Chapter 20: 19. Belajar Bersama

Aliesha The ProtagonistWords: 9234

Itu adalah pagi yang cerah ketika Aliesha bangun tidur. Jam telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Gadis itu dengan cepat mandi dan berpakaian sebelum turun untuk sarapan.

Di meja makan sudah tersedia nasi goreng spesial buatan Mbok Asih, ada juga roti tawar dan selai cokelat.

"Mbok, Arisha mana?" tanya Aliesha karena tidak mendapati Arisha di sana.

"Non Risa lagi keluar, Non."

"Ke mana, Mbok?" tanya Aliesha lagi.

Mbok Asih menggeleng. "Mbok juga gak tahu, Non. Emang kenapa, Non?"

"Gak apa-apa, Mbok."

Aliesha duduk di kursi meja makan. Gadis itu lalu menyendokkan nasi goreng ke piringnya. Aliesha sarapan sambil membaca novel online di hpnya.

Terkesan tidak sopan, namun itu adalah kebiasaannya saat sedang makan. Tentu saja, itu hanya berlaku jika ia makan sendirian.

Selesai sarapan, Aliesha memutuskan untuk menonton televisi di ruang tengah. Gadis itu menonton televisi sambil rebahan di sofa.

Serial yang ia tonton pagi itu adalah film anak-anak berjudul Upin dan Ipin. Sedang asiknya ia menonton, tiba-tiba saja terdengar deru suara motor yang saling bersahutan.

Aliesha mengerutkan alisnya saat ia dengan buru-buru berjalan menuju teras.

"Kalian ngapain ke sini?" tanya Aliesha pada empat pria tampan yang masih duduk di motor mereka masing-masing.

"Gabut Lis di rumah mulu. Jadinya kita ke sini deh," jawab Farrel jujur.

"Kamu gak keberatan kan Lis kita main ke sini?" tanya Farzan penuh antisipasi.

"Gak kok. Yuk, masuk!" Aliesha mengajak keempat pria itu masuk ke rumahnya. Gadis itu menuntun mereka ke ruang tengah.

"Mbok, tolong buatin minum buat teman-teman saya ya," pinta Aliesha pada Mbok Asih.

"Siap, Non." Mbok Asih mengangguk, kemudian pergi ke dapur dengan semangat.

"Kamu lagi nonton Upin Ipin, Lis?" tanya Keenan basa-basi. Tatapan matanya melirik bergantian antara Aliesha dan televisi.

Aliesha memutar matanya malas. "Kamu bisa lihat sendiri aku lagi nonton apa."

"Denger tuh, Nan. Jangan kebanyakan basa-basi makanya." Farrel menepuk bahu Keenan sembari tertawa.

"Sok asik banget lo!" Keenan menepis tangan Farrel kasar.

Tawa Farrel semakin kencang. "Cih, ngambek! Kek cewek lo," cibirnya.

"Kalian kalau bertamu ke rumah orang yang sopan dong. Mana suara kalian gede banget lagi, kayak toa," tegur Farzan.

Tawa Farrel seketika berhenti. Pria itu dengan kalem duduk di sofa. Keenan melakukan hal yang sama, pria itu duduk di sebelah Farrel.

Aliesha menghela napas berat karena ia tidak bisa lagi rebahan seperti tadi. Gadis itu duduk di sofa single sambil bermain hp.

Beberapa menit kemudian, Mbok Asih datang membawakan minuman dan cemilan untuk mereka berlima.

Kenzie yang posisinya paling jauh dari Aliesha menatap lurus ke gadis itu. Dia ingin berbicara dengannya, namun ia sadar bahwa Farzan sedang mengawasinya.

Ia bisa merasakan bahwa Farzan menyukai gadis itu, begitupun dengan dirinya. Kenzie meminum minumannya, tatapan matanya masih mengarah ke Aliesha.

Farzan melirik Kenzie melalui ekor matanya. Pria itu juga mengambil minumannya, dengan sengaja menutupi pandangan Kenzie dari Aliesha.

Kenzie menatap Farzan datar. Pria itu dengan tenang mengambil hpnya yang ia letakkan di atas meja. Ia membuka ruang obrolannya dengan Aliesha.

Kenzie

Lis

Aliesha yang sedang membaca novel online tidak sengaja membaca pesan masuk yang muncul di layar hpnya. Gadis itu mengangkat pandangannya untuk melihat Kenzie.

Aliesha

Kenapa

Kenzie

Aku mau bilang sesuatu

Aliesha mengangkat sebelah alisnya.

Aliesha

Apa?

Kenzie

Aku mau ngomong secara langsung 

Aliesha

Ngomong aja kalo gitu

Kenzie

Di tempat lain aja

Farzan, Farrel, dan Keenan merasa curiga saat melihat Aliesha dan Kenzie sibuk dengan hp mereka. Apalagi keduanya saling lirik-lirikan sejak tadi.

"Lis," panggil Farzan pelan.

Aliesha menoleh. "Hm?" Gadis itu mengangkat kedua alisnya sebagai tanggapan.

"Jangan mainin hp terus dong. Kita kan datang ke sini bukan buat dikacangin," kata Farzan manja.

Farrel dan Keenan mengangguk setuju, walaupun mereka merasa geli mendengar nada bicara Farzan saat pria itu berbicara dengan Aliesha.

"Iya, Lis. Gak seru banget, masa kamu sibuk sama hp terus," ucap Keenan.

"Lo juga, Ken. Jangan sibuk main hp mulu dong." Farrel menepuk paha Kenzie keras, membuat pria itu terlonjak kaget.

Aliesha dengan cepat menyimpan hpnya di atas meja. "Maaf. Habisnya aku gak tahu harus ngapain lagi."

Kenzie juga ikut meletakkan hpnya di atas meja. "Gimana kalau kita belajar bareng? Kan senin udah ujian tuh, daripada kita cuma diam-diaman aja ya kan?" usulnya.

Keenan mengangguk. "Boleh juga tuh. Ayo Lis, kita belajar bareng."

Mendengar kata belajar, Aliesha jadi ingat kalau dia harus mengajari Naomi pelajaran fisika. Gadis itupun menelepon Naomi alih-alih ngechat gadis itu.

"Kenapa, Lis?" tanya Naomi begitu ia menerima panggilan.

"Naomi, aku sama yang lain mau belajar bareng. Kamu mau ikutan gak? Sekalian aku ajarin pelajaran fisika," ucap Aliesha langsung.

Keempat pria yang ada bersamanya menatap gadis itu dengan tatapan tak percaya. Padahal mereka tidak berniat mengajak orang lain.

"Oke. Gue boleh sekalian ajak Bagas dan lainnya gak?"

Aliesha tersenyum. "Boleh," katanya senang.

Begitu panggilan berakhir, Aliesha mendapati wajah keempat pria itu telah berubah. Keempat pria itu kini tengah menatap lurus ke arahnya.

"Kenapa ngajak Naomi, Lis?" Farzan tampak tidak terima dengan keputusan Aliesha.

"Em, itu. Naomi minta diajarin fisika, jadi aku pikir mending sekalian aja. Jadi kita semua bisa belajar bareng." Aliesha tersenyum kikuk saat gadis itu menatap Farzan.

"Tapi, Lis. Kita kan maunya cuma ada kita-kita aja di sini." Farrel dengan kesal menyandarkan kepalanya ke punggung sofa dengan tangan terlipat.

Aliesha menjadi tidak senang. Gadis itu membuang pandangannya ke tempat lain.

"Trus kalian maunya gimana?!"

Tahu Aliesha akan marah, Farzan dengan cepat berusaha membujuk gadis itu. Kenzie dan Keenan berusaha sebaik mungkin tidak turut ikut campur agar Aliesha tidak marah pada mereka.

"Karena udah terlanjur, jadi gak apa-apa, Lis. Lagian juga kita kan udah kenal sama Naomi," kata Farzan berusaha menenangkan suasana.

Farrel juga dengan cepat merubah sikapnya. Apapun akan ia lakukan asalkan Aliesha tidak marah padanya.

"Iya juga ya. Maaf ya Lis, aku agak kekanakan tadi," ujarnya tersenyum manis.

Aliesha menatap Farzan dan Farrel dengan senyum di wajahnya. Tak butuh waktu lama, teman-teman Aliesha akhirnya tiba di rumah gadis itu hanya dalam waktu tiga puluh menit.

Aliesha pergi ke teras untuk menyambut kedatangan teman-temannya.

"Guys, langsung masuk aja yuk!"

Keenam teman Aliesha mengikuti langkah gadis itu menuju ruang tamu. Di sana, Farzan dan kawan-kawan tampak sibuk melihat buku-buku yang baru saja Aliesha keluarkan dari kamarnya.

Melihat ada Farzan dan kawan-kawan, teman Aliesha yang lain saling bertukar pandang.

"Lis." Naomi menarik tangan Aliesha pelan.

Aliesha menoleh. "Iya?"

"Kenapa gak bilang kalau ternyata ada Farzan sama teman-temannya?"

Aliesha mempoutkan bibirnya. "Emang kenapa kalau ada mereka?"

"Astaga, Aliesha!" Naomi merasa gemas dengan sifat polos gadis itu.

"Wahh! Kirain cuma ada kita aja, ternyata ada orang lain juga di sini," kata Bagas sambil menepuk tangannya sekali.

Farzan dan kawan-kawan menoleh. Melihat ada lebih dari satu orang yang datang, alis mereka berkerut secara serempak.

"Gue rasa yang Aliesha undang itu cuma Naomi deh. Kok lo juga ada di sini?" tanya Farzan sinis.

Bagas terkekeh. "Kata siapa cuma Naomi aja yang disuruh datang? Orang Aliesha ngajak kita semua kok. Iya kan guys?"

Keenam orang lainnya mengangguk. Aliesha menjadi bingung ketika melihat mereka berdebat.

"Naomi, aku salah ya?" Aliesha menatap Naomi dengan wajah memelas.

Naomi mengangguk. "Salah banget, Lis. Ini fatal sih."

Aliesha spontan memijat pelipisnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Farzan meraih kunci motornya yang ada di atas meja. Pria itu kemudian berdiri.

"Lis, aku pamit ya. Kayaknya kita gak bisa belajar bareng hari ini," katanya sebelum melangkah pergi.

Farrel, Keenan, dan Kenzie melakukan hal yang sama. "Sorry, Lis. Aku juga gak bisa kalau ada mereka," ucap Farrel lirih.

Aliesha bergegas menyusul keempat pria itu yang mulai naik ke motor mereka masing-masing.

"Zan, jangan gini dong. Kalian kenapa sih?"

"Kalian bener bakal pergi?" Aliesha menatap keempat pria itu intens.

Karena tidak ditanggapi, Aliesha berkata lagi. "Oke. Kalau kalian pergi, kita gak usah temenan lagi."

Setelah mengatakan itu, Aliesha masuk ke rumahnya dengan langkah lebar. Tubuh keempat pria itu membeku mendengar ucapan Aliesha. Walau begitu, mereka tetap pergi dari sana.

Bukannya tidak bisa bergaul. Mereka hanya tidak ingin melakukannya. Terlebih dengan pria menyebalkan seperti Bagas.

Ketika suara motor Farzan dan kawan-kawan mulai terdengar samar, Aliesha yang bersembunyi di balik pintu menghela napas panjang.

Gadis itu kembali ke ruang tamu untuk menemui teman-temannya.

"Sorry, guys." Aliesha menatap teman-temannya dengan tatapan bersalah di matanya.

Naomi menepuk pundaknya pelan. "Gak usah dipikirin, Lis. Gue yakin mereka gak marah sama lo," hibur Naomi.

"Daripada lo kepikiran sama mereka, mending kita belajar aja sekarang," kata Bagas kalem.

Semuanya mengangguk. Jadilah hari itu Aliesha belajar bersama teman-temannya tanpa Farzan dan kawan-kawan.