Aliesha dan Bagas tiba di sekolah tepat saat bel masuk berbunyi. Hal itu membuat seluruh siswa dan siswi di sekolah itu berlarian memasuki kelas, sehingga keduanya terhindar dari menjadi pusat perhatian.
"Makasih, Bagas," ucap Aliesha seraya mengembalikan helm dan jaket yang dipakainya.
"Iya, sama-sama. Tapi lain kali jangan ucap makasih lagi. Udah gue bilang kan, kalau itu udah jadi kewajiban gue?"
Aliesha menatap Bagas bingung. "Maksud kamu?" tanyanya tak mengerti.
Bagas tersenyum simpul. "Yuk, masuk! Udah bel lohh," katanya mengalihkan pembicaraan.
Aliesha mengangguk. Keduanya lantas berjalan berdampingan menuju kelas, kemudian duduk di bangku masing-masing.
Naomi melirik Aliesha dengan senyum di matanya, terlihat sekali bahwa gadis itu sedang menggodanya.
"Lo ke sekolah bareng Bagas, Lis?" tanya Naomi ingin tahu.
Gadis itu berani berbicara dengan Aliesha karena guru yang mengajar belum datang. Sembari menunggu guru, gadis itu ingin bergosip ria terlebih dahulu.
Aliesha tidak menghiraukan Naomi. Gadis itu mengeluarkan buku dari tasnya dan membacanya dalam diam. Merasa dikacangi, Naomi langsung saja memposisikan wajahnya di depan Aliesha.
"Kok gak jawab? Bener ya berarti?" tanyanya dengan alis terangkat serta bibir merapat menahan senyum.
Aliesha memutar matanya malas. Gadis itu memiringkan tubuhnya menghadap dinding agar Naomi tidak bisa mengganggunya. Dipikirnya Naomi akan menyerah, namun ternyata tidak.
Gadis itu terus mengganggunya dengan menepuk bahunya. Sekali-kali gadis itu menarik-narik tangannya meminta perhatian. Lelah dengan gangguan Naomi padanya, Aliesha berbalik dengan wajah datar.
"Kamu kenapa sih, Naomi?" tanya Aliesha gemas.
Naomi mengerlingkan matanya nakal. "Lo ke sekolah bareng Bagas kan?"
Aliesha mengangguk. Senyum Naomi langsung mekar begitu mendengar jawaban yang dia inginkan sedari tadi.
"Kalian lagi pdkt ya? Hayo ngaku!" goda Naomi dengan senyum tertahan.
Aliesha menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu kembali mengabaikan Naomi. Tepat pada saat itu, ketua kelas yang bertugas memanggil guru kembali ke kelas.
"Guys! Attention, please! Hari ini Pak Yanto gak mengajar ya, guys. Tapi kita disuruh belajar Bab 5-7 untuk persiapan ujian pekan depan. Thank you," ucap ketua kelas memberikan informasi.
Murid-murid yang mendengar itu semuanya bersorak gembira. Murid cowok semuanya mulai berkumpul di belakang kelas untuk memainkan game di hp mereka, sedangkan murid cewek semuanya membentuk circle masing-masing.
Aliesha tidak bergabung ke circle manapun. Gadis itu hanya duduk diam sembari membaca buku. Merasa kelas menjadi sangat berisik, gadis itu memilih pergi menuju rooftop. Bersyukurlah bahwa tidak ada seorangpun di sana.
Gadis itu duduk di rooftop sambil membaca online di hpnya. Kebiasaan di kehidupan lamanya sangat sulit ia hilangkan. Apalagi novel sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Di tengah asyiknya ia membaca, gadis itu menoleh saat pintu rooftop mengeluarkan bunyi decitan. Alisnya terangkat saat melihat sosok Farzan bersama tiga temannya yang lain keluar dari pintu.
"Aliesha?!" panggil Farzan dengan raut terkejut.
Takut Aliesha akan pergi setelah melihatnya, Farzan bergegas mendekati gadis itu.
"Lis, tentang kejadian kemarin aku benar-benar minta maaf. Aku gak bermaksud untuk-"
"Oke, aku paham. Kamu bilang kayak gitu karena gak mau aku curiga sama orang yang gak bersalah, iya kan?" potong Aliesha cepat.
Gadis itu tersenyum simpul saat matanya menatap tepat di netra pria itu.
Farzan terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Dengan perasaan bersalah yang begitu besar, pria itu berlutut di depan Arisha dengan kepala tertunduk.
"Jangan marah lagi, Lis. Aku bener-bener nyesel berkata kayak gitu ke kamu. Aku janji gak bakal ngulangin lagi. Kamu mau kan maafin aku?"
Farzan mengangkat kepalanya, menatap Aliesha dengan wajah memelas. Aliesha sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ingin memperpanjang masalah, gadis itu akhirnya mengangguk dan tersenyum kecil.
Farzan yang terlalu senang langsung berdiri dan merengkuh Aliesha ke dalam pelukannya.
"Makasih ya, Lis. Blokiran yang di sosmed juga tolong dibuka dong. Kita jadi gak bisa chat-an gara-gara kamu blokir aku di semua sosmed mu," kata Farzan masih dalam posisi memeluk Aliesha.
Aliesha yang merasa risih mendorong dada Farzan pelan, memisahkan jarak di antara mereka.
"Iya, nanti aku buka," balas Aliesha tersenyum canggung.
Melihat hubungan keduanya mulai membaik, Farrel yang berada di belakang maju ke depan.
"Aliesha, kamu gak marah sama aku kan? Aku juga mau minta maaf kalau semisal aku punya salah sama kamu," ucap Farrel dengan wajah bersalah.
Aliesha menoleh ke arah Farrel. Gadis itu kemudian menggeleng.
"Sebenarnya aku udah maafin kalian. Hanya saja aku lupa buka blokiran kalian di sosmed, hehe," kata Aliesha malu. Wajahnya terlihat merona saat mengatakan hal itu.
Keempat pria itu saling memandang, mereka lalu tertawa keras. Semuanya merasa lega ternyata Aliesha masih menjadi sosok Aliesha yang mereka kenal.
"Lis, kok kamu ada di sini? Lagi jamkos ya?" tanya Keenan menebak.
Aliesha mengangguk. "Um. Kelas berisik banget, jadi aku ke sini deh. Kalian sendiri ngapain di sini?" tanya Aliesha balik.
"Biasalah, pelajarannya Pak Ahmad. Ngebosenin!" jawab Farrel lantang. Hal itu memicu tawa dari mereka berlima.
Pasalnya, Pak Ahmad adalah guru sejarah yang ketika beliau mengajar terdengar seperti beliau sedang membaca cerita dongeng. Banyak murid yang tertidur di dalam kelas, atau bahkan bolos seperti Farzan dan teman-temannya.
Kelima orang itu pada akhirnya duduk membentuk lingkaran sambil bercerita banyak hal. Dimulai dari gosip yang sedang tersebar di sekolah sampai bahkan di sekolah lain.
Ketika bel istirahat berbunyi, mereka memutuskan untuk pergi ke kantin. Awalnya Aliesha sudah menolak, namun keempat pria itu memaksanya untuk ikut. Tidak punya pilihan lain, Aliesha pun mengekor di belakang dengan perasaan enggan.
Ia sudah bisa menebak kejadian apa yang akan terjadi di kantin kalau Arisha melihatnya. Dan seperti yang sudah dia perkirakan, Arisha bergegas menghampirinya saat melihat dia duduk di meja yang sama dengan Farzan.
"Aliesha, lo, ikut gue!" kata Arisha dengan gigi terkatup.
Aliesha menghela napas panjang sejenak sebelum ia berdiri, namun tangannya ditahan oleh Farzan yang membuatnya kembali duduk.
"Lo apa-apaan sih, Ris? Lo gak lihat kita lagi di kantin? Kita di kantin itu buat makan, bukan cari ribut," ucap Farzan kesal.
Pria itu merasa sangat jengkel setiap kali melihat Arisha. Perempuan itu selalu saja mencari perhatiannya, namun dengan hal-hal yang merugikan orang lain. Yang paling tidak dia suka dari sosok Arisha adalah sikapnya terhadap Aliesha.
"Zan, gue cuma mau ngomong sama Aliesha. Kok lo jadi protektif gitu sih sama dia? Lo suka sama dia?" tanya Arisha marah.
Farzan diam, tidak ingin menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting. Arisha menjadi semakin marah dengan diamnya Farzan, seolah pria itu membenarkan pertanyaannya barusan.
"Aliesha, gue bilang, ikut gue!" perintah Arisha lagi. Kali ini matanya berkilat tajam penuh ancaman.
Farrel yang sedang menikmati makanannya merasa sangat terganggu dengan kehadiran Arisha. Pria itu membanting sendoknya di atas meja, kemudian menatap Arisha tajam.
"Lo pergi gak? Lo gangguin gue lagi makan, tau gak?"
Arisha membalas tatapan Farrel. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca karena tidak ada seorangpun yang membelanya. Gadis itu melihat ke sekitar, menyadari bahwa dia kini telah menjadi pusat perhatian di kantin.
"Gue cuma mau ngomong sama Aliesha," katanya dengan suara bergetar.
"Ngomong aja di sini. Bisa kan?" Keenan berkata dengan senyum tipis, namun tatapannya pada Arisha sangat dalam, seperti sedang mengulitinya hidup-hidup.
Arisha merasa merinding ditatap seperti itu oleh Keenan. Tidak tahan lagi, gadis itu akhirnya pergi dari sana dengan kemarahan yang semakin membuncah. Kebenciannya terhadap Aliesha semakin bertambah tiap detiknya.
Aliesha sendiri tidak begitu peduli dengan apa yang baru saja terjadi. Arisha terlalu impulsif, membuatnya mudah dibenci oleh orang lain.
***
Aliesha duduk di bangkunya sambil memperhatikan guru yang mengajar di depan kelas. Itu adalah pelajaran matematika sekarang, mata pelajaran yang paling ia sukai.
Saat guru di depan memberikan soal latihan, gadis itu sudah mencari jawabannya di bukunya. Guru di depan bernama Pak Dani, guru muda yang terlihat sangat tampan. Banyak murid perempuan yang menjadikan Pak Dani sebagai idola mereka.
Ketika pelajaran berakhir, Pak Dani memberikan banyak tugas latihan untuk persiapan ujian pekan depan. Bagas mendatangi meja Aliesha dan Naomi begitu Pak Dani keluar dari kelas.
"Guys, nanti pulang sekolah kita latihan lagi di rumah Syifa. Lis, lo nanti perginya bareng gue ya," kata Bagas penuh harap.
Aliesha bertukar pandangan dengan Naomi. Gadis itu lalu mengangguk ke arah Bagas disertai senyuman.
"Oke," balasnya singkat.
Setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Bagas pergi dengan kegirangan. Naomi menyenggol lengan Aliesha dengan alis yang dinaik-turunkan.
"Cieee, lagi pdkt ya, Lis?" goda Naomi dengan mengerlingkan matanya nakal.
Aliesha mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Apa sih. Orang cuma hal biasa aja kok," elaknya.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Naomi tidak lagi menggoda Aliesha. Gadis itu malah melihat ke arah pintu kelas dimana Arisha sedang berdiri di sana.
"Lis, ada Arisha tuh." Naomi menyenggol lengan Aliesha untuk menyadarkan gadis itu.
Aliesha menoleh ke arah pintu kelas. Benar saja, Arisha ada di sana. Saat mata keduanya bertemu, Arisha langsung masuk dengan langkah lebar.
"Sekarang lo bisa ikut gue kan?" tanya Arisha dengan wajah datar.
Aliesha mengangguk. Gadis itu mengikuti langkah Arisha yang berjalan terlebih dahulu.
Ketika mereka sampai di toilet cewek, Arisha menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Gadis itu kemudian menarik rambut Aliesha sampai gadis itu mendongak ke atas.
"Gue udah nyuruh lo buat gak datang ke sekolah. Kenapa lo masih datang, hah?! Mulai membangkang lo?"
Aliesha memegang tangan Arisha erat, agar tangan gadis itu tidak terlalu menyakiti kulit kepalanya. Ia lalu memaksa dirinya agar bisa mengeluarkan air mata.
"Arisha, hiks. Aku, aku gak bermaksud bikin kamu marah. Tapi, aku harus ke sekolah. Hari ini akan ada kuis Biologi di kelasku. Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanya sama teman sekelasku yang lain," jelas Aliesha lirih.
Arisha mendorong Aliesha sampai gadis itu tersungkur ke lantai.
"Gue gak peduli! Karena lo sangat peduli sama tuh kuis, gue bakal bikin lo gak bisa ikut kuis itu sekarang," ucapnya menyeringai kejam.