Chapter 14: 13. Kesepakatan Aliesha dan Arisha

Aliesha The ProtagonistWords: 9399

Senin kembali menyapa. Hari itu, mata pelajaran pertama adalah fisika. Selama guru mengajar, Aliesha tidak bisa fokus karena pikirannya sibuk melalang buana ke email yang ia terima tadi malam.

Penulis novel yang ia hubungi sudah membalas emailnya. Tempat dan waktu janjian sudah ditentukan. Aliesha sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan penulis itu.

Ia penasaran kenapa novel itu bisa dijual di dunia yang ia pikir adalah dunia novel. Jika penulis novel itu sama dengan penulis dari dunia asalnya, besar kemungkinan ia bukan bertransmigrasi ke dunia novel.

Lantas, di dunia manakah ia berada sekarang? Di dunia novelkah? Atau dunia nyata? Di mana juga jiwa Aliesha yang asli?

Apakah sosok Aliesha bukan sekedar cerita fiksi? Mungkinkah Aliesha adalah manusia nyata yang hidup di bumi?

Lalu, bagaimana dengan tubuh aslinya? Apakah sudah mati? Atau, mungkinkah jiwa Aliesha berpindah ke tubuhnya?

Semua pertanyaan itu sangat membingungkan. Aliesha merasa seperti dirinya berada di dalam sebuah labirin pertanyaan. Tidak ada jawaban akhir yang bisa ia dapatkan.

Aliesha menarik napas panjang, gadis itu merebahkan kepalanya di atas meja. Sambil menatap ke papan tulis, Aliesha berusaha fokus pada pelajaran yang sedang diajarkan.

Apalagi, baru saja diumumkan bahwa penilaian akhir semester akan dilaksanakan tidak lama lagi. Ia harus belajar agar nilainya tidak anjlok. Walau ia pintar, ia tidak bisa menganggap remeh pelajaran.

"Baiklah, semuanya. Siapkan kertas dan pena di atas meja. Simpan tas kalian di depan kelas. Kita akan mengadakan kuis sekarang," ucap guru yang mengajar.

Keluh kesah murid-murid mulai terdengar. Walau begitu, mereka dengan patuh melakukan perintah guru itu.

Setelah semuanya selesai, guru membacakan soal, sedangkan para murid menuliskan jawaban di kertas mereka.

Aliesha mengerjakan kuis yang diberikan dengan wajah santai. Ia yang memang terlahir sebagai siswa jenius tentu saja bisa mengerjakan soal itu walau sebelumnya tidak fokus dengan pelajaran yang guru ajarkan.

Begitu bel istirahat berbunyi, banyak siswa dan siswi mengeluh karena mereka belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang diberikan. Guru sampai harus berteriak berulang kali agar mereka mau mengumpulkan kertas mereka.

"Lis, tadi lo isi semua gak?" tanya Naomi. Wajah gadis itu terlihat lemas, ia yakin sekali nilainya tidak akan memuaskan.

"Iya."

Jawaban Aliesha sontak saja membuat wajah Naomi terlihat semakin menyedihkan. Gadis itu meraih tangan Aliesha.

"Lis, setelah ini lo harus ajarin gue pelajaran fisika. Gue gak mau tahu," katanya menuntut.

Aliesha hanya bisa tersenyum. Dari arah pintu, Farzan dan kawan-kawan masuk ke kelas mereka.

"Lis, ke kantin yuk!" ajak Farzan dan Farrel berbarengan.

Aliesha menoleh. "Oke."

Ia lalu menarik tangan Naomi agar gadis itu berdiri. Sekelompok orang itupun berjalan beriringan menuju kantin.

Ini adalah pertama kalinya Naomi bergabung bersama Farzan dan kawan-kawan. Sebab itulah, gadis itu terus saja menempel pada Aliesha karena tidak terbiasa.

"Kalian mau pesan apa, guys? Biar gue yang pesanin," kata Farrel saat semua orang sudah duduk di bangku.

"Gue nasi goreng sama es teh aja," kata Farzan.

"Gue bakso, minumnya air putih," sahut Keenan.

"Samain sama Keenan," timpal Kenzie.

Tatapan Farrel kini beralih pada Aliesha dan Naomi.

"Aku juga samain aja sama Kenzie dan Keenan," ucap Aliesha.

"Lo?" Farrel menatap Naomi lama. Pasalnya, gadis itu belum juga menyebutkan pesanannya dalam kurun waktu satu menit.

"Eh, um. Gue samain sama Aliesha aja deh," jawab Naomi gugup.

Farrel mengangguk. Pria itu lalu pergi memesan untuk mereka berenam. Selesai memesan, pria itu kembali ke meja mereka.

Tak berapa lama, pesanan mereka akhirnya datang. Tidak ada diantara mereka yang berbicara saat makan. Pada saat itu, semuanya kaget ketika percikan air mengenai pakaian mereka.

"Ahhhhh anj*ng!" jerit Naomi yang langsung berdiri karena seragamnya hampir basah semua.

Gadis itu lalu memeriksa Aliesha yang sudah basah kuyup. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada orang yang menyiramnya dan Aliesha.

"Lo gila ya? Lo gak lihat kita lagi makan?!" Naomi berteriak nyaring.

Farzan yang duduk bersebelahan dengan Aliesha melihat kondisi gadis itu dengan tatapan kaget, pria itu lalu menatap Arisha tajam.

Tidak merasa bersalah, Arisha malah berkacak pinggang di depan mereka.

"Ini balasan buat kalian atas kejadian kemarin," ujar Arisha santai.

"Lo!" Naomi mengepalkan tangannya kuat.

Saat gadis itu akan menghampiri Arisha, Aliesha dengan tenang meraih tangannya untuk menghentikannya.

Ia lalu menatap Arisha dengan wajah datar. "Ris, kamu tahu apa yang kamu lakuin ini salah?"

Arisha terkekeh. "Kenapa? Lo gak suka?"

"Ris!" bentak Farzan saat pria itu menggebrak meja. Hal itu membuat Arisha kaget.

"Apa?!" balasnya berteriak.

"Lo itu sebenarnya kenapa? Kenapa lo benci banget sama saudara lo sendiri?!" tanya Farzan emosi.

Arisha menghapus air matanya yang jatuh tanpa aba-aba. "Lo tanya kenapa gue bisa benci sama nih orang? Gue benci dia karena dia udah ngerebut orang-orang yang gue sayang!"

"Dia ngerebut bokap gue! Dia ngerebut lo, cowok yang gue suka!" serunya lantang.

Farzan menggeleng. "Sejak kapan dia ngerebut gue dari lo?! Gue ini bukan milik lo, Ris! Harusnya lo sadar diri dan gak berharap sama gue!"

"Gue-" Arisha merasa tertohok mendengar ucapan Farzan. Gadis itu menunduk, air matanya kembali bercucuran. Tidak tahan lagi, gadis itu langsung berlari ke luar kantin.

"Lis, kamu gak apa-apa kan?" tanya Farzan khawatir. Pria itu memeriksa tubuh Aliesha dari atas sampai bawah.

Melihat seragam Aliesha sudah melekat di tubuhnya dan menunjukkan lekuk tubuhnya yang seharusnya tidak boleh dilihat, Farzan langsung melirik Kenzie yang duduk di seberangnya.

Kenzie yang memang memiliki kebiasaan memakai sweater ke sekolah bergegas melepas sweaternya untuk diberikan pada gadis itu.

"Kamu pakai ini dulu ya? Jangan sampai ada cowok mesum yang lihat badan kamu," katanya seraya memakaikan sweater Kenzie pada Aliesha.

Farzan kemudian melirik Naomi. Syukurlah kondisi gadis itu tidak terlalu mengkhawatirkan. Setelah membayar makanan mereka, Farzan dan kawan-kawan mengantarkan Aliesha dan Naomi kembali ke kelas mereka.

Bagas yang sebelumnya tidak pergi ke kantin karena sedang dipanggil oleh guru menghampiri kedua gadis itu dengan mata melotot.

"Kalian kenapa? Wahh, orang sialan mana yang lakuin hal ini sama kalian?" katanya dengan gayanya yang sok.

Naomi melambaikan tangannya di depan wajah Bagas.

"Gak usah lebay! Orangnya udah nangis dipojokan," jawab Naomi dengan nada mengejek.

Aliesha menepuk bahu Naomi pelan. "Gak boleh gitu," peringatnya dengan tatapan datar.

Naomi mencebikkan bibirnya kesal. Gadis itu dengan patuh duduk di bangkunya, menatap Aliesha sambil bertopang dagu.

"Lis, lo gak marah sama dia? Dia kan udah jahatin lo."

Aliesha menggeleng. "Gue gak berhak benci sama siapapun," jawabnya singkat.

Aliesha kemudian beranjak ke luar kelas. Bagas dan Naomi bertukar pandang, merasa bingung dengan maksud ucapan Aliesha barusan.

***

Aliesha pergi ke toilet cewek di lantai tiga. Toilet itu sangat jarang dikunjungi siswi perempuan di sekolah itu, namun menjadi tempat Arisha meluapkan rasa sedihnya.

Sesampainya ia di sana, Aliesha pun masuk ke dalam. Ia lalu membuka bilik toilet satu per satu. Tiba di bilik terakhir, ia tidak bisa membukanya karena terkunci dari dalam.

"Ris, gue tahu lo ada di dalam. Buka pintunya, Ris!"

Tidak kunjung dibuka, Aliesha mengetuk pintunya sampai suara ketukan itu bergema di dalam toilet.

"Dalam hitungan ketiga kalau lo gak buka, gue bakal dobrak nih pintu," ancamnya.

"Satu,"

Arisha yang berada di dalam bilik toilet dengan cepat menyeka air matanya. Walau begitu, matanya yang merah dan bengkak tidak bisa menutupi bahwa dia baru saja menangis.

"Dua,"

Arisha membuka pintu bilik dengan keras. Gadis itu menatap Aliesha tajam.

"Mau apa lo ke sini? Mau ngejek gue? Lo seneng kan lihat gue menderita?!"

"Gue mau ngomong sesuatu sama lo," ucap Aliesha tanpa menghiraukan perkataan Arisha padanya.

Arisha terkekeh. "Mau ngomongin apa lo sama gue? Kalau lo mau ketawa ya ketawa aja! Gak usah lo sok bersimpati sama gue."

"Gue serius, Ris. Lo mau gue pergi dari hidup lo kan?"

Perkataan Aliesha sukses menarik minat Arisha. Gadis itu keluar dari bilik toilet untuk menghampiri Aliesha.

"Lo serius?" tanya Arisha tak percaya. Gadis itu memegang pundak Aliesha, mencengkeramnya kuat.

Aliesha mengangguk. "Yap, gue serius," katanya lagi.

"Kapan lo pergi dari hidup gue?" tanya Arisha antusias.

"Gak lama lagi. Lo hanya perlu nunggu sampai kenaikan kelas. Setelah itu, lo gak bakal lihat gue lagi."

Arisha menyipitkan matanya. "Gue percaya sama omongan lo. Apa jaminannya kalau lo gak pergi dari hidup gue?"

"Gue bakal biarin lo bunuh gue, dan gue gak bakal ngelawan, Ris. Tapi seperti permintaan gue terakhir kali, gue mau lo berhenti bully gue. Entah itu di sekolah maupun di rumah."

"Lo gak bakal bohongin gue kan?" tanya Arisha lagi untuk memastikan. Sungguh sulit dipercaya bahwa Aliesha bersedia pergi begitu saja.

"Gue serius. Tapi kali ini, lo harus penuhi permintaan gue." Aliesha menatap Arisha dalam.

Arisha mengangguk. "Oke. Gue janji gak bakal bully lo lagi. Tapi, berani lo bohongin gue, gue bakal bunuh lo seperti yang lo bilang barusan."

Keduanya lalu berjabat tangan sebagai bentuk kesepakatan. Tanpa basa-basi lagi, Aliesha langsung pergi dari sana karena bel masuk sudah berbunyi.