Aliesha tiba di sekolah bersamaan dengan motor Farzan dan kawan-kawan yang memasuki pekarangan sekolah.
Pandangan seluruh penghuni sekolah tertuju pada keempat pria tampan itu. Farzan dan kawan-kawan memarkir motor mereka, dengan kompak membuka helm secara bersamaan.
Keempat pria itu menatap Aliesha dengan senyum merekah, kecuali Kenzie yang hanya menunjukkan senyum tipis. Aliesha melihat mereka sekilas, kemudian melanjutkan langkahnya.
Sejak kejadian dua hari yang lalu, ia benar-benar menganggap Farzan dan tiga orang lainnya sebagai orang asing. Perkataannya hari itu bukan sekedar ancaman kosong.
"Aliesha!" panggil Farzan dengan suara yang cukup keras. Hal itu mengundang perhatian dari banyak orang. Bukan hanya siswa-siswi yang berlalu lalang, bahkan para guru pun ikut melihat ke arah mereka.
Aliesha tidak menghentikan langkahnya. Farzan lantas turun dari motor dan berlari mengejar gadis itu. Tiga orang lainnya mengikuti dari belakang.
"Lis!" Farzan meraih tangan Aliesha, membuat sang empunya menoleh.
"Lepas!" Aliesha menatap Farzan datar.
"Maafin kami, Lis. Kami tahu kami salah. Kami gak bermaksud-"
"Stop! Aku gak butuh penjelasan apapun," potong Aliesha sebelum Farzan menyelesaikan kalimatnya.
Farzan menatap Aliesha sendu, yang dibalas gadis itu dengan tatapan datar.
"Dengerin aku baik-baik. Mulai sekarang, kita gak ada hubungan apa-apa lagi. Bagiku, kalian itu hanya orang asing sekarang. Paham?!" tegas Aliesha.
Keempat pria itu tersentak. Secara tidak sadar Farzan langsung melepaskan tangan Aliesha yang sedari tadi ia genggam. Selama dua hari ini, ia telah merenungkan tindakannya yang sudah bisa ditebak akan menyakiti perasaan gadis itu.
Ia menyesal karena lebih mementingkan egonya sendiri ketimbang hubungan pertemanannya dengan Aliesha. Bukan hanya Farzan, tiga orang lainnya juga merasa demikian.
Melihat Aliesha yang kini mulai terasa asing bagi mereka, hal itu terasa sangat menyakitkan. Keempat pria itu membuang napas berat secara bersamaan.
Karena tidak ada lagi orang yang menahannya, Aliesha lantas pergi dari sana, meninggalkan mereka yang masih terpaku di tempat mereka berdiri.
Siswa-siswi beserta guru yang melihat kejadian itu kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Aliesha duduk di bangkunya begitu ia sampai di kelas.
Naomi yang datang lebih awal tersenyum cerah saat melihat gadis itu.
"Lis, kamu udah belajar kan?" tanya Naomi bersemangat.
Penilaian akhir semester akan terjadi di minggu ini. Itulah sebabnya ia dan teman-temannya belajar bersama selama dua hari penuh.
Mereka saling membantu satu sama lain agar nilai mereka bisa meningkat. Menanggapi pertanyaan Naomi, Aliesha hanya mengangguk singkat.
Gadis itu mengeluarkan buku catatan dari tasnya dan membaca isinya. Tak berapa lama kemudian, suara bel terdengar di seluruh penjuru sekolah.
Aliesha bersama teman-teman sekelasnya meletakkan tas mereka di depan kelas. Begitu guru pengawas tiba, beliau dengan segera membagikan kertas ujian bersama lembar jawaban untuk mereka isi.
***
Sudah waktunya istirahat, namun Aliesha terlalu malas untuk pergi ke kantin. Ketika Naomi dan Bagas mengajaknya pergi bersama-sama, ia dengan tegas menolaknya. Kini di dalam kelas, hanya ada dia dan beberapa murid yang tersisa.
Aliesha mengeluarkan buku catatan dari tasnya. Di tengah-tengah bacaannya, Farzan dan kawan-kawan masuk ke dalam kelas. Farzan mengambil alih bangku kosong dan duduk di dekat Aliesha.
"Aliesha," panggil Farzan lembut.
Aliesha mengangkat kepalanya, menatap Farzan dengan alis terangkat sebelah.
"Maafin aku ya," pinta Farzan dengan wajah memelas. Pria itu dengan perlahan menggenggam tangan Aliesha yang bebas.
Aliesha mencoba melepaskan genggaman Farzan dari tangannya, namun pria itu menggenggam tangannya begitu erat sehingga sangat sulit untuk dilepaskan. Pasrah, gadis itu membiarkan tangannya digenggam oleh pria itu.
Sadar dirinya diabaikan sepenuhnya oleh gadis di depannya, Farzan tidak langsung menyerah. Pria itu lantas menarik Aliesha ke dalam pelukannya.
"Maafin aku, Lis. Aku tahu aku salah," ucap Farzan sendu.
Tubuh Aliesha membeku selama beberapa detik. Di detik berikutnya, gadis itu dengan cepat tersadar.
Tiga orang lainnya hanya bisa melihat adegan di depan mereka dengan ekspresi rumit. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka semua memiliki perasaan lebih pada gadis itu.
"Lepas!" Aliesha dengan kasar mendorong tubuh Farzan agar menjauh darinya.
Farzan yang tidak siap langsung terjengkang ke belakang, sehingga punggungnya berbenturan sangat keras dengan punggung kursi. Suara yang dihasilkan cukup keras, membuat semua orang yang ada di sana melongo tak percaya.
Pasalnya, Aliesha yang mereka kenal adalah gadis lemah lembut dan tidak kasar. Bagaimana bisa hanya dengan sekali dorongan bisa menciptakan bunyi yang begitu keras?
"Zan, lo gak apa-apa?" tanya Keenan prihatin.
"Gue gak apa-apa," balas Farzan cuek.
Tatapan Farzan semakin sendu saat ia menatap Aliesha. Ia tidak menyangka gadis itu begitu membencinya sampai mendorongnya begitu kuat.
Sejujurnya, Farzan bukanlah pria yang lemah. Hanya saja, ia tidak mengantisipasi tindakan Aliesha yang akan mendorongnya begitu dia memeluknya.
Aliesha merotasikan matanya, membalas tatapan Farzan dengan acuh tak acuh. Ia tidak merasa bersalah sedikitpun, yang ada hanyalah perasaan marah karena sudah dipeluk sembarangan.
Mungkin bagi mereka Aliesha adalah orang terdekat mereka. Akan tetapi, ia bukanlah Aliesha yang mereka kenal.
"Gak usah dekat-dekat, karena kita bukan teman," ucap Aliesha datar.
Pernyataan Aliesha sontak saja membuat keempat pria itu kembali tercengang. Rasanya ada ribuan jarum yang menusuk tepat di hati mereka.
"Kenapa kamu bilang kayak gitu, Lis?" Farrel menatap Aliesha sedih. Hatinya sakit mengetahui Aliesha benar-benar memutuskan pertemanan mereka karena kejadian dua hari yang lalu.
Aliesha mengalihkan tatapannya pada Farrel. Gadis itu menelengkan kepalanya dan tersenyum manis.
"Karena itu kenyataannya, Rel. Aku harap kalian semua gak ganggu aku lagi." Aliesha mengakhiri kalimatnya dengan wajah datar.
"Kamu marah hanya karena masalah kemarin, Lis?" Keenan menatap Aliesha dengan sorot kekecewaan di matanya.
Aliesha menyandarkan punggungnya ke punggung kursi dengan tangan terlipat. Gadis itu tersenyum miring saat menatap Keenan miris.
"Kamu bilang itu hanya? Oke, fine! Kalau gitu, aku juga hanya ajak Naomi sama teman-teman yang lain buat belajar bareng. Kenapa kalian marah?"
Keenan tercekat mendengar balasan Aliesha. Benar, mereka juga marah gara-gara masalah sepele kemarin. Pria itu akhirnya diam dan tidak lagi bersuara.
Pada saat itu, Naomi dan Bagas yang baru saja kembali dari kantin menghampiri Aliesha di mejanya. Bagas menyodorkan sekotak susu kemasan pada Aliesha, yang diterima oleh gadis itu dengan senang hati.
"Thanks, Gas!" Aliesha tersenyum kecil.
Bagas mengangguk. Pria itu lalu berbalik, menatap ke arah Farzan dan kawan-kawan.
"Ngapain kalian ke sini? Bukannya kalian udah gak mau temenan lagi ya sama Aliesha?" Bagas menatap keempat pria itu sinis.
"Ini gak ada hubungannya sama lo!" Farzan menatap Bagas tajam.
Bagas menutup mulutnya untuk menahan tawa. Sikapnya mengundang kemarahan dalam diri Farzan dan kawan-kawan.
"Heh, kutu! Mending lo minggir!" peringat Farrel mengancam.
"Kalau gue gak mau?" Bagas menunjukkan senyum paling menyebalkan yang ia punya.
Tanpa basa-basi, Farrel langsung menerjang Bagas dan memukul rahang pria itu. Farzan yang berdiri di samping juga tidak mau kalah. Kedua pria itu pada akhirnya memukul Bagas di wajah dan perutnya.
Emosi yang sudah mereka tahan selama dua hari ini akhirnya mereka lampiaskan pada Bagas yang menjadi sumber provokator antara mereka dan Aliesha.
Bagas berusaha membalas pukulan Farrel dan Farzan padanya. Di kelas X IPA 3 kini telah terjadi adegan baku hantam antara Farzan, Farrel, dan Bagas.
Kenzie dan Keenan tidak ingin terlibat, itulah sebabnya mereka hanya menonton dari dekat. Aliesha yang menjadi alasan perkelahian itu terjadi memandang ketiga orang itu dengan wajah acuh tak acuh.
"Ini kita biarin aja atau gimana?" tanya Naomi yang bergidik ngeri melihat ketiga orang itu berkelahi.
Tidak ada seorangpun yang menghiraukan pertanyaan Naomi. Semua murid yang ada di sana nampak asik menonton perkelahian itu.
Ketika wajah ketiganya mulai babak belur, pada saat itulah seorang guru BK masuk ke dalam kelas. Dengan rotan panjang di tangannya, beliau memukul papan tulis untuk meredakan suasana yang sangat kacau.
Begitu suara keras itu terdengar, perkelahian itu segera berhenti. Semua orang memiliki tatapan kaget di wajah mereka saat melihat guru BK.
Penonton yang tadinya berkumpul kini telah bubar. Guru BK memandang tiga orang yang berkelahi dengan alis terangkat.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berkelahi?"
Karena tidak ada tanggapan, guru BK itu menjadi marah.
"Kalian bertiga, datang ke ruangan saya setelah selesai ujian! Farzan, Farrel, dan Bagas. Saya sudah ingat nama kalian bertiga. Jangan pernah berpikir kalian bisa kabur dari hukuman saya!"
Setelah mengatakan itu, guru itu langsung pergi ke luar. Suasana di kelas menjadi aneh ketika guru itu pergi.
Farzan menyentuh sudut bibirnya yang nampak mengeluarkan darah. Pria itu menatap Bagas sengit.
"Urusan kita belum selesai," katanya untuk terakhir kalinya.
Saat Farzan pergi, Farrel, Keenan, dan Kenzie juga ikut pergi. Bagas yang tadinya masih berdiri dengan tegak langsung jatuh berlutut. Pria itu memegang perutnya yang terasa kebas.
Saat pria itu menutup mata, dia meringis karena wajahnya berdenyut dan perih secara bersamaan. Naomi bergegas menghampiri Bagas.