Chapter 13: 12. Novel Yang Familiar

Aliesha The ProtagonistWords: 9343

Aliesha dan Naomi mengantarkan kepergian orang tua Naomi serta Dika di bandara. Sepanjang perjalanan dari vila ke bandara, Dika tidak mau lepas dari pelukan Aliesha.

Anak itu terus saja menggandeng erat tangan Aliesha, seolah takut gadis itu pergi darinya. Ketika tiba waktunya mereka masuk ke pesawat, Dika memeluk Aliesha erat sambil menangis sesenggukan.

"Kak Lisa, jaga diri kakak baik-baik ya. Kalau Dika udah sembuh, Dika bakal ke sini lagi buat ketemu kak Lisa. Kak Lisa gak boleh lupain Dika, janji?" katanya seraya menyodorkan jari kelingkingnya di depan wajahnya.

Aliesha menautkan jari kelingkingnya dengan milik Dika, gadis itu kemudian memeluk Dika erat.

"Kak Lisa janji gak bakal lupain Dika," balasnya, matanya mulai berkaca-kaca.

Setelah pesawat lepas landas, Naomi mengantar Aliesha pulang ke rumah. Disaat Naomi menunggu di luar, Aliesha pergi ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya. Di sela-sela kegiatannya, tiba-tiba saja Arisha masuk ke kamar.

"Dari mana lo? Habis jual diri ya lo?" kata Arisha sinis.

Aliesha tidak menggubris perkataan Arisha, gadis itu dengan tenang membereskan barang-barangnya. Setelah selesai, gadis itu memakai tas punggungnya dan menarik kopernya ke luar kamar.

Arisha mengikuti langkah Aliesha dari belakang. Begitu tiba di depan pintu, Arisha langsung terkekeh.

"Jadi sekarang lo mau minggat dari rumah ini? Kenapa gak dari dulu aja sih," katanya tersenyum cerah.

Aliesha memutar matanya malas. Naomi keluar dari mobil, kemudian membantu Aliesha memasukkan kopernya ke dalam bagasi.

"Ayo, Lis. Gak baik kalau terlalu lama di dekat nenek sihir. Ntar kita ketularan jelek," cibir Naomi mengajak Aliesha memasuki mobil.

Aliesha menutup mulutnya yang sedang tersenyum mengejek. Arisha mengepalkan tangannya kesal.

"Awas aja lo berdua," ancam Arisha sambil menunjuk mereka dengan jari telunjuknya.

Naomi menatap Arisha remeh. "Mau apa lo? Mau bully kita di sekolah? Wkwk, gak bisa say! Lo gak mampu," ejeknya.

Arisha melepas sendalnya, kemudian melemparkannya ke mobil Naomi yang sudah melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.

Di dalam mobil, Naomi dan Aliesha tertawa lepas. Menghindari keheningan, Naomi memutar musik dengan suara keras.

"Lis, kita ke toko buku dulu ya. Gue mau beli komik soalnya," pinta Naomi dengan wajah memelas.

Aliesha mengangguk sebagai jawaban. Tiba di toko buku, keduanya masuk ke dalam. Naomi pergi ke tempat buku komik terpajang, sedangkan Aliesha ke bagian novel.

Gadis itu melihat-lihat novel yang ada di sana. Sesekali tangannya mengambil buku yang kelihatan menarik untuk membaca sinopsisnya.

Entah itu adalah sebuah kebetulan atau memang sebuah takdir, mata Aliesha secara tidak sengaja melihat cover novel yang menurutnya familiar. Ia menghampiri rak yang memajang buku itu, kemudian menariknya.

Aliesha membaca sinopsis di belakang buku, matanya langsung membelalak melihat kalimat demi kalimat yang lebih dari sekedar familiar.

Pada saat itu, Naomi sudah berdiri di belakang Aliesha. Gadis itu menepuk bahunya yang membuat Aliesha terlonjak kaget.

"Naomi!" seru Aliesha sambil memegang dadanya.

"Lo kenapa, Lis? Kok kayak kaget gitu?" tanya Naomi heran.

Aliesha menggeleng. "Gak. Gak apa-apa kok."

Naomi melirik tangan Aliesha yang sedang memegang novel. Gadis itu mengambilnya dan membaca sinopsisnya.

"Lo kaget karena nama nih orang mirip sama nama lo ya?" tebak Naomi setelah menyadari bahwa pemeran utama dari novel itu juga memiliki nama Aliesha.

Aliesha mengangguk. "Menurut kamu aneh nggak?"

Naomi menggeleng. "Menurut gue sih biasa aja. Lagipula nama Aliesha bukan lo aja kok. Gue yakin masih banyak nama Aliesha di dunia ini," jawab Naomi realistis.

Aliesha merasa lega mendengar pendapat Naomi. "Aku mau beli novel ini deh," katanya seraya mengambil alih buku itu dari tangan Naomi.

Keduanya lalu berjalan menuju kasir. Setelah membayar, keduanya kembali ke mobil dan bersiap pulang ke rumah Naomi.

Rumah Naomi terbilang sangat besar, halamannya jauh lebih luas dibandingkan rumah Aliesha. Saat mereka sampai, sudah ada kepala pelayan yang menyambut mereka di depan pintu.

"Nona Naomi, kamar untuk Nona Aliesha sudah siap," lapor kepala pelayan pada Naomi.

"Makasih. Oh iya, tolong suruh pelayan pria bawakan koper Aliesha ke kamarnya ya," perintah Naomi. Gadis itu lalu mengajak Aliesha pergi melihat kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Naomi.

"Lihat deh, Lis. Desain kamarnya mirip sama kamar lo. Gue sengaja pakai desain ini biar lo betah tinggal di sini," jelas Naomi sumringah, jelas sekali ia sedang meminta pujian dari Aliesha.

Melihat kamar itu dipenuhi warna pink dan wallpaper Hello Kitty, raut wajah Aliesha terlihat kecewa. Gadis itu memijat pelipisnya yang tiba-tiba merasa pusing.

"Aku lupa bilang sama kamu, Nao. Aku udah gak suka warna pink lagi," ucap Aliesha dengan wajah lemas.

"Ihhh masa? Sejak kapan?" tanya Naomi tak percaya.

Gadis itu bergegas berlari ke lantai bawah untuk menemui kepala pelayan. Aliesha pun mengikuti dari belakang.

"Pak, kamar Aliesha tolong di desain ulang ya. Lis, lo mau kamar lo kayak gimana?" Naomi menatap Aliesha untuk meminta pendapatnya.

"Yang biasa aja, Nao. Asal gak warna pink," jawab Aliesha.

"Kamar Aliesha dibuat seelegan mungkin ya, Pak. Perpaduan warna putih sama gold kayaknya bagus deh," katanya yakin.

Aliesha hanya bisa pasrah membiarkan Naomi memilihkan desain kamarnya. Sembari menunggu kamarnya didesain ulang, Aliesha pergi ke halaman belakang dengan buku novel di tangannya.

Setelah duduk di ayunan, tangannya sibuk merobek plastik yang membungkus novel itu. Di dalam hatinya, Aliesha berdoa semoga apa yang dia perkirakan tidak benar.

Dengan perlahan, Aliesha membuka buku itu ke bagian prolog. Saat membaca isinya, jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Tangannya pun mulai gemetaran, suhu tubuhnya menjadi panas dingin.

Selesai membaca bagian prolog, Aliesha langsung skip ke biografi penulis. Di sana tertera nama email untuk menghubungi penulisnya. Dengan tangan gemetar, Aliesha mencatat email milik penulis novel tersebut.

Dengan tidak sabar, gadis itu mengirim pesan pada penulis untuk mengajaknya bertemu. Setelah menunggu selama lima belas menit dan belum juga mendapatkan balasan, Aliesha memilih untuk melanjutkan bacaannya.

Gadis itu membaca tiap bagian novel dengan sangat cermat. Menyadari isi di dalam novel itu sama persis dengan novel yang ia baca sebelum kematiannya, Aliesha menjadi yakin bahwa keduanya adalah novel yang sama.

Tapi, bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

"Lis!"

Panggilan Naomi sukses menyadarkan Aliesha dari lamunannya. Gadis itu menoleh, melihat Naomi sedang melambaikan tangan padanya.

"Kenapa?" tanya Aliesha ketika menghampiri gadis itu.

"Lapar gak? Kita makan dulu yuk! Udah waktunya makan siang nih," ajak Naomi.

Aliesha mengangguk. Keduanya berjalan menuju meja makan. Di sana sudah tersedia berbagai macam jenis makanan.

"Ini cuma buat kita berdua?" tanya Aliesha takjub.

Sejak jiwanya memasuki tubuh Aliesha, ia belum pernah makan makanan mewah itu lagi. Hal itu tentunya membuatnya ingin segera melahap habis makanan yang ada di atas meja.

"Ya iyalah, Lis. Emang buat siapa lagi selain kita?" balas Naomi sambil menggelengkan kepala.

Aliesha hanya cengengesan sebagai tanggapan. Tanpa basa-basi lagi, Aliesha duduk di kursi meja makan. Gadis itu meletakkan apa saja yang menurutnya enak ke dalam piringnya.

Tanpa malu-malu, ia memakan semua makanannya sampai habis. Naomi yang sudah terbiasa melihat sosok Aliesha yang anggun dan elegan terkejut melihat sosok Aliesha yang berbeda hari itu.

"Pelan-pelan, Lis. Jangan sampai tersedak," pesan Naomi yang merasa khawatir dengan perubahan Aliesha.

Aliesha tidak peduli dengan perkataan Naomi. Memang begitulah ia saat makan. Dulu saat di kehidupan sebelumnya, ia harus berpura-pura elegan ketika kakeknya mengajaknya makan malam.

Kini, ia bisa bebas mengekspresikan dirinya sendiri. Hal itu membuatnya tampak lebih bahagia. Apalagi setelah menjadi Aliesha, banyak sekali orang yang peduli padanya.

Ia jadi tidak harus memikirkan cara membully orang untuk menarik perhatian kakeknya, ia juga tidak perlu menjaga sikapnya saat sedang makan.

Ternyata hidup menjadi orang lain jauh lebih menyenangkan daripada menjadi dirinya sendiri. Walau terkadang, sangat melelahkan berpura-pura polos seperti Aliesha yang asli.

"Habis makan kok bawaannya jadi pengen tidur ya," ujar Aliesha dengan mata sayu.

Naomi terkekeh. "Gimana gak pengen tidur, orang lo aja makannya sampai kekenyangan gitu."

Aliesha mempoutkan bibirnya manja. Sikap aslinya mulai keluar.

"Pengen tidur," rengeknya.

Naomi menggeleng melihat sisi lain dari Aliesha. Gadis itu menuntun Aliesha ke kamarnya sendiri karena kamar Aliesha masih direnovasi.

"Untuk sementara lo tidur dulu di sini. Lo bisa pindah ntar malam," kata Naomi menjelaskan.

Aliesha mengangguk patuh. Gadis itu langsung jatuh tertidur ketika tubuhnya merasakan kasur yang empuk.

Melihat novel yang tadi Aliesha beli masih ia pegang bahkan dalam tidurnya, Naomi berinisiatif mengambilnya untuk ia letakkan di atas nakas. Karena penasaran, Naomi mengintip isinya terlebih dahulu.

Alisnya berkerut saat melihat isinya hanya ada tulisan di sana. Naomi yang merupakan pecinta komik terlalu malas membaca buku yang tidak ada gambarnya. Dengan wajah malas, gadis itu meletakkan novel milik Aliesha ke nakas sebelum gadis itu keluar dari kamar.