Chapter 16: Part 15

Too Kind • Markhyuck ✓Words: 7924

"PETUGAS... misdinar?"

Mark menoleh sedikit ke arah Haechan yang tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya.

Kini keduanya tengah berada di kamar tamu yang akan ditempati oleh Haechan selama tiga hari. Sementara sang pemilik mansion sedang membersihkan beberapa sudut dari kamar yang nyatanya jarang digunakan tersebut, Haechan sibuk mengeksplorasinya. Mulai dari piala-piala yang berjajar di sebuah lemari kaca, puluhan buku yang tertata apik di dalam lemari kayu, bahkan beberapa pajangan yang diletakkan di atas rak berwarna cokelat-semua itu tidak luput dari pandangan Haechan yang mengedar ke seluruh ruangan, mau tidak mau mengakui jika ia merasa penasaran dengan kamar milik pemuda Kanada tersebut.

Kemudian, secara tidak sengaja, pandangannya jatuh kepada sebuah foto yang terpajang di sebuah pigura.

Sebuah foto yang memuat beberapa anak laki-laki dan perempuan yang mengenakan pakaian serba putih dengan samir dan mozeta merah sebagai pelengkap. Dengan mudah, Haechan dapat menemukan Mark yang tengah berpose di dalam foto tersebut. Bibir milik pemuda berdarah separuh Kanada itu membentuk sebuah kurva ke atas dan tangan kanannya merangkul seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya. Semua anak di dalam foto tersebut juga membawa sebuah daun palma berwarna hijau di tangan mereka.

Akibat termakan rasa penasaran, Haechan pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Mark.

"Ah, foto itu?" Pemuda tersebut balas bertanya. "Itu sudah sangat lama."

Karena tidak mendapatkan balasan apapun dari Haechan, Mark pun memutuskan untuk bercerita sedikit mengenai kisah di balik foto tersebut.

"Lima tahun," ia memulainya. "Lima tahun aku bertugas sebagai misdinar. Melayani di hari Sabtu dan mendatangi pertemuan di hari Minggu pagi."

Mark menghela nafas.

"Tetapi, hanya lima tahun."

Haechan bergeming-tidak berniat untuk bersuara sedikit pun.

"Ayah marah."

Terbawa suasana, Haechan seolah dapat mendengar suara dentingan piano yang memainkan sebuah alunan melodi klasik yang mencerminkan kesedihan yang mendalam.

"Ayah murka. Ia tidak suka melihat ku sibuk berkegiatan di dalam gereja," Mark melanjutkan ucapannya. "Kemudian, ia memaksaku untuk menarik diri dari segala kegiatan yang diselenggarakan oleh pengurus misdinar. Tanpa sepengetahuanku, Ayah mengirim sepucuk surat kepada Ketua dan ketika aku menghadiri sebuah acara minggu itu, teman-teman gereja-ku mulai menjauhiku."

Haechan menghela nafas. Ia tidak bisa menyembunyikan empatinya ketika berhadapan dengan kisah memilukan seperti ini. Menyadari kondisinya, Mark memilih untuk tersenyum tipis dan kembali melanjutkan kegiatannya semula.

"Terus terang, I have no idea," Mark berkata. "Ayah melakukan apa pada mereka. Saat ku tanya, hanya sunyi yang kudapatkan. Miris sekali."

Lagi-lagi, Haechan bergeming.

Jauh di dalam lubuk hatinya, pemuda itu ingin meminta maaf-telah mengungkit sesuatu yang cukup miris kedengarannya. Namun, ia berpikir berulang kali untuk melakukannya ketika ia menyadari jika sosok di hadapannya ini adalah Mark Lee.

Kalau dibilang kepercayaannya terhadap pemuda itu sudah hilang, memang benar adanya.

Ia sudah tidak bisa melihat Mark dengan cara yang sama lagi-memujanya bagaikan dewa setiap dua puluh empat jam sekali.

Haechan tidak bisa.

***

"INI ruang tamu."

Mark memulai kegiatannya untuk menjelajahi kediaman milik keluarganya bersama Haechan sejak tiga puluh menit yang lalu. Pertama adalah kamar mandi di lantai dua, ke-dua dapur, dan terus berlanjut hingga keduanya sampai di ruang tamu yang sangat mewah ini.

"Kau bebas melakukan apa saja di sini," Mark kembali berkata kepada Haechan yang kini sibuk bergumam sendiri. "Bermain. Bersantai. Menonton televisi. Bebas pokoknya."

Pemuda berkulit tan yang mengekorinya di belakang tersebut mengangguk, mencoba memahami letak ruangan-ruangan di kediaman yang terlalu luas baginya ini. Haechan tidak dapat membayangkan jika ia hidup dan dibesarkan di rumah ini. Bisa-bisa membutuhkan waktu lebih dari lima belas menit hanya untuk melangkah dari dalam kamar hingga sampai di ruang makan untuk melakukan sarapan di pagi hari.

"Oh, Haechan-ah," tiba-tiba saja Mark memanggil namanya. "Kau suka buku, bukan?"

"Tidak tahu."

"Ku tanya-kau suka buku, bukan?"

"Bisa jadi."

Mark yang mulai sebal dengan sikap bebal milik Haechan kini berdecak dan segera menarik pergelangan tangan Haechan menuju suatu ruangan yang terletak tidak jauh dari ruang tamu tempat mereka berpijak beberapa saat yang lalu.

Ketika sang pemilik kediaman membuka pintu dari ruangan itu, harum khas dari buku-buku kuno dapat langsung tercium begitu saja.

Haechan dapat menangkap dengan jelas jika ruangan yang keduanya hampiri ini merupakan sebuah perpustakaan dengan beragam jenis buku di dalamnya. Beberapa yang mencolok baginya adalah buku-buku bersampul tebal yang dapat dikategorikan sebagai buku kuno. Ruangan ini bagaikan surga dunia bagi Haechan yang merupakan seorang penyuka buku-buku fiksi ilmiah karya penulis mancanegara.

Tanpa sadar, pemuda itu menjatuhkan rahangnya dan berbisik kagum. Aksinya tersebut sontak membuat Mark mengulum seutas senyum tipis.

"Omong-omong, ini."

Mark menarik suatu benda yang kebetulan berada tak jauh dari jangkauannya dan memberikannya kepada Haechan. Benda itu terbungkus oleh sebuah amplop besar berwarna cokelat terang, membuat Haechan penasaran apa yang terdapat di dalamnya.

"Ini apa?"

Mark menghela nafas. "Buka saja."

Tanpa membalas dua kalimat yang dilontarkan oleh pemuda tersebut, Haechan segera membuka bungkusan amplop itu dan melihat ke dalamnya.

Hanya sebuah buku.

Buku yang sempat berakhir mengenaskan dengan kondisi satu per lima bagian basah akibat tumpahan jus-yang disengaja. Buku yang pernah terhempas miris di atas lantai dengan posisi yang sebetulnya dapat membuat sampul buku tersebut rusak. Buku yang dapat membuatnya mengingat kembali kejadian tidak menyenangkan yang ia alami ketika olimpiade fisika nasional berlangsung.

Buku yang sama dengan yang dibelikan Mark untuknya.

"Tidak, tidak-"

"Terimalah."

Mark berujar dengan wajah memelas karena ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya untuk mengembalikan Haechan yang semula.

"Lagipula, aku yang membeli-" kini pandangannya bertemu dengan manik obsidian milik yang lebih muda. "-Untukmu."

Haechan menelan ludah, sulit baginya untuk berkata-kata.

Ia tahu jika Mark berusaha untuk meminta maaf kepadanya. Ia juga tahu jika Mark menginginkan kebahagiaan baginya. Ia sangat tahu jika Mark berharap kalau Haechan mampu menerimanya kembali.

Hanya saja-

"Hyung, aku tidak tahu."

Mark bergeming, memberi tanda jika Haechan dapat melanjutkan kalimatnya yang belum selesai.

"Aku tidak dapat melihatmu dengan cara yang sama lagi," pemuda itu tersenyum paksa. "Karena itu, aku tidak tahu harus berbuat apa agar aku dapat menerimamu kembali-"

Haechan menghela nafas.

"-dengan cara yang berbeda."

Mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Haechan membuat Mark terdiam untuk sesaat sebelum ia memutuskan untuk memeluk tubuh ringkih milik Haechan dengan ragu.

Tetapi, ketika ia menemukan kehangatan menjalar di sana, Mark mempereratnya.

"Hyung-"

"Maaf."

Keheningan merajai suasana di dalam perpustakaan pribadi tersebut dan membuat Haechan tidak nyaman terhadap beberapa hal.

Pertama, ia merasa jika ia bersalah. Melihat Mark yang tidak henti-hentinya memohon pengampunan kepada dirinya jelas membuat ia merasa menjadi seperti sosok yang telah berbuat salah kepada seorang korban yang terlihat sama sekali tidak bersalah.

Ke-dua, ia merasa canggung. Dipeluk erat oleh seseorang yang bukan ibumu sendiri membuatmu berpikir dua kali, bukan? Hal yang sama kini terjadi di benak Haechan.

Ke-tiga-dan mungkin yang terakhir, ia tidak ingin semakin larut dalam rasa kecewa dan amarahnya. Karenanya, Haechan memilih untuk berkata demikian kepada Mark yang masih mendekap tubuh mungilnya,

"A-aku maafkan."

Dan kembali menjadi sesosok malaikat tanpa sayap bagi Mark setiap harinya. []

***

© Rayevanth, 2019