"GEGE."
Chenle memandang ke arah kekasihnya sembari menghela nafas. Usai menghabiskan hidangan makan siang, keduanya beranjak kembali menuju kamar mereka sebelum ketua panitia pelaksana memanggil.
"Aku tahu, Chenle," Renjun berjalan tidak menentu, mengitari seisi kamar mereka yang telah kosong.
Tidak ada Yangyang. Tidak ada Haechan. Tidak ada lagi koper mereka.
Hanya ada keduanya.
"âaku tahu, aku tahu! Aku tahu aku salah!"
Pemuda yang lebih tua itu menggigiti kuku-kukunya sehingga gemerisik perlahan terdengar di sela helaan nafas. Kalau boleh jujur, Renjun tidak menyangka jika kondisinya akan segawat iniâsampai-sampai Chenle harus menenanginya seperti ini.
"Gege," mulut mungilnya berkata. "Aku tidak menyalahkanmuâ"
"Aku yang salah! Aku tahu, aku tahu!" Renjun mendesah panjang sebelum kedua tungkainya kembali mengitari seisi kamar dengan perasaan resah. "Aku tahu jika semua ini adalah salahku! Memberi tahu Haechan tentang bagaimana buruknyaâ"
Cup.
Tiba-tiba saja sebuah kecupan mendarat di bibirnya.
Sejujurnya, Chenle tidak berniat sedikit pun untuk bermain dengan kekasihnya tersebut. Kecupan itu hanya ia berikan guna membungkam mulut Renjun yang tidak berhenti mengatakan jika ia bersalah.
Tetapi, prasangkanya salah jika Renjun tidak membalas kecupan tersebut dengan ciuman yang lebih gila.
"R-renjun-ge!"
Gawat, batin Chenle yang masih mencoba untuk memberontak dengan seribu satu cara agar Renjun tidak melakukan sesuatu kepadanya.
"Gege!" Ia berseru tertahan. "Sudahâah, Renjun-ge! Pelan-pelan!"
Serangan Renjun terhadap bibir mungil milik Chenle perlahan semakin menjadi. Pemuda itu kini mendorong tubuh ringan milik kekasihnya ke atas ranjang dan membuat kedua bola mata Chenle terbelalak seketika.
"Gege!" Rona merah mulai menjalar di wajahnya. "Bagaimana jika ada orang yang datang dan memergokiâ"
Seolah tidak peduli dengan kalimat yang dilontarkan kekasihnya, Renjun tetap melanjutkan aktivitasnya.
"Gege!" Chenle memukul tangan kekasihnya yang mulai merambat ke daerah privasinya. "S-setidaknya, jangan di sini!"
Gyut.
Chenle tidak pernah menyangka jika pada akhirnya, Renjun akan memeluknya seperti seekor koala dan menguncinya dari belakang seolah ia tidak ingin kehilangan anak itu barang sedetik pun. Padahal, jauh di dalam pikirannya, ia kira Renjun akan melanjutkannya.
"Oh, begitu?" Pemuda itu bertanya sembari menghirup aroma cologne bayi milik Chenle yang kini hanya bisa membuang muka dengan alis bertaut.
"Begitu apanya?"
"Kalau tidak di sini," Renjun terkekeh. "Maka kau mau melanjutkannya?"
***
"DUA anak itu benar-benar..."
Yangyang memberi komentar di sela kegiatannya mengintip dari balik lubang kunci.
Matanya memicing, mencoba untuk menangkap aktivitas sepasang kekasih sejoli yang lambat laun mulai membuatnya muak sendiri. Apa serunya memandangi pasangan yang sedang bercumbu di atas ranjang? Membuat Yangyang bergidik geli saja.
Sementara itu, Haechan berdiri di sebelah sosoknya yang berjongkok ria di hadapan pintu. Pemuda tersebut menghela nafas berat. Tangannya sudah tidak lagi membawa buku kesayangannya yang baru saja ia dapat tadi pagi dari seseorang yang tidak ingin ia sebut lagi namanya. Matanya sama sekali tidak memancarkan kehidupan, hampaâkosong sepenuhnya. Bahkan setitik cahaya pun tak dapat kau temukan di dalam kegelapan sana.
Haechan membekap dirinya sendiri dengan kedua lengan mungilnya, berharap jika udara tidak akan semakin memburuk kedepannya.
"Eung, Chan-ah," Yangyang menoleh ke belakang dengan bibir mengerucut. "Sepertinya kita tidak bisa masuk ke dalam kamar untuk mengambil mantel cokelatmu yang tertinggal."
Haechan membulatkan matanya. Walau ia yakin jika Yangyang mengatakan yang sebenarnya, tetapi telinganya tidak mampu memercayainya dengan cepat.
Gila saja! Tubuhnya sedari tadi sudah kedinginan dan kamarnya tidak bisa ia masuki? Ingin rasanya Haechan merutuki nasib.
"Kenapa... tidak bisa?" Ia bertanya.
Tampaknya Yangyang kebingungan. Ia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Sulit menjelaskannya dalam bahasa Korea karena ia bukan sepenuhnya berdarah Korea Selatan. Hanya separuh dari dirinya yang memiliki darah tersebutâberterimakasihlah kepada ibunya.
"Haah," Yangyang mendesah, merasa jika dirinya benar-benar kesulitan saat ini. "Ituâdas paar, apa itu... küssen, ah?"
"Tolong, dong," Haechan mengerutkan keningnya pertanda ia tidak mengerti dengan penuturan Yangyang yang tidak jelas. "Kalau berbicara pakai satu bahasa saja. Aku benar-benar tidak sedang berada di dalam mood untuk bercanda, ku mohon."
Yangyang tertawa kikuk.
"A-ah, baiklah," katanya sembari menunduk meminta maaf. "Itu... maksudku, Renjun dan Chenle sedangâah, aku tidak tahu cara mengatakannya!"
Haechan memutar otaknya sejenak, mencoba mencari tahu apa yang dilakukan oleh sepasang kekasih pada umumnya jika keduanya berada di kamar yang sama tanpa eksistensi sosok lainnya di dalam kamar mereka. Tetapi pikirannya yang lugu dan tidak mau berpikir negatif akan seseorang itu tidak menemukan jawaban yang pasti.
"Maksudmu...?"
Dan Haechan berakhir menanyakan hal yang sama pada Yangyang.
"Ituuâah, apa namanya? Maksudku, mereka... küssen! Laying in their bed... dan melakukan, eung, sesuatuâ"
"Mereka sedang make out, maksudnya."
"NAH. Iya, begituâ"
Yangyang membeku di tempat ketika ia menoleh ke belakang dan mendapatkan Mark yang sedang berdiri di sana sambil tersenyum singkat dengan tangan bersedekap di dada. Hal yang sama juga dilakukan oleh Haechan. Tetapi, pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan perasaan apa-apa melalui mimik wajahnya.
"H-halo, sunbaenim!" Seru pemuda itu sembari membungkuk dalam-dalam.
Mark tidak balas menyahut. Tetapi, pandangan pemuda itu jelas tertuju kepada sosok berkulit tan di hadapannya yang kini membuang mukaâtidak seperti sebelum-sebelumnya dimana Haechan gemar membuntutinya kemanapun ia pergi dengan senyuman lebar yang mengembang.
Rasanya Mark rindu sosok itu.
"âOmong-omong," Yangyang menyela keheningan di antara ketiganya. "Sunbaenim punya heater, tidak?"
Mark menoleh ke arah yang lebih muda dengan pandangan bertanya. "Untuk apa?" Tanya pemuda tersebut.
"Haechan kedinginan. Mantelnya tertinggal di dalam kamar sementara ketika kami ingin mengambilnya, Renjun dan Chenle sedang making out di dalamâ"
Haechan menarik nafas dan merutuki nasibnya dalam hati. Oh, ingatkan kembali dirinya untuk memukul Yangyang akibat kejadian hari ini. Sekarang, ia hanya bisa berharap agar Mark menolak permintaan Yangyang dan membiarkannya kedinginan seperti biasa. Tetapiâ
"Aku punya."
âharapannya kandas.
Kini Haechan bergeming, tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, ia memang membutuhkan sebuah pemanas ruangan karena udara yang begitu dingin. Tetapi, di lain sisi, ia juga tidak ingin bertemu dan berada di tempat yang sama dengan Mark.
"Tidak usâ"
Haechan hendak menolak penawaran dari Mark, tetapi pemuda berdarah Kanada itu segera menggenggam pergelengan tangannya sebelum ia melangkah pergi.
"Kau bisa menghangatkan diri di kamarku."
Sementara itu, Yangyang membungkam dirinya. Ia melupakan suatu fakta jika Haechan sedang tidak ingin bertemu sapa dengan Mark yang kini justru menawarinya untuk menghangatkan diri.
"A-anu, tidak usah juga tidak apaâ"
"Es ist in ordnung," Mark berkata. "Lagi pula, tidak ada yang memakai heater juga di kamarku. Semuanya menyukai cuaca yang dingin. Jadi, tidak ada salahnya jika Haechan ingin menggunakannya."
Takut-takut, Yangyang melirik ke arah pemuda berkulit tan di sampingnya dan menghela nafas.
"Jadi, bagaimana, Haechan-ah?" []
***
© Rayevanth, 2019
[a/n]
happy passover day for those who celebrates uwu I LOVE Y'ALL