Chapter 10: 9. Pertandingan Farrel dan Keenan

Aliesha The ProtagonistWords: 9485

"Gue lagi ngomong sama Aliesha ya. Gak usah ikut campur lo!" tegas Farzan seraya meraih kerah seragam Bagas.

Bagas mengangkat kedua tangannya ke atas. "Santai, Bro. Gak usah main kasar kan bisa," ucapnya tersenyum elegan.

Melihat akan terjadi perkelahian diantara keduanya, Aliesha menepuk tangan Farzan pelan. "Zan, jangan gitu. Aku sengaja mau pergi bareng Bagas biar kamu bisa antarin Arisha. Kamu mau kan antarin dia?"

Aliesha menatap Farzan tepat di manik matanya, hal itu membuat Farzan luluh. Pria itu dengan terpaksa menganggukkan kepalanya. Ia lalu melepaskan kerah seragam Bagas dan kembali ke motornya.

Pada saat itu, Arisha menghampiri Farzan dengan senyum merekah di bibirnya. Walaupun ia sangat membenci Aliesha, harus dia akui bahwa gadis itu cukup berguna untuknya.

"Zan, kamu beneran biarin aku nebeng sama kamu?" tanya Arisha yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

Farzan hanya mengangguk, ia lalu menyerahkan helm untuk Arisha pakai.

"Gak usah berharap. Gue ngantarin lo karena Aliesha yang nyuruh," ucap Farzan dengan wajah datar.

Wajah senang Arisha berubah sendu. Mood-nya yang semula baik-baik saja kini telah hancur. Walau begitu, dia masih naik ke motor Farzan. Saat tangannya akan melingkar di perut pria itu, Farzan dengan tegas melepaskan tangannya dari perutnya.

"Gak usah peluk. Lo bisa pegangan di jaket gue," katanya.

Sambil menahan rasa kesalnya, Arisha berpegangan pada jaket Farzan. Pria itu lalu melajukan motornya terlebih dahulu, Bagas pun menyusul di belakangnya.

Setibanya mereka di sekolah, semua pandangan murid-murid tertuju pada mereka, terutama pada Farzan dan Arisha. Tentu saja kebanyakan orang merasa bingung melihat keduanya pergi ke sekolah bersama-sama.

Banyak siswa dan siswi saling berbisik di sekitar mereka. Semuanya memiliki komentar buruk, terutama untuk Arisha yang terkenal sebagai tukang bully di sekolah itu.

Walaupun gadis itu hanya membully Aliesha, tetap saja tidak ada yang menyukainya. Apalagi Aliesha memiliki banyak penggemar, baik di kalangan siswa laki-laki maupun perempuan.

"Zan, aku sama Bagas ke kelas duluan ya," pamit Aliesha.

Farzan dengan cepat melepas helmnya dan turun dari motor. Pria itu berdiri di sisi Aliesha, bersiap mengawal gadis itu ke kelasnya. Murid-murid yang ada di sana tertawa melihat Arisha berdiri diam seperti orang bodoh.

Tiga teman Farzan yang baru saja tiba menghampiri mereka. Farrel meninju bahu Farzan pelan, bentuk protesnya karena pria itu menjemput Aliesha tanpa memberitahu mereka.

"Tega lo, Zan. Jemput Aliesha gak bilang-bilang. Gak setia kawan lo jadi orang," ujar Farrel mendramatisir keadaan.

Keenan mengangguk setuju. "Betul, Zan. Harusnya lo ngasih tahu kita-kita dong, biar kita bisa sama-sama jemput Aliesha," tambah Keenan ikut-ikutan.

Farzan menatap dua temannya datar. Ia lalu beralih ke arah Kenzie.

"Lo mau nyalahin gue juga ya?" tanyanya yang langsung dibalas Kenzie dengan gelengan.

Farzan mengangguk dengan senyum puas. "Emang ya, cuma Kenzie yang ngertiin gue," ucapnya ikutan mendrama.

Aliesha menghela napas dalam-dalam saat melihat drama yang mereka tunjukkan di depannya. Gadis itu meraih tangan Bagas dan berkata, "Ayo, Gas. Jangan sampai kita terlambat ke kelas gara-gara nonton drama di pagi hari."

Bagas tentu saja dengan senang hati mengikuti langkah Aliesha ketika gadis itu menyeretnya menuju kelas. Empat orang yang membuat drama tadi langsung lari mengikuti mereka.

Kini tinggallah sosok Arisha sendirian di tempat parkir. Gadis itu melihat orang-orang yang menatap remeh padanya dengan tatapan tajam, setelah itu pergi ke kelasnya karena bel masuk akan segera berbunyi.

***

Aliesha bersama Naomi pergi ke toilet untuk mengganti seragam mereka dengan pakaian olahraga. Begitu selesai, mereka pergi ke lapangan indoor karena pelajaran yang akan mereka pelajari hari itu adalah permainan bola basket.

"Lis, katanya kelas kita gabung sama kelas Farzan hari ini," ujar Naomi saat di koridor.

"Oh ya? Kata siapa?" tanya Aliesha sedikit penasaran.

Naomi berpikir sejenak sebelum menjawab. "Gue denger dari anak-anak yang lain sih. Soalnya Pak Danu kan lagi cuti nemenin istrinya melahirkan," jelas Naomi.

Aliesha mengangguk mengerti. Keduanya dengan buru-buru masuk ke dalam barisan karena mereka adalah orang terakhir yang tiba di lapangan. Selesai melakukan pemanasan dan lari keliling lapangan sebanyak tiga kali, pelajaran pun resmi dimulai.

"Baiklah. Seperti yang bisa kalian lihat, hari ini kita memiliki kelas gabungan, antara kelas X IPA 3 dan X IPA 1. Bapak harap kalian akur ya, jangan sampai rebutan bola," kata Pak Rio diselingi candaan di bagian akhir kalimatnya.

Pak Rio menyuruh murid laki-laki berdiri, sedangkan murid perempuan duduk. Beliau memberikan contoh gerakan menggiring bola pada semua muridnya, setelah itu meminta murid laki-laki untuk mempraktekkannya.

Setelah semua murid laki-laki selesai, kini giliran murid perempuan. Seperti sebelumnya, Pak Rio memberikan contoh terlebih dahulu sebelum meminta murid perempuan mempraktekkan gerakannya.

Saat tiba giliran Aliesha, Pak Rio berkata, "Aliesha, kalau kamu capek, bilang sama saya ya. Atau kalau nggak, kamu boleh istirahat sekarang."

Sontak saja seluruh murid yang ada di sana berseru, memprotes bentuk pilih kasih yang Pak Rio berikan. Pak Rio merupakan guru paling muda di sekolah itu. Banyak murid perempuan yang ngefans dengan beliau, apalagi guru muda itu memiliki wajah rupawan.

Pak Rio tidak memedulikan protes dari murid-muridnya. Alasan beliau berkata seperti itu adalah karena Aliesha memang lemah secara fisik. Gadis itu pernah pingsan sekali saat pelajaran penjas sebelumnya.

Takut kejadian itu terulang kembali, beliau hanya bisa berkata seperti itu agar gadis itu tidak terlalu kelelahan.

"Gak apa-apa, Pak. Saya bisa kok," balas Aliesha kalem.

Gadis itu kemudian mempraktekkan gerakan yang Pak Rio contohkan sebelumnya. Setelah semuanya selesai, Pak Rio meminta mereka membentuk tim masing-masing.

Aliesha dan Naomi berada di tim yang sama. Lawan mereka berasal dari kelas yang berbeda. Cukup lama bermain, tim Aliesha akhirnya kalah satu poin dari tim lawan.

Walau begitu, pelajaran penjas hari itu terasa menyenangkan karena Aliesha bisa melakukannya dengan baik.

Saat bel istirahat berbunyi, Farzan bersama tiga temannya bergegas menghampiri Aliesha yang berdiri di antara Naomi dan Bagas.

"Lis, tadi lo keren," puji Farzan bangga.

Aliesha menunjukkan wajah cemberut. "Tapi tim aku kan kalah, Zan."

Farzan menggeleng. "Gak apa-apa kok. Ini kan bukan pertandingan sungguhan," hibur Farzan dengan senyum menenangkan.

"Aku bisa ajarin kamu biar jago main basket, mau gak Lis?" tanya Keenan menawarkan.

Aliesha menggeleng. "Gak usah, Nan. Lihat kamu jago main basket aja aku udah seneng kok."

Perkataan Aliesha sukses mengundang rasa cemburu dari Bagas, Farzan, Farrel, dan Kenzie. Keenan yang mendengar itu serasa terbang ke langit, senyumnya mengembang dengan sempurna. Naomi yang melihat dari samping hanya bisa menggeleng sambil terkekeh kecil.

"Lis, aku juga jago main basket loh," kata Farrel untuk menarik perhatian Aliesha.

"Beneran?" tanya Aliesha dengan mata berbinar.

Farrel dengan sombong menepuk dadanya. "Tentu saja. Kapan sih aku pernah bohongin Princess Aliesha yang cantik?" ucapnya mulai menggombal.

Keenan langsung menabok belakang kepala Farrel. "Songong banget lo. Berani lawan gue gak?" tantang Keenan penuh percaya diri.

Farrel melirik Keenan kesal. Takut Aliesha tidak memercayai ucapannya, pria itu langsung mengiyakan tanpa pikir panjang. Maka terjadilah pertandingan satu lawan satu antara Farrel dan Keenan.

Farzan menggenggam tangan Aliesha, menuntunnya menuju kursi penonton. Bagas, Naomi, dan Kenzie mengikuti dari belakang. Karena sudah waktunya istirahat, banyak sekali orang yang menonton pertandingan mereka.

Ketika pertandingan dimulai, Keenan adalah orang pertama yang mendapatkan bola. Pria itu menggiring bola ke arah ring Farrel dengan sangat lihai. Farrel dengan sekuat tenaga berusaha merebut bola itu dari tangan Keenan, namun tidak berhasil.

Saat jaraknya dengan ring cukup dekat, Keenan langsung menembak bolanya yang langsung masuk ke dalam ring dengan sempurna. Keduanya bertanding dalam waktu dua menit.

Hasil akhirnya tentu saja dimenangkan oleh Keenan. Farrel mengacak rambutnya frustasi, napas pria itu mulai ngos-ngosan.

"Lo hebat, Bro." Farrel memuji ketika mereka melakukan salam persahabatan.

"Lo juga," balas Keenan tersenyum kecil.

Aliesha bergegas menghampiri keduanya. Gadis itu bertepuk tangan dengan riangnya.

"Kalian keren banget. Lihat deh, banyak orang yang fokus dengan pertandingan kalian tadi," katanya penuh semangat.

Keenan dan Farrel mengacak rambut Aliesha gemas, keduanya lalu tersenyum tulus. Aliesha dengan cemberut merapikan rambutnya, kemudian mencubit bahu kedua pria itu.

"Ihhhh kenapa diberantakin," kesalnya.

Hal itu membuat Farrel dan Keenan tertawa bersamaan. Farzan, Kenzie, dan Bagas melihat mereka dengan wajah datar. Naomi lagi-lagi menggeleng melihat adegan di depannya.

"Lis, balik ke kelas yuk!" ajak Naomi seraya menarik tangan Aliesha.

Aliesha hanya menurut, membiarkan Naomi membawanya pergi. Melihat ada kesempatan untuknya, Bagas dengan cepat mengikuti langkah keduanya.

"Aliesha, lo suka sama cowok yang jago basket ya?" tanya Bagas kepo.

Naomi mendelik ke arah Bagas, namun melihat Aliesha dengan tatapan penasaran. Aliesha menoleh, kemudian mengangguk.

"Iya," jawabnya singkat.

Naomi menghentikan langkahnya. "Sejak kapan, Aliesha?" tanyanya menyelidik.