Chapter 11: 10. Ajakan Naomi

Aliesha The ProtagonistWords: 9251

Aliesha ikutan berhenti. Gadis itu menatap Naomi dengan alis terangkat. "Emang kenapa, Nao? Gak boleh?" tanya Aliesha ragu.

Naomi menggeleng. "Bukan gitu Aliesha. Kan sebelumnya lo bilang gak suka cowok basket. Kok sekarang berubah?"

Aliesha mengangkat bahu, mengisyaratkan dia juga tidak tahu alasannya. Aliesha melanjutkan langkahnya, Naomi dan Bagas bertukar pandang sebelum menyelaraskan langkah mereka dengan gadis itu.

Tiba di dalam kelas, mereka melihat Randy, Rizky, Syifa, dan Ratna sedang berkumpul di satu meja. Ketiga orang itupun menghampiri mereka.

"Kalian lagi ngomongin apa nih? Gosip ya?" tanya Bagas asal.

Ratna dan Syifa refleks memukul bahu Bagas kuat. "Enak aja lo. Gosip, gosip. Kita lagi bahas tugas nih," kata Ratna sewot.

Syifa, Randy, dan Rizky mengangguk setuju. "Hari ini kita harus latihan lagi di rumah Syifa. Kali ini gak boleh ada yang gak ikut," ujar Randy tegas.

"Bener. Apalagi pelajaran bahasa Inggris itu hari Selasa, di jam pertama lagi. Kita gak boleh lengah, karena masih ada pelajaran lain yang perlu kita perhatikan," timpal Rizky.

Semuanya mengangguk serempak. Aliesha pergi ke mejanya, kemudian mengeluarkan naskah dari tasnya. Gadis itu duduk di bangkunya sambil sibuk menghafal bagiannya.

"Gak ke kantin, Lis?" tanya Naomi saat gadis itu duduk di sebelah Aliesha.

Aliesha menggeleng sebagai tanggapan. "Mau nitip sesuatu gak?" tanya Naomi lagi.

Aliesha lagi-lagi menggeleng. Pasrah, Naomi pergi ke kantin bersama teman sekelasnya yang lain. Di tengah-tengah hafalannya, Aliesha terkejut saat tiba-tiba naskahnya dirampas dengan kasar.

Gadis itu mengangkat pandangannya ke atas, melihat orang yang merampas naskahnya. Begitu matanya dan Arisha bertemu, gadis itu menghela napas panjang.

"Kenapa, Ris?" tanya Aliesha kalem.

Seharusnya Arisha tidak datang padanya hari ini, apalagi dia sudah membantu gadis itu mendekati Farzan tadi pagi.

"B*ngs*t ya lo! Lo sengaja kan bikin gue malu tadi pagi?" kesal Arisha. Gadis itu membuang naskah milik Aliesha ke lantai, kemudian menarik kerah bajunya kasar.

Bagas yang melihat itu segera menghampiri keduanya. Pria itu dengan paksa melepaskan tangan Arisha dari kerah Aliesha. Kini ketiga orang itu sudah menjadi tontonan siswa-siswi yang ada di kelas itu. Murid kelas lain yang merasa penasaran pun ikut menonton dari luar.

"Lo gila ya? Datang-datang udah marah-marah gak jelas. Sakit jiwa ya lo?" ucap Bagas tajam.

"Ini gak ada hubungannya sama lo ya!" geram Arisha.

Bagas terkekeh sinis. "Kata siapa ini gak ada hubungannya sama gue? Aliesha itu teman sekelas gue, jadi gue berhak belain dia."

"Yakin lo cuma teman sekelas dia? Bukannya lo cadangan dia doang ya? Ckck kasihan," balas Arisha tersenyum mengejek.

Mendengar kata-katanya, Bagas berusaha keras menahan tangannya agar tidak memukul gadis itu. Pria itu lantas menggenggam tangan Aliesha, sebagai upaya menenangkan dirinya.

"Mau gue cadangannya Aliesha kek, apa kek, semuanya gak ada urusannya sama lo. Lo kenapa gangguin Aliesha terus? Lo iri sama dia, iya kan?"

Arisha mengepalkan tangannya kuat. "Lo! Lancang banget mulut lo, kayak cewek tahu gak?" ucapnya marah.

"Nyenyenye," ejek Bagas dengan wajah menyebalkan.

Arisha mengangkat tangannya, dengan keras menampar wajah Bagas. Dengan cepat Bagas meraih tangan Arisha yang akan menamparnya.

"Untung aja lo tuh cewek ya. Kalau lo cowok, gue pastiin lo masuk rumah sakit hari ini," kata Bagas kejam.

Arisha menarik tangannya dengan tatapan takut. Gadis itu beralih pada sosok Aliesha yang diam sejak tadi.

"Heh, Aliesha! Jangan harap lo bisa kabur dari gue ya. Lihat aja, gue bakal kasih lo perhitungan nanti," ancamnya sebelum pergi dari sana.

Naomi yang baru saja tiba tidak sengaja bertabrakan dengan Arisha. Gadis itu tertegun melihat wajah Arisha yang tidak sedap dipandang.

"Kenapa tuh anak?" gumamnya pelan.

Naomi duduk di sebelah Aliesha yang sudah kembali menghafal naskahnya. Gadis itu bingung melihat Bagas yang tengah menatap Aliesha dengan wajah kesal.

"Lo kenapa, Gas?" tanya Naomi heran.

Bagas menarik napas panjang, kemudian menggeleng. "Gak apa-apa," jawabnya singkat.

Bagas kembali ke tempat duduknya, wajahnya terlihat jelas bahwa dia sedang badmood. Naomi melirik Bagas dan Aliesha bergantian.

Setelah cukup lama, gadis itu akhirnya berhenti. Sepertinya baru saja terjadi hal buruk di antara mereka. Dan sepertinya, semuanya berhubungan dengan kepergian Arisha beberapa saat yang lalu.

***

Hari itu setelah pulang sekolah, Aliesha bersama teman kelompoknya yang lain kembali latihan di rumah Syifa. Masing-masing dari mereka telah ditetapkan pemerannya.

Drama yang akan mereka perankan nanti diadaptasi dari film Barbie yang berjudul "Barbie as The Princess and the Pauper."

Aliesha berperan sebagai Putri Anneliese dan Naomi berperan sebagai Erika. Ratna berperan sebagai Ratu, sedangkan Syifa sebagai Nyonya Carp. Adapun dari pihak pria, Bagas berperan sebagai Julian, Randy sebagai Raja Dominic, dan Rizky sebagai Preminger.

Karena jumlah mereka tidak cukup, mereka mensiasatinya dengan cara beberapa orang mendapat peran ganda.

Kini Aliesha sedang memainkan adegan bersama Bagas yang berperan sebagai Julian. Ceritanya mereka sedang berdiri di balkon istana dan membicarakan tentang Raja Dominic yang akan menikah dengan Putri Anneliese.

"So happy. Free to do whatever they want. What do you think King Dominick will be like?" ucap Aliesha dengan aksen Inggris yang terbilang cukup baik.

"Oh I'm sure he'll be... suitable," balas Bagas dengan aksen Inggris yang sama bagusnya dengan Aliesha.

"Oh, I know it's the right thing to marry him, but sometimes I wish... well..." Aliesha memalingkan wajahnya ke depan.

"Apparently he's a lover of music. He plays 3 different instruments. The dulcimer, the trumpet, and the piano. Anneliese... you're going to need your cape."

Alieshal menatap Bagas bingung. "I am? Why?"

Semuanya bertepuk tangan dan memuji Bagas serta Aliesha yang memerankan dua karakter itu dengan sangat baik.

"Good job, guys! Kalian boleh istirahat dulu, sekarang giliran Ratna sama Rizky," kata Syifa memberi arahan.

Bagas dan Aliesha mengangguk. Keduanya lalu duduk di sofa sembari membaca naskah.

"Btw, Lis. Hubungan lo sama Arisha itu gimana? Kok dia bully lo terus di sekolah?" tanya Bagas tiba-tiba.

“Padahal kalian kan saudara. Kok dia bisa jahat gitu?” lanjutnya dengan tatapan heran.

Aliesha melirik Bagas sekilas, tidak berniat menjawab pertanyaan pria itu. Tidak menyerah, Bagas bertanya lagi. "Ortu lo tahu tentang masalah ini gak?"

Wajar saja pria itu bertanya. Pasalnya, tidak ada seorangpun di sekolah yang tahu bahwa Aliesha dan Arisha adalah saudara tiri, semuanya mengira mereka adalah saudara kandung karena wajah mereka yang kelihatan mirip.

"Gas, itu semua gak ada hubungannya sama kamu. Aku harap kamu gak ladenin Arisha seperti tadi," jawab Aliesha dengan wajah datar.

"Tapi, Lis. Gak adil kalau kamu digituin Arisha tapi kamu gak ngebales," protes Bagas.

"Udah aku bilang, itu semua gak ada hubungannya sama kamu, Bagas!" Aliesha berucap tegas.

"Tapi--" Bagas menatap Aliesha dalam.

"Stop!" potong Aliesha cepat. Gadis itu beranjak menjauhi Bagas.

"Kalian kenapa?" tanya Naomi yang baru saja selesai latihan.

"Gak ada," jawab Aliesha seadanya.

Naomi mengangguk, ia lalu duduk di samping Aliesha. "Oh iya, Lis. Besok lo ada acara gak?"

Aliesha menoleh dengan alis terangkat. "Gak ada. Kenapa?"

"Gue mau ngajak lo ke vila. Kita nginap di sana, mau gak?"

Aliesha mengerutkan keningnya, menatap curiga pada gadis di sampingnya.

"Ngapain, Naomi?" tanya Aliesha kaget.

Sadar bahwa Aliesha salah paham padanya, gadis itu dengan cepat melambaikan tangannya di depan wajah Aliesha.

"Aduh, lo salah paham. Kita gak sendiri kok, ada keluarga gue juga di sana. Kita ke vila buat ngerayain ultah Dika, adek gue. Gimana, mau gak?" jelas Naomi.

Aliesha mengangguk. "Iya, mau. Berarti aku harus nyiapin kado dong buat Dika," kata Aliesha.

"Terserah lo sih. Sebenarnya, kedatangan lo aja tuh udah jadi hadiah paling spesial buat Dika," balas Naomi tersenyum kecil.

Aliesha balas tersenyum. Bagas yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka mulai mendekat.

"Gue gak diajak nih ke ultah adek lo?" tanya Bagas dengan suara keras.

Hal itu membuat yang lain menoleh ke arah mereka. Syifa, Ratna, Randy, dan Rizky menghentikan latihan mereka. Keempat orang itu bergegas menghampiri Naomi.

"Naomi, kapan ultah adek lo?" tanya Randy kepo.

Naomi mengutuk Bagas di dalam hati. Gadis itu menatap teman-temannya dengan senyum palsu.

"Besok sih. Kita mau ngadain acara di vila keluarga gue. Kalian mau ikut juga gak?"

Naomi berharap mereka akan menolak ajakannya. Namun, apa yang terjadi selalu meleset dari harapan kita.

"Wihhh pasti banyak makanannya, bener gak?" Rizky menyenggol lengan Randy dengan alis naik turun.

Randy mengangguk. "Pastinya. Gak mungkin kita menolak tawaran makanan gratis," sahut Randy tersenyum lebar.

"Gue mau ikut," kata Syifa.

"Gue juga," ucap Ratna ikut-ikutan.

Naomi menunduk, tatapan matanya terlihat sangat kesal. Padahal dia hanya berniat mengajak Alisha atas permintaan adiknya, tidak disangka malah mengundang banyak orang.

Aliesha yang bersebelahan dengan Naomi menepuk bahunya pelan untuk menyemangati gadis itu. Setelah itu, mereka melanjutkan latihan sampai matahari terbenam.