Aliesha menghalangi sinar matahari dari wajahnya dengan tangan kanannya. Gadis itu tengah berbaring di kursi panjang yang ada di rooftop. Bel masuk sudah berbunyi sejak tadi, namun dia tidak berniat menghadiri kelas hari ini.
Aliesha menghembuskan napas panjang. Tubuhnya terasa tidak nyaman. Baru sehari ia bersikap seperti Aliesha yang asli, namun dia sudah merasa lelah. Berpura-pura lemah di hadapan orang lain adalah hal yang mudah, namun cukup menguras banyak tenaga.
Cukup lama Aliesha berbaring, gadis merubah posisinya menjadi duduk beberapa menit kemudian. Ia lalu pergi menuju kantin. Aliesha memesan bakso dan es teh, kemudian memakannya sampai habis. Setelah itu, dia pergi ke lapangan indoor yang jaraknya cukup jauh dari kantin. Sesampainya dia di sana, Aliesha melihat Keenan sedang melempar bola basket ke dalam ring.
Suara tepuk tangan dan sorakan terdengar saat bola itu masuk ke dalam ring. Aliesha mengambil tempat duduk di bagian atas. Gadis itu terus mengamati pergerakan Keenan saat bermain basket. Permainan berakhir saat bel istirahat berbunyi.
Aliesha dengan cepat pergi dari sana sebelum Keenan menyadari kehadirannya. Kali ini ia pergi ke kelas karna keempat pria itu pasti akan datang menjemputnya untuk mengajaknya ke kantin. Dan benar saja, dua menit setelah ia duduk di bangkunya, keempat pria itu masuk ke kelasnya.
"Aliesha, ayo kita ke kantin!" ajak Farrel penuh semangat.
Aliesha mengangguk, mereka berlima lalu pergi ke kantin bersama-sama. Seperti biasa, mereka duduk di meja yang berada di tengah-tengah kantin.
Posisi duduk mereka sekarang adalah Aliesha duduk di antara Farzan dan Farrel, sedangkan Kenzie dan Keenan duduk di seberang mereka.
"Mau pesan apa Lis?" tanya Farrel mencondongkan tubuhnya ke arah Aliesha, membuat bahu keduanya menempel.
"Boba aja, Rel." Aliesha menjawab dengan wajah risih. Gadis itu dengan perlahan menarik tubuhnya menjauhi Farrel.
"Gak pesen makan, Lis?" tanya Keenan saat pria itu menatap Farrel sengit, lalu tersenyum manis saat melihat Aliesha.
Aliesha menggeleng. Dia baru saja makan bakso dan masih kenyang sekarang. Farrel manggut-manggut, pria itu lalu menatap Farzan.
"Pesenin gih, Zan! Gue mau nasi goreng sama teh manis," suruhnya dengan wajah bossy.
Farzan menaikkan sebelah alisnya. Pria itu dengan cepat menolak. "Gak! Tuh, Keenan aja tuh!" katanya sambil menunjuk Keenan dengan dagunya.
Keenan melebarkan matanya. "Enak aja, lo! Gue gak mau! Suruh Kenzie aja sana."
Aliesha memutar bola matanya malas. "Udah, jangan berantem. Biar aku aja yang pesenin. Kalian mau pesan apa?" tanyanya dengan wajah santai.
Keempat pria itu tercengang mendengar perkataan Aliesha. Mereka melihat satu sama lain, dengan serempak menggeleng. Melihat tidak ada yang menjawab pertanyaannya, Aliesha mengerutkan alisnya. "Kalian kenapa?"
Farrel tersenyum manis. "Aliesha, Princess, udah kamu duduk aja ya. Jangan sampai capek. Nanti biar aku aja yang pesen, ya Princess ya," kata Farrel mendudukkan kembali Aliesha yang sempat berdiri.
"Kenapa?" tanya Aliesha bingung.
"Udah, dengerin aja apa kata aku. Woi, Nan! Temenin gue pesan makan sini," kata Farrel lagi.
Keenan menatap Farrel malas, namun tetap berdiri dan mengekor di belakang pria itu. Beberapa menit kemudian, mereka kembali dengan nampan yang berisi pesanan mereka. Karena terlalu banyak, ibu kantin ikut membantu membawakan pesanan mereka.
Setelah semua makanan diletakkan di atas meja serta Farrel dan Keenan duduk, mereka mulai makan perlahan-lahan. Aliesha meminum bobanya sambil menatap ke sekitar.
"Btw, Lis. Tadi kayaknya aku lihat kamu di lapangan. Kamu ngapain di sana?" tanya Keenan setelah menghabiskan makanannya.
Tangan Aliesha yang sedang memainkan sedotan terhenti. Gadis itu mendongak, menatap Keenan cukup lama. Dia lalu tersenyum tipis.
"Aku habis dari toilet tadi, trus sempetin lihat kamu main basket. Emang kenapa?" tanyanya dengan wajah polos.
Keenan menggeleng, "Gak apa-apa.
Aliesha mengangguk. "Tadi aku udah jawab pertanyaan kamu. Sekarang aku mau kalian jawab pertanyaan aku," ucap Aliesha disertai senyum tipis saat menatap keempat pria itu.
"Kamu mau nanya apa, Lis?" tanya Farrel penasaran.
"Farzan bilang kemarin aku jatuh dari tangga. Kalian tahu gak kenapa aku bisa jatuh dari tangga?"
"Kenapa bisa jatuh?" Keenan memegang dagunya dengan sikap berpikir.
"Kamu curiga ada orang yang dorong kamu, Lis?" Farrel membelalakkan matanya terkejut.
Dalam hatinya Aliesha menyesal telah bertanya pada orang yang salah. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum paksa.
"Aku cuma nanya aja kok. Kalau kalian gak tahu juga gak apa-apa."
"Kemarin ada terlalu banyak orang di dekat tangga, Lis. Kita gak bisa main asal nuduh gitu aja ke sembarangan orang," ujar Farzan dengan mimik serius.
"Maksud kamu, aku asal nuduh aja gitu? Padahal niat aku kan cuma mau nanya aja sama kalian. Aku gak nyangka ya, pikiran kamu kayak gitu tentang aku."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Aliesha segera beranjak ke kelasnya. Gadis itu tidak menghiraukan keempat pria itu yang mengejar di belakangnya. Sesampainya di kelas, Aliesha duduk di bangkunya. Ia lalu mengeluarkan buku dari dalam tas dan mulai membacanya. Lebih tepatnya, melihat buku itu dengan tatapan kosong.
Pikirannya dipenuhi dengan berbagai kemungkinan dan alasan kenapa dia bisa berada di tubuh Aliesha. Terutama hal apa yang membuat jiwa Aliesha menghilang. Apakah Aliesha yang asli juga sudah mati? Siapa yang mendorongnya?
Selain itu, dia tidak bisa membiarkan Arisha terus-terusan membully nya. Ia harus menjalin kerjasama dengan Arisha, atau menghancurkan gadis itu sepenuhnya. Hanya saja, Arisha adalah karakter favoritnya di dalam novel.
Ia tidak bisa menghancurkan gadis itu. Satu-satunya cara untuk bisa hidup tenang ke depannya adalah dengan menjalin kerjasama dengan Arisha. Tapi, apakah Arisha mau berkerjasama dengannya?
Aliesha menggelengkan kepalanya, sepertinya itu tidak mungkin. Setelah mengusir segala kemungkinan dari kepalanya, Aliesha ingat ada satu hal penting yang harus dia perhatikan. Ia harus segera mengganti cat serta wallpaper di kamarnya.
Lamunan Aliesha terhenti saat ada seorang gadis melambaikan tangannya di depan wajahnya.
"Aliesha?" panggil gadis itu dengan suara yang cukup keras.
"Ya?" Aliesha mengangkat alisnya, menatap gadis itu dengan tatapan bingung.
Gadis itu bernama Naomi, sahabat Aliesha yang diceritakan di dalam novel. Dia memiliki sifat humble dan friendly. Ada dua kekuragan Naomi, yaitu sangat cerewet dan suka ngambek gak jelas.
"Lo denger apa yang gue omongin gak sih?" tanya gadis itu dengan wajah cemberut.
"Apa ya?" tanya Aliesha sambil tersenyum paksa.
Naomi memutar matanya malas. "Gue tanya, kita jadi ke rumah lo gak buat bahas tugas yang dikasih Miss Jena?"
"Tugas?" Aliesha merapatkan alisnya seraya berpikir keras.
Sepertinya tugas yang dimaksud Naomi adalah menampilkan drama menggunakan bahasa Inggris yang nilainya akan dijadikan sebagai nilai praktek untuk ujian bahasa Inggris.
Berdasarkan novel yang dia baca, akan terjadi kecelakaan kecil saat perjalanan mereka ke rumah Aliesha. Dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, karena akan ada salah satu orang yang mati dalam kecelakaan tersebut.
"Aliesha?" panggil Naomi pelan.
Aliesha mengerjapkan matanya dua kali. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, dia sampai belum sempat menjawab pertanyaan yang diberikan Naomi padanya.
Aliesha berdehem. "Gak bisa. Untuk sementara kita cari tempat lain dulu ya, karena rumahku lagi gak bisa nerima tamu sekarang," tolak Aliesha selembut mungkin.
"Yah, beneran gak bisa?" tanya Naomi dengan wajah memelas. Aliesha menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Ya udah deh kalau emang gak bisa. Nanti kalau tempatnya udah ditentuin, gue bakal kasih tahu lo," ucap Naomi sebelum kembali ke tempat duduknya.
***
Sesuai dengan rencananya, Aliesha langsung memesan taksi online begitu bel pulang berbunyi. Ia sengaja tidak pulang bersama empat ksatria Aliesha karena masih marah dengan perkataan Farzan padanya saat di kantin tadi.
Begitu taksi yang dia tumpangi berhenti di mall terdekat, Aliesha segera turun dari taksi. Ia lalu memasuki toko serba ada dan membeli alat-alat yang dia butuhkan.
Setelah dirasa cukup, Aliesha langsung membayar dan meminta alat-alat itu untuk dikirimkan ke rumahnya. Sebelum pulang, Aliesha menyempatkan diri untuk makan siang di restoran. Ia baru tiba di rumahnya saat langit mulai senja.
Aliesha melihat alat-alat yang tadi dia beli sudah terletak di samping tangga. Gadis itu dengan cepat berlari ke atas untuk mengganti pakaiannya, setelah itu turun lagi ke bawah untuk membawa naik alat-alat itu ke kamarnya.
"Aliesha, kamu mau dekor kamar kamu?" tanya mama Yanti saat melihat Aliesha jalan bolak-balik dari kamar ke lantai bawah.
Aliesha menoleh, kemudian mengangguk singkat dan kembali melanjutkan langkahnya. Tanpa diminta, mama Yanti bergegas membantu Aliesha membawa alat-alat itu ke kamarnya.
"Mama istirahat aja gih. Aku bisa sendiri kok," ucap Aliesha saat mama Yanti berniat membantunya mendekorasi kamarnya.
"Udah gak apa-apa. Biar mama bantuin ya," balas mama Yanti dengan senyum keibuan.
Pada akhirnya, Aliesha mengecat dan mengganti wallpaper kamarnya bersama mama Yanti. Kamarnya yang semula dipenuhi warna pink serta gambar Hello Kitty kini telah berganti menjadi perpaduan warna abu-abu dan putih. Ia menggunakan wallpaper abstrak di beberapa bagian kamarnya.
Begitu selesai, Aliesha dan mama Yanti segera merapikan alat-alat yang baru saja mereka pakai dan pergi mandi. Aliesha membenamkan tubuhnya di lautan busa yang dia buat sendiri. Setelah cukup lama berendam, Aliesha akhirnya keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi.
Gadis itu menatap kamarnya dengan tatapan puas. Karena terlalu lelah, Aliesha langsung jatuh tertidur saat merebahkan tubuhnya di atas kasur.