Chapter 18: 17. Luapan Emosi Arisha

Aliesha The ProtagonistWords: 9139

Arisha telah menepati janjinya. Gadis itu tidak pernah lagi datang mencari Aliesha untuk membully nya. Setiap kali mereka tidak sengaja berpapasan di sekolah, keduanya akan bersikap seolah-olah mereka tidak saling kenal.

Orang-orang yang berada di sekitar mereka merasa aneh karena Arisha tidak pernah membully Aliesha lagi. Salah satunya adalah Naomi yang kini sedang bersama Aliesha di lapangan.

Mereka sedang melakukan kerja bakti karena senin depan sudah diadakan penilaian akhir semester. Melihat Arisha berdiri tidak jauh dari posisi mereka, Naomi menyenggol lengan Aliesha pelan.

"Lis, beberapa hari ini Arisha kelihatan aneh gak sih?" bisiknya mulai ngegosip.

Aliesha mengangkat bahu. Gadis itu dengan tenang memungut sampah yang ia lihat di tanah.

"Gue serius. Dia kok gak pernah bully lo lagi ya," lanjut Naomi lagi.

Aliesha menatap Naomi malas. "Emang kamu mau kalau dia bully aku terus?"

"Bukan gitu! Cuma ya, aneh aja. Takutnya dia malah punya rencana yang lebih sadis dari sekedar bully doang."

"Kok gue juga ngerasa gitu ya?" timpal Bagas yang baru saja datang.

"Iya kan? Gue yakin banget dia punya rencana buruk di kepalanya dia." Naomi berkata yakin.

Bagas mengangguk setuju. Syifa, Ratna, Randy, dan Rizky yang selalu bersama menghampiri mereka.

"Kalian lagi ngomongin apa sampai serius gitu mukanya?" tanya Syifa sembari melirik ke arah tatapan Bagas dan Naomi.

Tiga orang lainnya juga ikut melihat ke arah yang sama. Begitu melihat Arisha, wajah mereka menjadi jelek seketika. Jiwa julid mereka langsung keluar.

"Oh, gue paham. Kalian pasti lagi ngomongin Arisha, iya kan?" tebak Syifa tepat pada sasaran.

"Kalian ngerasa gak sih kalau Arisha tuh gak punya teman? Gue lihat dia ke mana-mana selalu sendiri," ujar Ratna pelan.

"Gue juga ngerasa gitu. Keknya emang dia gak punya teman deh," sambung Randy.

Rizky dengan bijak merentangkan tangannya ke muka Ratna dan Randy.

"Gak boleh gitu, woy! Ntar kalau dia denger trus dia nangis gimana? Kalian mau tanggung jawab?" katanya dengan suara keras.

Pria itu lalu melirik ke arah Arisha, seolah sengaja membiarkan gadis itu mendengar ucapannya barusan. Bagas tertawa saat pria itu menepuk punggung Rizky.

"Kurang ajar lo, Ki. Jahat banget lo jadi orang."

Rizky merangkul Bagas dan berbisik ke telinganya. "Biarin, Gas. Tuh cewek lebih jahat daripada gue kok."

Kalimat yang diucapkan Rizky tadi masih bisa didengar oleh Aliesha dan lainnya, sebab suaranya tetap normal saat berbicara dengan Bagas.

Bagas menggosok kupingnya yang terasa geli karena nafas Rizky mengenai telinganya, belum lagi suaranya yang membuat telinganya sakit. Pria itu dengan cepat melepas rangkulan Rizky darinya.

"Geli banget, anjir! Jangan dekat-dekat lo, dasar homo!" umpatnya masih terus menggosok kupingnya.

Semuanya tertawa. Rizky menggeplak kepala Bagas setelah mendengar perkataan pria itu.

"Enak aja lo! Lo kali yang homo," balasnya kesal.

Pada saat itu, Arisha berjalan ke arah mereka. Gadis itu dengan kasar membuang sampah yang ia pungut ke kaki mereka.

"Lo ngomong apa barusan?" tanya Arisha dengan tatapan tajam. Gadis itu melihat mereka satu per satu, kemudian tatapannya berhenti pada Aliesha.

"Lis, gue udah gak ganggu lo sesuai permintaan lo. Harusnya lo bisa kan tutup mulut busuk teman-teman lo biar gak ngomongin gue lagi?"

"Jaga ya mulut lo!" Naomi menunjuk Arisha dengan jari telunjuknya.

Arisha dengan kasar membungkus telunjuk Naomi dengan tangannya.

"Kenapa? Lo pikir gue gak bisa denger suara kalian tadi, hah?! Kuping gue masih berfungsi, dan gue denger semua perkataan kalian!"

"Emang kenapa kalau gue gak punya teman? Ini hidup gue, gak ada urusannya sama lo-lo pada. Harusnya lo semua ngurusin hidup lo aja, gak usah ganggu hidup gue!"

"Lagipula, lo semua gak tahu kejadian apa yang gue alami selama ini. Kalian benci sama gue karena gue sering bully Aliesha, tapi kalian gak pernah tahu alasan dibalik semua perbuatan gue. Harusnya kalian gak usah ikut campur!"

Napas Arisha tampak memburu selesai ia memarahi mereka. Hatinya sakit tiap kali ia mendengar cibiran orang-orang untuknya.

Ia memang tidak memiliki teman sejak memasuki dunia SMA. Semua orang di kelasnya takut padanya karena ia sering membully Aliesha. Padahal niatnya jelas karena Aliesha telah merebut kebahagiaannya.

Bisa ia rasakan dengan jelas tidak ada seorangpun yang menyukainya di sekolah itu. Namun, ia berusaha tegar untuk tidak mendengarkan mereka. Ia selalu menulikan telinganya tiap kali ada orang yang membicarakannya.

Akan tetapi, ia tidak bisa membiarkannya kali ini karena yang berbicara adalah teman-teman Aliesha. Ia tidak terima karena keduanya telah membuat kesepakatan.

Menghadapi kemarahan Arisha, ketujuh orang itu menjadi terdiam. Mereka tertegun melihat Arisha berbicara begitu banyak. Biasanya, gadis itu tidak akan pernah membuang-buang waktunya untuk orang-orang yang berbicara buruk tentangnya.

Aliesha merasa perkataan Arisha ada benarnya. Ia adalah penyebab gadis itu menderita. Aliesha maju satu langkah mendekati gadis itu.

Ditepuknya pundak Arisha pelan. Gadis itu berkata, "Aku minta maaf, Ris. Seandainya Mamaku tidak menikah dengan Papamu, kamu pasti tidak akan menderita seperti sekarang."

Arisha menepis tangan Aliesha kasar. Gadis itu langsung berbalik pergi karena air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi.

Melihat tangan Aliesha ditepis begitu saja, Bagas dan lainnya menjadi marah.

"Wahhh,, kurang ajar tuh anak. Padahal tadi gue udah ngerasa bersalah, eh dianya malah bikin emosi," kata Bagas mewakili mereka yang ada di sana.

Naomi menatap Aliesha khawatir. "Lis," panggilnya.

Aliesha menoleh. Gadis itu tersenyum manis sampai matanya menyipit. Melihat senyumnya, mereka yang ada di sana merasa sedih untuknya.

"Lo yang sabar ya, Lis. Ini semua bukan salah lo kok," hibur Naomi sembari memegang tangan Aliesha erat.

"Iya. Apa yang terjadi sama dia gak ada hubungannya sama lo. Jadi lo gak usah kepikiran soal ini," tambah Syifa.

Yang lainnya mengangguk setuju. Aliesha hanya bisa tersenyum tanpa mengucapkan apa-apa. Gadis itu lanjut memungut sampah di sekitarnya.

Ia tidak sedih, tentu saja. Gadis itu malah tidak memasukkan kata-kata Arisha ke dalam hati. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya ia mendapatkan informasi tentang kakeknya, tubuh aslinya, dan sekolah milik kakeknya.

Sudah beberapa hari terlewat, namun ia masih belum bisa mendapatkan informasi apapun. Satu-satunya jalan yang bisa ia tempuh adalah dengan mendatangi sekolah milik kakeknya.

Ia harus pindah ke sekolah itu saat kenaikan kelas nanti. Selain itu, ia juga harus menyiapkan alasan yang masuk akal untuk dikatakan kepada Mama Yanti dan Papa Bimo.

Setelah kegiatan memungut sampah selesai, Aliesha melangkahkan kakinya menuju rooftop. Gadis itu duduk di sana sambil memikirkan banyak hal. Ketika ia mendengar bunyi decitan pintu, gadis itu menoleh.

Melihat sosok Farzan yang keluar dari pintu, Aliesha segera memalingkan wajahnya ke depan. Sejak kejadian di rumah Kenzie waktu itu, sikap Farzan padanya telah berubah.

Pria itu menjadi lebih posesif padanya. Setiap kali dia berpapasan dengan Farzan dan kawan-kawan, pria itu akan menyuruh teman-temannya pergi duluan.

Ia bersikap seolah ia takut Aliesha akan lebih dekat dengan Kenzie. Tanpa sepengetahuan siapapun, Farzan telah menjadikan Kenzie sebagai rival cintanya.

Pria itu juga bersikeras membonceng Aliesha ke sekolah walau ia tahu Naomi bisa saja mengantarnya. Kali inipun, Farzan pasti bergegas mencarinya ketika melihatnya tidak ada di kelas.

"Lis, kok sendirian di sini?" tanya Farzan saat pria itu duduk di samping Aliesha.

"Di sini jauh lebih tenang, Zan. Gak ada suara bising di sekitar," jawabnya sembari menatap langit.

"Em, Aliesha. Aku mau ngomong sesuatu."

Perkataan Farzan sukses membuat Aliesha menoleh. Gadis itu mengangkat kedua alisnya. "Ngomong aja, Zan."

"Itu-" Farzan memegang tengkuknya, pria itu kelihatan sedikit gugup.

"Hm?" Aliesha menatap Farzan dengan tatapan polosnya.

"Gak sekarang deh, Lis. Nanti aja ngomongnya." Farzan tersenyum kikuk.

Aliesha menelengkan kepalanya ke samping. "Kenapa gak sekarang aja?" tanyanya.

"Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat, Lis."

Aliesha mengangguk. "Um, oke."

Hening. Aliesha terus menatap ke arah langit sedangkan Farzan fokus melihat wajah gadis itu.

"Ada yang salah sama wajah aku ya, Zan?" tanya Aliesha ketika gadis itu menoleh.

Farzan yang tertangkap basah dengan cepat menutup setengah wajahnya menggunakan satu tangan.

"Gak ada kok, Lis. Aku cuma-"

"Hehe, aku cuma bercanda kok." Aliesha tertawa kecil.

Farzan ikut tertawa. Setelah beberapa saat, keheningan kembali terjadi. Rasanya canggung karena hanya ada mereka berdua.

Kalau ditanya apakah Aliesha punya perasaan khusus untuk Farzan, maka jawabannya adalah tidak. Gadis itu tidak sedang menyukai siapa-siapa. Semua pria yang ada di dekatnya ia anggap teman.

Entah itu karena pintu hatinya yang belum terbuka, atau memang belum ada sosok pria yang bisa mencuri hatinya.

Kembali ke kehidupan sebelumnya, Aliesha juga tidak mengharapkan cinta dari lawan jenisnya. Ia hanya membutuhkan kasih sayang keluarga dan teman-temannya, karena ia tidak memilikinya di kehidupan sebelumnya.