Aliesha sampai di rumahnya dengan selamat. Ketika memasuki kamarnya, gadis itu tidak bisa tidak memutar bola matanya saat melihat kamarnya yang berwarna pink dengan gambar Hello Kitty dimana-mana. Walaupun dia perempuan, ia tidak terlalu menyukai warna pink yang terlalu kekanakan menurutnya.
Aliesha masuk ke dalam dan duduk di kursi meja rias sembari menatap pantulan dirinya di cermin. Gadis itu menyentuh wajahnya dengan perlahan, menatap kagum pada sosok yang dilihatnya di cermin.
"Lo cantik banget, Aliesha. Gak salah kalau lo jadi pemeran utama di dalam novel," monolognya dengan jujur.
Sebagai seorang perempuan, tentu saja ia sangat menghargai penampilan. Walau di dunia nyata dia juga cantik, akan tetapi kecantikan Aliesha tidak bisa dideskripsikan hanya dengan kata-kata.
Semua kata pujian sepertinya tidak mampu menjelaskan betapa cantiknya sosok Aliesha. Sebagai pemilik tubuh Aliesha yang baru, tentu saja ia merasa bangga.
Gadis itu melihat dirinya di cermin dengan penuh perhatian. Ia lalu mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja sembari berpikir.
'Kenapa dia bisa bertransmigrasi ke tubuh Aliesha?'
'Di mana jiwa Aliesha sekarang?'
Sangat tidak mungkin ia dikirim ke dunia itu hanya karena tubuhnya di dunia nyata sudah mati. Tidak mungkin juga ia merubah jalan cerita yang menguntungkan bagi Aliesha, yang notabenenya menjadi pemeran utama yang berakhir hidup bahagia.
Walau Aliesha sering disiksa oleh Arisha di sekolah, gadis itu tidak terlalu menderita karena akan selalu ada penolong yang menolongnya.
Aliesha bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju tempat tidur. Gadis itu duduk di ranjang seraya meraih hp yang tergeletak di atas nakas, mengecek apakah ada sesuatu yang penting di dalam sana.
Setelah mencari cukup lama, gadis itu menyadari tidak ada informasi apapun di hp itu. Hal itu membuatnya menghela napas panjang sebelum menaruh hp itu kembali ke tempatnya.
Saat mendengar ketukan di pintu kamarnya, Aliesha menoleh dan mendapati wanita paruh baya sedang tersenyum ke arahnya. Wanita itu adalah ibu kandung Aliesha yang sering dipanggil mama Yanti.
"Aliesha, turun dulu Nak. Kita makan malam sama-sama," ucap mama Yanti saat memasuki kamarnya.
Aliesha menatap mama Yanti cukup lama, kemudian senyum simpul muncul di bibirnya. Di kehidupan sebelumnya, kedua orangtuanya sudah meninggal sejak dia berumur dua tahun. Ia tidak mendapatkan kasih sayang orang tua sejak saat itu.
Ia hidup bersama kakeknya yang memberikan fasilitas lengkap padanya, tapi tidak dengan kasih sayang. Sampai sekarang, dia menjadi tidak terbiasa jika ada orang lain yang memberikan perhatian padanya.
Walau begitu, Aliesha masih bersikap sopan pada mama Yanti. Gadis itu mengangguk sembari menjawab, "Iya, Ma."
Keduanya turun bersama-sama menuju meja makan. Aliesha duduk berhadapan dengan Arisha. Inilah alasan mengapa Arisha selalu membully Aliesha di sekolah. Mereka berdua adalah saudara tiri. Arisha selalu menganggap Aliesha sebagai perebut kasih sayang dan perhatian ayah kandungnya.
Walaupun Arisha menyukai mama Yanti sebagai ibu tirinya, dia tidak menyukai Aliesha yang selalu mendapatkan kasih sayang dari banyak orang. Baginya, Aliesha adalah penghambat dalam hidupnya. Dia merasa hidupnya tidak akan bahagia selama Aliesha masih hidup.
Aliesha menunjukkan senyum mengejek pada Arisha, hal itu memicu kemarahan Arisha hingga gadis itu melemparkan sendok ke arahnya. Aliesha dengan sigap menghindari sendok itu sampai terdengar bunyi nyaring saat sendok itu bertubrukan dengan lantai.
"Arisha!" bentak papa Bimo âayah Arisha- marah. Mama Yanti menyentuh lengan suaminya, berharap perasaan marah itu sedikit berkurang.
"Arisha, kamu kenapa Nak? Apa Aliesha punya salah sama kamu?" tanya mama Yanti lembut.
Arisha menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca, kemudian menatap mama Yanti yang selalu baik padanya. Gadis itu segera beranjak dan berlari ke kamarnya. Mood-nya menjadi hancur setelah dibentak oleh ayahnya.
Seolah-olah kejadian barusan tidak ada hubungannya dengannya, Aliesha dengan tenang memakan makanannya sampai habis. Gadis itu lalu kembali ke kamarnya setelah pamit pada orang tuanya.
***
Aliesha sudah siap dengan seragam sekolahnya. Gadis itu kini tengah berkutat di depan cermin sebelum akhirnya mengambil tas dan turun ke lantai bawah.
"Morning, Ma. Morning, Pa," sapanya pada orang tua Aliesha. Gadis itu mengabaikan sosok Arisha yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Morning, Sayang."
"Morning, Princess."
Balas orang tua Aliesha sambil tersenyum. Aliesha duduk dan mengambil roti, kemudian mengoleskan rotinya dengan selai.
Tepat saat rotinya habis, terdengar bunyi motor yang saling bersahutan di pekarangan rumahnya. Sudah bisa ditebak bahwa itu adalah empat pangeran tampan yang datang untuk menjemputnya.
Aliesha melirik Arisha sekilas, kemudian pamit pada orang tuanya sebelum gadis itu keluar dari rumah. Ia menatap keempat pria itu dengan senyum tipis.
"Morning, Princess. Udah siap ke sekolah?" tanya Farrel disertai senyum manis.
Aliesha balas tersenyum lembut yang membuat keempat pria itu terpana. Ia lalu naik ke motor Farzan, seperti yang dilakukan Aliesha biasanya.
Sesampainya mereka di sekolah, mereka menjadi pusat perhatian warga sekolah. Itu adalah hal yang sudah sering terjadi pada mereka. Aliesha juga sering mendapat perhatian di kehidupan lamanya, hal itu tidak terlalu mengejutkan baginya.
Aliesha turun dari motor dan memberikan helmnya pada Farzan. Mereka lalu berjalan beriringan menuju kelas Aliesha, setelah itu keempatnya pergi ke kelas mereka masing-masing.
Aliesha duduk di bangku yang posisinya sudah dijelaskan di dalam novel. Gadis itu duduk dengan tenang sembari menatap ke luar jendela.
Tidak sampai semenit dia merasakan ketenangan, mejanya sudah digebrak oleh seseorang. Teman sekelas Aliesha saling berbisik dan merasa kasihan padanya. Mereka berpikir, Arisha pasti datang ke kelas mereka untuk membully Aliesha seperti biasa.
Mendengar suara-suara bising di sekitarnya membuat sudut bibir Aliesha naik ke atas. Gadis itu dengan perlahan menoleh ke samping, melihat Arisha yang menatap nyalang padanya.
Seperti yang diharapkan, Arisha pasti akan datang ke kelasnya untuk membully nya. Karena tidak bisa melakukan hal itu di rumah, Arisha melampiaskan amarahnya di sekolah. Arisha dengan kasar menarik tangan Aliesha, memaksa gadis itu untuk ikut dengannya.
Aliesha dengan santai mengikuti langkah Arisha, namun wajahnya terlihat menyedihkan di pandangan orang lain. Arisha menyeret Aliesha ke gudang, tempat tersepi di sekolah itu. Setelah menutup pintu gudang, Arisha menyentak tangannya sampai Aliesha terduduk di lantai.
Aliesha mengangkat sebelah alisnya, memprovokasi Arisha yang mana membuatnya semakin marah. Gadis itu mengangkat tangannya dan menampar Aliesha sekuat tenaga. Aliesha dengan cepat melindungi wajahnya dengan tangannya sehingga tamparan Arisha hanya mengenai telapak tangannya.
"Lo!! Udah berani lo sama gue?" tanya Arisha murka.
"Ka-kamu kenapa Arisha? A-aku, apa yang aku lakukan sehingga membuatmu marah?" Aliesha balas bertanya. Gadis itu berusaha menahan dirinya agar tidak membalas perbuatan Arisha padanya.
Arisha mendengus. "Lo gak sadar kesalahan apa yang lo buat? Lo sengaja kan bikin Papa marah sama gue?!"
Aliesha menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menyangkal tuduhan yang Arisha layangkan padanya. Gadis itu menurunkan pandangannya ke bawah untuk menyembunyikan ejekan di matanya.
"G-gak, Ris. Itu gak benar. Aku gak pernah lakuin hal itu," ucapnya lirih.
Arisha terdiam. Ia menatap Aliesha lekat dan menyadari bahwa Aliesha masih sama seperti dulu. Gadis lemah dan penakut. Tapi, entah bagaimana dia merasa ada yang berbeda dari gadis itu sejak kemarin.
Arisha melangkah perlahan mendekati Aliesha, dengan kasar menjambak rambut gadis itu hingga ia bangkit berdiri dari posisinya yang semula duduk di lantai.
Aliesha menutup matanya erat seraya menahan rasa sakit di kulit kepalanya. Gadis itu mengumpat di dalam hati dan lagi-lagi menahan diri agar tidak membalas Arisha. Pada saat itu, pintu gudang yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka. Keempat pria yang selalu membela Aliesha masuk ke dalam.
Bukan hanya mereka saja yang datang, ada juga beberapa murid yang datang untuk menonton dari luar. Aliesha melirik keempat pria itu sekilas, lalu kembali memejamkan matanya.
Farzan lekas berlari. Pria itu mencengkeram tangan Arisha yang bebas.
"Apa yang lo lakuin, Ris? Lepasin Aliesha!" suruh Farzan cepat, merasa iba ketika melihat Aliesha menahan sakit.
Arisha yang masih terjebak dalam keterkejutannya langsung melepaskan tangannya yang menjambak rambut Aliesha.
"Zan, kok lo ada di sini?" tanya Arisha linglung.
Mengabaikan pertanyaan Arisha, Farzan beralih ke Aliesha. Pria itu memegang pundak Aliesha dan menatapnya tepat di matanya.
"Aliesha, kamu gak apa-apa kan?" tanya Farzan khawatir.
"A-aku gak apa-apa," jawab Aliesha dengan mata berkaca-kaca.
"Farzan, jawab pertanyaan gue. Kok lo bisa ada di sini?" tanya Arisha lagi karena Farzan tidak menjawab pertanyaannya.
Sekali lagi, Farzan mengabaikan Arisha. Semua perhatiannya dia fokuskan hanya pada Aliesha. Setelah memastikan Aliesha baik-baik saja, pria itu menuntun gadis itu kembali ke kelas, diikuti tiga temannya yang lain.
Arisha menatap kosong punggung kelima orang itu yang melangkah ke luar gudang. Gadis itu mengepalkan tangannya erat dengan mata memerah.