Chapter 15: Part 14

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 8257

HAECHAN sudah cukup besar dan dewasa untuk tidak menangis dalam situasi genting seperti ini.

Tetapi, tetap saja.

Walau sudah dibelikan sekaleng limun oleh Mark, diajak ke Starbucks oleh pemuda yang sama, dibelikan segelas frappuccino berukuran grande oleh sosok serupa, bahkan dihibur jutaan kali olehnya-tetapi Haechan masih saja bergeming dan tidak dapat menerima kenyataan jika ia tertinggal.

"Astaga, astaga, astaga!"

Haechan mengerang dan meringkuk di atas bangku yang ia duduki. Seandainya ia tidak datang ke toko itu dan berdebat dengan Mark yang kini sibuk menghiburnya, ia tidak akan tertinggal pesawat secara memalukan seperti ini!

Melihat betapa murungnya pemuda itu mau tidak mau membuat Mark merasa sedikit bersalah.

Benar juga.

Haechan tertinggal juga karena berdebat dengan dirinya di toko.

Jika saja ia mau mengalah dan membiarkan Haechan membayar limunnya sendiri, pemuda itu dapat bergegas keluar dari toko dan kembali ke area tunggu tepat waktu. Oh, Mark yakin benar jika guru pendamping Haechan akan marah besar jika mengetahui kebenaran di balik alasan tertinggalnya pemuda itu dari jadwal kepulangannya menuju Busan.

Mark menghela nafas dalam.

Kemudian, pemuda itu menepuk ringan kepala Haechan dan mengusap surai milik sosok tersebut.

"Maaf."

Ia berkata, tidak tega melihat kondisi Haechan yang cukup mengenaskan. Sepertinya pemuda itu menahan diri untuk tidak meneteskan air mata.

"Aku serius. Maaf."

Lagi-lagi, ia tidak mendapatkan sebuah balasan dari Haechan.

"Aku benar-benar minta maaf atas segalanya," Mark berujar. "Tentang masalah di olimpiade, tentang masalah di minimarket, tentang kepulanganmu menuju Busan. Aku benar-benar minta maaf atas semua itu-terutama kejadian saat olimpiade, aku tidak bermaksud melakukannya dan-"

"Semua ini karenamu."

Mark terdiam sejenak, berada di poin dimana ia benar-benar merasa bersalah kepada Haechan.

"Look at me."

Haechan menggeleng.

"Haechan-ah," Mark berusaha untuk mengangkat kepala Haechan agar pemuda itu melirik ke arahnya dan berhenti menidurkan kepalanya di atas meja. "Look at me, I said."

"Why should I?"

"Because I really mean it."

Deg.

Pandangan Haechan benar-benar tertuju kepada manik obsidian milik Mark yang mencerminkan keseriusan. Entahlah-tetapi aura itu mendominasi Haechan untuk tetap menaruh atensi kepadanya.

"I really mean it," Mark kembali berujar dengan kedua tangan menopang pipi Haechan. "Aku benar-benar meminta maaf untuk segalanya. Karena telah memanfaatkan keluguanmu, membuatmu tertinggal pesawat, membuatmu malu di minimarket, dan membuat kau kecewa pada ku. Maafkan aku karena telah dibutakan oleh keinginanku untuk menang."

Mark menghela nafas sebelum kembali memandang Haechan.

"Bagaimanapun juga, aku akan bertanggung jawab."

Kalimat itu sedikit banyak mampu membuat wajah Haechan merona. Tetapi, guna menutupinya, pemuda itu segera memutar bola matanya dan berdecak. "Terserah kau sajalah."

Kemudian, Mark melepaskan tangannya dari kedua pipi Haechan dan sibuk memainkan ponselnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Haechan yang segera mendapat pesan dari Taeyong yang sudah sampai di Busan sejak lima menit yang lalu.

taeyong-ssaem

kau bagaimana?

ssaem sudah sampai di Busan.

ssaem akan memesankanmu tiket pesawat, tetapi yang tersisa hanyalah penerbangan tiga hari lagi.

jadi, bisakah kau menjaga diri selama tiga hari di Seoul?

jika memerlukan bantuan, tolong hubungi aku atau keluargamu.

15.45

Haechan menghela nafas dan menghembuskannya sekuat tenaga sehingga Mark merasa ikut tertiup.

Mau bagaimana lagi, batinnya pasrah. Nasibku kenapa seperti ini astaga.

DRRRRRT.

Tiba-tiba saja keduanya dikejutkan oleh nada dering yang keluar dari ponsel Mark. Pemuda itu segera merogohnya dari dalam saku celana dan segera mengangkat panggilan ketika mengetahui siapa yang baru saja menelefonnya siang hari ini.

[MAAAARK! DIMANA KEMEJA SAINT LAURENT-KU?]

Suara itu berdenging saking kencangnya dan membuat Haechan mengernyit mendengarnya.

"Maksud noona?" Mark menutup telinganya ketika mendengar sebuah jeritan kembali dilayangkan oleh kakak perempuannya.

[Kemarin kau yang menaruhnya di keranjang cucian dan sekarang tidak ada! Dimana. Kemeja. Ku. Brengsek?!]

Mark tidak menjawab dan kembali menjauhkan ponselnya dari telinga ketika wanita itu menjerit lagi.

[PULANG KAU SEKARANG!]

Tuuut.

Tiba-tiba saja sambungan diputuskan sepihak oleh wanita tersebut dan membuat Mark mendesah. Kemudian, dilihatnya pemuda manis di hadapannya itu dan sebuah gagasan yang cukup cermat terlintas di benaknya.

"Haechan-ah," panggilnya.

"Mau pergi ke rumahku?"

***

HAECHAN tidak begitu terkejut ketika mobil milik Mark memasuki pekarangan mansion keluarganya yang begitu megah bagaikan istana.

Sebuah tempat berkuda. Kolam renang berukuran jauh lebih luas ketimbang milik sekolahnya yang berada di Busan. Rumah yang sangat megah dengan gaya arsitektur khas Eropa abad pertengahan yang begitu kentara. Sebuah lahan parkir dengan limousine dan sport cars yang berjajar dengan rapi. Air mancur dengan patung malaikat yang membawa kendi air-yang kebetulan dijadikan sebagai tempat aliran air keluar dan menggenangi kolam berbentuk lingkaran tersebut. Oh, sebaiknya jangan lupakan hutan kecil yang terletak setelah kau memasuki kawasan mansion seharga jutaan milyar won milik keluarga Mark ini.

"Anggap saja rumah sendiri."

Mark berkata usai keduanya keluar dari mobil yang mereka tumpangi. Beruntung bagi Haechan karena hari itu, Mark sedang tidak ingin menggunakan jasa para supir dan lebih memilih untuk mengendarai mobil pribadinya saja.

"Ngawur. Bagaimana caranya menganggap mansion ini sebagai rumahmu sendiri jika rumahmu hanyalah bangunan berdinding putih dan berlantai dua saja?" Haechan berujar dengan nada sarkastik yang dengan seketika membuat telinga Mark panas. Tapi mengingat kembali jika dahulu ia juga melakukan hal yang sama kepada Haechan, Mark pun mengurungkan niatnya untuk menegur anak yang lebih muda itu.

"Baiklah," Mark mengunci mobilnya. "Tetapi perlu kau ingat, seperti apa yang sudah kita perbincangkan di dalam mobil-"

"Iya, iya," Haechan menghela nafas sembari menunduk, seolah sepatu merahnya adalah pusat atensinya khusus untuk hari ini.

"Aku akan menginap di sini sampai-"

"Siapa menginap di rumah siapa?"

Sontak kedua anak Adam tersebut segera menoleh ke arah sumber suara dan mendapatkan sosok seorang wanita yang tengah berdiri di belakang mereka dengan menyampirkan sebuah handuk putih di bagian lengannya. Wanita itu tampak memandangi Haechan dari ujung rambutnya hingga ujung kakinya dengan tatapan mengintimidasi.

"Mark," ia berujar. "Temanmu?"

"Ya, dia..." Mark sempat ragu ingin menjawab apa untuk sejenak karena memang selama ini, hubungan di antara keduanya tampak seperti majikan dan anjing kesayangannya. "Temanku. Dia temanku."

Wanita itu ber-oh ria dan menyempatkan diri untuk memakai kacamata berbingkai hitamnya. Kemudian, ia kembali memicingkan matanya ke arah Haechan yang kini meneguk ludah saking gugupnya.

"Well."

Di luar dugaan, wanita bersurai cokelat itu segera menjerit dan memeluk Haechan seolah pemuda itu akan menghilang dengan segera apabila ia tidak memeluknya erat.

"Anak ini maniiiis sekali!" Katanya sembari mengusap-usap kepala Haechan. "Ah, gwiyeopdago! Eh-oh? Dia juga memiliki bola mata yang cantik seperti seorang gadis! Ugh, rasanya aku ingin mengenakannya baju-baju milikku!"

"A-ah?"

"Oh, kau sesak, ya?" Wanita itu segera melepaskan diri dari pelukannya dan memperbaiki tatanan rambutnya. "Omong-omong, Mark memberimu pelet apa sehingga kau mau menginap di sini?"

"Ah, itu-"

"Ceritanya panjang," Mark mendesah, memutuskan untuk menunda jawabannya. "Haechan, ini noona-ku. Noona, ini Haechan."

Wanita yang merupakan kakak perempuan Mark itu pun segera melambai ke arah Haechan sambil tersenyum ramah-berbeda dengan kesan pertama Mark bagi Haechan yang cukup menyedihkan.

"Salam kenal, Haechan-ah!" Katanya. "Aku Rose. Roseanne Lee. Kakak perempuan Mark-curut kecil itu."

"Berhenti memanggilku seperti itu atau aku tidak akan memberitahumu letak kemeja Saint Laurent milikmu!"

"Jadi kau menyembunyikannya?!"

"Bukan begitu! Aku hanya saja-"

Perdebatan di antara kedua pasang kakak beradik tersebut membuat Haechan bergeming, kemudian tersenyum.

Betapa asyiknya memiliki saudara. []

***

© Rayevanth, 2019