Chapter 1: Prolog

Aliesha The ProtagonistWords: 7212

Seorang gadis sedang duduk membaca novel online di hpnya. Gadis itu terkenal sebagai tukang bully paling kejam di sekolahnya. Semua korban bully gadis itu sudah dapat dipastikan akan bunuh diri karena tidak tahan dengan bully-an yang mereka terima.

Walau terkenal kejam, gadis itu masih terlihat seperti remaja pada umumnya saat dia membaca novel. Gadis itu sangat suka membaca novel yang bercerita tentang bullying, sebab bisa menjadi referensi untuknya saat membully seseorang.

Novel yang tengah ia baca sekarang berkisah tentang Arisha Edrea, seorang gadis remaja berumur tujuh belas tahun yang kesehariannya di sekolah adalah membully seorang siswi bernama Aliesha Azkadina.

Gadis itu tentu saja sangat menyukai bagian saat Arisha membully Aliesha. Ia sangat benci perempuan lemah seperti Aliesha. Perempuan yang cengeng dan tidak bisa berbuat apa-apa saat dia disiksa.

Walaupun sudah banyak korban bunuh diri yang ia sebabkan, pihak sekolah tidak berani mengeluarkannya dari sekolah. Tentu saja karena ia adalah cucu dari pemilik sekolah itu. Di tengah asiknya ia membaca novel, dia sampai tidak sadar bahwa namanya sudah dipanggil beberapa kali oleh guru yang mengajar di depan kelas.

Gadis itu tersentak saat sebuah spidol melayang melewati kepalanya. Setelah mencerna apa yang sedang terjadi, gadis itu mendengus kasar saat melihat guru yang terkenal killer tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Di sekolah ini, hanya guru itulah yang berani marah dan bersuara keras padanya.

Gadis itu berjalan dengan langkah gontai ketika maju ke depan untuk mengerjakan soal di papan tulis. Walau terkenal kejam, gadis itu termasuk salah siswa berprestasi di sekolah itu.

Setelah menyelesaikan soal, gadis itu membuang spidol ke atas meja guru dan keluar dari kelas. Ia tidak menghiraukan panggilan guru yang marah padanya.

Merasa jenuh, gadis itu memilih rooftop sebagai tempat pelarian. Sayang sekali korban yang selalu ia bully baru saja bunuh diri dua hari yang lalu. Sekarang ia tidak tahu harus membully siapa lagi.

Gadis itu berdiri di pembatas rooftop seraya matanya melihat ke arah langit di kejauhan. Ia memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang membelai wajahnya. Merasakan ada orang di belakangnya, gadis itu dengan cepat berbalik. Namun sebelum dia sempat berbalik, gadis itu sudah didorong terlebih dahulu.

Gadis itu menatap tak percaya pada orang yang mendorongnya. Hanya dalam hitungan detik, tubuh gadis itu sudah jatuh ke bawah dalam keadaan yang mengenaskan. Tubuhnya serasa hancur disertai rasa sakit yang menyiksa.

Pandangan gadis itu mulai menggelap. Jauh di alam bawah sadarnya, ia berjalan ke dalam kegelapan yang menelannya. Ketika netranya menangkap setitik cahaya putih, gadis itu berjalan mengikuti sumber cahaya tersebut.

Tiba di ujung jalan, cahaya itu bersinar semakin terang. Gadis itu refleks menutup matanya. Ketika matanya kembali terbuka, pemandangan di depannya membuat alisnya berkerut.

Gadis itu menatap sekeliling dengan pandangan bingung. Ia baru saja terjatuh dari rooftop, tapi rasa sakit yang ia rasakan hanya sebentar.

Gadis itu memijat pelipisnya saat rasa pusing menyerang kepalanya. Gadis itu bangun dari posisi rebahan. Ia melirik sekitarnya, sepertinya dia berada di rumah sakit. Gadis itu menurunkan pandangannya untuk melihat pakaian yang dipakainya, ia masih mengenakan seragam sekolah.

Alisnya berkerut saat melihat rok yang ia pakai berbeda dengan rok seragamnya. Pada saat itu, pintu kamar rawat inapnya terbuka. Gadis itu memandang orang yang masuk dengan alis terangkat.

"Aliesha, gimana keadaan kamu? Ada yang sakit gak?" tanya pria itu setelah memencet tombol darurat.

Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya melihat pria di sampingnya dengan tatapan datar. Tak lama kemudian, dokter bersama beberapa perawat masuk ke dalam. Setelah memeriksa kondisinya, dokter menyatakan bahwa ia sudah bisa pulang ke rumah. Setelah dokter dan perawat pergi, pria itu kembali bersuara.

"Aliesha? Kamu gak apa-apa kan?" tanya pria itu khawatir.

Gadis itu hanya diam, masih mencerna kejadian yang dia alami. Ia lalu menatap pria itu dengan tatapan bingung.

"Lo panggil gue apa tadi? Aliesha?" tanyanya memastikan.

Pria itu mengangguk, terlihat bingung dengan sikap gadis di depannya. Tidak biasanya Aliesha berbicara lo-gue dengan orang lain, apalagi dengan dirinya.

"Aliesha, kamu udah sadar?"

Gadis itu menoleh ke arah pintu, melihat ada sekitar tiga orang pria yang masuk ke kamar rawat inapnya.

"Ehh Zan, Aliesha kenapa? Kok diem aja pas ditanya?" tanya salah satu pria yang baru datang.

Pria bernama Farzan itu menjawab dengan gelengan kepala. Gadis itu menghembuskan napas panjang, mulai mengerti dengan keadaan yang dia alami sekarang. Sepertinya dia sudah bertransmigrasi ke tubuh Aliesha, protagonis novel yang dia baca sebelum kematiannya.

Gadis itu menatap pria-pria itu satu per satu. Pria yang pertama kali dia lihat saat membuka matanya bernama Farzan. Nama lengkapnya adalah Farzan Byantara. Pria itu memiliki wajah tampan serta rahang yang tegas. Dia adalah orang pertama yang membela Aliesha ketika Arisha membully gadis itu.

Tiga orang yang baru saja datang dimulai dari ujung sebelah kiri bernama Farrel Bramantyo, pria itu memiliki senyum yang sangat manis. Pria itu adalah orang yang paling mempercayai Aliesha di situasi apapun. Dia adalah pembela nomor dua setelah Farzan.

Di samping Farrel ada Kenzie Kivandra, pria itu adalah pria paling datar dan dingin di sekolah. Selain itu, dia adalah orang yang cuek dan tidak peduli dengan siapapun. Hanya ada satu orang yang berhasil membuatnya peduli, siapa lagi kalau bukan Aliesha Azkadina.

Pria yang terakhir bernama Keenan Nalendra, pria itu adalah pria yang baik dan sopan. Dia adalah pria yang ramah kepada semua orang. Namun, dibalik senyumnya yang ramah, ada rasa dingin yang dia timbulkan pada lawan bicaranya. Satu-satunya orang yang bisa mendapatkan senyuman tulus darinya adalah Aliesha Azkadina.

Keempat pria itu terlahir dari keluarga konglomerat yang menjadikan mereka kaya sejak lahir. Mereka membentuk kelompok menjadi pelindung Aliesha sejak pertama kali bertemu gadis itu setahun yang lalu saat masa orientasi siswa.

"Lis, kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Farrel lembut.

Gadis itu menatap pria yang bertanya dengan tatapan datar, setelah itu menggelengkan kepalanya pelan.

"Aku baik-baik aja. Tapi, apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di sini?" tanyanya pelan, bersikap sesuai karakter Aliesha di dalam novel.

"Tadi kamu jatuh dari tangga. Kita langsung bawa kamu ke sini karena dokter sekolah lagi cuti," jelas Farzan.

Aliesha manggut-manggut. "Trus, kenapa kalian masih ada di sini? Gak sekolah?" tanyanya lagi.

"Kita baru aja pulang sekolah. Kamu udah mau pulang? Yuk, kita kawal sampai rumah!" jawab Keenan.

Gadis itu mengangguk dengan wajah polos. Sebagai orang yang bertransmigrasi, bisa dibilang ia cukup tenang. Karena sekarang ia berada di tubuh Aliesha, itu berarti ia sudah mati di kehidupan sebelumnya. Kalau memang benar begitu, ia akan menjadi Aliesha mulai sekarang.

Alasan kenapa dia bisa bertransmigrasi dan di mana jiwa Aliesha yang asli sekarang, akan ia pikirkan nanti. Yang harus ia lakukan sekarang adalah tetap tenang dan bersikap layaknya Aliesha biasanya.

First Chapter
ContentsNext
Previous
ContentsNext