Chapter 23: 22. Tidak Biasanya

Aliesha The ProtagonistWords: 8983

Pagi itu, Aliesha dan Arisha sarapan bersama. Suasana di meja makan sama baiknya seperti tadi malam. Sepertinya Arisha masih dalam suasana hati yang baik.

Arisha adalah orang pertama yang menyelesaikan sarapannya, namun gadis itu belum juga beranjak. Begitu Aliesha selesai, gadis itu memakai tasnya dan beranjak lebih dulu.

Tanpa diduga, Arisha mengikuti langkahnya dari belakang. Tiba di depan teras, Arisha langsung masuk ke mobilnya.

"Gue lagi baik banget hari ini. Mau nebeng gak?" tawar Arisha ketika gadis itu menurunkan kaca mobilnya.

Aliesha yang baru berjalan beberapa langkah segera menghentikan langkah kakinya. Gadis itu menoleh dengan mata membulat.

"Lo lagi demam ya?" tanya Aliesha spontan.

Arisha mendengus. "Cih. Ya udah kalau lo gak mau."

Gadis itu akan melajukan mobilnya, namun Aliesha dengan cepat menghentikannya.

"Oke, gue mau!" serunya lantang.

Tanpa basa-basi, Aliesha langsung masuk dan duduk di sebelah Arisha. Tentu saja ia tidak akan menolak tumpangan gratis.

Tiba di sekolah, semua orang terpana melihat Aliesha turun dari mobil Arisha. Beberapa orang bahkan mengucek mata mereka beberapa kali untuk memastikan penglihatan mereka.

Begitu tahu apa yang mereka lihat adalah sebuah kenyataan dan bukan ilusi, semua orang merasa terkejut. Tidak sampai hitungan menit, motor Farzan dan kawan-kawan memasuki pekarangan sekolah.

Setelah memarkirkan motornya, pria itu bergegas menghampiri Aliesha.

"Morning, Lis." Farzan tersenyum riang.

Pria itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Aliesha melirik Arisha singkat, kemudian dengan cuek berjalan melewati Farzan.

"Lis!" Farzan hendak berlari mengikuti Aliesha, namun terhenti saat tangannya terasa berat. Rupanya Arisha tengah menahan tangannya.

"Pagi, Farzan!" Arisha menunjukkan senyum yang sangat jarang terlihat.

Farzan menautkan kedua alisnya. "Apa-apaan lo! Lepas gak?!" Farzan menatap Arisha tajam.

Arisha tersenyum semakin lebar. "Gak mau. Gue bakal lepas setelah lo ngantarin gue ke kelas."

Farzan menepis tangan Arisha kasar. "Gak usah mimpi!"

Pria itu langsung pergi begitu saja. Senyum Arisha tidak hilang, karena ia berhasil menghalangi Farzan mengantar Aliesha ke kelas. Dengan langkah riang, gadis itu pergi ke kelasnya.

Aliesha yang sudah sampai di kelas duduk di bangkunya. Gadis itu mengeluarkan buku catatan dan mulai membacanya. Naomi yang duduk di sebelahnya menatap Aliesha lekat.

"Lo berangkat bareng Arisha, Lis?" tanya Naomi tak percaya.

Aliesha mendongak, kemudian mengangguk.

"Kok bisa?!"

Aliesha terkekeh. "Kok gak bisa?" Gadis itu meniru gaya bicara Naomi sebelumnya.

Naomi cemberut. "Gue serius, Lis. Kok bisa sih kalian bareng?"

Aliesha memutar matanya malas. "Ya bisa dong, Naomi. Aku sama Arisha kan serumah."

"Iya juga ya. Tapi kan-"

"Udah, Nao. Mending kamu belajar nih. Hari ini fisika," kata Aliesha sembari menyerahkan bukunya pada Naomi.

Seketika Naomi melupakan permasalahan Aliesha dan Arisha. Gadis itu lantas membaca buku catatan milik Aliesha yang sangat lengkap.

Begitu bel masuk berbunyi, ujian pun dimulai. Semua murid nampak tegang dan tertekan. Bagaimana tidak? Mata pelajaran yang diuji hari itu semuanya berhubungan dengan rumus.

Ketika ujian selesai, Naomi dengan cepat menarik Aliesha menuju kantin. Ujian kali ini membuat perutnya cepat merasa lapar.

Disaat Aliesha mencari meja untuk ia dan Naomi duduk, tiba-tiba saja gadis itu diseret ke meja kosong.

"Kita duduk di sini. Kebetulan mejanya kosong." Arisha mendudukkan Aliesha ke bangku panjang.

Aliesha mendongak, matanya membulat. "Loh, kok?"

"Kenapa?" Arisha mengangkat sebelah alisnya.

Naomi yang sudah selesai memesan makanan untuknya dan Aliesha melihat sekeliling. Begitu menemukan Aliesha, gadis itu segera menghampirinya.

"Lis, ini pesanan lo." Naomi memberikan pesanan Aliesha berupa nasi goreng. Minuman yang Naomi pesan akan datang sebentar lagi.

Naomi duduk di sebelah Aliesha. Saat ia mengangkat kepalanya, tatapannya dan Arisha bertemu. Naomi seketika tersedak makanannya. Aliesha yang duduk di samping Naomi menepuk punggungnya untuk membantu gadis itu.

Untung saja minuman yang ia pesan sudah datang. Ia dengan cepat meminum minumannya.

"Anj*ng, kok lo bisa ada di sini?" tanya Naomi saat ia melototi Arisha.

Arisha tidak terganggu. Gadis itu memainkan sedotannya dengan malas. "Emang sejak kapan gue gak boleh ada di sini? Emangnya nih kantin punya Bapak lo?"

Naomi geram. "Lo!"

Aliesha menyentuh tangan Naomi. "Udah, Nao. Biarin aja Arisha gabung sama kita."

"Tapi, Lis-"

Aliesha menggeleng. "Udah gak apa-apa."

Naomi mengangguk pasrah. Gadis itu kembali memakan makanannya yang belum habis. Di meja lain, Farzan dan kawan-kawan melihat kejadian itu dengan pandangan aneh.

Alih-alih membully Aliesha, Arisha malah duduk di meja yang sama dengan gadis itu. Keduanya terlihat akur, tidak seperti biasanya.

"Mereka aneh kan?" celetuk Bagas yang tiba-tiba duduk di samping Kenzie.

Keempat pria itu menatap lurus ke arah Bagas. Farrel berkata, "Ngapain lo duduk di sini? Belum cukup pelajaran yang gue kasih kemarin?"

Bagas terkekeh. "Meja yang lain udah pada penuh, makanya gue datang ke meja kalian."

Keenan memutar matanya malas. "Biasanya juga lo gabung sama Aliesha. Kenapa sekarang lo gak-"

Farzan mengangkat tangannya untuk menyuruh Keenan berhenti. Pria itu menatap Bagas datar.

"Gue udah bilang kan kemarin kalau urusan kita belum selesai. Lo mau kita selesaikan di sini sekarang atau di lapangan?"

Bagas mengangkat kedua tangannya ke atas. Pria itu tersenyum miring. "Ups, gue gak bermaksud ngajakin lo ribut. Gue ke sini sebenarnya mau berdamai sama kalian."

Farzan dan kawan-kawan sontak mengangkat alis berbarengan.

"Damai?" Farrel tertawa. "Damai lo bilang?"

Bagas tersenyum lebar. "Iya, damai."

"Lo pikir segampang itu?" Farrel meraih kerah seragam Bagas.

Farzan menahan tangan Farrel agar pria itu tidak lepas kendali. "Lepas, Rel. Kita gak bisa berkelahi di sini."

Farrel melirik Farzan sekilas sebelum akhirnya melepaskan kerah seragam Bagas.

"Kali ini lo selamat, Gas. Sebaiknya lo pergi sebelum gue benar-benar mukul lo!" Farrel berkata dengan tatapan mengancam.

Bagas menatap remeh Farrel. Pria itu tidak takut. Ia malah senang jika mereka mau memukulnya. Dengan begitu, Aliesha pasti akan semakin membenci mereka.

Farrel mengepalkan tinjunya erat, tangannya sungguh gatal ingin meninju Bagas. Kenzie yang sedari tadi diam menarik kerah belakang Bagas, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia menyeretnya pergi.

Farzan, Farrel, dan Keenan menatap kepergian mereka dengan wajah bingung. Tidak biasanya Kenzie bersikap seperti itu.

Di sisi lain, Kenzie menyeret Bagas menuju laboratorium bahasa yang jarang sekali dilalui orang-orang. Pria itu mendorong Bagas ke tembok.

"Cukup, Gas! Apa tujuan lo sebenarnya?"

Bagas meringis sambil mencengkeram perutnya yang terasa sakit. "Maksud lo apa, Ken?"

"Gak usah pura-pura! Gue udah tahu semua rencana busuk lo!"

"Rencana busuk apa sih?" Bagas menautkan alisnya tak mengerti.

"Buat apa lo deketin Aliesha?"

"Dia teman sekelas gue. Salah kalau gue ada di dekat dia?"

Kenzie meninju tembok di samping kepala Bagas. "Jujur, Gas. Buat apa lo deketin Aliesha?!"

"Gue suka sama dia," jawab Bagas cepat.

"Lo bohong, Gas. Gue tahu lo suka sama Naomi," balas Kenzie tepat pada sasaran.

Bagas tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak tahu dari mana Kenzie mendapatkan informasi itu, karena ia tidak pernah menceritakan pada siapapun tentang orang yang dia suka.

Bagas tiba-tiba mengangguk. "Gue suka sama Naomi itu dulu, Ken. Sekarang gue suka sama Aliesha."

"Jangan main-main, Gas. Berani lo nyakitin Aliesha, gue gak bakal tinggal diam."

Kenzie lantas pergi setelah menyelesaikan ucapannya. Bagas melirik tembok yang ditinju Kenzie, ada bercak merah di sana. Senyum sinis terbit di bibir Bagas.

Saat Kenzie balik ke kantin, pria itu disuguhkan pemandangan yang sulit dideskripsikan. Teman-temannya kini sudah berpindah ke meja Aliesha, sedangkan meja yang tadi mereka duduki sudah dikuasai murid lain.

Farzan nampak tertekan ketika Arisha menyuapinya. Naomi sudah tidak duduk bersebelahan lagi dengan Aliesha, karena Aliesha sudah dihimpit oleh Keenan dan Farrel.

Kenzie bergegas menghampiri meja mereka. Pria itu duduk di samping Farzan.

"Setelah gue pergi, kalian malah ngacir ke sini. Bagus!" Kenzie mengangguk-anggukkan kepalanya sembari menatap teman-temannya datar.

Farzan, Farrel, dan Keenan menatap Kenzie kaget.

"Kok lo udah ada di sini? Tuh kutu kupret mana?" tanya Keenan.

"Kenzie lo ngagetin!" Farrel menyentuh dada kirinya dramatis.

"Bantuin gue, Ken." Farzan menatap Kenzie dengan tatapan memohon.

Kenzie memutar matanya malas. Mengabaikan ketiga temannya, pria itu menatap Aliesha lekat.

"Lis, kamu udah gak marah lagi sama kita?" tanyanya.

Aliesha yang sejak tadi menatap minumannya mendongak. "Kata siapa?"

"Ini, kamu biarin mereka gabung ke meja kamu."

Aliesha menghela napas panjang. "Aku udah gak peduli, Ken. Udah malas banget aku ngeladeni kalian."

Kenzie membuang napas berat. "Aku paham."