Aliesha bertemu dengan penulis sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan, yaitu di cafe pada pukul empat sore.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekitar begitu ia sampai di cafe. Melihat seseorang melambaikan tangan padanya, gadis itupun segera menghampiri orang itu.
"Apakah Anda Aliesha, orang yang menghubungi saya lewat email?" tanya orang itu to the point setelah Aliesha duduk di depannya.
Tanpa basa-basi, Aliesha menganggukkan kepalanya. "Apakah Anda yang menulis novel ini?" tanyanya seraya meletakkan novel yang ia beli kemarin di atas meja.
Penulis itu melirik novel itu sekilas, kemudian mengangguk.
"Benar. Saya yang menulis novel ini. Apakah ada masalah dengan novel yang saya buat?"
Aliesha menggeleng. "Tidak. Hanya saja, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan."
"Apa itu?"
"Pertama, apakah cerita ini murni karya asli Anda?"
Aliesha menatap orang di depannya cukup lama. Menurut informasi yang ia dapatkan dari novel, penulis itu berusia sekitar empat puluhan, yang berarti seusia dengan mama Yanti.
Tapi, penulis asli yang ia kenal seharusnya memiliki usia yang sama dengannya. Walaupun pada saat itu ia membaca novel itu di sebuah platform online, ia tahu wajah penulisnya karena sempat mengikutinya di media sosial.
Sedangkan orang di depannya, Aliesha tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena wanita itu memakai kacamata dan kain penutup kepala.
Wanita itu merasa tersinggung dengan pertanyaan yang Aliesha ajukan. Baru saja ia akan memarahi anak muda di depannya, seorang pelayan sudah datang ke meja mereka.
"Permisi, silahkan dilihat menunya," kata pelayan itu sopan, sambil memberikan daftar menu untuk mereka berdua.
"Saya pesan hazelnut latte satu," ujar sang penulis.
"Saya bubble green tea mbak," sahut Aliesha mengikuti.
Setelah pelayan pergi, penulis itu menatap Aliesha tajam. "Apa maksud pertanyaan kamu tadi? Kamu pikir saya memplagiat karya orang lain, begitu?"
Aliesha membalas tatapan penulis itu dengan wajah datar. "Bukan itu maksud saya. Tapi, jika Anda berpikir seperti itu, saya tidak bisa mengatakan apa-apa," katanya sambil mengangkat bahu.
Penulis itu menarik napas panjang. Ia tidak boleh kalah dari bocah ingusan di depannya, begitulah pikirnya.
Dengan tenang dia bertanya, "Kenapa kamu bisa berpikir bahwa saya bukanlah penulis asli dari novel ini?"
"Karena saya kenal dengan penulis aslinya," jawab Aliesha penuh percaya diri.
Penulis di depannya mengerutkan keningnya. Wanita itu mengangkat kacamatanya ke atas.
"Benarkah? Seperti apa dia?" tanya wanita itu lagi.
Aliesha berusaha mengingat kembali seperti apa rupa penulis yang ia maksud. Karena tidak bisa mengingatnya dengan jelas, gadis itu mengeluarkan hp dari tas selempangnya.
Ia mencari akun penulis itu di media sosial. Gadis itu mengutuk di dalam hati saat melihat akun itu terdaftar di sana.
'Njir! Kok bisa ada? Berarti ini di dunia nyata ya?' batinnya bertanya-tanya.
Aliesha membuka profil akun itu, seketika senyumnya mengembang saat melihat akun itu masih sama seperti terakhir kali ia lihat ketika masih berada di tubuh lamanya.
Menekan salah satu foto, gadis itu memperlihatkannya pada wanita di depannya.
"Ini adalah penulis asli dari novel ini," ucapnya yakin.
Wanita paruh baya di depannya kembali mengangkat kacamatanya ke atas untuk melihat dengan jelas foto yang Aliesha perlihatkan.
Hanya dalam waktu sepuluh detik, tawa wanita paruh baya itu pecah seketika. Aliesha mengangkat sebelah alisnya melihat wanita itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Kok ketawa?" Aliesha menggebrak meja untuk menghentikan tawa wanita itu.
Terlihat tidak sopan memang, namun begitulah ia ketika sedang marah.
Wanita itu menghentikan tawanya, kemudian dengan tenang melepaskan kain yang menutupi kepalanya dan kacamata yang ia pakai.
Wanita paruh baya itu merapikan rambutnya, juga sesekali melihat wajahnya di cermin.
"Bagaimana? Bukankah saya dan perempuan yang ada di foto itu kelihatan mirip?" tanyanya dengan senyum elegan.
Aliesha melihat wanita di depannya dan foto yang ada di hpnya bergantian. Gadis itu menutup mulutnya dengan tatapan tak percaya.
"Maksudnya, dia ini anak Tante ya?" tanya Aliesha kaget.
Wanita itu yang awalnya tersenyum lebar kini memiliki wajah datar. Ia menatap Aliesha malas.
"Emangnya saya kelihatan seperti ibu-ibu yang sudah punya anak sebesar itu?"
Aliesha mengangguk tanpa dosa. Menurutnya, apa yang ia pikirkan tidak salah. Lihatlah mama Yanti yang masih kelihatan muda namun memiliki anak sebesar dia.
"Saya ini bahkan belum menikah, tahu?!" Wanita itu jelas terlihat marah.
Untungnya, pelayan datang dan membawakan pesanan mereka.
"Minum dulu, Tan. Biar gak emosi," ujar Aliesha tersenyum manis.
Wanita itu mengikuti instruksi Aliesha tanpa ia sadari. Setelah cukup tenang, Aliesha kembali membuka suara.
"Kalau dia bukan anak Tante, trus dia siapa? Kok kalian mirip?"
Wanita paruh baya itu memutar matanya malas. "Itu saya," jawabnya jutek.
"Hah? Kok bisa? Dia kan masih muda," balas Aliesha tak percaya.
Wanita itu menarik napas panjang lagi agar emosinya tidak terpancing. Ia lalu mengeluarkan hpnya dan membuka akun media sosial yang ia miliki.
"Lihat sendiri," katanya sembari menyerahkan hpnya pada Aliesha.
Aliesha melihat isi hp itu dengan mata membulat. Ia sampai mengucek matanya berkali-kali untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lihat benar adanya.
"Tapi, yang di foto kan masih muda. Sedangkan Tante-"
Aliesha menggantung ucapannya, matanya menatap wanita di depannya dengan tatapan nanar.
Untuk kesekian kalinya, wanita paruh baya itu lagi-lagi menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.
"Itu foto diri saya saat masih muda. Tentu saja, semakin bertambah usia, kecantikan saya pun akan semakin berkurang. Saya mulai memiliki sedikit keriput di beberapa bagian wajah saya," jelas wanita itu panjang lebar.
Aliesha terdiam, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan. Gadis itu menyesap minumannya, sesekali memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Kalau gitu, apa Tante seorang cenayang?" tanya Aliesha dengan wajah pasrah.
Wanita di depannya mengerutkan alis tidak mengerti. "Maksud kamu?"
"Tante tahu kan nama saya Aliesha?"
Wanita itu mengangguk. "Trus?"
"Saya punya empat ksatria yang melindungi saya di sekolah, sama seperti isi novel yang Tante buat," katanya yang sontak saja mendapat tatapan tak percaya dari sang penulis.
"Beneran?"
Aliesha mengangguk. "Iya. Saya juga punya saudara tiri, namanya Arisha."
Mata penulis itu melotot saking kagetnya. Ia tidak menyangka tulisannya akan terjadi di dunia nyata.
"Berarti, kamu sering dibully sama saudara tiri kamu?" tanya penulis itu merasa prihatin.
Aliesha mengangguk lagi. "Iya."
Seketika hening. Penulis itu tidak tahu harus berkata apa, begitu juga dengan Aliesha.
"Jadi, ini alasan kamu minta bertemu dengan saya secara pribadi?" tanya wanita itu memecah kesunyian.
Aliesha mengangguk. "Iya," jawabnya.
"Saya tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi, saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya seorang penulis, bukan cenayang. Jika kamu tidak meminta bertemu dengan saya, saya tidak akan tahu bahwa ternyata novel saya telah terjadi di dunia nyata," ucap penulis panik.
"Saya tahu. Terima kasih karena sudah mau bertemu dengan saya," kata Aliesha tulus.
Penulis itu hanya bisa mengangguk. Keduanya lalu saling bertukar nomor sebelum pulang. Aliesha kembali ke rumah Naomi. Gadis itu duduk termenung di kamarnya yang tidak lagi berwarna pink.
Sekarang ia yakin, ia tidak bertransmigrasi ke dunia novel. Jika memang benar begitu, ia harus segera mencari tahu bagaimana keadaan tubuh aslinya. Apakah sudah mati, ataukah masih hidup.
Ia juga harus memastikan di mana jiwa Aliesha yang asli sekarang. Serta alasan mengapa jiwanya bisa masuk ke tubuh Aliesha.
"Lis."
Aliesha menoleh, melihat pada Naomi yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Hm?" Aliesha mengangkat sebelah alisnya.
"Gue lihat lo kayak lemas gitu. Ada masalah ya?" tanya Naomi saat gadis itu duduk di tepi ranjang Aliesha.
Aliesha menggeleng. "Gak ada apa-apa kok. Aku cuma-"
"Aku kepikiran Arisha aja sendirian di rumah," lanjutnya berbohong.
Naomi tersenyum tipis. "Lo mau gue antar pulang?"
Aliesha menggeleng lagi. "Gak. Aku gak mau dibully lagi."
Naomi merangkul Aliesha ke dalam pelukannya. "Good. Harusnya dari dulu lo kayak gini, Lis."
'Sayangnya gue bukan Aliesha yang lo maksud, Naomi.' Aliesha membatin.
Naomi melepaskan pelukannya. "Daripada kita gak ngapa-ngapain di rumah, lo mau gak kalau kita makan malam di luar?"
Aliesha mengangguk. "Boleh," jawabnya sumringah.
"Kita ajak Bagas juga, boleh gak?"
"Iya, boleh. Tapi, aku ajak Farzan dan lainnya juga, boleh gak?"
Wajah Naomi seketika cemberut. "Kalau gitu, kita ajak Ratna, Syifa, Randy, sama Rizky juga. Boleh gak?"
"Gimana kalau kita ngajak teman sekelas, biar rame," balas Aliesha tak mau kalah.
Keduanya terdiam, kemudian mereka tertawa lepas. Dalam dua kehidupannya, baru kali ini Aliesha merasa benar-benar memiliki seorang teman.
Sekarang ia tahu bagaimana rasanya memiliki teman yang sefrekuensi. Gadis itu juga bisa merasakan pertemanan yang tulus saat bersama Naomi.
Rasanya ia ingin waktu berhenti. Ia ingin selalu seperti ini. Rasanya tidak ada beban di pundaknya. Ia juga tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.