
"Ih, jij..." seru Iin alias Indra Saputra menyapaku dalam balutan kaus putih berkerah V ketat dan celana jin warna abu- abu yang membungkus kakinya dengan bagus. Astaga, kaki si Iin benar- benar bikin aku iri setengah mati. Udah panjang, ramping cenderung kurus, cakep banget dalam balutan jin begitu.
Sementara aku sendiri sudah mulai nggak jelas bentuk pakaian yang kukenakan. Blus oversized yang modelnya nggak jelas, celana hitam berbahan kain yang harus triple kaitnya kalau nggak mau perutku tertekan. Ban pinggangnya juga harus tinggi. Kakiku mirip kaki gajah.
"Makin lama makin subur aja, Sis! Umur udah kepala tiga. Anak perawan udah mirip embok- embok yang udah ngebrojolin satu lusin bayi aja!"
Iin kalau menghina memang nggak ada adatnya sama sekali. Suka nyelekit aja. "Inget kesehatan, Bestie. Umur orang yang terkena obesitas itu..." Pria berusia sepantaran denganku itu memejamkan mata, menggigit bibir sambil geleng- geleng.
Seolah- olah keadaanku sudah nggak tertolong. Memprihatinkan banget.
"Jantung jij... itu lho ... apa nggak sayang? Baru- baru ini pernah denger berita heboh nggak? Ada pasien obesitas yang musti diangkut pake crane buat dievakuasi ke rumah sakit? " Matanya mengerling.
Indra ini emang cakep banget. Kulitnya putih bersih. Gayanya selalu stylish. Up to date. Simpel tapi berkelas. Bahkan nggak mirip sama sekali dengan banci Thailand dalam karnaval itu. Dia itu normal aja gayanya. Tapi menyenangkan buat dipandang.
"Si Winny belum datang kan?"
"Belum." Ujarnya cuek. "Barangkali jamnya dibikin dari karet. Jadinya telat terus!"
***
Berjalan dari butik Shandara Hakim ke kafe di seberang tempat Firman menungguku saja aku sudah ngos- ngosan. Umur baru mau menginjak 31 tahun empat bulan lagi, tapi rasanya napas udah empot- empotan. Senin- Kamis. Mirip lansia. Uzur.
Padahal jarak butik ke kafe juga cuma seratus meter. Soalnya halaman depan butik Shandara Hakim memang lumayan luas. Meskipun nggak seluas punya Bu Inge sih.
Saat masuk ke dalam kafe, kulihat Firman lagi asyik main handphone. Dan yang bikin aku terkejut, dia pesan sofa untuk kami duduk.
Kafe itu rupanya juga menjual aneka masakan western. Aroma daging yang sedang dipanggang bikin aku ngiler. Perutku tiba- tiba melintir. Cacing- cacing udah pada demo. Sambil bawa spanduk barangkali.
"Mereka nggak jual donat jam segini. Adanya pagi. Lo mau pesen apa? Tadi gue pesen semacam ayam bakar pakai rosemary atau apa gitu." Katanya, sementara aku berusaha mendaratkan tubuh sepelan mungkin.
Nggak mau kalau harus ganti rugi sofa kulit mahal ini. Firman menyerahkan buku menu padaku.
***