"Gas, lo baik-baik aja kan?" tanya Naomi cemas.
Bagas terkekeh. "Iya, gue baik-baik aja."
"Aw!" ringis Bagas sembari menyentuh sudut bibirnya yang pecah.
"Lo sih, pake acara berantem segala," omel Naomi.
Gadis itu mengulurkan tangan untuk membantu Bagas berdiri. Aliesha yang semula duduk di bangku kini sudah berada di sebelah Bagas dan Naomi.
"Gas, aku antar kamu ke UKS ya?" Aliesha berniat memegang tangan Bagas, namun pria itu dengan cepat menghentikannya.
"Gak, Lis. Bentar lagi bel. Mending lo lanjut belajar aja, biar Naomi yang ngantarin gue," ucapnya pelan.
Sebagai sahabat Aliesha, Naomi tentu saja mengerti bahwa Aliesha pasti merasa bersalah. Ia tidak ingin perasaan itu terus membelenggu gadis itu, itulah sebabnya Naomi dengan perlahan memberikan tangan Bagas pada Aliesha.
"Nih, Lis. Lo aja yang ngantarin dia. Gue mau belajar dulu, hehe."
"Thanks, Nao." Aliesha berbisik saat gadis itu melewati Naomi.
Aliesha memapah Bagas ketika ia mengantarnya ke UKS. Sadar bahwa bobot tubuhnya jauh lebih berat dibanding gadis yang memapahnya, Bagas tidak menumpahkan seluruh bobot tubuhnya pada gadis itu.
Ia masih berjalan sendiri walau perutnya terasa sangat sakit sampai rasanya ingin pingsan. Setibanya mereka di UKS, Aliesha membantu Bagas duduk di brankar. Tempat itu terlihat sepi, sepertinya hanya ada mereka berdua di sana.
Aliesha pergi mengambil kotak P3K untuk mengobati lebam di wajah Bagas. Gadis itu menghela napas berat, ia merasa bersalah pada pria itu. Gara-gara dia, Bagas jadi berkelahi dengan Farzan dan Farrel.
"Sorry ya, Gas. Gara-gara aku kamu jadi kayak gini," ucap Aliesha sembari tangannya mengoleskan obat merah ke sudut bibir Bagas yang sobek.
"Jangan minta maaf, Lis. Lo gak salah." Bagas mengusap pipi Aliesha lembut.
Aliesha tertegun, tangannya sampai membeku untuk sesaat. Setelah mengerjapkan matanya beberapa kali, Aliesha akhirnya tersadar. Ia dengan halus menjauhkan wajahnya dari tangan Bagas.
"Makasih karena udah belain aku tadi. Kamu bisa pakai sendiri kan obatnya? Aku balik ke kelas dulu, see you."
Aliesha langsung melarikan diri setelah mengucapkan kalimat itu. Bagas menyeringai, pria itu lalu mengambil obat merah untuk mengobati sudut bibirnya.
Saat kaki Aliesha mencapai pintu kelas, bel masuk tiba-tiba berbunyi. Gadis itu bernapas lega karena ia tidak terlambat. Ia dengan cepat duduk di bangkunya ketika tidak sengaja ia melihat guru pengawas sedang berjalan dari kejauhan.
Ujian berlangsung selama seratus dua puluh menit, atau setara dengan dua jam. Begitu ujian selesai, Aliesha dan Naomi bergegas pergi ke UKS untuk mengunjungi Bagas.
Tiba di UKS, Bagas sudah tidak ada lagi di sana. Rupanya pria itu sudah pergi ke ruang BK. Keduanya lalu memutuskan untuk menyusul Bagas di ruang BK. Karena tidak boleh masuk, mereka hanya bisa menunggunya di luar ruangan.
"Aku takut deh, Nao." Aliesha menggigit ibu jarinya saat mengatakan itu.
Naomi menoleh. "Kenapa takut?"
"Ya takut aja. Kalau Bagas dihukum gimana?"
Naomi tersenyum kecil. "Tenang aja. Bagas pasti gak bakal kenapa-kenapa kok. Gak usah takut, oke?"
Aliesha yang merasa terhibur menganggukkan kepalanya. Ia lalu berjinjit untuk melihat apa yang terjadi di dalam ruangan.
Keenan dan Kenzie yang baru saja sampai tersenyum cerah saat melihat Aliesha. Keduanya dengan senang menyapa gadis itu.
"Hai, Lis," ucap keduanya.
Aliesha berbalik. Melihat bahwa orang yang menyapanya barusan adalah Kenzie dan Keenan, gadis itu dengan cuek melihat ke dalam ruangan lagi, tidak menghiraukan keduanya.
Di dalam ruangan, guru BK sibuk memberikan nasehat pada Bagas, Farzan, dan Farrel. Guru berbadan besar itu berbicara untuk waktu yang lama, kemudian memberikan kertas serta pena pada ketiga murid laki-laki itu.
"Cepat, tulis pernyataan bahwa kalian tidak akan berkelahi lagi di sekolah. Kalau ketahuan, saya akan memberikan surat panggilan untuk orang tua kalian," kata guru itu tegas.
Ketiga orang itu mengambil pena dan kertas yang diberikan. Mereka menulis surat pernyataan dengan ogah-ogahan. Begitu selesai, ketiganya diminta untuk saling bersalaman.
Farzan dan Farrel menatap Bagas tajam, terlihat jelas bahwa mereka menolak gagasan itu.
"Kenapa masih belum salaman? Apa perlu saya mencontohkan bagaimana cara bersalaman yang benar?" Guru itu mengangkat kacamatanya ke atas, menatap ketiga murid itu dengan tatapan sangar.
"Ini kami mau salaman, Pak." Farzan menunjukkan senyum palsu.
"Maaf." Farzan mengucapkan kata itu saat bersalaman dengan Bagas. Tidak sampai dua detik, ia segera melepaskan tangannya.
Farrel melakukan hal yang sama. Setelah semuanya selesai, ketiga orang itu akhirnya bisa keluar. Farzan dan Farrel tertegun saat melihat Aliesha. Mereka pikir Aliesha datang untuk menemui mereka, itulah sebabnya kedua pria itu menghampiri Aliesha dengan senyum di wajah mereka.
"Aliesha," sapa keduanya berbarengan.
Aliesha menoleh, namun dengan cepat membuang pandangannya ke samping. Gadis itu malah mendekati Bagas dan berbicara dengan pria itu. Farzan dan Farrel terdiam, wajah keduanya tampak suram.
"Bagas, apa kata guru BK?" tanya Aliesha cepat.
"Gue cuma disuruh tulis surat pernyataan. Kalau gue berantem lagi di sekolah, gue bakal dikasih surat panggilan orang tua," jelas Bagas santai.
Aliesha kembali merasa bersalah. Gadis itu menunduk sambil memilin jari-jari tangannya. "Maaf," lirihnya.
Bagas menggeleng. "Gue udah bilang kan? Gak usah maaf, karena ini semua bukan salah lo, Lis."
Naomi menepuk bahu Aliesha pelan. "Benar kata Bagas. Lo gak usah merasa bersalah, Lis. Harusnya orang yang mulai duluan yang minta maaf," katanya seraya melirik Farzan dan Farrel melalui ekor matanya.
Sadar mereka sedang disindir, kedua pria itu menatap Naomi tajam. Naomi hanya mendengus menanggapi tatapan mereka.
"Kita balik aja yuk. Cuacanya mulai panas nih." Naomi mengipas wajahnya menggunakan kedua tangannya. Lagi-lagi ia melirik Farzan dan kawan-kawan sekilas.
Aliesha dan Bagas mengangguk. Mereka bertiga pun pergi menuju tempat parkir, lalu ketiganya berpisah di gerbang sekolah. Naomi mengantar Aliesha pulang menggunakan mobil, sedangkan Bagas langsung pulang ke rumahnya.
"Makasih, Naomi." Aliesha tersenyum manis.
Naomi mengangguk. "Gue pulang dulu ya," pamitnya.
"Iya, take care." Aliesha melambaikan tangannya pada mobil Naomi yang sudah melaju pergi.
Aliesha masuk ke rumah, ia langsung menuju kamar. Sudah tiga hari ia tidak melihat Arisha. Gadis itu tidak terlihat baik di rumah maupun di sekolah. Entah ke mana gadis itu pergi, Aliesha juga tidak tahu. Lagipula, itu bukan urusannya.
Tidak seperti biasanya, Aliesha hari ini tidak membaca novel online. Gadis itu kini tengah sibuk membaca buku untuk persiapan ujian besok.
Karena ujian besok dipenuhi dengan hitung-hitungan, gadis itu akan mengerjakan soal latihan, kemudian mencari jawabannya di kertas.
Aliesha belajar sampai malam. Ia hanya akan berhenti ketika perutnya mulai keroncongan. Sebelum makan, Aliesha pergi mandi terlebih dahulu. Saat ia tiba di ruang makan, gadis itu akhirnya melihat Arisha.
"Hei, Aliesha. Lo bakal nepatian janji lo kan? Gue udah gak sabar banget lo hilang dari hidup gue," ujar Arisha, terlihat dalam suasana hati yang baik.
Aliesha duduk di kursi yang berhadapan dengan Arisha. "Lo kelihatannya lagi seneng banget. Ada apa nih?"
Arisha tertawa kecil. "Gue emang lagi seneng banget hari ini. Sayangnya, gue gak mau bagi kesenangan gue sama lo. Jadi lo gak usah banyak nanya."
"Biar gue tebak," ucap Alisha sambil bertopang dagu.
"Lo pasti senang karena hubungan gue sama Farzan lagi gak baik-baik aja. Iya kan?" lanjutnya tersenyum dingin.
Arisha bertepuk tangan gembira. "Wahh.. tebakan lo seratus persen benar. Lo mau hadiah apa dari gue?"
Aliesha menatap Arisha datar. "Kalau gue minta lo jauhin Farzan dari gue, lo bisa?"
Arisha menatap Aliesha lekat. "Lo serius?"
Aliesha tertawa. "Yaps, gue serius. Tapi kalau dipikir-pikir, keknya lo gak mampu deh. Farzan kan gak suka sama lo."
Arisha mengepalkan tangannya, namun senyum tidak luntur dari bibirnya.
"Selama lo gak ladenin Farzan, gue yakin gue bisa bikin dia berpaling dari lo," kata Arisha pede.
"Well, terserah lo sih. Selama lo bisa jauhin dia dari gue, gue bakal berterima kasih banget sama lo," balas Aliesha kalem.
Alasan Aliesha ingin Farzan dan kawan-kawan menjauh darinya adalah karena ia akan segera pindah begitu kenaikan kelas. Ia tahu benar bagaimana watak keempat pria itu. Jika mereka tahu dia akan pindah, mereka juga pasti akan menyusulnya.
Pada saat itu, keduanya tidak menyadari bahwa mereka terlihat cukup akur malam itu. Mbok Asih yang melihat keduanya tidak berdebat merasa bersyukur. Akhirnya ada hari dimana dua majikan mudanya itu tidak berkelahi seperti biasanya.
Setelah makan malam, Aliesha dan Arisha kembali ke kamar mereka masing-masing. Keduanya memiliki aktivitas yang sangat jauh berbeda. Arisha yang sibuk nonton drakor, sedangkan Aliesha sibuk belajar.