Masa-masa ujian sudah terlewat. Itu adalah akhir pekan ketika Aliesha sedang tertidur nyenyak di kamarnya. Waktu telah menunjukkan pukul delapan pagi, namun tubuhnya merasa enggan untuk berpisah dari kasur.
Aliesha yang matanya sudah terbuka tengah menatap langit-langit kamarnya. Bunyi notifikasi di hpnya membuat gadis itu berpaling.
Dengan malas, ia meraih hp yang ia letakkan di atas nakas. Aliesha membuka pesan yang baru saja masuk.
08xx xxxx xxxx
Bersiaplah! Akan ada orang yang menjemput dalam waktu 1 jam
Aliesha menautkan alisnya ketika membaca pesan itu. Sepertinya ia bisa menebak siapa orang yang mengirimkan pesan itu padanya.
Aliesha mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Gadis itu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia lalu pergi ke kamar mandi dengan langkah gontai,
Dalam waktu setengah jam, Aliesha keluar dari kamar mandi. Selesai berpakaian, gadis itu menguncir rambutnya membentuk ekor kuda. Ia lalu memakai makeup tipis serta lip balm agar wajahnya kelihatan lebih fresh.
Saat Aliesha turun ke lantai bawah, rupanya sudah ada mobil yang menunggu di luar. Tidak sempat sarapan, Aliesha langsung pergi begitu saja.
Melihat Aliesha keluar dari rumah, supir bergegas keluar dari mobil, kemudian membukakan pintu penumpang belakang untuk Aliesha.
"Makasih, Pak." Aliesha menunjukkan senyum ramah.
Supir itu mengangguk, kemudian masuk lagi ke kursi pengemudi. Di dalam mobil, Aliesha melihat ke luar jendela saat mobil melaju pergi.
Begitu mobil berhenti, Aliesha langsung turun. Pelayan yang sudah menunggunya sejak tadi menunduk hormat, kemudian membawanya ke taman belakang. Di sana, sudah ada seorang pria yang menunggunya.
Saat melihat Aliesha, pria itu tersenyum tipis. "Selamat pagi, Aliesha. Bagaimana kabarmu selama seminggu ini?"
Aliesha duduk di depan pria itu. "Kabar saya baik-baik saja. Bagaimana dengan Anda?" balasnya formal.
Pria itu tertawa. "Kamu terlalu formal Aliesha. Hanya ada kita berdua di sini. Saya harap kita bisa berbincang dengan lebih akrab."
Aliesha mengangguk. "Tentu."
"Baiklah. Saya akan langsung ke intinya. Apa kamu tahu sekolah Kivandra?"
Aliesha mengangkat sebelah alisnya. "Tentu saja saya tahu. Kenapa Anda menanyakan ini kepada saya?"
"Kamu berbicara formal lagi," gerutu pria itu, merasa tidak senang.
Aliesha menarik napas panjang. "Maaf, saya belum bisa menyesuaikan diri."
Pria itu mengangguk. "Kalau begitu, mari kita berbicara formal saja. Kurasa itu lebih baik untuk kita berdua."
Aliesha mengangguk setuju. Pria itu kembali melanjutkan, "Saya akan mengirim kamu ke sekolah Kivandra setelah kenaikan kelas. Bagaimana menurutmu?"
"Untuk apa Anda mengirim saya ke sana?" tanya Aliesha bingung.
"Ada satu hal yang saya ingin kamu lakukan. Tapi saya tidak akan mengatakannya sekarang. Apa kamu setuju atau tidak?"
Aliesha merasa bingung. Apakah ini hanya sebuah kebetulan? Ia memang berencana pergi ke sekolah Kivandra untuk mencari tahu tentang tubuh aslinya dan juga kabar kakeknya.
Tapi, dia tidak berharap akan ada orang yang membantunya pindah ke sekolah itu. Untuk mencapai tujuannya, bagaimana mungkin ia menolak tawaran yang sangat menggiurkan dari pria itu?
"Lalu, bagaimana dengan orang tua saya? Tidak mungkin saya pindah tanpa izin orang tua," tanya Aliesha ragu.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan perkara itu. Saya yang akan mengurus semuanya," jawab Raven tenang.
"Kalau begitu, bagaimana dengan rekaman cctv dan foto saya yang menyelinap ke ruang kerja milik Anda?"
Raven tersenyum miring. "Jangan khawatir. Saya akan melenyapkan bukti itu ketika tujuan saya telah tercapai."
Merasa pembicaraannya dengan Raven telah selesai, gadis itu akan pamit ketika tiba-tiba saja perutnya berbunyi. Keduanya tersentak. Aliesha memalingkan wajahnya yang terasa panas, sedangkan Raven menutup mulutnya yang tersenyum.
"Maaf, saya mengundangmu terlalu pagi. Kebetulan, saya juga belum sarapan. Apa kamu mau sarapan bersama saya?" tanya pria itu menawarkan.
Tanpa basa-basi, Aliesha pun mengangguk. Keduanya berpindah tempat ke ruang makan. Aliesha menatap sekeliling, mencari kehadiran Kenzie yang tidak ia lihat sejak tadi.
"Kenzie sedang pergi ke luar. Dia tidak akan pulang sampai sore," ujar Raven menjawab pertanyaan Aliesha yang belum sempat gadis itu keluarkan.
Aliesha mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Gadis itu memakan sarapannya dengan anggun. Raven yang duduk di depan Aliesha melirik gadis itu sesekali.
"Sudah berapa lama kamu kenal dengan Kenzie?" tanya Raven selesai sarapan.
Aliesha mendongak. "Sepertinya mendekati satu tahun. Kenapa?"
"Tidak ada. Saya hanya penasaran," jawab Raven jujur.
"Terimakasih untuk sarapannya. Sepertinya saya sudah harus pulang sekarang," ucap Aliesha saat melirik jam tangannya.
"Kamu punya janji dengan orang lain?"
Aliesha menggeleng. "Tidak. Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa. Saya hanya bertanya."
"Karena penasaran?" Aliesha mengangkat kedua alisnya.
Raven tersenyum. "Bukankah kamu bilang sudah mau pergi?"
Aliesha tahu Raven sengaja mengalihkan pembicaraan, namun ia tidak peduli. Ia dengan cepat mengangguk. Aliesha pulang diantar oleh supir yang sama.
Begitu sampai rumah, Arisha sudah berkacak pinggang di depan pintu.
"Dari mana aja lo? Bisa gak sih lo kalau mau keluar tuh ijin dulu?"
"Kok lo sewot?" Aliesha mengerutkan keningnya kesal. Pasalnya, gadis itu tiba-tiba saja memarahinya tanpa alasan yang jelas.
Arisha melotot. "Lo tuh emang sukanya nyusahin ya! Tadi Mama nelepon, nanyain lo, dan gue gak tahu harus jawab apa. Gue cari lo di kamar tapi lo gak ada, jadinya gue harus bohong ke Mama. Gue bilang lo lagi keluar sama teman lo."
Menghadapi omelan Arisha, Aliesha nampak santai. Gadis itu hanya mengangguk, kemudian berlalu ke kamarnya.
Arisha semakin emosi. Namun, ia tidak seperti dulu yang akan langsung memukul atau membully Aliesha. Ia kini hanya mencak-mencak seorang diri di ruang tamu.
Di kamar, Aliesha menghubungi Mama Yanti. Begitu sambungan terhubung, suara Mama Yanti terdengar dari speaker.
"Halo, Sayang. Gimana kabar kamu?"
"Hai, Ma. Kabar aku baik-baik aja. Katanya tadi Mama telepon ya?"
"Iya, Sayang, Mama mau ngomong sesuatu sama kamu. Gak apa-apa kan kalau kita ngobrolnya lewat hp aja?"
Aliesha mengangguk. Sadar mamanya tidak bisa melihatnya, ia dengan cepat menjawab.
"Iya. Ma. Gak apa-apa. Mama mau ngomong apa?"
"Begini, Sayang. Mama sama Papa mau pindahin kamu ke sekolah baru setelah kenaikan kelas. Tapi, kalau kamu gak mau, Mama gak akan paksa," jelas Mama Yanti.
Baru satu jam ia bertemu dengan Raven, namun mamanya sudah membahas hal ini sekarang. Aliesha menatap langit-langit kamarnya sambil berpikir keras.
Mungkinkah Raven langsung menghubungi Mama Yanti setelah ia pulang ke rumah? Tapi, bukankah itu terlalu cepat? Ia pikir setidaknya membutuhkan waktu satu Minggu untuk membujuk orang tuanya.
"Aliesha?" Suara Mama Yanti menyadarkan Aliesha dari lamunannya.
"Eh, iya Ma?" jawab Aliesha spontan.
"Kamu gak mau ya pindah sekolah?"
"Gak, Ma. Bukan gitu. Cuma, kenapa Mama mau pindahin aku ke sekolah baru?"
Ia harus tahu alasan Mama Yanti memintanya pindah sekolah. Ia merasa jalannya menuju sekolah Kivandra terlalu mulus. Ia takut jalan itu akan menjadi terjal ketika ia sudah berada di tengah jalan.
Di seberang sana, Mama Yanti menatap Papa Bimo cemas. Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan anaknya.
"Ma?" panggil Aliesha pelan.
"Sayang, menurut Mama sekolah Kivandra adalah sekolah yang bagus. Kamu pasti betah kalau sekolah di sana," jawab Mama Yanti cepat.
"Tapi, kenapa?" Aliesha merasa ada sesuatu yang disembunyikan Mama Yanti darinya.
"Karena sekolahnya bagus, itu aja."
"Kenapa bukan Arisha aja yang pindah?"
"Aliesha!"
Aliesha tersentak kala suara Mama Yanti naik satu tingkat. Mama Yanti yang berada di seberang juga merasa kaget karena sudah meneriaki anaknya sendiri.
"Aliesha, Mama minta maaf ya, Sayang. Mama gak bermaksud neriakin kamu."
Aliesha tersenyum kecut. "Gak apa-apa kok, Ma. Aku mau belajar dulu. See you."
Aliesha langsung memutuskan panggilan sebelum ibunya membalas ucapannya. Gadis itu membuang napas berat. Gadis itu membanting tubuhnya ke kasur saat matanya menatap fokus ke langit-langit kamar.