Arisha menarik Aliesha sampai gadis itu berdiri. Ia lalu menampar wajahnya dengan sangat keras, sampai wajah Aliesha tertoleh ke samping.
Aliesha memegang pipinya yang baru saja ditampar, matanya berkilat disertai seringai dingin. Gadis itu mengangkat wajahnya ke atas, ia lalu tertawa kecil. Arisha mengerutkan alis melihat perubahan Aliesha yang begitu cepat.
"Kenapa lo ketawa? Mulai gila lo setelah gue tampar?" tanya Arisha dengan wajah soknya.
Aliesha meluruskan punggungnya, berdiri di hadapan Arisha dengan tangan berkacak pinggang. Kesabarannya mulai habis menghadapi perlakuan Arisha yang terlalu berlebihan.
Walaupun ia menyukai sikap Arisha ketika dia membaca novel, ia tidak berharap mendapat perlakuan yang sama dari gadis itu.
"Awalnya gue tuh suka banget sama karakter lo, Arisha. Gue suka lo yang jahat, ganas, dan tanpa ampun. Tapi, ini udah kali kedua lo nampar gue. Lo pernah ngerasain ditampar gak sih sebelumnya?"
Arisha mengangkat sebelah alisnya. Dalam pikirannya, dia berpikir Aliesha sedang berbicara ngawur. Jelas-jelas dia sudah sering menampar gadis itu, mengapa dia bilang baru dua kali?
Masih terpaku dalam pikirannya, tiba-tiba saja gadis itu merasakan rasa panas bercampur perih di wajahnya. Arisha segera tersadar dan menyadari bahwa Aliesha baru saja menamparnya.
"Lo! Anjir lo ya. Lo berani nampar gue sekarang?!" Arisha menatap Aliesha tajam.
"Kenapa enggak?" balas Aliesha dengan wajah menyebalkan.
Arisha mulai kalap. Gadis itu mengeluarkan gunting kecil dari sakunya, kemudian berlari dengan penuh amarah ke arah gadis di depannya. Tidak disangka-sangka, sebelum gunting itu mengenainya, Aliesha sudah memegang pergelangan tangan Arisha dan memutarnya ke belakang.
"Lo gila ya, Ris? Lo mau bunuh gue? Ini tuh di sekolah, lo gak takut masuk penjara apa?" tanya Aliesha tak habis pikir.
Arisha memberontak, namun kekuatan Aliesha cukup kuat untuk menahannya.
"Gue gak peduli! Lo udah berani sama gue, jadi gue harus kasih lo pelajaran," jawab Arisha cepat.
Aliesha menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya Arisha memiliki gangguan mental, dia harus segera mencari tahu masalah ini nanti.
Takut Arisha menjadi semakin gila, Aliesha pun memukul tengkuk gadis itu untuk membuatnya pingsan. Ia lalu merebut gunting di tangan Arisha, menjauhkan benda berbahaya itu darinya.
Aliesha duduk di dekat Arisha, ia menggigit bibir bawahnya kuat. Karena ketidaksabarannya, Arisha menjadi tahu sifat aslinya. Apakah dia masih harus berpura-pura polos di depan gadis itu di masa depan? Entahlah, Aliesha hanya bisa pasrah menerima nasibnya.
***
Naomi menunggu di kelas dengan perasaan cemas. Gadis itu terus-menerus menggigit ibu jarinya untuk mengurangi rasa cemasnya. Setelah sepuluh menit berlalu, gadis itu menjadi tidak sabar. Naomi akhirnya pergi menghampiri Bagas.
"Gas, gue khawatir banget sama Aliesha." Naomi berkata saat memegang tangan Bagas untuk meminta perhatian pria itu.
Bagas menoleh. "Emang Aliesha kenapa?" tanya Bagas dengan alis terangkat.
Naomi lalu menceritakan kejadian sepuluh menit yang lalu, dimana Arisha meminta Aliesha mengikutinya entah ke mana. Bagas mengacak rambutnya, menunjukkan rasa frustasi yang dia rasakan.
"Kenapa baru ngasih tau gue sekarang, Naomi?! Arisha itu jahat. Kemarin aja dia bully Aliesha di belakang toilet cowok," ujar Bagas ikut khawatir dengan keadaan Aliesha.
"Beneran?" tanya Naomi tak percaya.
Melihat Bagas mengangguk, kaki Naomi langsung terasa lemas. Gadis itu berpegangan pada meja di sampingnya untuk menopang tubuhnya yang tidak bertenaga.
"Kita harus cari Aliesha, Gas!" seru Naomi begitu tenaganya kembali terkumpul.
"Oke. Gue nyari di belakang toilet cowok, lo nyari di toilet cewek. Siapapun yang ketemu mereka duluan, harus hubungi yang lainnya. Kalau gak ketemu di toilet, kita cari di tempat lain. Oke?" kata Bagas menjelaskan rencananya.
Naomi mengangguk mengerti. Keduanya lalu berpencar karena toilet cowok dan cewek terletak di tempat yang berbeda.
Naomi yang mencari di toilet cewek menemukan toilet itu terkunci dari dalam. Gadis itu segera menelepon Bagas untuk memberitahunya tentang hal itu. Selang dua menit Bagas pun tiba.
Mereka berdua menggedor pintu toilet, hal itu menarik perhatian siswa-siswi yang lewat, namun keduanya tidak peduli.
"Siapa di dalam? Kok toiletnya dikunci?" tanya Naomi kalem.
Bagas yang memang buka tipe orang yang sabar menggeser Naomi ke samping. Pria itu lalu berteriak dengan suara keras.
"WOI!! BUKA PINTUNYA WOI! KALIAN LAGI NGAPAIN DI DALAM?"
Aliesha yang sedang memegang gunting di tangannya terkejut begitu mendengar suara keras dari luar. Gadis itu lantas berdiri, kemudian mondar-mandir sembari berpikir. Melihat sosok Arisha yang masih pingsan, Aliesha menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Tenang, Aliesha. Don't panic!" katanya mensugesti dirinya sendiri untuk tetap tenang.
Di luar, Bagas mulai mendobrak pintu toilet, memaksa pintu itu agar terbuka. Sayangnya, pintu toilet begitu kokoh sehingga tidak bisa didobrak semudah itu oleh anak dalam masa pertumbuhan seperti dirinya.
Pada saat itu, seorang guru BK bersama penjaga sekolah tiba. Guru itu memberi isyarat ada Bagas untuk berhenti, setelah itu meminta penjaga sekolah untuk membuka pintu toilet menggunakan kunci cadangan.
Saat pintu toilet terbuka, nampaklah dua siswi perempuan sedang pingsan di dekat wastafel. Bagas bergegas menghampiri Aliesha, mengangkat gadis itu seperti seorang putri. Pria itu bersama Naomi segera membawa Aliesha ke UKS.
Di sisi lain, guru BK juga meminta seorang siswa laki-laki untuk menggendong Arisha dan membawanya ke UKS. Kini Arisha dan Aliesha dibaringkan di ranjang yang bersebelahan, hanya tirai tipis yang memisahkan keduanya.
"Dok, gimana keadaan teman saya?" tanya Bagas pada dokter yang baru saja memeriksa kondisi Aliesha.
"Kondisi pasien baik-baik saja. Sebentar lagi dia akan segera siuman," jawab dokter itu singkat.
Ketika dokter itu memeriksa Arisha, alis dokter itu berkerut melihat ada lebam di belakang leher gadis itu. Pipinya juga merah, seperti habis kena tamparan. Mata dokter itu menyipit saat melirik ke arah Aliesha yang masih menutup matanya.
Setelah diperhatikan lebih jelas, ternyata pipi Aliesha juga merah. Mungkinkah telah terjadi sesuatu diantara mereka berdua?
Tidak mau ambil pusing, dokter itu langsung pergi setelah menyelesaikan tugasnya. Bagas dan Naomi tetap di sana, menunggu sampai Aliesha siuman.
Selang beberapa menit, Farzan dan teman-temannya tiba di UKS. Mereka segera menghampiri Bagas dan Naomi.
"Gimana keadaan Aliesha?" tanya Farzan khawatir.
"Dia baik-baik aja. Kata dokter bentar lagi pasti bangun," jawab Naomi seadanya.
Aliesha yang sejak awal hanya berpura-pura pingsan menjadi gugup karena ada banyak orang di sekitarnya. Jantung gadis itu mulai berdetak kencang, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Tidak tahan lagi, gadis itu akhirnya membuka matanya. Naomi, Bagas, Farzan, Farrel, Keenan, dan Kenzie terkejut. Namun senyum bahagia terbit di bibir mereka.
"Aliesha, kamu udah sadar," ujar Naomi saat gadis itu memeluk Aliesha erat.
Aliesha tersenyum kaku, dengan perlahan membalas pelukan Naomi.
"Apa yang terjadi, Lis? Kok lo bisa pingsan? Arisha bully lo lagi ya?" tanya Bagas setelah pelukan Aliesha dan Naomi terlepas.
Aliesha menatap enam orang di depannya cukup lama, ia lalu menggeleng dengan senyum tipis.
"Gak kok. Tadi aku sama Arisha cuma ngobrol bentar. Gak tahu juga kenapa bisa pingsan," kata Aliesha dengan menunduk, menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
Farzan maju, memegang tangan Aliesha lembut.
"Lis, jujur sama aku. Dia nyakitin kamu lagi?" tanya Farzan.
Aliesha tetap menggeleng. "Gak, Zan. Arisha gak nyakitin aku," jawab Aliesha jujur. Karena memang itulah yang terjadi. Namun mereka yang ada di sana tidak mempercayai ucapannya.
Mereka tahu seperti sikap Arisha terhadap Aliesha selama ini. Tidak mungkin gadis itu tidak menyakitinya. Saat Farzan menyentuh wajah Aliesha dan menyadari wajah gadis itu sedikit bengkak, pria itu mengepalkan tangannya.
"Arisha nampar kamu kan?" tanya Farzan yakin.
Aliesha tidak menjawab. Gadis itu menghindari tatapan Farzan dengan membuang mukanya ke samping.
Farzan mengangguk. Telah jelas sekarang, Arisha sudah menyakiti Aliesha lagi. Farzan membelai wajah Aliesha pelan.
"Kamu istirahat aja ya di sini. Nanti aku minta izin ke guru yang mengajar di kelas kamu," ucap Farzan lembut.
Naomi tiba-tiba saja menyela. "Gak usah, Zan. Biar gue aja yang minta izin. Apa gunanya gue kalau harus lo yang minta izin?"
Bagas mengangguk. "Benar tuh. Biar kita aja yang minta izin, kita kan sekelas sama Aliesha. Iya kan, Aliesha?" tanya Bagas meminta persetujuan gadis itu.
Aliesha mengangguk. "Iya. Biar Bagas dan Naomi aja yang minta izin."
Walau tidak senang, Farzan hanya bisa mengangguk. Mereka tetap di samping Aliesha sampai bel masuk berbunyi. Setelah itu mereka pamit karena masih ada mata pelajaran selanjutnya yang harus mereka hadiri.
Setelah kepergian mereka, Aliesha menggeser tirai yang memisahkannya dengan Arisha. Dilihatnya sosok Arisha yang menatap ke langit-langit UKS dengan air mata berjatuhan dari kedua matanya.
Aliesha merubah posisinya, tidur menghadap Arisha dengan tangan menopang kepalanya.
"Lo nangis, Ris? Baru kali ini gue lihat lo selemah ini," kata Aliesha sinis.
Arisha dengan cepat menghapus air matanya setelah mendengar suara Aliesha. Gadis itu menoleh, menatap Aliesha dengan mata merah.
"Sejak lo hadir di hidup gue, kehidupan yang gue jalani bagai di neraka, Lis. Lo puas kan sekarang?" tanya Arisha miris.
Aliesha menggeleng. "Bukan karena gue, Ris. Semuanya terjadi karena kelakuan lo sendiri," balas Aliesha malas. Gadis itu kembali menggeser tirai agar ia tidak bisa lagi melihat wajah Arisha.