Sekolah dibubarkan lebih awal. Guru berpesan pada semua murid untuk belajar di rumah masing-masing. Seperti biasa, Aliesha pulang bersama Naomi hari itu. Mereka tiba di rumah Naomi pada pukul empat sore.
Aliesha langsung masuk ke kamarnya. Ia berencana kembali ke rumahnya, itulah mengapa ia membereskan barang-barangnya. Selesai bersiap, Aliesha keluar dari kamar sambil menarik kopernya.
"Mau ke mana Lis?" tanya Naomi. Gadis itu baru saja kembali dari dapur. Saat melihat Aliesha akan menenteng koper menuruni tangga, gadis itu dengan cepat menghampirinya.
Aliesha meletakkan kopernya di samping. "Aku mau pulang, Nao. Aku seneng bisa tinggal sama kamu, tapi aku gak bisa terus-terusan berada di sini."
Wajah Naomi seketika cemberut. Namun dengan cepat ia merubah raut wajahnya menjadi tersenyum, walau terlihat seperti tersenyum paksa.
"Ya udah deh kalau gitu. Tapi, gue antar lo ya. Gue gak mau lo naik taksi," katanya mengambil alih koper Aliesha dari tangannya.
Aliesha hanya bisa mengikuti kemauan gadis itu. Harus Aliesha akui bahwa tinggal bersama Naomi sangatlah menyenangkan. Hanya saja, ia tidak merasa bebas.
Gadis itu selalu saja berada di dekatnya, seolah mengawasi dia. Aliesha bahkan tidak bisa keluar tanpa sepengetahuan Naomi.
Saat ia bertemu dengan Bu Dewi, penulis yang ia temui waktu itu, ia harus menggunakan banyak sekali alasan agar Naomi tidak lagi bersikeras meminta ikut dengannya.
Aliesha duduk di mobil sambil melihat ke luar jendela. Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan. Begitu sampai di rumahnya, Aliesha bergegas turun dari mobil.
Naomi juga ikut keluar karena ia harus membantu Aliesha mengeluarkan koper dari bagasi.
"Makasih ya, Nao. Kamu mau masuk dulu gak?"
Naomi menggeleng. "Gak usah, Lis. Gue duluan ya."
"Iya. Hati-hati di jalan," pesan Aliesha.
Gadis itu melambai pada mobil Naomi yang sudah melaju meninggalkan pekarangan rumahnya. Ia lalu menyeret kopernya memasuki rumah.
Berdiri di depan pintu, Aliesha menekan bel rumahnya karena rumah itu terkunci. Menunggu selama beberapa detik, pintu rumah itupun akhirnya terbuka. Mbok Asih yang membukakan pintu terlihat terkejut saat melihat Aliesha.
"Udah pulang, Non?"
Aliesha mengangguk. "Iya, Mbok."
"Sini Non, biar Mbok yang bawa ke atas kopernya." Mbok Asih mengulurkan tangannya ingin mengambil alih koper Aliesha, namun gadis itu dengan cepat menghentikan tangannya.
"Gak usah, Mbok. Aku bisa sendiri kok," tolaknya secara halus.
Mbok Asih mengangguk patuh. Beliau pun mengesampingkan tubuhnya agar Aliesha bisa masuk ke dalam.
Di ruang keluarga, Arisha terlihat berkacak pinggang saat melihat Aliesha.
"Kok lo udah pulang? Kenapa gak tinggal aja di sana sampai Mama sama Papa balik?" tanya Arisha penuh sarkasme.
Aliesha memutar matanya malas, tidak menghiraukan Arisha sama sekali. Gadis itu lantas pergi ke kamarnya, kemudian meletakkan barang-barangnya pada tempatnya.
Merasa lelah, Aliesha merebahkan tubuhnya ke kasur. Gadis itu menatap ke langit-langit kamarnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Di satu sisi, ia ingin secepatnya mengetahui kondisi tubuh aslinya juga keadaan kakeknya. Namun di sisi lain, ia tidak bisa melakukan banyak hal begitu saja karena takut akan ada orang yang curiga padanya.
Aliesha yang masih dalam posisi rebahan kaget saat pintu kamarnya diketuk. Gadis itu dengan cepat beranjak untuk membukakan pintu.
"Kenapa, Mbok?"
"Itu, Non. Ada orang di depan yang nyariin Non Lisa," kata Mbok Asih dengan wajah panik.
Aliesha mengerutkan dahinya. "Siapa, Mbok?"
"Mbok gak tahu, Non. Orangnya ganteng, masih muda, tapi nyeremin," jawab Mbok Asih.
"Trus, orangnya di mana, Mbok?"
"Di ruang tamu, Non."
Aliesha mengangguk. Gadis itu turun ke lantai bawah untuk melihat orang yang datang. Saat melihat sosok tinggi seorang pria yang menggunakan setelan jas berwarna hitam, kening Aliesha berkerut semakin dalam.
"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Aliesha saat posisi keduanya cukup dekat.
Pria itu menoleh. Wajahnya tampak datar dan dingin. Pria itu berdiri, kemudian mengulurkan tangannya mengajak Aliesha bersalaman.
"Saya Raven. Anda pasti Aliesha, apa saya benar?"
Aliesha menerima uluran tangan pria itu. "Benar," jawabnya.
"Kalau boleh tahu, ada kepentingan apa ya Anda datang mencari saya?" tanya Aliesha saat keduanya sudah duduk di sofa.
Pria itu tidak menjawab. Ia malah merogoh saku di dalam jasnya, kemudian menjulurkan sebuah foto ke arah Aliesha.
"Apakah benar ini Anda, Nona?"
Mata Aliesha membulat ketika melihat foto itu. Gadis itu menatap pria di depannya dengan tatapan kaget. Pasalnya, foto itu memperlihatkan belakang tubuhnya saat ia masuk ke ruang kerja di rumah Kenzie kemarin.
Sadar bahwa ia sudah mengekspos dirinya sendiri, Aliesha dengan cepat mengubah raut wajahnya.
Gadis itu berdehem. "Saya tidak mengerti. Apa maksud Anda menunjukkan foto ini kepada saya?"
Raven tidak menanggapi. Ia tampak tenang ketika ia kembali merogoh saku jasnya dan mengeluarkan selembar foto lagi.
"Di foto tadi mungkin tidak memperlihatkan wajah Anda. Namun, di foto ini, wajah Anda terpampang dengan sangat jelas," ucapnya seraya menyerahkan foto itu pada Aliesha.
Aliesha mengambil foto itu. Matanya kembali membulat. Gadis itu menutup mulutnya agar ia tidak berteriak.
Aliesha menarik napas panjang. Ia melihat pria di depannya dengan wajah datar.
"Siapa Anda? Apa yang Anda inginkan dari saya?"
Walau terlihat tenang, sebenarnya Aliesha sangat gugup. Ia lupa bahwa di setiap rumah orang kaya pasti akan ada cctv yang memantau. Ia terlalu ceroboh kemarin.
Jika sudah begini, ia tidak bisa melarikan diri. Hanya saja, ia tidak bisa membiarkan masalah ini berlanjut ke jalur hukum. Karena bagaimanapun, ia yang salah karena sudah menerobos masuk ke ruangan yang tidak seharusnya ia masuki.
Raven membalas tatapan Aliesha, tiba-tiba saja senyum miring muncul di bibirnya.
"Nanti juga Anda akan tahu sendiri siapa saya. Hanya ada satu hal yang saya inginkan dari Anda," kata pria itu, dengan sengaja menggantung ucapannya.
"Apa?" tanya Aliesha tidak sabar.
"Saya tidak bisa mengatakannya di sini, karena ada tikus kecil yang menguping pembicaraan kita sejak tadi," jawab pria itu sembari melirik ke arah tangga.
Aliesha mengikuti arah pandangan pria itu. Ia mendecakkan lidahnya saat melihat ujung kepala Arisha yang bersembunyi di samping tangga.
Walau begitu, ia tidak langsung menghampiri gadis itu. Ia hanya melipat tangannya dan kembali menatap pria di depannya.
"Tidak masalah. Anda bisa mengatakannya sekarang," katanya menguji pria itu.
Senyum Raven semakin lebar. "Itu mungkin bukan masalah bagi Anda. Tapi bagi saya, itu adalah masalah besar. Saya tidak bisa mengatakan keinginan saya pada sembarang orang."
Aliesha mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu, bagaimana jika saya tidak memenuhi keinginan Anda? Apa yang akan Anda lakukan pada saya?"
"Seharusnya Anda sudah bisa menebak apa yang akan saya lakukan," balasnya.
Tentu saja Aliesha paham makna dari perkataan pria itu. Gadis itu membuang napas kasar. Ia yang salah karena sudah ceroboh. Dengan pasrah Aliesha menganggukkan kepalanya.
"Saya mengerti. Lantas, kapan Anda akan mengatakan keinginan Anda?"
"Saya akan menghubungi Anda dalam waktu dekat. Tentunya, setelah Anda menyelesaikan ujian. Saya tidak akan mengganggu Anda selama ujian berlangsung," kata pria itu.
Aliesha memicingkan matanya curiga. "Bagaimana Anda bisa menghubungi saya?"
"Saya tahu Anda tidak sebodoh itu, Nona. Kalau begitu, saya pamit. Selamat sore," ucap pria itu untuk terakhir kalinya.
Aliesha melihat kepergian pria itu cukup lama. Setelah sosok itu tidak lagi terlihat, Aliesha menundukkan kepalanya dengan wajah kesal.
Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu ceroboh kemarin. Harusnya ia membuat rencana yang matang terlebih dahulu sebelum melakukan aksinya.
Arisha yang sejak tadi menguping segera keluar dari tempat persembunyiannya. Gadis itu melangkahkan kakinya mendekati Aliesha.
"Lo udah buat masalah apa, hah?! Jangan sampai masalah lo ngelibatin kita sekeluarga," ujar Arisha dengan tatapan tajam.
Aliesha mendengus. "Please deh, Ris. Gue lagi gak mood buat adu bacot sama lo. Tapi satu hal yang harus lo tahu, gue bakal ngelibatin siapapun dalam masalah gue."
Arisha menatap gadis itu tak percaya. "Lo harus tepatin kata-kata lo. Terutama kesepakatan yang kita buat di sekolah!"
Aliesha mengangguk malas. Ia lalu kembali ke kamarnya dengan langkah gontai.
"Dasar bodoh!" seru Aliesha saat gadis itu membanting tubuhnya ke kasur.
"Kenapa gak kepikiran sih kemarin?!"
Aliesha menyembunyikan wajahnya pada bantal. Tangan gadis itu mulai memukul bantal untuk meluapkan emosinya.
Aliesha merasa semakin kesal ketika mengingat wajah Raven yang menurutnya sangat sangat menyebalkan.
Siapa sebenarnya si Raven itu? Apakah dia saudaranya Kenzie?
'Apa maksudnya pria itu tidak ingin mengganggu ujiannya?' pikir Aliesha bingung.