Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam. Aliesha turun dari lantai dua menuju meja makan untuk makan malam bersama orang tuanya dan juga Arisha.
Malam itu, Arisha terlihat sangat pendiam, tidak seperti biasanya. Walau begitu, Aliesha tidak terlalu memikirkan hal itu.
"Aliesha, Arisha, besok Mama sama Papa mau ke luar kota. Paling cepet itu dua minggu, paling lama sebulan. Kalian gak apa-apa kan ditinggal sendirian? Nanti Mama minta Mbok Asih buat jagain kalian," ucap Mama Yanti tiba-tiba.
Kedua tangan Aliesha yang sedang memegang sendok dan garpu menggantung di udara. Gadis itu menatap Mama Yanti dengan mata melebar penuh kejutan.
Jika orang tuanya pergi ke luar kota, sudah pasti hidupnya sebagai Aliesha akan sangat menyedihkan. Tentu saja karena Arisha akan membully nya tidak hanya di sekolah, tetapi juga di rumah.
"Ma, emang gak bisa ya kalau salah satu dari kalian aja yang pergi?" tanya Aliesha dengan wajah memelas.
Mama Yanti melirik Papa Bimo sekilas, lalu menatap Aliesha lagi.
"Sayang, kamu tahu kan Mama sama Papa gak bisa terpisahkan?" ucap Mama Yanti dengan wajah bersemu merah.
Papa Bimo tersenyum senang. "Mama bisa aja."
Menyadari bahwa bukan hanya ada mereka berdua saja di sana, Papa Bimo segera berdehem singkat dan menghilangkan senyum dari wajahnya.
Beliau lalu menatap Arisha, dengan tegas berkata, "Arisha, selama Papa sama Mama pergi, kamu harus jagain Aliesha karena dia adek kamu. Kamu ngerti kan apa maksud Papa?"
Arisha membalas tatapan Papa Bimo, ia lalu mengangguk dengan wajah enggan. Papa Bimo kemudian mengalihkan pandangannya pada Aliesha.
"Aliesha, kalau nanti Arisha jahatin kamu, kamu langsung hubungi Papa ya. Biar Papa marahin Arisha," katanya lagi dengan nada lembut.
Arisha yang mendengar itu mengepalkan tangannya erat. Rasa bencinya pada Aliesha semakin bertambah. Walau demikian, dia berusaha menahan amarahnya karena tidak lama lagi dia bisa dengan sepuas hati melampiaskan amarahnya pada Aliesha.
Merasakan suasana di antara mereka mulai memberat, Mama Yanti dengan bijak meraih tangan suaminya dan tersenyum lembut penuh perhatian.
"Mas, gak boleh gitu dong ngomongnya. Arisha itu anak baik, gak mungkin dia jahatin Aliesha yang merupakan saudarinya," ucap Mama Yanti dengan sangat lembut.
Beliau menoleh pada Arisha, kemudian meraih tangannya untuk digenggam.
"Risa, sayang, kata-kata Papa jangan dimasukkan ke hati ya. Papa gak bermaksud apa-apa kok ngomong kayak gitu. Iya kan, Mas?"
Mama Yanti menyenggol lengan Papa Bimo sampai pria paruh baya itu mengangguk. Papa Bimo merasa sangat bersyukur telah menikahi Mama Yanti yang sangat lembut hatinya.
Bahkan dengan Arisha yang merupakan anak tirinya saja dia sangat baik dan pengertian. Tidak seperti para ibu tiri lainnya yang tidak menyukai anak tiri mereka.
Setelah Mama Yanti dan Papa Bimo memberikan informasi terkait kepergian mereka ke luar kota, keluarga itu kembali melanjutkan makan malam mereka.
Arisha kembali ke kamarnya lebih dulu begitu makanannya habis, sedangkan Aliesha dan orang tuanya duduk di depan televisi untuk menikmati momen kebersamaan mereka yang mulai besok tidak akan terjadi lagi sampai orang tuanya balik dari luar kota.
Keesokan paginya saat Aliesha turun dari kamar, gadis itu mendapati hanya ada Arisha di meja makan. Sepertinya orang tuanya sudah pergi ke luar kota sejak subuh tadi.
Aliesha duduk di kursi meja makan. Gadis itu dengan perlahan mengambil roti dan mengoleskannya dengan selai.
"Mbok!" teriak Arisha tiba-tiba.
Mbok Asih yang merupakan wanita lanjut usia itu dengan tergopoh-gopoh berlari dari arah dapur menuju ruang makan.
"Ada apa, Non?" tanyanya sambil menyeka keringat di dahinya.
Arisha meletakkan pisau dan garpunya ke atas meja, menatap Mbok Asih dengan tatapan dingin.
"Mulai hari ini sampai Mama sama Papa balik, Mbok diliburkan. Mbok dilarang bekerja dan Mbok gak boleh kasih tahu Mama atau Papa. Kalau sampai Mama sama Papa tahu, Mbok saya pecat. Paham, Mbok?"
Mbok Asih terkejut dengan perintah itu. Wanita itu menatap Aliesha dengan raut kasihan, namun beliau hanya bisa menganggukkan kepala menuruti kemauan Arisha.
"Baik, Non."
Mbok Asih kembali ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya. Sesuai perintah Arisha, pada saat itu juga Mbok Asih pergi dari rumah itu. Setelah kepergian Mbok Asih, Arisha menarik tangan Aliesha dan membawanya ke kamar mandi.
"Hari ini lo gak usah ke sekolah. Tugas lo sekarang adalah beres-beres rumah sama nyuci baju. Berani gue lihat lo di sekolah hari ini, lo bakal gue kasih perhitungan. Paham?!"
Aliesha mengangguk patuh, namun tidak bersuara. Ketika mereka mendengar deru suara motor yang saling bersahutan, Arisha langsung memberikan tatapan tajamnya pada Aliesha.
"Apapun yang terjadi, lo gak boleh keluar. Lo harus sembunyi kalau ada orang yang nyariin lo. Kalau lo gak patuh, gue bakal ngusir lo dari rumah ini!" peringat Arisha sebelum dengan penuh semangat kembali ke meja makan untuk mengambil tasnya.
Gadis itu memakai tas punggungnya dan melangkah ke luar. Ketika melihat sosok Farzan, mata Arisha berbinar senang.
"Farzan, lo mau jemput gue ya?" tanyanya kepedean.
Farzan tidak menghiraukan pertanyaan Arisha. Pria itu hanya berjalan lurus ingin masuk ke dalam rumah. Arisha dengan cepat menghentikan langkahnya dengan meraih pergelangan tangannya.
"Mau ke mana lo? Di rumah lagi gak ada orang ya. Lo jangan macam-macam, atau gue bakal teriak," ancamnya.
Farzan menoleh, kemudian bertanya dengan wajah datar. "Di mana Aliesha?"
Karena Farzan tidak menepis tangannya yang memegang tangan pria itu, bibir Arisha melengkung membentuk senyuman.
"Lo mungkin gak percaya sama gue. Tapi Aliesha benar-benar udah gak ada sejak semalam," ungkap Arisha berpura-pura sedih.
"Gak usah bohong, Ris. Di mana Aliesha?" tanya Farzan lagi. Tentu saja pria itu tidak mempercayai ucapan Arisha barusan.
Arisha menghela napas panjang. Gadis itu menipiskan bibirnya sembari melepaskan tangannya dari lengan Farzan.
"Gue gak tahu dia ada di mana. Kayaknya sih... dia lagi sama om-om yang nyewa dia sekarang," katanya dengan nada mengejek.
"Jaga ucapan lo, Ris!" bentak Farzan.
"Udah, Zan." Keenan segera menahan bahu Farzan sebelum pria itu melakukan sesuatu yang buruk pada Arisha. Keenan menatap Arisha tepat di manik matanya.
"Gue minta sama lo buat jujur. Di mana Aliesha?"
Arisha memutar matanya malas. Gadis itu bersedekap dada ketika menyandarkan tubuhnya pada tembok.
"Kalian tuh kenapa sih sebenarnya? Gue udah jawab, tapi kalian gak percaya. Setelah itu kalian nanya lagi. Mau kalian itu apa sih?"
"Gue tahu lo bohong. Aliesha ada di dalam kan?" tanya Farzan yakin.
Arisha menggeleng dengan senyum kecut. Gadis itu mengepalkan tangannya, namun hanya bertahan selama beberapa detik. Arisha menenangkan dirinya, setelah itu menatap Farzan dengan senyum merekah.
"Gue gak bohong, Farzan. Gak ada gunanya juga gue bohongin lo. Dia emang gak ada di sini. Kalau lo gak percaya, lo bisa masuk ke dalam dan periksa seisi rumah."
Farzan yang semula yakin Aliesha ada di dalam kini menjadi ragu. Untuk mengetahui kebenarannya, dia hanya bisa mengeceknya secara langsung.
Tanpa basa-basi lagi, pria itu langsung saja masuk ke dalam rumah untuk mengecek keberadaan Aliesha. Setelah mencari cukup lama, dari lantai atas sampai lantai bawah, dia tidak juga menemukan orang yang dia cari.
Farzan keluar dengan wajah lemas. Terlihat sekali bahwa pria itu kecewa dengan hasil yang dia dapatkan.
"Gimana, Zan? Aliesha ada gak di dalam?" tanya Farrel yang tidak bisa membaca situasi.
Farzan menggeleng lemah. Pria itu melangkah menuju motornya, kemudian tancap gas menuju sekolah, meninggalkan ketiga temannya yang masih berdiam diri di tempat.
"Anj*ng!" kesal Farrel yang ikut melajukan motonya meninggalkan rumah Aliesha.
Keenan dan Kenzie saling berpandangan. Keduanya hanya bisa angkat bahu dan mengikuti jejak Farzan dan Farrel.
Ditinggal sendirian kali ini tidak membuat Arisha marah, sebab dia berhasil membuat keempat pria itu tidak bisa bertemu dengan Aliesha, terutama Farzan. Arisha melirik ke arah pintu sebentar sebelum gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
Setelah mobil Arisha tidak lagi terlihat, Aliesha keluar dari tempat persembunyiannya. Gadis itu melipat tangannya disertai senyum mengejek.
Memintanya untuk beres-beres rumah dan nyuci pakaian? Apakah ia kelihatan seperti babu?
Aliesha mendengus dingin. Gadis itu mengeluarkan hpnya untuk menghubungi jasa bersih rumah. Setelah memberikan instruksi, Aliesha akhirnya pergi ke sekolah.
Apakah ia tidak takut Arisha marah padanya? Tentu saja tidak! Dia bukanlah Aliesha yang lemah, melainkan jiwa yang bertransmigrasi ke tubuh Aliesha.
Ketika Aliesha sedang menunggu bus di halte, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke hpnya.
08xxxxxxxxxx
Pagi Aliesha
Ini gue, Bagas. Lo di mana? Mau gue jemput gak?
Aliesha mengerutkan alisnya. Dari mana Bagas mendapat nomor hpnya? Mencoba berpikir positif, mungkin saja pria itu mendapatkan nomornya dari grup kelas, Aliesha pun menyimpan nomor Bagas dan membalas pesannya.
Aliesha
Pagi, Bagas. Aku lagi di halte dekat rumah.Â
Bagas
Oke, tunggu aku ya cantik
Aliesha tersenyum geli membaca pesan itu. Gadis itu menunggu Bagas sampai motor pria itu berhenti di depannya.
"Ayo, naik!" seru Bagas seraya menyodorkan helm pada Aliesha.
Seperti sebelumnya, pria itu mengikatkan jaket kulitnya di pinggang Aliesha sebelum gadis itu naik ke motornya.
"Udah siap?" tanya Bagas memastikan posisi Aliesha aman untuk diajak berkendara.
"Udah," jawab Aliesha singkat.
Dengan itu, keduanya pergi ke sekolah bersama-sama.