"JADI, kau tinggal di Busan?"
Rose bertanya sembari mengumbar sebuah senyuman termanis yang ia miliki kepada Haechan yang kini tengah duduk tenang dengan sepiring bibimbap di sebelah Mark.
"Begitulah," Haechan tertawa hingga deretan gigi putihnya yang disikat setiap hari mampu terlihat dengan mudah. "Karenanya, aku selalu memakan ikan setiap hari."
Rose tampak mengerti dengan kondisi yang dialami Haechan. Wanita berumur kepala dua itu mengangguk, berhasil membuat Mark berdecih. Oh, jelasâpemuda itu tahu jika kakak perempuannya hanya mencari muka di hadapan Haechan yang dianggapnya imut dan menggemaskan. Sedari tadi, keduanya sibuk berbincang ria sementara Mark merasa tertinggal di belakang.
"Ibumu yang memasak?"
Haechan mengangguk. "Ibu mendapatkan beberapa pasokan ikan segar dari tetangga kami. Jadi, Ibu selalu memberi aku ikan."
Wanita yang kini sibuk menyiapkan hidangan penutup itu membulatkan mulutnya. Sudahâanggap saja ia mengerti segala sesuatu yang Haechan lontarkan kepadanya.
"Pantas saja. Kau jadi pintar," Rose berujar dengan nada bangga sementara matanya mulai memicing ke arah sang adik detik kemudian. "Tidak seperti cecunguk brengsek yang sialnya menjadi adikku ini."
Mark pun tersedak.
Refleks, Haechan segera memgambil segelas air putih di hadapan pemuda berdarah separuh Kanada itu dan menyerahkannya kepada pemuda yang tersedak. Mark bergegas mengambilnya hingga ia berhenti tersedak. Sungguhâsebesar apa dosa yang ia miliki sehingga ia mendapatkan seorang kakak seperti setan berkedok wanita rupawan ini?
"Anu, noonaâ" Haechan membantu Mark dengan menepuk pelan punggung lebar milik pemuda yang lebih tua itu.
"Hyung jauh lebih pintar, kok!"
Kemudian, pemuda berkulit tan itu menyeringai dan terkekeh pelan. Ia segera mendapatkan atensi penuh dari kedua kakak-beradik keluarga Lee yang memberikannya sebuah respon yang cukup berbeda. Rose memandang Haechan dengan tatapan tidak percaya sementara Mark mematung di tempatâtidak berkutik barang sedikitpun.
Rasanya seperti deja vu.
"Bohong!" Rose membantah. "Mark memberimu pelet apa hingga kau mau berkata seperti ituâ"
"Tidak. Aku berkata jujur."
Wanita berusia dua puluh-an itu masih menatap sosok tamunya dengan pandangan heran. Haechan tidak lagi berkata-kata. Pemuda itu lebih memilih untuk menghabiskan jamuan utamanya hingga energinya cukup terpenuhi. Terlalu banyak peristiwa yang terjadi pada hari ini dan Haechan benar-benar lelah karenanya. Sulit bagi pemuda itu untuk menerimanya begitu saja tanpa ada proses terlebih dahulu.
Di lain sisi, Mark mulai mengumpulkan kembali kesadarannya yang pernah hilang.
Walau mungkin tidak kentara, tetapi rona merah mulai menjalar di wajah Mark yang saat ini sibuk memakan hidangan yang khusus dimasak oleh Rose yang tengah memberikan sambutan yang hangat dalam rangka kedatangan Haechan yang akan menginap di kediaman keluarganya selama tiga hari.
"Kalian tahu?" Wanita itu mulai membuka mulutnya dan menduduki bangku di seberang Haechan. "Aku jarang sekali mengonsumsi ikan karena tidak tahan dengan rasa amisnya yang menjijikkan walau sang penjual berkata jika ikan tersebut segar dan aku tidak akanâ"
Kalimat panjang yang diucapkan Rose dalam sekali tarikan nafas tersebut rupanya tidak begitu diindahkan oleh sepasang pemuda di hadapannya. Seorang dari mereka tengah meminum secangkir cokelat panasnya dengan tangan kiri sementara yang lainnya sedang memakan daging yang disuguhkan oleh sang kakak dengan lahap.
Tetapi, sesuatu kemudian terjadiâ
Grep.
âdan membuat Haechan terdiam.
Ketika pemuda itu melongok ke bawah, kedua manik obsidiannya segera mendapatkan sebuah tangan yang kini menggenggam miliknya dengan mengaitkan kelima jari mereka di bawah meja.
Haechan mengatupkan kedua bibirnya. Rona merah mulai merebak di kedua bongkahan pipinya. Beruntung Rose masih sibuk dengan kalimatnya sendiri sehingga wanita cerewet itu tidak melihat perubahan sikap yang dialami oleh Haechan hanya karena Mark menggenggam tangan kanannya di bawah meja.
Ketika pemuda itu memberanikan diri untuk menatap Mark di sampingnya, ia dapat melihat jika pemuda berdarah separuh Kanada itu menggenggam tangannya sembari membuang pandangan. Entahlahâmungkin merasa malu?
Hati Haechan menghangat. Berbaikan dengan Mark rupanya tidak terlalu buruk juga.
Buktinya?
Kini ia dapat merasakan euforia yang sebelumnya tidak dapat ia rasakan.
***
SUARA petir yang menggema di setiap sudut rumah kembali menginvasi malam hari itu.
Hujan lebat. Guntur dimana-mana. Ruangan yang semakin lama terasa semakin gelap. Cahaya petir yang menggantikan sinar rembulan. Suara air hujan yang jatuh, berpantulan dengan air di dalam kolam renang. Suhu di dalam kamar yang turun sepersekian derajat.
Pantas saja Haechan masih terjaga.
Pemuda itu bergelung di atas ranjang hitamnya, tidak ingin melepas pelukan selimutnya akibat suhu di dalam ruangan yang semakin lama justru semakin mendingin. Ia menutup kedua telinganya dengan bantal di setiap sisi agar tidak ada suara guntur yang dapat menginvasi pendengarannya dan membuat pemuda itu kembali menjerit. Tubuhnya bergidik ketakutan, mengingat betapa minimnya pencahayaan di malam hari ini.
Haechan melirik sekilas ke arah jam dinding yang terpajang.
Pukul dua belas.
Ia mengerang, merasa kesulitan untuk tertidur sementara matanya telah memberat dan meronta untuk segera mengistirahatkan raganya.
Sembari tetap meringkuk di dalam gulungan selimut, pemuda itu memikirkan seribu satu cara untuk mewujudkannya. Mulai dari tidur di ruang tamu hingga memasang headphone dengan volume yang cukup tinggi sempat melintas di pikiran Haechan. Tetapi sayang, beberapa dari gagasan-gagasan tersebut kurang dapat direalisasikan.
"Apa yaâoh."
Haechan menggeleng.
Sekelebat gagasan baru muncul di dalam benaknya dan salah satu dari mereka merupakan jawaban yang paling memungkinkan. Namun, Haechan merasa ragu.
Ini terlalu memalukan.
Pemuda itu dapat merasakan jika rona merah mulai menjalar di wajahnya. Udara tidak lagi terasa dingin dan panas mulai menyerang area pipinyaâ
BLAAAAR!
Haechan menjerit ketika guntur kembali berbunyi nyaring.
Tubuhnya bergidik. Manik obsidiannya memandang ngeri ke arah jendela. Peluh bercucuran, cukup deras kelihatannya. Nafas pemuda itu terengah-engah, mencoba mendapatkan kembali pasokan oksigen yang ia dambakan.
Sial.
Sepertinya Haechan memang harus bangkit dari ranjang dan pergi menjalankan rencananya agar dapat tidur nyenyak malam hari itu.
Perlahan namun pasti, pemuda tersebut merangkak turun dari ranjang mewahnya, berusaha untuk tetap menyelimuti dirinya dengan selimut berbahan beludru yang dipinjamkan kepadanya. Beberapa kali petir menyambar dan beberapa kali Haechan tersendat, mencoba untuk menutup telinganya walau terlambat.
Tangan kanannya segera membuka kenop pintu kamar sebelum kedua tungkainya beranjak menuju sebuah kamar berpintu merah yang terletak di sebelah kanan miliknya.
Haechan mengernyit, masih tidak percaya jika ia akan melakukan hal memalukan seperti ini.
Pemuda itu mengangkat kepalan tangannya, namun kembali diturunkan ketika ia ragu. Kemudian ia menghela nafas, mencoba sekali lagi dengan kegugupan yang sama.
Tetapi, tangan itu ia turunkan untuk kali kedua.
Bingung ingin berbuat apa, Haechan berjalan kesana kemari di hadapan pintu kamar tersebut. Selimut yang membungkus tubuhnya terkadang merosot dan meminta sang peminjam untuk segera membenarkan posisinya lagi. Mulut pemuda itu berkomat-kamit tidak jelas, mencerminkan kegugupan yang ia alami hanya untuk mendapatkan kualitas tidur yang maksimal.
Namun, tiba-tiba petir kembali menyambar dan membuat Haechan terlonjak.
Tanpa berpikir panjang, pemuda itu segera mengetuk pintu kamar di hadapannya dengan peluh yang bercucuran di wajahnya.
"Mark-hyung!" Panggilnya.
Sekali lagi guntur berbunyi dan membuat Haechan semakin panik.
"HYUNG, HYUNG!" ia nyaris berseru. "MARK-HYUNG, TOLONG BUKAâ"
Kriiiieeet.
Pintu berwarna merah itu segera terbuka. Sosok Mark yang masih terjaga dengan susu panas di tangan kananya terpampang di sana. Pemuda itu mengenakan sebuah kaus putih berbahan katun dengan celana basket berwarna hitamâmembuat Haechan bertanya dalam hati jika pemuda ini mampu merasa kedinginan atau tidak.
"Ada apa?"
Mark bertanya. Bibirnya segera menyesap sedikit dari susu panas yang ia seduh beberapa saat yang lalu.
Tidak segera menjawab, Haechan bergeming. Kedua bola matanya terpaku kepada sosok pemuda di hadapannya yang tampak anggun dan gemerlap di malam yang menyeramkan ini. Tetapi, tidak butuh waktu yang lama baginya untuk segera kembali dengan kesadaran penuh.
"A-ah, itu," Haechan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajahnya merah merona.
"B-boleh tidak aku di kamarmu?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Mark mengernyit. Ia dapat menebak jika sesuatu terjadi pada Haechan.
"Apa masalahmu?" Lagi-lagi pemuda itu bertanya. "Guntur? Dingin?"
Haechan tampak malu untuk menjawab. Disinari oleh sinar halilintar malam hari itu, Mark mampu menyadarinya dengan melihat semburat merah di wajah pemuda di hadapannya tersebut.
Di lain sisi, Haechan memang merasa malu. Ia takut terhadap suara guntur dan ia tidak nyaman dengan suhu ruangan yang sangat dingin. Ia ingin mengatakannya. Hanya saja, ia tidak tahu bagaimana cara merangkai kalimat penjelasan yang tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi kedua belah pihak.
Menyadarinya, Mark menghela nafas sebelum kembali ke dalam kamarnya.
"Baiklah, masuk saja," katanya sembari menoleh ke arah Haechan dan tersenyum. "Feel free to do what ever you want here."
Pemuda dengan selimut menjuntai di tubuhnya tersebut segera mengikuti langkah Mark dengan pijakan yang sedikit ragu.
Sementara itu, Mark sudah kembali menduduki ranjangnya dan menaruh secangkir susu panasnya di atas nakas. Melihat Haechan yang kebingungan, pemuda itu tidak dapat berhenti tertawa kecil sebelum ia memutuskan untuk menepuk pelan posisi tersisa di sebelahnya.
"Sini," katanya. "Santai saja. Aku tidak akan menggigitmu, Haechan."
Pemuda yang mendadak menjadi canggung itu hanya menurut. Perlahan namun pasti, ia melangkah menuju ranjang dan mendudukinya dengan kaki bersila. Namun di saat Mark mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidurnya yang berbentuk bintang yang temaram, perasaannya menghangat.
Mark tidak lagi terduduk. Ia lebih memilih untuk berbaring dan menarik selimutnya.
"Tidurlah," ujarnya sembari menarik Haechan agar pemuda itu berbaring. "Di sini aman. Tidak ada apaâ"
BLAAAAAR!
Haechan tersentak dan bola matanya bergetar ketakutan. Peluh kembali bercucuran di sekujur tubuhnya, menggambarkan betapa takutnya ia terhadap suara guntur.
Mark sadar akan hal itu. Ia segera mengambil tindakan dengan menarik Haechan ke dalam dekapannya, membawa pemuda itu untuk berbaring menghadap ke arahnya dengan kepala bersandar di dada.
"Tenang," katanya sembari menyibak surai kehitaman di dahi Haechan.
"Kau aman di sini. Tidak perlu takutâaku akan selalu bersamamu."
Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang dapat Haechan dengar sebelum ia terbang menyelami alam bawah sadarâtertidur di dalam pelukan hangat seseorang semalaman penuh.
"Good night, Haechan-ah." []
***
© Rayevanth, 2019