Aliesha bersama Naomi dan Bagas berjalan menuju parkiran karena bel pulang sudah berbunyi. Kebetulan sekali, mereka berpapasan dengan Farzan dan kawan-kawan.
Aliesha secara tidak sadar memandang ke arah Kenzie yang juga sedang menatapnya. Gadis itu tersenyum kecil, membuat Kenzie tertegun. Selang beberapa detik, pria itu membalas senyum Aliesha.
Farzan menyipitkan matanya saat melihat keduanya saling bertukar senyum. Pria itupun menyapa Aliesha untuk mengalihkan perhatiannya.
"Hai, Lis."
Aliesha menoleh. "Hai," balasnya singkat.
"Hari ini pulang bareng aku yuk!" ajak Farzan sembari menyodorkan helm untuk Aliesha.
Aliesha menggeleng. "Gak, Zan. Aku pulang sama Naomi."
"Rumah kalian kan gak searah, Lis." Farzan menatap Aliesha penuh tanya.
"Aliesha tinggal sama gue sekarang." Naomi yang berdiri di samping Aliesha menggantikan gadis itu untuk menjawab pertanyaan Farzan.
Farzan mengangkat sebelah alisnya. "Kok bisa?" tanyanya tak mengerti.
"Ya bisa dong. Kenapa gak bisa?" timpal Bagas sembari menunjukkan senyum menyebalkan yang membuat tangan Farzan gatal ingin memukul wajahnya.
"Kok lo suka banget nyari gara-gara sama gue?" Farzan menatap Bagas tajam. Rasanya seperti Bagas sengaja memancing emosinya.
Bagas menggaruk hidungnya yang sebenarnya tidak gatal. Pria itu membalas tatapan Farzan padanya.
"Perasaan gue gak nyari gara-gara sama lo deh. Lo kali yang terlalu kepedean," sangkalnya.
Farzan mengepalkan tinjunya erat. Sepertinya jika ia menghadapi Bagas lebih lama lagi, maka emosinya akan cepat tersulut.
Mengabaikan Bagas, Farzan kembali menatap Aliesha.
"Lis, udah lama kita gak main ke rumah Kenzie. Kamu mau ikut kita gak?" ajaknya lagi, namun dengan tujuan yang berbeda.
Aliesha merasa bahwa ini adalah kesempatannya untuk mencari informasi lebih lanjut terkait keluarga Kivandra. Baru saja ia akan menyetujui ajakan Farzan, Naomi yang berdiri di sampingnya sudah menolaknya duluan.
"Gak boleh! Enak aja. Kalau dia ikut sama kalian, yang ada malah cuma dia doang yang cewek di sana. Gak ada, gak ada!" Naomi menolak secara tegas.
Farzan menarik napas panjang untuk meredakan emosinya.
"Gini ya, Naomi. Gue ngajak Aliesha main ke rumah Kenzie buat ngumpul-ngumpul doang. Kalau lo mau ikut juga gak masalah kok, asalkan ada Aliesha juga di sana," jelas Farzan berusaha sabar.
"Emang lo mau ke sana, Lis?" Kali ini Naomi meminta pendapat Aliesha terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
Aliesha tentu saja menganggukkan kepalanya. Tidak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata.
Melihat Aliesha mengangguk, Naomi hanya bisa pasrah dan menerima ajakan Farzan. Aliesha bersama Naomi menggunakan mobil saat ke rumah Kenzie, sedangkan Farzan dan kawan-kawan mengendarai motor mereka masing-masing.
Bagas yang merasa dirinya tidak diajak memilih untuk pulang dan tidak mengikuti mereka. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, Aliesha dan lainnya sampai di rumah Kenzie.
Aliesha yang sebelumnya sudah sering melihat rumah besar dan mewah tampak terpana ketika melihat rumah Kenzie yang bahkan lebih besar dua kali lipat dibandingkan rumah Naomi.
Halaman rumah itu begitu luas, hampir seluas lapangan bola. Belum lagi jarak dari gerbang menuju pintu utama rumah itu, bisa makan waktu sepuluh menit untuk sampai di sana jika berjalan kaki.
Ketika turun dari mobil, Aliesha bisa melihat banyak sekali pelayan yang berdiri berjejer untuk menyambut kedatangan mereka. Semuanya menunduk hormat, tidak ada satu pelayan pun yang berani mengangkat kepalanya untuk melihat mereka.
Gadis itu jadi berpikir, pantas saja sekolah itu bisa menjadi milik keluarga Kivandra. Sepertinya, kekayaan yang dimiliki keluarga Kivandra lebih banyak dibandingkan milik kakeknya.
Kenzie adalah orang yang berjalan paling depan, memimpin mereka saat memasuki rumahnya. Tiba di ruang tamu, Aliesha menatap sekitar cukup lama.
Gadis itu tengah mengagumi interior rumah itu. Gayanya sangat elegan, juga mendominasi. Nuansanya sangat jauh berbeda dengan rumah Naomi, juga rumah kakeknya.
Ketika mereka duduk di sofa, pelayan telah menyiapkan teh terbaik untuk mereka nikmati. Ada juga berbagai cemilan yang tersedia di atas meja.
"Ken, gue ke kamar lo ya. Mau main PS," kata Farrel meminta izin.
Kenzie mengangguk. Keenan menatap Kenzie dengan senyum lebar. "Gue juga," katanya.
Kenzie mengangguk lagi. Di ruang tamu kini hanya tersisa Aliesha, Naomi, Farzan, dan Kenzie. Keempat orang itu terlihat sibuk dengan hp mereka masing-masing.
Aliesha sesekali melirik ke arah Kenzie. Ia sedang berpikir, bagaimana caranya ia bisa mendapatkan informasi terkait sekolah milik kakeknya yang kini telah menjadi milik orang lain.
Disaat Aliesha curi-curi pandang ke arah Kenzie, Naomi dan Farzan memerhatikan gadis itu dalam diam.
Menurut penglihatan mereka, sepertinya Aliesha sedang tertarik pada Kenzie. Tidak ada diantara keduanya yang menyukai kenyataan itu. Alasan Farzan jelas karena pria itu menyukai Aliesha.
Tapi, bagaimana dengan Naomi?
Di sisi lain, Kenzie juga menyadari tatapan Aliesha padanya. Dia hanya berpura-pura bermain hp, namun nyatanya ia sedang menahan rasa gugupnya.
Semua kesalahpahaman itu terjadi begitu saja. Aliesha tidak menyadari bahwa tindakannya telah menciptakan kesalahpahaman yang sulit dihilangkan di masa depan.
Setelah satu jam terlewat, Aliesha beranjak dari duduknya. Gadis itu melihat Kenzie tepat di manik matanya.
"Kenzie, arah toilet di mana ya?"
Kenzie mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Pria itu lalu memanggil pelayan perempuan untuk mengantar Aliesha ke toilet.
"Nona, mari saya antar," kata pelayan itu mengikuti perintah Kenzie.
Aliesha mengangguk. Gadis itu mengikuti pelayan itu sampai mereka tiba di toilet. Setelah pelayan tadi pergi, Aliesha tidak masuk ke toilet.
Gadis itu berdiri di depan pintu toilet sambil menggigit ibu jarinya. Ia harus memeriksa rumah itu untuk mendapatkan informasi.
Darimana ia harus memulai, ia pun tidak tahu. Rumah itu terdiri dari empat lantai. Sudah pasti kamar Kenzie tidak berada di lantai satu.
Setelah dipikir-pikir, ia harus mencari ruang kerja milik ayah Kenzie yang memiliki banyak dokumen penting di dalamnya. Ia hanya harus mencari surat kepemilikan atas sekolah yang semula milik kakeknya.
Tidak ingin membuang-buang waktu, Aliesha pun pergi ke tangga menuju lantai dua. Ia merasa bersyukur karena tangga itu membelakangi ruang tamu sehingga mereka yang ada di ruang tamu tidak bisa melihatnya ketika ia menaiki tangga.
Setelah memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya, gadis itu menaiki tangga dengan cara mengendap.
Tiba di lantai dua, ia membuka ruangan yang ada di sana untuk melihat isinya. Karena tidak ada apa-apa di sana, gadis itu beralih ke lantai tiga.
Ia bisa mendengar suara Farrel dan Keenan yang sedang berdebat di salah satu ruangan. Sepertinya itu adalah kamar Kenzie. Melewati kamar pria itu, Aliesha membuka pintu ruangan di sebelahnya.
Ternyata itu adalah kamar tidur. Gadis itu kemudian membuka ruangan yang lain. Matanya seketika berbinar melihat ruangan yang terlihat seperti ruang kerja.
Ada meja besar yang di atasnya terdapat laptop dan beberapa dokumen penting. Ada juga sofa yang sepertinya disediakan untuk tamu yang datang. Di belakang meja terdapat lemari berisi banyak sekali buku.
Dengan langkah pelan, Aliesha masuk ke ruangan itu. Gadis itu mencari dokumen berisi surat kepemilikan sekolah di setiap sudut ruangan. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati agar tidak mudah ketahuan.
Setelah mencari cukup lama, ia tidak menemukan dokumen itu. Karena sudah cukup lama ia pergi, ia harus segera kembali ke ruang tamu agar mereka tidak curiga padanya.
Aliesha tidak menyadari bahwa ada cctv di rumah itu. Di setiap sudut ruangan di rumah itu, terdapat cctv yang memantau pergerakannya.
Ketika Aliesha kembali ke ruang tamu, Naomi langsung menghampirinya.
"Kok lama banget, Lis?" tanyanya khawatir. Ia takut Aliesha akan tersesat di rumah itu.
"Hehe, tadi aku lupa arah kembali ke sini. Makanya lama," alibinya.
Naomi mengangguk mengerti. "Kita pulang, yuk! Bentar lagi malam," ajak Naomi cepat.
Tanpa pikir panjang, Aliesha langsung mengiyakan. Gadis itu menoleh pada Farzan dan Kenzie.
"Aku pulang dulu ya. Kita ketemu lagi besok di sekolah," pamitnya sembari tersenyum manis.
Kenzie dengan cepat memegang tangan Aliesha untuk menghentikan langkahnya.
"Gak makan malam dulu Lis? Kita bisa makan malam bareng sebelum kamu pulang," katanya.
Aliesha melirik Naomi, meminta tolong pada gadis itu. Seolah tahu maksud Aliesha, Naomi dengan paksa melepaskan tangan Aliesha dari genggaman Kenzie.
"Gue sama Aliesha bisa makan di rumah gue. Lo gak perlu khawatir sama dia." Naomi berucap dingin.
Kenzie menatap Naomi datar. Jika biasanya Farzan akan memohon Aliesha untuk tetap tinggal, kali ini pria itu tidak menentang tindakan Naomi barusan. Ia takut semakin lama Aliesha berada disitu, besar kemungkinan gadis itu akan semakin menyukai Kenzie.
Ia dan Kenzie mungkin sahabat. Namun dalam hal cinta, ia tidak bisa merelakan cintanya untuk sahabatnya.
"Take care, guys. Besok kita ketemu lagi di sekolah," ucap Farzan sembari melambaikan tangannya.
Naomi mendengus melihat Farzan yang tampak bersemangat membiarkan mereka pergi. Tanpa basa-basi lagi, gadis itupun menarik tangan Aliesha dan membawanya pergi dari sana.