CAHAYA matahari yang terik masuk ke dalam ruangan melalui celah pada tirai penutup jendela.
Burung-burung mulai bertengger di atas dahan, bersuara, dan membuat beberapa penghuni rumah terbangun. Samar-samar dapat terdengar gemerisik air di kolam renang yang sedang dibersihkan oleh beberapa petugas. Kedua suara yang mendominasi pagi hari tersebut rupanya mampu bekerja sama, menghasilkan melodi yang indah bagaikan lagu pengantar tidur.
Namun, hal itu justru membangunkan Haechan yang tertidur lelap semalam.
Pemuda itu mengerang, mencoba untuk mengeluarkan suaranya yang cukup parau. Kedua bola matanya berusaha untuk menerima rangsang cahaya dan beradaptasi dengan teriknya mentari pagi ini. Sesekali ia mengusap kelopak matanya agar nyeri tidak ia rasakan ketika berhadapan dengan sinar itu.
Pemuda itu membalik badannya hingga tubuh mungilnya menghadap ke atas, meratapi atap bertabur bintang yang ia ketahui sebagai kenangan Mark semasa kecil.
Ah, iya.
Sontak, Haechan menolehkan kepalanya menuju sisi kanan dan bergeming ketika ia menyadari jika dirinya tertidur di dalam pelukan pemuda itu semalaman penuh.
Malu, bisa dikatakan begitu.
Wajahnya merah merona. Jujur saja, ia merasa nyaman dan hangat ketika tubuh ringkihnya dipeluk oleh Mark. Seolah tidak ada permasalahan yang tengah ia hadapi-walau nyatanya guntur dan suhu yang terlewat dingin menjadi masalahnya malam itu.
Haechan tidak melepas pandangannya dari pemuda berdarah separuh Kanada yang meninggalkan secangkir susu panasnya di atas nakas dengan kondisi setengah cangkir utuh semalam.
Ia tertawa kecil.
Sejujurnya, Haechan tidak pernah menyangka jika ia akan menjadi sedekat ini dengan sosok pemuda yang menjatuhkannya saat olimpiade fisika tingkat nasional berlangsung. Bahkan, ia tidak menyangka jika pemuda itu berani untuk meminta maaf dan bertanggung jawab atas kesalahan yang telah ia perbuat.
Ketika ia tenang, Haechan baru menyadari segelintir hal.
Wajah Mark itu sempurna.
Parasnya tampan. Bibirnya kemerahan tanpa memerlukan polesan apapun. Alisnya tebal dan berbentuk cekungan, membuat Haechan tertawa akibat bentuknya yang menyerupai burung camar. Matanya yang besar. Garis wajahnya yang tampak seperti pahatan mahakarya oleh seorang pemahat ternama sedunia. Hidungnya tidak terlalu bangir, tetapi bentuknya bagus.
Semuanya sempurna.
Semburat merah kembali menguasai wajah Haechan yang kini memutuskan untuk menoleh ke sembarang arah sebelum pada akhirnya turun dari ranjang dan meninggalkan Mark yang berbaring sendirian di dalam kamar.
Udara di pagi hari terasa cukup bagus. Tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Beruntung, banyak pepohonan ditanam di sekitar kawasan utama mansion sehingga oksigen yang dihasilkan cukup banyak.
Haechan pergi menuruni tangga hingga berpijak di lantai satu. Kedua tungkainya membawa pemuda itu menyusuri koridor di dalam rumah yang berhias tanaman gantung di sisi kanan dan kirinya. Koridor itu menyajikan pemandangan berupa kebun bunga dengan meja makan berbahan kayu di tengahnya. Sepertinya biasa digunakan untuk acara menjamu tamu atau upacara meminum teh.
Berkat penjelasan yang Mark berikan kepadanya kemarin, Haechan tidak lagi ragu. Ia tahu jika koridor ini terhubung ke arah dapur utama.
Beruntung, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada seekor anjing Akita Jepang milik kakak perempuan Mark.
"Halo, Hugo," Haechan tersenyum lebar sembari mengelus puncak kepala anjing tersebut. "Dimana pemilikmu? Belum terbangun?"
Hugo menggeleng seolah ia mengetahui maksud dari pertanyaan Haechan. Tiba-tiba, seorang wanita keluar dari pintu di seberang pantry dengan celemek di sekeliling pinggulnya. Wanita itu bergegas menghampiri Haechan yang tengah bersiul selagi mengambil beberapa peralatan untuk memasak.
"Tuan, tuan!" Ia setengah berseru. "Saya bisa dimarahi Tuan Muda jika saya membiarkan Anda untuk memasak seorang diri!"
Haechan terkejut. Pemuda itu nyaris melempar pisau yang ia genggamâtetapi ia mampu menahannya.
"Anu, ahjumma," ia meraba tengkuknya. "Saya hanya ingin memasak. Tidak apa-apa, bukan?"
Wanita itu pada awalnya menggeleng. Keduanya sempat beradu pendapat sebelum akhirnya, kepala koki di kediaman mewah milik keluarga Lee tersebut mengangguk pasrah dan menyerahkan dapurnya kepada Haechan yang bersorak riang.
"Tetapi Tuan harus mengerti jika saya yang akan membereskannya."
Haechan mengangguk. "Baik, baik!"
Sembari menggumamkan sebuah lagu klasik yang sering kali ia dengar sebelum tidur, Haechan mulai memasak sarapannya.
Hanya sekadar nasi goreng dengan campuran daging di dalamnya beserta mentimun dan wortel yang disayat tipis-tipis. Mudah dibuat memang. Tetapi Haechan membuatnya sambil tersenyum. Terkadang pemuda itu tertawa lebar akibat lelucon-lelucon yang dilontarkan oleh sang kepala koki mengenai orang-orang di rumah ini dengan gamblangnya.
Semua hal itu sederhana.
Tetapi mampu membuat Mark berdiri di ambang pemisah dapur dengan senyum tipis terpatri di wajahnya.
"Kenapa tidak membangunkanku?"
Sontak, sang wanita yang tadinya tengah melontarkan lelucon lainnya itu kini membungkuk dalam-dalam ketika menyadari pandangan menusuk yang diberikan oleh tuan rumahnya. Di lain sisi, Haechan tertawa sembari memutar tubuhnya hingga kini sepenuhnya menghadap Mark yang saat ini berdiri di hadapannya dengan tangan disilangkan di atas dada.
"Nanti kau marah," katanya. "Lagi pula kau tampak lelah, hyung. Jadi, ku biarkan saja sampai kau terbangun dengan sendirinya."
Mark membulatkan mulutnya. Kemudian, pemuda tersebut menghela nafas dan menaruh telapak tangannya di atas kepala Haechan, membuat sang pemilik melirik ke arahnya dengan tatapan heran.
"Sana mandi."
"Kenapa?" Haechan memiringkan kepalanya, sesaat kehilangan fokus terhadap nasi gorengnya.
"Tidak usah banyak tanya," Mark menguap sebelum beranjak pergi.
"Kenapa, kenapa, kenapa?"
Pemuda yang lebih tua tertawa kecil dan menoleh ke belakang, mendapatkan Haechan yang mengerucutkan bibirnya.
"Kita akan pergi. Kau cepat mandi."
***
HAECHAN terperangah.
Seumur hidup ia pergi ke akuarium, ia belum pernah sama sekali berpijak di lahan akuarium seluas ini.
Mark tertawa kecil kala dirinya menatapi pemuda bertubuh mungil di samping kanannya yang terus mengekor kepadanya semenjak keduanya turun dari mobil beberapa saat yang lalu. Entahlahâbaginya, Haechan tampak manis. Dengan kemeja putih miliknya dan mata yang berbinar akibat melihat betapa besarnya tangki akuarium di hadapan mereka, pemuda itu tampak berkali-kali lipat lebih manis dan kekanakan dibanding sebelumnya.
Membuat Mark tersenyum saâ
"Ayo, hyung! Ayo!"
Seolah kembali menyeret pemuda di sampingnya untuk segera kembali menuju alam kesadaran, kini Haechan menarik salah satu dari kedua tangan Mark yang bebas.
"Tunggu, tungâ"
"Ikannya besar sekali!"
Tangan mungil milik Haechan kini menarik Mark hingga keduanya sampai di hadapan tangki raksasa dengan berbagai satwa laut di dalamnya. Mulai dari beberapa jenis paus hingga ikan-ikan kecil dan terumbu karang berwarna-warni hidup di dalam tangki besar tersebut.
Haechan memang anak laut. Setiap ia berangkat ke sekolah, ia selalu berpapasan dengan pantai. Setiap ia ingin pergi ke toko kelontong di dekat rumahnya, ia selalu bertemu dengan para nelayan yang tengah bersiap untuk berlayar. Semua itu mungkin karena ia tinggal di Busan.
Tetapi, ikan-ikan iniâHaechan belum pernah melihatnya secara langsung dan ia merasa sangat bahagia dapat bertemu dengan ratusan satwa laut yang hidup di dalam sini.
Ketika ia menoleh ke samping, Mark tersenyum melihat sosok di sebelahnya yang kini menatap seekor paus beluga yang menghampirinya.
Ia melihat semuanya.
Ketika pemuda itu tertawa lebar. Ketika pemuda itu mengetuk kaca pemisah agar sang paus memerhatikannya. Ketika pemuda itu bersenda gurau dengan si paus seolah ia mengerti apa yang satwa itu maksud. Ia benar-benar menyaksikan semuanya.
Bahkan, Mark tidak sadar jika tangannya kini kembali menggenggam milik Haechan dan membuat pemuda itu meliriknya.
Wajah Haechan merah padam. Tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya sehingga setiap kali Mark menyentuh tubuhnya, jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Bukannya merasa tidak nyamanâjustru sebaliknya. Haechan menginginkan sentuhan-sentuhan lain dari Mark yang tidak pernah ia ketahui kapan akan ia dapatkan.
Alih-alih melepasnya, Haechan justru mempererat genggamannya dan mengaitkan kesepuluh jari mereka.
Pemuda itu mendongak dan menatap Mark dengan senyum yang tulus.
"Hangat," katanya.
Seandainya waktu berhenti. []
***
© Rayevanth, 2019