Bab 1221
Ruang Untukmu
Bab 1221 Hari Pertama di Kantor Qiara mengemudi mobilnya melintasi kemacetan jalan raya. Suasana hatinya terasa berbeda pagi itu.
Hanya dalam dua hari, kehidupannya berubah, dan itu semua karena dia bertemu Nando.
Saat dia melangkahkan kakinya di lobi hotel, semua resepsionis hotel hampir melongo, tidak percaya bahwa perempuan cantik dan anggun ini adalah Qiara yang mereka kenal.
Dia mengenakan barang bermerek di sekujur tubulinya, dan tas Chanel yang dijinjingnya adalah model terbaru musim ini. Bahkan sepatu hak tingginya adalah model terbaru dari salah satu merek terkenal, tetapi tidak terlihat mencolok berlebihan pada Qiara. Dia begitu anggun memesona, mereka tidak patut cemburu dengan apa yang dikenakannya.
âPagi, Lena,â sapa Qiara.
âKami hampir tidak mengenalimu, Qiara.â
Tepat ketika itu, ponsel Qiara berdering, dan jantungnya mulai berdegup saat melihat siapa yang meneleponnya. âHalo?â
âDi mana kamu?â tanya Nando.
âDi lobi. Saya akan segera ke sana.â
âLantai tiga puluh delapan.â
âBaik, segera. Lalu Qiara mengatakan selamat berpisah pada para resepsionis dan masuk ke dalam lift.
âSaya mencari informasi tentangnya di Google. Tebak apa yang saya temukan?â tanya seorang resepsionis.
âApa?â
âDia adalah putri Biantara Shailendra. Ayahnya seorang miliuner.â
Oh, pantas dia kenal Nando. Rupanya dia juga berasal dari keluarga kaya raya.
Qiara langsung meluncur ke lantai tiga puluh delapan. Seluruh lantai digunakan sebagai ruang kantor, dan kamar kerja Nando berada di bagian tengah lantai. Luas dan modern.
Nando mengenakan kemeja dan celana hitam. Tidak seperti penampilannya yang biasanya, dia tampak seperti ksatria kegelapan, yang sedang memandangi perempuannya. Hari ini dia berpenampilan seperti perempuan berkelas. Berpadu dengan statusnya.
âSenang bisa melayanimu, Nando.â Qiara menghampiri sambil tersenyum lalu hormat kepadanya.
Nando mengamati, dan merasa sangat puas dengan penampilannya, dan kemudian membawanya ke ruang kerjanya. âSaya antar ke ruang kerjamu.â
Qiara mengikutinya dan masuk ke ruang kerja dengan jendela besar di dindingnya. Sudah ada tempat untuknya, dan meja di sebelahnya milik asisten yang lain.
âIni Cecilya. Silakan kalian berkenalan,â ucap Nando.
Qiara langsung tersenyum kepadanya. âHalo.â
âIni Qiara, asisten baru saya. Berteman baiklah dengannya,â ucap Nando kepada Cecilya.
Tampak senyum hangat di mata Cecilya. âTentu, pak.â Cecilya sudah bekerja menjadi asisten Nando selama dua tahun. Dia perempuan yang baik dan penuh perhatian, dan pada usia dua puluh delapan tahun, dia cukup cakap dan matang dalam mengurus pekerjaannya.
Nando kemudian melihat jam. âWaktunya rapat. Kalian berdua silakan saling berkenalan.â
Begitu Nando berlalu, senyum Cecilya berubah sedikit masam, dan berbalik untuk menatap Qiara.
âNamamu Qiara, kan? Kamu akan mengurus semua dokumen pekerjaan. Saya yang menangani urusan pribadi Bapak Sofyan.â
âBaik.â Qiara berkedip. Oh, dia yang menyiapkan pakaian untuk saya saat di rumah Nando dulu. Saya harus berterima kasih kepadanya.
Cecilya menyesuaikan letak kacamatanya dan berkata serius, âAda satu peraturan yang harus kamu ingat: jangan berpikir macamâmacam tentang bos. Kita dilarang berkencan dengannya. Itu peraturannya.â
Qiara berkedip lagi. âSaya mengerti.â
Cecilya menatapnya lagi. âLain kali, kenakan pakaian biasa saja. Penampilanmu terlalu berlebihan seperti putri kerajaan. Bagaimana akan bekerja jika penampilannya mencolok seperti ini?â