Chapter 5: 4. Ditampar Arisha

Aliesha The ProtagonistWords: 9281

Aliesha bersama Naomi dan teman kelompoknya yang lain kini tengah berjalan beriringan keluar dari kelas. Mereka bertujuh sudah sepakat akan pergi ke rumah Syifa untuk latihan drama bahasa Inggris.

Setibanya mereka di tempat parkir, Aliesha membuka hpnya saat terdengar notifikasi pesan masuk. Gadis itu membuka pesan yang dikirimkan oleh Arisha.

'Gue tunggu di belakang toilet cowok. SEKARANG!'

Aliesha melihat sekitar beberapa kali setelah membaca pesan itu. Gadis itu lalu berkata, "Guys, kalian duluan aja ya ke rumah Syifa. Nanti aku nyusul."

Naomi langsung menoleh ke arah gadis itu dengan tatapan kaget. "Emang lo mau ke mana Aliesha?"

Aliesha tersenyum kecil. "Aku lupa kalau harus ketemu sama temen dulu," alibinya.

"Siapa?" tanya Naomi dengan alis terangkat.

"Kamu gak kenal Naomi," jawab Aliesha gemas.

Naomi menggeleng. "Teman yang mana Aliesha? Gue kenal sama semua teman lo," katanya tidak percaya.

Memang, Naomi adalah orang terdekat Aliesha. Semua orang yang Aliesha kenal juga dikenali olehnya. Aliesha menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

"Aku harus ketemu sama Farzan. Kamu kenal Farzan kan?" ungkap Aliesha dengan tatapan malas. Begitulah caranya ia berbohong sehingga tidak ada seorangpun yang tidak percaya padanya.

Kali ini Naomi mengangguk. Dengan sangat terpaksa gadis itu membiarkan Aliesha pergi.

"Ini, gak apa-apa kalau kita biarin dia pergi sendiri? Dia kan gak tahu rumah gue dimana," ujar Syifa bingung.

Naomi menepuk jidatnya setelah menyadari hal itu. "Oh iya! Trus kita harus gimana? Dia kan udah nyuruh kita pergi duluan."

"Syifa, lo punya motor sendiri kan?" Bagas tiba-tiba bertanya.

Syifa melihat Bagas bingung, dia lalu mengangguk. Bagas langsung tersenyum lebar.

"Kalian duluan aja. Biar gue yang nungguin Aliesha di sini. Kan gue juga udah tahu rumahnya Syifa dimana," kata Bagas dengan wajah sumringah.

Naomi menepuk punggung Bagas keras. "Lo mau modusin sahabat gue ya lo?!" tuduhnya.

Bagas meringis kecil saat mengusap punggungnya. Pria itu lalu menoyor kepala Naomi ke belakang.

"Anjir lo ya! Gue kan berbaik hati mengajukan diri sendiri buat nungguin Aliesha. Dia kan gak tahu rumahnya Syifa, sedangkan gue tahu. Salahnya gue di mana sih, Naomi?!" seru Bagas dengan tatapan kesal.

Naomi menggaruk pelipisnya sembari berpikir. Dengan kesal gadis itu mengangguk.

"Hati-hati lo boncengin Aliesha. Jangan ngebut-ngebut lo! Berani Aliesha lecet sedikit aja, lo mati sama gue!" ancam Naomi sebelum naik ke motor Randy.

Bagas mengangguk dan terus mengulangi kata "iya".

Aliesha di sisi lain tengah berjalan menuju belakang toilet tempat Arisha menunggunya. Sesampainya ia di sana, Arisha langsung saja menarik tangannya dan menamparnya hingga ia tersungkur ke lantai.

Aliesha mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Gadis itu mengangkat pandangannya ke atas dan melihat ke arah Arisha yang terlihat sangat marah.

"Arisha, kenapa kamu nampar aku?" tanya Aliesha sembari memegang pipinya yang terasa perih.

"Lo nanya kenapa gue nampar lo?! Gara-gara lo Farzan ngejauhin gue, Aliesha! Lo gak tahu seberapa sukanya gue sama dia, hah?!" kata Arisha melampiaskan kemarahannya.

Aliesha bangkit berdiri, ia lalu menggeleng dengan mata berkaca-kaca.

"Aku gak ngerti. Aku gak ngelakuin apa-apa Arisha," elaknya.

Arisha mengangkat tangannya ingin menampar Aliesha lagi setelah mendengar kata-katanya, namun tangannya sudah digenggam oleh seseorang. Arisha menoleh, matanya membelalak saat melihat sosok Bagas.

Dengan kasar gadis itu menepis tangan Bagas yang menggenggam tangannya.

"Ngapain lo di sini? Mau gantiin Farzan belain Aliesha, hah?!" tanya Arisha setengah berteriak.

Bagas yang sebelumnya menunggu di tempat parkir merasa penasaran karena Aliesha belum juga balik dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga dia memutuskan untuk menyusul gadis itu.

Di tengah perjalanan, ia mendapat panggilan alam yang membuatnya harus pergi ke toilet terlebih dahulu. Siapa sangka belum juga ia masuk ke toilet, dia mendengar suara berisik di belakang toilet.

Karena penasaran, ia pun menghampiri asal suara itu. Siapa sangka dia akan melihat sosok Aliesha yang akan ditampar oleh Arisha. Ia pun bergegas menghampiri keduanya dan menghentikan tangan Arisha dari melakukan tindakan tidak terpuji itu.

"Lo bukannya Arisha ya? Saudarinya Aliesha?" tanya Bagas memastikan.

Pria itu kemudian menghampiri Aliesha yang terlihat ketakutan di belakang Arisha.

"Kok lo tega sih nyakitin saudara lo sendiri?" ucapnya sembari membawa Aliesha ke pelukannya.

Arisha berbalik, melihat keduanya dengan alis terangkat. Gadis itu lalu melipat tangannya sembari tersenyum remeh.

"Gue nyakitin dia atau gak, itu gak ada urusannya sama lo. Lo siapanya dia sih? Pacarnya? Atau, cadangannya dia?" ucapnya sinis.

Bagas mengepalkan tangannya kesal. Tidak ingin meladeni Arisha terus-menerus, ia memilih membawa pergi Aliesha dari sana.

"Kamu gak apa-apa kan? Kamu mau pulang dulu atau langsung ke rumah Syifa?" tanya Bagas ketika mereka sampai di tempat parkir.

Aliesha menggeleng disertai senyum kecil. "Aku gak apa-apa kok, Bagas. Kita bisa langsung ke rumah Syifa," balas Aliesha dengan suara kecil.

Mendengar itu, Bagas hanya bisa menghela napas panjang. Pria itu merasa miris melihat Aliesha yang begitu lembut selalu dibully oleh saudari tirinya. Walau begitu, dia bukan siapa-siapa Aliesha sehingga ia tidak bisa ikut campur dalam masalah gadis itu.

"Dipake dulu helmnya," ucap Bagas sembari memakaikan helm pada Aliesha.

Aliesha tertegun, ia menatap Bagas dalam diam. Selesai memakaikan helm padanya, Bagas melepaskan jaket kulitnya dan mengikatnya di pinggang Aliesha. Aliesha duduk di belakang Bagas dan secara alami melingkarkan tangannya di perut pria itu.

Bagas melirik tangan Aliesha yang melingkar di perutnya sekilas, pria itu tersenyum tipis. Dia lalu melajukan motornya dengan kecepatan sedang, menikmati momen kebersamaan mereka berdua.

Mereka tiba di rumah Syifa setengah jam kemudian. Naomi yang merasa khawatir segera menghampiri keduanya ketika Aliesha sudah turun dari motor. Dia lantas memeriksa tubuh Aliesha, melihat apakah ada lecet di sana.

Saat matanya melihat pipi Aliesha yang lebam, gadis itu langsung saja memukul punggung Bagas menggunakan tasnya.

"Bagas! Kenapa pipi Aliesha jadi lebam gitu?" tanya Naomi marah.

Bagas mengusap punggungnya sambil meringis. "Bukan salah gue anjir. Tanya aja tuh sama Aliesha."

Naomi menoleh, tatapan khawatir terlihat jelas di matanya. Aliesha memegang tangan Naomi untuk menenangkan gadis itu.

"Aku gak apa-apa kok, Naomi. Tadi itu aku jatuh, makanya jadi lebam gini," ujar Aliesha berbohong.

Naomi melirik ke arah Bagas, seolah bertanya apakah yang dikatakan Aliesha benar atau tidak. Bagas hanya bisa mengangguk mengiyakan setelah ditatap sedemikian rupa oleh Naomi.

Pada akhirnya, Naomi memutuskan untuk tidak mengejar masalah itu. Ia yakin bahwa jika Aliesha mau, dia pasti akan menceritakan masalahnya kepadanya.

***

"Aliesha, gue antar pulang ya," ucap Bagas setelah mereka selesai latihan.

Aliesha yang sudah memakai tas punggungnya dan bersiap-siap untuk pulang menoleh ke arah Bagas. Hari sudah sore dan matahari akan segera kembali ke peraduannya. Karena badannya sudah terasa lelah dan lengket, tanpa mau basa-basi lagi, gadis itu langsung mengangguk setuju.

Syifa sebagai tuan rumah mengantarkan teman-temannya ke depan rumah, melihat kepergian mereka yang pulang berpasang-pasangan. Aliesha pulang bersama Bagas, Naomi dengan Randy, serta Ratna dengan Rizky.

"Makasih ya, Bagas," kata Aliesha saat mereka sudah sampai di rumahnya.

"Udah kewajiban gue," balas Bagas disertai senyum tipis.

Aliesha balas tersenyum. Bagas memandang Aliesha intens, hal itu berlangsung lebih dari satu menit yang mengundang tanda tanya besar di kepala gadis itu.

"Lo, gak pulang?" tanya Aliesha canggung.

Keduanya berdiri cukup lama di sana, namun tidak ada tanda-tanda Bagas akan pergi. Mendengar pertanyaannya, Bagas lantas terkekeh.

"Gue gak diajak masuk?" tanyanya disertai senyum menggoda.

Aliesha mengusap lehernya, merasa bingung harus berkata apa. Bagas tersenyum maklum.

"Gue bercanda kok. Lo masuk aja dulu, setelah itu baru gue pergi."

Aliesha mengangguk. Bagas memandang Aliesha cukup lama sampai pintu rumah gadis itu tertutup. Setelah memastikan Aliesha tidak akan keluar lagi, Bagas langsung tancap gas meninggalkan pekarangan rumah gadis itu.

Aliesha yang sedari tadi mengintip di balik jendela langsung pergi ke kamarnya. Setelah berganti pakaian, gadis itu duduk di kursi meja rias sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

Gadis itu memegang pipinya yang ditampar Arisha tadi siang. Rasanya masih sedikit sakit ketika disentuh.

Aliesha tersenyum miring. Ini adalah pertama kalinya ia ditampar oleh seseorang. Biasanya ia yang akan melakukan kekerasan kepada orang lain, tetapi kali ini dia membiarkan dirinya ditampar.

Kenapa dia melakukan hal itu? Tentu saja agar tidak ada orang lain yang curiga padanya. Aliesha yang asli adalah perempuan yang lemah. Seandainya saja ia menghindari tamparan Arisha tadi, gadis itu pasti akan mencurigainya.

Ia cukup menikmati hidup sebagai sosok Aliesha, jadi ia akan membiarkan Arisha membully nya. Jika dia sudah bosan, ia akan membalas perbuatan Arisha dan tidak akan membiarkan gadis itu membully nya lagi.