"BAGAIMANA? Bagaimana?"
Kedua bola mata milik Haechan terbelalak akibat kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Mark beberapa saat yang lalu sebelum pemuda itu menyesap secangkir cokelat panas miliknya.
"Seperti yang kau dengar," Mark kembali berujar. "Sebenarnya Jeno memiliki perasaan lebih kepada Jaemin-temanmu yang gila itu."
"Benarkah?"
Mark mengangkat kedua bahunya. "Terserah kalau tidak mau percaya."
"Baiklah, baiklah. Aku percaya."
Kemudian Haechan tertawa kecil. Kembali mengingat berbagai kejadian ketika Jeno menghindar dari serangan asmara yang Jaemin berikan kepadanya selama seminggu penuh mereka tinggal bersama.
Perlu kalian tahu jika keduanya sudah lama beranjak dari toko buku milik ayah Jeno dan duduk manis di sebuah kafe yang sering kali Mark kunjungi bersama sahabatnya itu. Sementara Haechan memesan secangkir cokelat panas dan kue dengan perasa sitrus yang kuat di dalamnya, Mark hanya membeli secangkir Americano dan sebuah smoked beef quiche yang dibungkus di dalam sebuah paper bag.
Haah.
Kini hanya tersisa tiga jam lagi sebelum keduanya harus kembali ke hotel dan melakukan upacara penutupan serta pemberian penghargaan kepada para peserta yang telah berpartisipasi di dalam olimpiade fisika tingkat nasional ini.
Namun, di sela keheningan yang melanda, tiba-tiba saja Mark memanggil.
"Ada apa?" Haechan bertanya sembari memiringkan kepalanya-kebiasaan yang sudah menempel pada dirinya semenjak ia masih berusia dua tahun.
"Kau-"
Sebenarnya, Mark ingin sekali membahas perihal peristiwa yang terjadi kemarin. Sebuah peristiwa yang cukup membuatnya terusik dan tidak bisa tidur dengan tenang hanya karena sibuk memikirkannya.
Hanya saja, ia takut membahasnya.
Karena itu, Mark hanya bisa tersenyum canggung dan mengurungkan kembali niatnya untuk membahas topik mengenai peristiwa yang terjadi di saat-saat terakhir perlombaan sesi ke-dua berlangsung.
"-tidak apa-apa."
Haechan sempat mengerjapkan matanya sebentar sebelum pemuda itu terkekeh. "Baiklah kalau begitu."
Pemuda tersebut kembali menyesap secangkir cokelat panasnya sebelum kembali membuka mulutnya.
"Hyung?"
Mark menoleh.
"Terima kasih atas segalanya."
Mark terdiam. Tidak tahu harus membalas kalimat itu seperti apa sementara Haechan terus tersenyum manis kepadanya hingga kedua mata milik pemuda tersebut menyipit.
"Aku tahu-" lanjutnya. "-kau yang membelikan ku buku itu. Walau kau tidak menjelaskannya kepada ku, tetapi wanita di balik kasir itu melakukannya."
Mark diam, membiarkan Haechan melanjutkan kalimat berikutnya.
"Aku juga tahu kalau kau membelikanku cokelat panas dan kue sitrus ini. Kau juga menarik lenganku ketika lampu pejalan kaki berubah menjadi merah seketika. Kau bahkan mengambilkan buku yang aku inginkan dan memberikannya kepada ku sembari tersenyum."
Haechan menghela nafas.
"Terima kasih atas segalanya, hyung."
Mark masih terdiam. Benar-benar kehabisan akal-memikirkan berbagai cara untuk membalas kalimat tersebut.
Sesungguhnya, ia tidak patut menerimanya.
Tidak seharusnya Haechan berterima kasih kepadanya. Tidak seharusnya Haechan berbuat seperti ini kepadanya yang terus-menerus melakukan perbuatan yang menyakitkan hati pemuda tersebut selama proses karantina berlangsung. Tidak seharusnya Haechan tersenyum kepadanya seperti ini.
Mark tidak pantas.
Karenanya, suara pemuda itu sedikit bergetar ketika ia membalas kalimat yang dilontarkan Haechan.
"Iya... sama-sama."
Pemuda berdarah Kanada itu melipat kembali bungkus quiche-nya dan bergegas untuk membuang cangkir Americano-nya setelah berkata, "Permisi," kepada Haechan.
Ia menghela nafas.
Tidak apa-apa, batinnya.
Haechan itu anak sekolah menengah atas yang terlalu lugu. Karenanya, Mark berpikir jika selama Haechan tidak mengetahui yang sebenarnya, semua hal akan menjadi baik-baik saja.
Ya, Mark membatin. Semuanya akan menjadi baik-baik saja-aku yakin.
***
RENJUN menatap temannya yang kini tidak dapat berhenti tersenyum sejak ia kembali ke kamar hotelnya.
"Haechan-ah?" Pemuda itu bertanya. "Kau baik-baik saja? Sudah minum obat?"
"Aku baik. Sangat baik."
Kemudian, pemuda berkulit tan itu terkekeh lagi-membayangkan sesuatu yang dapat Renjun tebak dengan mudah dalam sekali percobaan.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini hanya ada Renjun dan Haechan di dalam kamar mereka. Menurut kekasihnya sendiri, Chenle tengah bertemu dengan guru pendampingnya guna mengklarifikasi suatu hal. Sementara itu, Yangyang sedang menikmati sarapannya yang merambat ke makan siang di sebuah restauran cepat saji bersama dengan Na Jaemin yang-seperti biasa-ditinggal mengenaskan oleh Jeno.
Kemudian, Renjun menghela nafas.
"Kau tahu-" ia membuka mulut mungilnya dan membuat Haechan refleks menoleh ke arahnya.
"-Mark tidak sebaik yang kau bayangkan, Haechan-ssi."
Kalimatnya tersebut sukses membuat Haechan mengernyitkan keningnya dan memiringkan kepalanya. Sejuta kalimat tanya menghiasi pikirannya. Sejauh ia menetap bersama pemuda berdarah Kanada tersebut, yang ia ketahui adalah betapa baiknya pemuda bernama Mark Lee yang pada akhirnya menempati juara pertama setelah bertahun-tahun itu.
"Maksudmu apa?" Ia bertanya. "Menurut ku dia sangat teramat baik."
Baik apanya, Renjun membatin.
"Apa yang membuatmu berkata jika Mark-hyung bukanlah sosok yang baik?" Haechan masih penasaran dengan jawaban akan pertanyaannya itu. "Apakah dia pernah berbuat jahat padamu? Apakah ia pernah berbuat curang? Apakah dia-"
HAHAHAHAHAHAHAHAHA.
Tawa sinis milik Renjun menggema di seisi ruang kamar dan membuat Haechan memandangnya heran.
"Kau ini tolol ya?"
Renjun masih saja dengan setia menertawai salah satu kawan barunya dalam olimpiade tersebut.
"Dia membodohimu, tahu."
Haechan bergeming.
"He's a coward," Renjun kembali berkata mengenai kenyataan. "Bahkan meminta maaf saja ia tidak bisa. Duh."
"Apa... maksudmu?"
Renjun berhenti sejenak sebelum menertawai pemuda di hadapannya lagi. "Kau masih belum mengerti, tuan muda yang lugu, hm?"
Lagi-lagi, Haechan bergeming.
"Baiklah, akan ku jelaskan," Renjun berkata dengan nada sinis.
"Mark-pujaanmu itu-bukanlah sosok baik hati seperti yang kau pikirkan," katanya. "Ia memanfaatkan keluguanmu yang menganggapnya sebagai dewa hanya karena ia pernah meraih penghargaan sebagai juara dua pada olimpiade tahun lalu. Ia berusaha untuk mengusirmu, membuatmu tersiksa, dan membodohimu-hanya untuk kemenangannya belaka."
"Lagi pula, kau ini seperti boneka. Mau saja menuruti dirinya seperti sepasang anjing dan majikannya."
Renjun tertawa lagi, tidak menyadari jika sebuah bulir air mata kini membasahi pipi kawan barunya.
"Duh, dia tidak berusaha untuk memotivasimu," ia berkata lagi. "Ia hanya berusaha untuk menjauhkanmu dari wilayah kemenangannya. Sepenuhnya berharap jika kau dan mimpimu untuk menjadi seorang juara hancur begitu saja seperti sampah."
Hentikan.
"Bahkan," pemuda itu tertawa entah untuk kali ke-berapa. "Pemuda yang kau agungkan namanya itu berani mencuci pikiranmu untuk memberikan kemenanganmu kepadanya. Berkata jika ia lebih layak untuk menjadi seorang juara pertama agar ia tidak lagi menjadi bahan perbincangan khalayak karena berstatus sebagai sang juara dua yang abadi. Agar ia tidak lagi mendapat tamparan keras dari sang Ayah. Agar ia tidak bisa melihat wajahmu yang mengenaskan ini lagi."
Ketika Renjun menghentikan kalimat penjelasannya, di saat itulah air mata Haechan mengalir dengan deras.
"Setelah ini-"
Hentikan!
"-kau masih ingin mempercayainya lagi, hm?" []
***
© Rayevanth, 2019
[a/n]
double update, yay!
by the way, i just REPUBLISHED my one shots collection of NOMINð
I'm so excited wHeeEeEe
Go vote and comment, guys~
Love yaa
-ray, 2019