Naomi menjemput Aliesha di rumahnya pada pukul dua siang. Sebelum mereka pergi ke vila keluarga Naomi, keduanya pergi ke mall terlebih dahulu untuk membelikan hadiah buat Dika.
Setelah lama berkeliling, pilihan Aliesha jatuh pada sepatu yang sudah lama Dika inginkan, sedangkan Naomi membelikan parfum untuknya.
"Ayo, Lis. Semuanya udah nungguin di vila," ajak Naomi seraya menarik tangan Aliesha menuju mobil.
Naomi sengaja bilang ke teman-temannya yang lain untuk pergi lebih dulu ke vila keluarganya. Kini semua orang sudah berkumpul di sana, termasuk orang tuanya dan Dika.
Sesampainya mereka di vila, Dika adalah orang pertama yang menghampiri mereka. Anak berusia delapan tahun itu merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Aliesha.
"Kak Lisa, Dika kangen banget!" seru Dika senang.
Aliesha mensejajarkan badannya menyamai tinggi Dika, kemudian membalas pelukannya.
"Kak Lisa juga kangen banget sama Dika," balas Aliesha dengan senyum mengembang.
Hubungan Aliesha dan Dika dapat dikatakan erat. Itu adalah kejadian tiga tahun lalu saat Dika berumur lima tahun.
Pada saat itu, Aliesha dan mamanya sedang berlibur di pantai. Gadis itu tidak sengaja melihat seorang anak kecil terbawa arus pantai. Walau tidak bisa berenang, ia memaksakan diri untuk menyelamatkan anak kecil itu.
Bersyukurlah ada orang dewasa yang membantunya. Aliesha dan anak kecil itu akhirnya selamat. Saat anak kecil itu dibawa ke rumah sakit, Aliesha meminta mamanya untuk ikut ke sana.
Sejak saat itulah keduanya mulai dekat. Pertemanan Aliesha dan Naomi pun terjadi berkat Dika. Jika ia tidak bertemu dengan Dika, maka mungkin ia dan Naomi tidak bisa berteman seperti sekarang.
Dika melepaskan pelukannya, lalu menggenggam tangan Aliesha sebagai gantinya. Anak itu menarik pelan tangan Aliesha untuk membawanya menemui orang tuanya.
"Ma, Pa, Kak Lisa datang." Dika menunjukkan senyum lebar yang belum pernah keluarga itu lihat sejak dua bulan terakhir.
Alasan Dika tidak tersenyum adalah karena Aliesha tidak pernah lagi main ke rumah mereka. Dika pikir Aliesha sudah tidak mau lagi berteman dengannya, namun nyatanya tidak demikian.
Orang tua Naomi merasa terharu karena bisa melihat senyum Dika lagi. Mama Naomi menarik Aliesha ke dalam pelukan.
"Makasih ya Sayang, udah mau datang ke sini. Tante senang banget akhirnya bisa lihat Dika tersenyum lagi," katanya penuh haru. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Aliesha menepuk bahu Mama Naomi pelan. "Sama-sama, Tante. Aliesha juga senang kok bisa hadir di ultah Dika."
Mama Naomi mengangguk, beliau lalu menghapus air matanya yang meluncur ketika beliau mengedipkan mata. Ayah Naomi hanya mengangguk singkat pada Aliesha dengan senyum tipis.
Setelah orang tua Naomi masuk ke vila bersama Dika, Naomi mengajak Aliesha dan lainnya pergi ke kamar mereka masing-masing.
Kamar di vila itu cukup banyak sehingga semuanya memiliki kamar terpisah. Kamar di lantai atas dipakai oleh Naomi, Aliesha, Ratna, Syifa, dan orang tua Naomi, sedangkan kamar di lantai bawah dipakai oleh Dika, Bagas, Randy, dan Rizky.
Di kamarnya, Aliesha meletakkan barang bawaannya di dalam lemari yang ada di kamar itu. Setelah itu, ia mandi dan mengganti pakaiannya karena sebentar lagi waktunya makan malam.
"Lis," panggil Naomi saat mengetuk pintu kamar Aliesha pelan.
"Ya." Aliesha menyahut sebelum membuka pintu kamarnya.
"Kita ke bawah yuk, Lis. Acaranya udah mau dimulai," ajak Naomi.
Aliesha mengangguk. Gadis itu masuk lagi ke kamar untuk mengambil kado yang ia siapkan untuk Dika, setelah itu turun bersama Naomi ke lantai bawah.
Acara ulang tahun Dika diadakan di halaman vila, tepatnya di dekat kolam renang. Saat Aliesha dan Naomi turun, sudah ada banyak tamu undangan yang datang. Kebanyakan tamu yang datang adalah rekan bisnis ayah Naomi yang anaknya juga sekelas dengan Dika.
Aliesha tidak tahu bahwa pesta ulang tahun Dika akan semeriah itu. Ia pikir hanya keluarga besar Naomi saja yang hadir, namun ternyata tidak.
Untung saja dia memakai dress malam itu. Tatapan Aliesha jatuh pada lima temannya yang memakai pakaian kasual.
Naomi yang berdiri di sebelah Aliesha juga menyadari apa yang sedang dipikirkan teman-temannya. Gadis itu bergegas menghampiri teman-temannya, kemudian membawa mereka ke tempat yang cukup sepi.
"Guys, gue juga gak tahu kalau ternyata pestanya bakal seformal ini. Sorry banget. Gue masih punya dress buat dipakai Ratna dan Syifa. Tapi untuk kalian cowok-cowok, gue gak punya jas," kata Naomi merasa bersalah.
Semuanya terdiam. Ingin rasanya mereka marah pada Naomi, namun mereka sadar mereka tidak bisa menyalahkan gadis itu sepenuhnya. Tidak ada yang tahu bahwa rekan kerja ayah Naomi juga akan hadir di pesta itu.
"Gimana kalau lo sama Aliesha aja yang ganti baju kalian, biar samaan sama kita?" usul Bagas.
Naomi melirik Aliesha, keduanya mengangguk setuju. Aliesha dan Naomi kembali ke kamar untuk mengganti pakaian mereka. Setelah itu, mereka turun lagi ke lantai bawah.
"Nah, gini kan enak. Jadinya kita gak perlu minder ketemu orang-orang," ujar Randy puas.
Rizky mengangguk. "Bener tuh! Dari tadi gue ngerasa kek dipandang remeh sama tamu yang datang," curhatnya dengan wajah cemberut.
"Gue minta maaf banget ya. Harusnya gue nyuruh lo pada nyiapin jas sama dress," kata Naomi menyalahkan dirinya sendiri.
Aliesha menepuk bahu Naomi pelan. "Udah, gak usah nyalahin diri sendiri. Sekarang kita ke luar, yuk! Jangan sampai Dika bingung nyariin kita," ucapnya.
Semuanya mengangguk. Mereka bertujuh pun berjalan menuju halaman tempat acaranya diadakan. Begitu melihat Aliesha, Dika dengan bersemangat berlari ke arahnya.
"Kak Lisa, sini! Kakak berdiri di samping Dika, ya?" pinta Dika dengan mata berbinar.
Aliesha mengangguk, senyum manis terbit di bibirnya. Setelah Aliesha berdiri di samping Dika, barulah acaranya resmi dimulai. Semua tamu undangan menyanyikan lagu selamat ulangtahun untuk Dika.
Tiba waktunya potong kue, Dika memberikan potongan pertamanya untuk Aliesha. Gadis itu begitu terkejut sampai tubuhnya membeku selama beberapa detik.
"Dika, harusnya kan kuenya dikasih ke Mama sama Papa dulu. Kok kuenya dikasih ke kakak?" tanya Aliesha bingung.
Dika memasang wajah cemberut. "Kak Lisa gak suka kuenya ya?"
Aliesha menggeleng. "Bukan gitu, Dika. Tapi, potongan kue pertama itu harus diberikan ke orang yang paling Dika sayang. Jadi harusnya dikasih ke Mama atau Papa, bukan ke kak Lisa," jelas Aliesha lembut.
Dika masih terlihat cemberut. "Tapi, Dika maunya ngasih ke kak Lisa duluan," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Mama Naomi menghampiri keduanya, kemudian memegang tangan Aliesha. "Nak Lisa, terima aja ya kue dari Dika. Jangan sampai dia nangis," kata Mama Naomi dengan nada memohon.
Walau merasa ragu, Aliesha akhirnya menerima kue itu. Gadis itu membiarkan Dika menyuapkan kue itu ke mulutnya. Dika terlihat sangat bahagia.
Aliesha lalu memberikan kado yang dia siapkan untuk Dika. Anak itu menerima pemberian Aliesha dengan senang hati. Ia memegang kado itu erat, menolak melepaskannya walau hanya sedetik.
"Makasih, kak Lisa. Dika bakal nyimpan kado kak Lisa baik-baik," kata Dika.
Aliesha mengangguk. "Iya," balasnya.
Disaat para tamu undangan dan teman-temannya tengah menikmati hidangan yang ada di sana, Aliesha malah masih harus menemani Dika dan duduk di sampingnya.
"Kak, kata Mama aku harus ke luar negeri besok. Kakak mau ikut kami ke sana gak?"
Aliesha menatap Dika dengan alis terangkat. "Ngapain Dika ke sana?"
"Kata Mama, Dika harus dirawat di sana biar cepat sembuh."
Aliesha langsung memeluk Dika erat. "Emang Dika sakit apa?"
"Dika gak tahu," jawabnya disertai gelengan kepala.
Aliesha melepaskan pelukannya. Gadis itu memegang kedua pundak Dika dan merematnya pelan. "Dika, kak Lisa gak bisa ikut Dika ke luar negeri. Tapi, Dika harus janji buat balik ke sini kalau Dika udah sembuh. Janji?"
Aliesha mengulurkan jari kelingkingnya pada Dika. Anak itu mengangguk, dengan senang hati melingkarkan kelingkingnya ke kelingking Aliesha.
"Dika janji," ucapnya tersenyum lebar.
Melihat senyum anak itu, hati Aliesha serasa seperti teriris pisau. Tidak ingin larut dalam kesedihan, Aliesha memilih mengalihkan perhatiannya ke kolam renang.
Acara ulang tahun Dika berlangsung sampai pukul sepuluh malam. Setelah tamu undangan pulang, Dika langsung disuruh tidur oleh mamanya.
Disaat orang tua Naomi serta Dika sudah masuk ke dalam, Aliesha, Naomi, dan teman-temannya masih duduk di luar. Ketujuh orang itu duduk di pinggir kolam renang dengan kaki yang dimasukkan ke dalam air.
"Guys, besok gue bakal ditinggal sendiri di rumah," curhat Naomi sambil menatap langit malam bertabur bintang.
"Kok gitu?" tanya Ratna kepo.
Naomi menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Mereka bakal ke luar negeri besok. Dika sakit, jadi dia harus menjalani pengobatan di sana."
"Emang adek lo sakit apa?" tanya Rizky.
"Kanker hati," jawab Naomi singkat.
Naomi lalu menatap Aliesha. "Lis, lo mau tinggal sama gue gak? Ortu lo kan lagi di luar kota nih. Daripada lo tinggal sama Arisha, iya kan?"
Aliesha menoleh. "Oke," setujunya tanpa pikir panjang.
"Berarti hari Senin gue jemput di rumah Naomi ya, Lis?" tanya Bagas menimpali.
Naomi menatap Bagas sinis. "Lo kira gue gak bisa ngantar Aliesha ke sekolah?"
Bagas nyengir. "Ya kan gue cuma nawarin. Kok lo yang sewot sih?"
Naomi memutar matanya malas. "Gas, lo lagi pdkt ya sama Aliesha?" tanyanya.
Bagas mengusap tengkuknya salting, sedangkan Aliesha menatap Naomi datar.
"Cieee Bagas lagi deketin Aliesha!" seru Rizky.
"Cieee cieee," sorak semua orang di sana kecuali Bagas dan Aliesha.
Malas meladeni mereka semua, Aliesha memilih masuk ke kamarnya. Bagas pun menjadi bahan godaan teman-temannya sampai larut malam.