Karena insiden siang tadi, Aliesha tidak bisa mengikuti kuis Biologi seperti kemauan Arisha. Ia pun pulang lebih dulu daripada siswa-siswi yang lain. Kini ia sudah berada di rumahnya.
Jasa bersih rumah yang dia pesan sebelum pergi ke sekolah sudah tidak ada, rumahnya pun sudah bersih dan rapi. Aliesha naik ke kamarnya, kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan.
Aliesha duduk di kursi meja rias, memandang wajahnya yang masih memiliki tanda merah di sana. Gadis itu mengelus wajahnya pelan, lalu senyum dingin muncul di bibirnya.
Sepertinya ia tidak bisa lagi membiarkan Arisha membully nya. Baru tiga hari ia dibully, ia sudah merasa tidak tahan. Apalagi ia adalah mantan tukang bully paling kejam di kehidupan sebelumnya.
Aliesha bangkit berdiri. Gadis itu pergi ke ruang tengah untuk menonton televisi. Ia mengambil remote dan menekannya, mencari siaran yang menurutnya menarik.
Pilihannya jatuh pada film Spongebob yang tidak dia sangka juga ada di dunia novel ini. Aliesha nonton sambil tiduran di sofa. Saking bosannya, gadis itu sampai hampir tertidur saat menonton film kartun itu.
Saat merasa lapar, Aliesha pergi ke dapur untuk melihat makanan apa yang ada di sana. Ternyata tidak ada apa-apa. Aliesha menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.
Ia adalah gadis manja di kehidupan sebelumnya. Hidupnya selalu bergelimang harta, belum pernah dia merasa kelaparan seperti hari ini. Gadis itu membuka pintu kulkas. Saat melihat ada banyak cemilan dan buah-buahan di sana, langsung saja ia membawa semuanya ke ruang tengah.
Aliesha menonton film Spongebob ditemani cemilan dan buah-buahan. Setelah cukup lama menonton, gadis itu merasa mengantuk. Ia segera kembali ke kamarnya dan tidur.
Arisha yang juga berada di rumah hari itu baru saja keluar dari kamarnya. Gadis itu terkejut melihat penampakan ruang tengah yang berantakan. Banyak sekali kulit buah yang berserakan di mana-mana. Belum lagi bungkusan cemilan di atas meja.
Arisha mengerutkan alisnya. Pikirannya bertanya-tanya apakah ini perbuatan Aliesha atau bukan. Pasalnya, Aliesha adalah anak penurut dan rajin. Ia juga suka hal-hal bersih dan rapi.
Tapi, hanya ada mereka berdua di rumah itu. Jika bukan dia yang melakukannya, tentu saja itu perbuatan Aliesha. Dengan marah Arisha pergi ke kamar Aliesha. Gadis itu mengetuk pintu dengan keras.
"ALIESHA!! BUKA PINTUNYA!" teriaknya dengan suara menggelegar.
Aliesha yang baru saja jatuh tertidur merasa terganggu dengan teriakan Arisha. Dengan enggan gadis itu bangun dari posisi tidurannya. Aliesha membuka pintu kamarnya, kemudian menatap Arisha dengan mata yang masih setengah terpejam.
"Kenapa sih? Dah gila ya?" ucapnya tanpa basa-basi.
Mulai hari ini Aliesha memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri di depan Arisha, namun dia masih akan tetap berakting di depan orang lain. Kenapa? Karena ia merasa Arisha tidak akan berhenti membully nya selama dia masih bersikap lemah.
Melihat Aliesha menjadi berbeda dari biasanya membuat Arisha kembali terkejut. Ia masih belum terbiasa melihat perubahan Aliesha yang begitu drastis.
"Lo yang berantakin ruang tengah kan? Kenapa gak lo bersihin, hah?" tanya Arisha murka.
Aliesha mengucek matanya sampai penglihatannya jernih. Gadis itu lalu bersandar pada kusen pintu dengan tangan bersedekap dada.
"Kenapa gak lo aja yang beresin? Kenapa harus gue?" Aliesha balik bertanya.
"Karena lo yang berantakin, b*ngs*t!" balas Arisha semakin emosi.
Aliesha melihat Arisha dengan tatapan malas. "Sejak kapan di rumah ini ada peraturan yang menyatakan bahwa orang yang berantakin ruangan, dia juga yang harus beresin?" tanya Aliesha dengan alis terangkat sebelah.
Arisha tidak bisa menjawab, sebab dia juga pernah melakukan hal yang sama untuk membuat Aliesha mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
"Kurang ajar ya lo sama gue sekarang," kesal Arisha dengan tangan terkepal.
Aliesha mengusap dagunya dengan pose berpikir. "Perasaan gue gak ngapa-ngapain lo deh, kok gue dibilang kurang ajar sih? Lagipula, kita kan sama-sama cewek, Ris."
Perkataan Aliesha sukses membuat kekesalan Arisha bertambah. Gadis itu mengangkat tangannya ingin menampar Aliesha, namun Aliesha dengan cepat menangkap tangannya.
"Mau nampar gue lagi? Gak cukup pelajaran yang gue kasih di sekolah?" ejek Aliesha dengan nada yang semakin menyebalkan.
Mata Arisha seketika menyala, gadis itu menatap Aliesha tajam. Ia menepis tangan Aliesha kasar, kemudian kembali ke kamarnya. Arisha mengeluarkan hp dari saku celananya, dengan cepat menghubungi Mbok Asih untuk memintanya kembali bekerja.
Mbok Asih sampai di rumah itu saat matahari sudah terbenam. Aliesha dan Arisha duduk di kursi meja makan, menunggu makanan yang sedang disiapkan Mbok Asih untuk mereka.
Sebenarnya bisa saja mereka makan di luar, hanya saja mereka tidak mau melakukannya. Kalau disuruh masak, tidak ada seorangpun diantara keduanya yang bisa melakukan hal sederhana itu.
"Non, silahkan dimakan," ucap Mbok Asih sembari membawakan makanan yang dia masak. Beliau menata semua makanannya di atas meja, setelah itu bersiap untuk kembali ke dapur.
"Mbok!" panggil Aliesha cepat.
Mbok Asih menoleh, "Iya, Non?"
"Mbok ikut makan sama kita aja, Mbok. Makanannya lumayan banyak, gak mungkin aku sama Arisha bisa ngabisin semuanya," kata Aliesha kalem.
Mbok Asih terlihat ragu. Beliau melihat ke arah Arisha, namun gadis itu menolak melihatnya. Mbok Asih tersenyum kecil, kemudian menolak dengan sopan.
"Gak usah, Non. Mbok makan di belakang aja."
Aliesha menggeleng. "Jangan, Mbok. Lagipula kan cuma ada kita bertiga di sini. Kalaupun semisal Mama sama Papa tahu juga, mereka pasti gak bakal marah kok," bujuk Aliesha disertai senyum mengembang.
Pada akhirnya, Mbok Asih setuju. Wanita lanjut usia itu duduk di sebelah Aliesha. Mereka makan dalam hening.
Selesai makan, mereka kembali ke kamar mereka masing-masing. Aliesha berdiri di balkon kamarnya, melihat pemandangan langit malam yang dipenuhi oleh bintang.
Gadis itu duduk bersila di lantai sambil membaca novel online di hpnya. Empat jam telah berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Saat ia akan tidur, suara notifikasi pesan masuk berbunyi.
Aliesha mengambil hp yang dia letakkan di atas nakas dan membuka pesan itu.
Farzan
Lis, udah tidur belum?
Aliesha memutar matanya malas selesai membaca pesan itu, namun tangannya dengan cepat mengetik balasan untuk Farzan.
Aliesha
Belum. Kenapa, Zan?
Farzan
Gak. Besok gue jemput ya
Aliesha menatap langit-langit kamarnya, menimbang-nimbang apakah menerima tawaran Farzan atau tidak. Pasalnya, Arisha sangat menyukai Farzan, gadis itu pasti akan marah jika Farzan menjemputnya.
Setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya akan sangat menarik jika Arisha semakin murka padanya. Aliesha dengan senyum mengembang membalas pesan Farzan untuk mengiyakan ajakan pria itu.
Aliesha
Oke
***
Keesokan harinya, Farzan pergi ke rumah Aliesha tanpa ketiga sahabatnya. Pria itu sengaja tidak bilang pada teman-temannya kalau ingin menjemput Aliesha hari itu.
Setibanya dia di sana, pria itu melihat ada pria lain yang sepertinya juga sedang menunggu Aliesha. Farzan memarkirkan motornya di depan rumah Aliesha. Pria itu lalu mengeluarkan hpnya dari saku celananya.
"Lis, aku udah di depan ya," kata Farzan begitu panggilan terhubung.
Aliesha yang berada di dalam rumah mengerutkan alisnya. Ia pikir suara motor yang datang beberapa menit lalu adalah milik Farzan, ternyata bukan. Tanpa membalas ucapan Farzan, gadis itu langsung berlari ke depan dengan tas di punggungnya.
Arisha yang merasa penasaran mengikuti gadis itu dari belakang. Aliesha terlihat terkejut saat melihat sosok Bagas dan Farzan duduk di motor mereka masing-masing.
"Gas, kok kamu ada di sini?" tanya Aliesha bingung. Pasalnya Bagas tidak mengirim pesan apapun padanya sejak semalam.
"Gue datang ke sini buat ngajakin lo ke sekolah bareng. Gue gak tahu ternyata lo punya janji sama orang lain," balas Bagas sambil melirik Farzan sekilas.
Farzan melotot ke arah Bagas. Pria itu tidak mengatakan apa-apa, namun tatapannya sudah cukup menjadi peringatan untuk Bagas.
Aliesha mengerucutkan bibirnya, bingung harus berbuat apa sekarang. Di satu sisi ia harus pergi bersama Farzan untuk membuat Arisha cemburu, namun di sisi lain dia tidak mau membuat Bagas merasa kecewa.
Dalam waktu singkat, wajah Aliesha tiba-tiba saja menjadi cerah. Gadis itu berbalik, menatap Arisha yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
"Ris, lo mau ke sekolah bareng Farzan gak?" tanya Aliesha dengan suara kecil, takut dua pria yang sedang menunggunya mendengar percakapannya dengan Arisha.
Arisha menatap Aliesha curiga. "Kenapa lo tiba-tiba? Kesurupan ya lo?" balas Arisha judes.
"Gue serius. Mau gak nih?" tawar Aliesha lagi.
Arisha menimbang-nimbang cukup lama. Gadis itu melirik ke arah Farzan, kemudian ke arah Aliesha lagi. Gadis itu akhirnya mengangguk.
"Hm, mau. Tapi, gimana? Farzan kan gak suka sama gue," ujar Arisha merasa putus asa.
"Tenang, Ris. Gue bakal bantuin lo. Tapi,, ada syaratnya," ucap Aliesha dengan senyum mengembang.
"Apa?" tanya Arisha kasar, mulai menjadi tidak sabar.
"Syaratnya, jangan bully gue lagi di sekolah. Gimana?"
"Lo!!" Arisha menatap Aliesha tajam.
"Gue kenapa? Lagian, syaratnya cuma itu kok. Gue bakal bantuin lo sampai lo dan Farzan bisa jadian," kata Aliesha membujuk.
Arisha lagi-lagi berpikir keras, apakah ia harus menerima tawaran Aliesha atau tidak. Selang beberapa detik kemudian, gadis itu kembali mengangguk. Dia tidak bisa melepaskan kesempatan emas yang tidak bisa dia dapatkan dua kali.
Aliesha menjentikkan jarinya begitu mendengar jawaban Arisha. Gadis itu lalu berjalan ke arah Bagas.
"Gas, pakein helm nya dong," pinta Aliesha pelan.
Farzan menatap Aliesha tak percaya. "Lis, kamu kok bareng dia? Kan semalam udah janji mau ke sekolah bareng aku," ucapnya tak terima melihat Aliesha memilih pergi dengan Bagas dibandingkan dengannya.
"Suka-suka Aliesha dong. Mau dia perginya bareng gue kek, bareng lo kek, itu urusannya dia. Kok lo yang sewot sih?" ejek Bagas disertai senyum kemenangan.
Farzan turun dari motor. Pria itu berjalan ke arah Bagas, kemudian meraih kerah seragamnya.
"Gue lagi ngomong sama Aliesha ya. Gak usah ikut campur lo!"