Chapter 12: Part 11

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 7938

"BAGAIMANA bukunya? Bagus?"

Haechan tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pemuda berdarah Kanada tersebut dan malah bergeming, tidak merespon sedikitpun.

"Halo, Haechan-ah?" Mark tertawa kecil sembari menggoyangkan tangannya di hadapan pemuda tersebut. "Kau sudah baca belum, buku yang kau beli bersama ku tadi?"

Entahlah.

Mark tidak suka jika harus berhadapan dengan Haechan yang pendiam. Ia merasa jika kata tersebut tidak sesuai dengan perilaku Haechan yang terlalu berisik dan bersemangat sehingga kadang kala ia sendiri dibuat sebal oleh pemuda Busan tersebut.

Keduanya tengah berkumpul di meja yang sama dengan Jaemin, Jeno, dan beberapa kawan lainnya. Bisa kalian duga jika Jaemin dan pemuda yang ia gandrungi tersebut duduk bersebelahan, menyisakan Haechan dan Mark yang mau tidak mau duduk bersama sepanjang upacara pemberian penghargaan dan makan siang.

Sungguh.

Tidak terasa jika proses karantina akan segera berakhir. Hanya tersisa dua jam menjelang pemberian penghargaan dan para peserta kembali disuguhkan dengan makan siang yang menyenangkan—banyak menu yang mengenyangkan dan hidangan penutup yang menggiurkan. Semua itu mampu membuat beberapa peserta terlepas dari kesedihan mereka akibat tidak memenangkan olimpiade yang mungkin menjadi olimpiade terakhir yang mereka ikuti ini.

Senda gurau dapat terdengar di berbagai sudut ruangan. Bahkan, dari jarak yang terbilang cukup jauh, Haechan mampu mendengar suara tawa milik Chenle yang baru saja digoda oleh Renjun dan Yangyang.

Ah, mengenai Renjun.

Usai kejadian di kamar mereka beberapa saat yang lalu, Haechan tidak lagi menyapanya. Hanya sekadar mengangguk canggung jika ditanya. Bahkan, ia tidak mengindahkan pertanyaan Chenle mengenai ada apa di balik keduanya yang bertindak cukup aneh semenjak pemuda itu meninggalkan kekasihnya sendirian di dalam kamar selagi ia mengklarifikasi sesuatu dengan guru pembimbingnya.

Sukar untuk mempercayainya, tetapi lagi-lagi Haechan bertanya pada dirinya sendiri.

Ia tahu apa?

Mengenai Mark, ia baru mengenalnya enam hari yang lalu. Melalui kejadian yang tidak menyenangkan pula. Lantas, bagaimana ia tidak menyadari niat buruk pemuda itu di saat ia begitu terlena akan ke-baik-an pemuda berdarah Kanada tersebut?

Oh, jika ditanya, Haechan akan mengaku jika ia sangat menyesal.

"Haechan-ah, aku tanya—"

BYUR.

Menyesal menjadi terlalu baik bagi seorang pemuda seperti Mark Lee.

Sontak, setiap pasang mata yang terdapat di ruangan itu memandang ke arah keduanya. Sosok Mark yang sekujur tubuhnya basah akibat tumpahan jus jeruk yang disengaja dan sosok Haechan yang menatap pemuda tersebut dengan raut wajah yang kentara sekali rasa sebalnya sembari memegang sebuah gelas.

Inikah yang disebut 'puas'?

"Kau—" Baru saja Mark ingin bertanya, namun Haechan memotongnya.

"Senang?"

Pemuda itu bertanya dengan suara yang cukup lantang sehingga semua orang yang terdapat di ruangan yang sama mampu mendengar percakapan keduanya bahkan dari kejauhan—termasuk Renjun dan Chenle yang duduk di dekat panggung utama.

"Haechan-ah," Mark yang segera mengetahui arah permbincangan mereka segera memanggil sang pemilik nama. "Aku bisa menjelaskan—"

"KAU SENANG?"

Haechan memandangnya, kecewa.

"Sudah puas?" Pemuda itu kembali berkata. "Mendapatkan juara pertama seperti dambaanmu itu, hyung? Sudah puas membodohi ku dan membuat ku tampak seperti orang dungu di hadapanmu, hyung? Sudah puas membuat ku kecewa karena ku kira kau terus menyemangatiku padahal kau berniat untuk menenggelamkan ku hingga terjerumus, masuk ke dalam bagian lautan antah berantah paling dalam, hyung? Sudah puas?"

BRAK!

Haechan melempar buku baru yang dibelinya bersama Mark itu ke arah pemuda yang kini hanya bisa bergeming di tempat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.

"Kau... sudah puas, hyung?"

Bulir air mata mulai berjatuhan di atas pipi tembam milik Haechan tanpa pemuda itu sadari.

Sementara itu, Mark tidak menjawab dan membiarkan sosok Haechan yang kini berlari keluar dari restauran dengan air mata yang tidak berhenti mengalir di pelupuknya.

Ini semua salahnya.

***

MARK memutar keran dan membasuh wajahnya dengan air yang mengalir, barulah pemuda itu mendesah panjang dengan lengan yang bertumpu di atas wastafel.

"Sialan."

Wajahnya menunduk ketika pemuda itu bergumam kecil di dalam toilet yang kini berubah menjadi saksi bisu dimana sosok individualis seperti Mark Lee ini menyesal akibat perbuatannya sendiri.

"Seandainya aku tidak melakukan hal seperti itu kepadanya dan—"

Kemudian, seseorang berdeham.

"Mind to tell me what happened?"

Dan Jeno mendatanginya sembari mengenggam buku baru milik Haechan yang dibeli Mark khusus untuk pemuda manis tersebut.

"Cerita padaku," ia berkata kepada sosok mengenaskan di depan kaca yang kini menoleh ke arahnya.

"But, first—ayo kita keluar dari toilet."

***

"Ini."

Persetan dengan peraturan yang mengharuskan keduanya untuk tiba di aula utama untuk menghadiri upacara penutupan dan pemberian penghargaan kepada para peserta, Mark dan Jeno justru berada di taman milik hotel dengan kaleng soda di genggaman kedua anak Adam itu.

"Kau," Jeno memulai percakapan. "Baik-baik saja, bukan?"

Sudah mengetahui kondisinya, masih saja bertanya bodoh seperti itu. Terkadang, Mark ingin mengumpati sahabat sehidup sematinya tersebut. Beruntung keduanya telah mengenal satu sama lain sejak duduk di bangku sekolah dasar sehingga sebesar apapun rasa benci di antara mereka, cepat atau lambat, perasaan itu akan hilang begitu saja.

"Aku," Jeno menghela nafas. "Kalau boleh jujur, aku kasihan pada anak itu."

Pemuda berkulit pucat itu memandang ke arah langit dan menyipitkan kedua matanya akibat cahaya matahari yang begitu menyengat.

"Ia anak yang baik," Jeno kembali berkata. "Terlalu baik, malah. Sampai-sampai aku dibuat bingung ketika anak itu terus-menerus menempelimu yang secara terang-terangan justru menolak eksistensinya."

Ia tertawa, tidak peduli dengan keheningan yang menyelimuti.

"Anak yang lugu. Kasihan sekali. Kau terlanjur membodohinya akibat dibutakan oleh keinginan bodohmu untuk memenangkan olimpiade ini—"

Mendengar kalimat itu, emosi Mark kian memuncak. "Jeno, kau—"

"Sampai-sampai Haechan yang setiap hari tersenyum bahagia itu menjadi tampak begitu lemah dan kecewa akan dirimu."

"Bahkan, skenario terburuknya," Jeno menyesap sodanya sedikit demi sedikit. "Anak itu menangis."

Setelah menghabiskan sekaleng soda tersebut, Jeno melempar sampahnya ke arah tempat yang dianjurkan. Beruntung, ia adalah seorang pemain basket dan lemparannya jatuh dengan sempurna di tempat sampah.

"Menangis dan menangis, hingga senyuman manis itu hilang dari wajahnya."

Kalimat itu mampu membuat Mark bergeming dan menarik kembali tangan kanannya yang hendak memukul Jeno akibat mengatai keinginannya untuk menang sebagai hal yang bodoh.

Pemuda ini... rasanya benar juga.

Melihat Haechan yang sebelumnya tertawa lebar di hadapannya kini justru menangis akibat dirinya membuat hati kecilnya teriris miris.

Pemuda itu tidak seharusnya memanfaatkan keadaan dengan membodohi pemuda lugu tersebut. Seharusnya ia tahu jika hal itu akan membuat Haechan kecewa padanya.

Mark tidak suka jika Haechan menangis.

Ia lebih suka melihat sosok mungil itu tersenyum lebar. Ia lebih suka melihatnya tertawa hingga deretan giginya dapat terlihat dengan mudah. Ia lebih suka melihat pemuda itu bercerita mengenai segala sesuatunya dan membuatnya sebal akibat perilakunya yang terlampau berisik.

Saat ia meminta izin dari Taeyong untuk mendampingi Haechan membeli buku di toko buku milik Jeno dan berkata jika ia akan melindungi anak tersebut, ia benar-benar bermaksud.

Rasanya, Mark ingin terus-menerus melindungi anak yang selalu tersenyum manis kepadanya itu.

"Mark," tiba-tiba saja sebuah suara menginterupsi keheningan dan membuat sosok yang terpanggil menoleh ke arah Jeno yang tersenyum.

"Kau menyukainya, hm?" []

***

© Rayevanth, 2019

[a/n]

by the way,

happy maundy thursday for those who celebrate :)