Chapter 16: 15. Informasi Tak Terduga

Aliesha The ProtagonistWords: 9317

Hari telah berganti. Sudah waktunya bagi kelas X IPA 3 untuk melangsungkan pelajaran bahasa Inggris. Aliesha yang sudah duduk di bangkunya mengeluarkan buku paket bahasa Inggris dari dalam tas.

Miss Jena masuk ke dalam kelas dan pelajaran pun dimulai. Setelah mengambil absen, tiba saatnya bagi mereka untuk menampilkan drama mereka. Semuanya mulai menggabungkan meja dan duduk secara berkelompok.

Kelompok pertama maju terlebih dahulu. Mereka menampilkan drama Cinderella seperti dugaan. Sembari menunggu giliran, Aliesha bersama teman kelompoknya memulai latihan dengan suara kecil.

Tak berapa lama kemudian, suara tepuk tangan terdengar, rupanya kelompok satu sudah menyelesaikan pertunjukan mereka. Kini giliran kelompok Aliesha yang maju ke depan.

Setelah mengatur posisi dan saling menyemangati satu sama lain, Syifa mulai membaca narasinya.

"Long ago and far away, in a village high on a mountaintop, something amazing was occurring. At the very same moment, two identical baby girls were born! One, a baby princess. The king and queen were overjoyed. Princess Anneliese would have only the finest. The second baby girl was named Erika. Her parents loved her every bit as much as the king and queen loved the princess, but they worried. They were so poor. How would they be able to care for their little daughter?"

Begitu narasi selesai dibacakan, Aliesha berdiri di atas panggung kecil di depan kelas layaknya seorang putri. Ratna serta Rizky berperan ganda sebagai pelayan yang melayani di sisinya. Bagas yang berperan ganda sebagai kepala pelayan masuk dan memulai dialognya.

"Hoo! We're late, late, late! We have twenty, maximum, twenty-two minutes, for your royal fitting! And then it's move, move, move to your speech at the Historical Society! After that we have to rush, and I mean, rush, to the Horticultural Society Tea! Oh, and then there's your math lessons, your geography lessons, your science lessons..."

Aliesha bertindak seolah tidak mendengarkan perkataan Bagas. Gadis itu maju ke depan dan mulai bernyanyi seperti di film Barbie.

Aliesha yang memiliki suara yang lembut dan khas, ditambah dengan skill-nya saat bernyanyi membuatnya terlihat semakin menakjubkan. Naomi pun tidak kalah hebatnya dengan Aliesha. Keduanya saling bersahut-sahutan saat bernyanyi, tentunya di dua tempat yang berbeda.

Aliesha berdiri di atas panggung sedangkan Naomi berdiri di pojok depan kelas. Pertunjukan terus berlanjut sampai Aliesha yang berperan sebagai putri Anneliese dipertemukan dengan Naomi yang berperan sebagai Erika untuk pertama kalinya.

"What a beautiful song," puji Aliesha setelah mendengar Naomi bernyanyi.

"Thanks. My mom taught it... to... me. Whoa!" Naomi berseru kaget saat melihat wajah Aliesha.

"We could be sisters." Aliesha juga tercengang melihat wajah Naomi, seolah-olah Naomi memiliki wajah yang sama dengannya.

"What's your name?" ucap keduanya secara bersamaan.

"You first." Naomi tersipu saat mengatakan itu.

"Please, call me Anneliese." Aliesha berkata dengan anggun.

Naomi menutup mulutnya terkejut. "Anneliese? You have the same name as the princess."

"Well..." Aliesha tersenyum tipis.

"Oh. I'm Erika, Your Highness." Naomi sedikit membungkuk saat memperkenalkan dirinya.

Semua orang yang menonton tampak serius memperhatikan mereka. Bahkan ada yang berbisik-bisik membicarakan betapa luar biasanya mereka saat berbicara menggunakan bahasa Inggris.

Ketika kelompok Aliesha menyelesaikan pertunjukan, suara tepuk tangan terdengar menggelegar sampai ke kelas lain.

"Good job everyone! Please return to your seats!" puji Miss Jena tersenyum bangga.

Kelas berlanjut sampai bel istirahat berbunyi. Aliesha beserta teman kelompoknya pergi ke kantin bersama-sama.

"Thanks, guys! Penampilan kita tadi tuh keren abis, terutama untuk pemeran utama kita, Aliesha dan Naomi!" seru Syifa sambil bertepuk tangan dan diikuti oleh yang lainnya.

"Karena semuanya berjalan lancar, gue bakal traktir kalian semua. Terserah kalian mau pesan apa aja, biar gue yang bayar semuanya," ucap Bagas saat pria itu mengeluarkan dompetnya.

Randy dan Rizky bersorak senang sembari memukul punggung pria itu yang membuatnya tertawa lebar.

"Bisa aja nih si Bagas. Pasti mau curi perhatiannya Aliesha, bener nggak?" kata Ratna menyenggol lengan Aliesha pelan.

Bagas mendelik, namun telinganya yang memerah tidak bisa menutupi kebenaran.

"Wkwk, bener banget tuh. Tapi berhubung dapat makanan gratis, siapa coba yang bakal nolak, iya nggak?" timpal Syifa sembari tertawa.

Semua orang yang ada di meja itu ikut tertawa, tentunya kecuali Bagas dan Aliesha. Setelah memesan, ketujuh orang itu makan dalam suasana hati yang bahagia.

Farzan dan kawan-kawan yang baru saja sampai di kantin menghampiri meja mereka.

"Kita boleh gabung gak?" tanya Farzan basa-basi.

Bagas adalah orang yang mengangkat kepalanya duluan. Pria itu mengangkat sebelah alisnya saat menatap Farzan.

"Lo gak lihat kalau mejanya udah penuh?"

"Gue lagi gak ngomong sama lo!" balas Farzan ketus.

"Lis, kita boleh gabung kan?" Farzan menatap Aliesha penuh harap.

Aliesha menoleh, menatap Farzan bingung. Ia lalu melihat ke sekitar dan menyadari bahwa meja mereka memang sudah penuh. Gadis itu lalu menggeleng ke arah Farzan.

"Cari meja lain aja ya, Zan. Meja ini emang udah penuh."

"Heh, lo! Makanan lo udah habis kan?" tanya Farrel saat pria itu menepuk pundak Rizky.

Rizky menoleh. Pria itu melirik makanannya yang masih tersisa banyak, kemudian menggeleng.

"Gue tahu mata lo masih bagus. Harusnya lo bisa lihat kan nih makanan masih banyak?" Rizky menatap Farrel malas.

"Wahhh nyolot nih anak," kata Farrel kesal.

"Kalau kalian mau berantem, ke lapangan aja sana. Jangan di sini," ucap Syifa yang merasa risih dengan perdebatan mereka.

"Ehh, ada Syifa ternyata. Apa kabar?"

Syifa melirik Keenan melalui ekor matanya. Gadis itu lalu mendengus sebelum lanjut memakan makanannya.

"Zan," panggil Aliesha pelan.

Farzan menoleh. "Iya, Lis?"

"Mending kamu sama yang lain cari meja lain deh. Bentar lagi bel masuk."

Farzan melirik jam di pergelangan tangannya. Pria itu menepuk jidatnya, kemudian mengajak teman-temannya duduk di meja yang berseberangan dengan meja Aliesha.

"Temen lo aneh deh, Lis," komentar Bagas dengan suara kecil.

"Iya. Mau makan aja pake drama dulu kek cewek," tambah Syifa menanggapi.

"Ho'oh. Mana pake acara pura-pura buta lagi," timpal Rizky jengkel.

"Sabar aja, Ki. Mungkin tuh orang emang buta beneran," hibur Randy sembari menepuk bahu Rizky pelan.

Aliesha hanya bisa tersenyum kecil. Gadis itu menunduk saat memakan makanannya. Naomi yang sedari tadi diam mengangkat suaranya.

"Gak usah ngegosip," katanya datar.

Hening seketika. Semuanya lalu sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Aliesha adalah orang pertama yang menghabiskan makanannya. Gadis itu langsung pamit pada teman-temannya karena ia harus pergi ke toilet.

"Mau gue antar gak, Lis?" tanya Naomi sebelum Aliesha pergi.

"Gak usah. Aku bisa sendiri kok," balas Aliesha tersenyum tipis.

Aliesha pun pergi ke toilet cewek di lantai satu. Setelah memenuhi panggilan alam, gadis itu mencuci tangannya di wastafel.

Setelah mengeringkan tangannya dengan tisu, gadis itu mengeluarkan hp dari saku roknya. Ia menjelajahi internet untuk melihat informasi tentang sekolahnya di kehidupan sebelumnya. Sekolah yang dibangun oleh kakeknya.

Karena ia benar-benar berada di dunia nyata, ia harus segera mencari tahu kondisi tubuhnya yang asli. Apakah sudah mati atau belum.

Setelah membaca informasi yang tertera, Aliesha memasukkan hpnya kembali ke sakunya. Gadis itu lalu berjalan menuju rooftop.

Pelajaran selanjutnya adalah bimbingan konseling, pelajaran yang tidak terlalu ia sukai. Aliesha duduk di dinding pembatas sembari menatap pemandangan kota yang dipenuhi kemacetan.

Menurut informasi yang tadi dia baca, sekolah yang dulunya bernama SMA Bakti Mulia kini telah berganti nama menjadi SMA Kivandra. Tidak ada alasan yang jelas mengapa nama sekolah itu diganti.

Setelah dipikir-pikir, nama Kivandra terasa familiar. Sedetik kemudian, mata Aliesha membulat menyadari Kivandra adalah nama belakang dari salah satu ksatrianya, yaitu Kenzie Kivandra.

Tapi, mengapa? Apakah kakeknya telah bangkrut sehingga sekolah itu telah berpindah tangan ke keluarga Kenzie?

Aliesha membuka hpnya lagi untuk mencari informasi lebih lanjut. Namun, tidak ada informasi apa-apa yang bisa ia dapatkan. Sepertinya, ia harus mencari tahu informasi itu sendiri.

Sudah diputuskan, ia akan pindah ke SMA Kivandra begitu kenaikan kelas. Ia harus melihat kondisi tubuhnya dan juga keadaan kakeknya.

Walau kakeknya tidak pernah memberikan kasih sayang yang ia butuhkan, beliau tetaplah kakeknya, orang yang merawatnya disaat ayah dan ibunya telah tiada.

Selain itu, ia harus tahu alasan nama sekolah itu telah diganti. Entah bagaimana, perasaannya menjadi tidak enak. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang buruk pada keluarganya.

Apalagi, ia harus mencari tahu siapa orang yang mendorongnya dari rooftop pada saat itu. Ia harus memberikan pelajaran yang setimpal pada orang yang mendorongnya, orang yang menyebabkannya mati sehingga ia bertransmigrasi ke tubuh Aliesha.

Aliesha menengadahkan kepalanya ke atas, melihat langit mendung yang tertutup awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Gadis itupun memutuskan untuk kembali ke kelas walau ia tahu pelajaran sudah dimulai sejak tadi.