Aliesha keluar dari kamar lengkap dengan seragam sekolah yang melekat di tubuhnya. Gadis itu turun untuk sarapan bersama orang tua Aliesha, tentu saja ada Arisha juga di sana.
"Ma, Pa, aku ke sekolah dulu ya," pamit Aliesha pada orang tuanya, tidak mempedulikan Arisha yang sedari tadi menatapnya tajam.
"Kamu gak sarapan dulu?" tanya mama Yanti sebelum Aliesha berbelok ke ruang tamu.
Aliesha berbalik, lalu menggelengkan kepalanya dengan senyum lebar. Hari ini gadis itu pergi ke sekolah sendirian. Ia tidak menunggu dijemput empat pangeran tampan dan juga tidak berharap mereka akan datang untuk menjemputnya setelah apa yang terjadi kemarin. Aliesha menunggu bus di halte sambil menyumbat telinganya dengan earphone.
Begitu bus berhenti di depannya, Aliesha langsung naik dan memilih tempat duduk. Bersyukurlah pagi itu suasana bus cukup lengang, sehingga banyak kursi yang masih kosong.
Aliesha sampai di sekolah tiga puluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Setelah meletakkan tasnya di atas meja, gadis itu keluar dari kelas menuju rooftop. Ia duduk di sana sambil melihat pemandangan di kota itu.
Aliesha pergi ke kelas lima menit sebelum bel masuk berbunyi. Ketika pelajaran pertama dimulai, gadis itu memperhatikan guru yang mengajar dengan bertopang dagu, membuat gadis yang duduk di sebelahnya meliriknya beberapa kali. Tidak biasanya Aliesha terlihat bosan saat berada di dalam kelas.
Tepat saat bel istirahat berbunyi, Naomi memanggil nama Aliesha sebelum gadis itu beranjak ke luar kelas.
"Aliesha!" panggilnya dengan suara keras.
Aliesha menoleh dengan alis terangkat sebelah. "Kenapa?" tanyanya kemudian.
"Kita ke kantin bareng ya, sama yang lain juga. Kita mau bahas tentang tugas bahasa Inggris, terus tentuin ke rumah siapa kita latihan," jelas Naomi panjang lebar.
Aliesha mengangguk. Naomi lalu menghampiri teman kelompoknya yang lain untuk mengatakan hal yang sama seperti yang dia katakan pada Aliesha. Setelah semuanya setuju, mereka pergi ke kantin bersama-sama.
Ketika mereka mencapai pintu kelas, Aliesha melihat ada empat pria tampan yang sedang berdiri di luar kelas, terlihat jelas sedang menunggunya. Awalnya dia ingin menghindar, tapi tidak jadi setelah menyadari tidak ada waktu untuk kabur.
"Hai, Lis. Tadi kita ke rumah kamu, tapi kata Om sama Tante kamu udah pergi duluan," ucap Farzan yang disetujui tiga orang lainnya.
Aliesha tersenyum simpul sebagai tanggapan. Mengabaikan keempat pria itu, ia berjalan bersama Naomi dan teman kelompoknya menuju kantin.
Setelah mereka memesan makanan, mereka memilih duduk di sudut kantin. Mereka memakan makanannya dalam hening, tidak ada yang peduli dengan kehadiran empat pria tampan yang duduk di seberang meja mereka.
Setelah selesai makan, Aliesha dan Naomi serta teman kelompok mereka mulai berdiskusi. Kelompoknya terdiri atas tujuh orang, yaitu Aliesha sendiri, Naomi, Syifa, Ratna, Bagas, Randy, dan Rizky.
"Jadi, kita pake cerita Barbie buat pentas nih? Yakin?" tanya Rizky sembari membaca naskah yang dibagikan oleh Ratna pada masing-masing orang. Ternyata gadis itu membawa banyak salinan ke kantin untuk dibahas bersama-sama.
"Gila! Kenapa harus Barbie sih? Kenapa gak Cinderella aja?" keluh Randy. Pasalnya film Barbie adalah film untuk anak-anak perempuan, tidak cocok untuk dirinya yang merupakan lelaki tulen.
Ratna memutar matanya malas, memandang kedua pria itu dengan tatapan sinis. "Cinderella udah terlalu sering kali. Yakin banget gue kelompok yang lain pasti pada pake itu," jelas Ratna.
Naomi mengangguk setuju. "Bener banget. Barbie kan belum ada yang pake, nanti kita jadi kelompok pertama yang pake naskah ini."
Setelah dipikir-pikir, perkataan Ratna dan Naomi ada benarnya. Setiap kali ada drama yang harus ditampilkan, semua orang akan berpikir untuk menampilkan drama Cinderella atau Romeo and Juliet. Mereka harus bisa mementaskan sesuatu yang berbeda.
"Ya udah deh kalau gitu," kata Randy pasrah.
Rizky yang sama pasrahnya bertanya, "Kapan kita latihan?"
Semua orang yang ada di meja itu menatap Naomi, sedangkan gadis itu menatap Aliesha. Alis Aliesha berkerut, tidak tahu harus berkata apa.
Naomi menghela napas panjang, kemudian membalas tatapan teman-temannya.
"Ada yang punya usul gak? Kita gak bisa latihan di rumah Aliesha karena ada urusan pribadi," ucap Naomi pada akhirnya.
Syifa yang sedari tadi diam tiba-tiba mengangkat tangannya. "Kalau latihannya di rumah gue, kalian mau gak?" tanyanya mengusulkan.
Mata semua orang berbinar, mereka dengan serempak mengangguk setuju.
"Mau banget dong, Syifa. Kita latihannya hari ini ya, setelah pulang sekolah," ucap Bagas.
Usulan Bagas juga mendapat persetujuan dan anggukan dari yang lainnya. Berbeda dengan diskusi diantara Aliesha dan teman kelompoknya. Di seberang meja mereka yang terdapat empat pria tampan, telah terjadi perdebatan sengit.
"Ini semua gara-gara lo, Zan! Seandainya kemarin lo gak ngomong kayak gitu ke Aliesha, pasti sekarang dia masih mau bicara sama kita!" Farrel menatap Farzan sengit, sorot kebencian terlihat jelas di matanya.
Farzan menarik napas panjang. Dia tahu dia salah, seharusnya dia tidak berkata seperti itu kemarin. Keheningan yang panjang terjadi di antara mereka. Melihat Farrel yang masih menatap benci pada Farzan, Keenan mengusap bahu pria itu pelan.
"Udah, Rel. Semua udah terjadi. Yang harus kita pikirin sekarang, gimana caranya biar Aliesha mau maafin kita," bujuk Keenan meredakan suasana.
Kenzie yang biasanya diam kini mengangguk. "Gue setuju sama ucapan Keenan. Kita harus cari cara biar Aliesha gak marah lagi sama kita."
"Tapi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Farrel entah pada siapa.
Mereka terdiam lagi. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang memiliki ide bagus, karena cara yang terpikirkan hanyalah sebuah permintaan maaf yang harus dilakukan oleh Farzan.
***
Kelas berikutnya merupakan pelajaran kesenian. Aliesha duduk mendengarkan penjelasan guru, namun matanya beberapa kali melirik ke arah naskah untuk menghafal dialognya. Guru yang mengajar memerhatikan gelagat Aliesha sejak tadi dengan alis berkerut.
Setelah beberapa menit terlewat, guru itu berjalan ke meja Aliesha dan mengetuk mejanya dengan menggunakan spidol.
"Aliesha, ulangi perkataan saya sebelumnya!" suruhnya dengan tangan terlipat.
Aliesha mengangkat kepalanya ke atas dan menatap guru itu cukup lama, kemudian menatap ke arah teman sekelasnya. Melihat semua pandangan terarah padanya, Aliesha berdehem sebentar untuk membasahi tenggorokannya.
"Teknik dasar peran adalah metode dan strategi dasar dalam melakukan atau memainkan peran. Selain itu, teknik dasar seni peran juga melibatkan berbagai latihan untuk mempersiapkan tubuh seorang pemain," ucap Aliesha mengulangi perkataan guru itu.
Guru yang bernama Bu Sari itu mengangkat alisnya terkejut. Tidak menyangka murid yang dilihatnya sibuk dengan urusannya sendiri bisa mengulangi penjelasannya.
"Kalau begitu, poin-poin apa saja yang ada di dalam teknik dasar seni peran?" tanya Bu Sari menguji pengetahuan murid di depannya.
Aliesha berpikir dalam hitungan detik sebelum menjawab, "Poin-poin yang ada dalam seni peran meliputi olah tubuh, olah vokal, olah rasa, dan ruang. Ruang disini maksudnya adalah kemampuan untuk mengetahui kebutuhan suatu ruang pergerakan dari fragmen atau adegan."
Bu sari mangangguk-anggukkan kepalanya puas setelah mendengar jawaban Aliesha. Namun, beliau masih tidak senang karena gadis itu tidak fokus dengan pelajaran yang dia ajarkan.
Oleh karena itu, beliau berkata, "Bagus, kamu bisa menjawab pertanyaan Ibu dengan tepat. Tapi, Ibu lihat kamu sejak tadi tidak memperhatikan pelajaran yang Ibu ajarkan. Apa yang membuatmu begitu sibuk sedari tadi, Aliesha?"
Jari tangan Aliesha bergetar mendengar pertanyaan itu. Ia sedikit gugup karena kedapatan tidak memperhatikan pelajaran. Untungnya, dia bisa menenangkan diri dan menjawab dengan tenang.
"Saya sedang membaca naskah drama, Bu. Seharusnya apa yang saya baca tidak terlalu melenceng dari apa yang Ibu ajarkan," ujar Aliesha percaya diri.
Guru itu sekali lagi merasa terkejut. "Naskah drama apa yang sedang kamu baca, Aliesha? Apa Ibu boleh melihatnya?" tanya Bu Sari sedikit bersemangat.
Aliesha melirik ke arah Ratna untuk meminta izinnya. Pasalnya, Ratna adalah orang yang membuat naskah itu untuk mereka. Begitu Ratna mengangguk, Aliesha memberikan naskah itu pada Bu Sari.
Setelah membaca naskah itu, Bu Sari akhirnya tahu bahwa itu adalah tugas bahasa Inggris yang diberikan Miss Jena pada kelas itu. Bu Sari lalu mengembalikan naskah itu ada Aliesha.
"Ternyata tugas bahasa Inggris. Aliesha, tolong selama kamu berada di kelas seni, fokuslah dengan pelajaran yang Ibu ajarkan. Walaupun tugas itu ada hubungannya dengan pelajaran seni, tetap saja tidak terasa nyaman jika kamu hanya fokus pada pelajaran lain disaat kamu sedang berada di kelas saya. Dan ini tidak hanya berlaku untuk kelas saya saja, tapi juga untuk semua kelas. Apa kamu mengerti?" Bu Sari memberikan nasihat pada Aliesha sebelum kembali ke meja guru.
Naomi yang duduk di sebelah Aliesha menyikut pelan lengan gadis itu, kemudian mendorong bukunya yang terdapat tulisan di sana.
'Lo gak apa-apa kan?'
Aliesha melihat ke arah Naomi, ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil, mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.
Yang terjadi selanjutnya adalah Bu Sari kembali melanjutkan penjelasannya dan memberikan tugas di saat-saat terakhir. Sebelum keluar dari kelas, beliau kembali mengingatkan Aliesha pada kesalahannya dan pergi dengan wajah tegas.