Chapter 25: 24. Bertemu Orang Baru

Aliesha The ProtagonistWords: 8795

Sendirian di dalam kamar membuat pikiran Aliesha semakin kacau. Untuk menjernihkan pikirannya, Aliesha memutuskan untuk jalan-jalan ke mall.

Gadis itu masuk ke berbagai toko perlengkapan wanita. Dimulai dari tas, baju, sepatu, dan lain sebagainya. Semua barang-barang itu sangat menarik minatnya.

Ia ingin membeli semuanya, namun ia sadar bahwa uang yang ia miliki sekarang tidak banyak. Karena itu, Aliesha hanya melihat-lihat saja tanpa membeli.

Saat ia akan berjalan keluar dari toko sepatu, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Aliesha dan orang yang ditabraknya sama-sama jatuh ke lantai. Aliesha meringis pelan.

"Njir, sakit banget." Aliesha menepuk-nepuk belakang celananya saat gadis itu berdiri.

"HEH! LO KALO JALAN TUH PAKE MATA!" teriak orang yang Aliesha tabrak.

Aliesha mendongak, menatap orang itu dengan alis terangkat.

"Hah? Bukannya jalan tuh harusnya pake kaki ya?" balasnya dengan wajah polos.

Wajah orang itu memerah malu. Dengan kasar ia menarik tangan kanan Aliesha. "Minta maaf gak lo?!"

"Maaf," ucap Aliesha spontan.

Orang itu tertegun sejenak, sebelum akhirnya tertawa lepas.

"Wahhh.. gampang banget lo bilang maafnya. Gue udah gak butuh permintaan maaf lo lagi. Gue mau lo ganti rugi sekarang!" Orang itu menunjuk tas belanjaan yang jatuh berserakan di lantai.

Aliesha melirik ke arah yang ditunjuk orang itu. Matanya melotot melihat logo barang bermerek di sana. Harga barang yang dibeli orang itu bisa mencapai puluhan juta, bagaimana ia bisa menggantinya?

Aliesha melirik ke kanan dan ke kiri, mencari celah untuk kabur. Orang yang ada di depannya memperhatikan gerak-gerik Aliesha, ia lalu tertawa lagi.

"Kenapa? Mau kabur lo? Sayangnya, lo gak bisa kabur semudah itu!" Orang itu menjentikkan jarinya, tiba-tiba saja beberapa pria berbaju hitam muncul entah dari mana.

Aliesha menahan napasnya tiga detik saking kagetnya. Tubuhnya membeku, ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.

'Kenapa hari ini begitu sial?' pikirnya.

"Nah, keputusannya ada sama lo. Mau ganti rugi atau masuk penjara?"

Aliesha menunjukkan senyum terbaiknya saat ia mengambil barang-barang yang jatuh dan memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik. Barang-barang itu terdiri dari baju, sepatu, dan tas.

Setelah memperhatikan bahwa tidak ada barang yang rusak, Aliesha menghela napas lega. Ia menatap orang itu dengan sikapnya yang tenang.

"Gini loh, Kak. Saya itu gak sengaja nabrak Kakak, trus juga barang-barang Kakak gak ada yang rusak. Saya udah cek tadi. Jadi, saya harus ganti rugi yang mana ya, Kak?" tanya Aliesha sopan.

Orang itu menarik belanjaannya dari tangan Aliesha. Setelah diperiksa, memang tidak ada satu barangpun yang rusak.

Orang itu mendengus. "Oke! Karena nih barang emang gak rusak, sekarang gue mau lo tanggung jawab!"

"Tanggung jawab gimana?" Aliesha menautkan alisnya tak mengerti.

"Nih! Lo bawain belanjaan gue, trus ikutin gue dari belakang." Orang itu menyerahkan belanjaannya pada Aliesha lagi.

Aliesha memutar matanya malas. Dengan terpaksa gadis itu mengikuti orang itu dari belakang. Orang yang Aliesha tabrak barusan adalah seorang pria tampan yang cukup tinggi.

Jika berdiri bersama pria itu, tinggi Aliesha mungkin hanya sampai di bahunya. Entah bagaimana mendeskripsikan wajah pria itu, karena ia memiliki wajah yang tampan dan cantik secara bersamaan.

Aliesha yang sedari tadi melamun tidak sengaja menabrak punggung pria itu yang berhenti secara mendadak. Aliesha tersadar dari lamunannya, gadis itu melirik pria itu yang nampak membeku di tempat.

Karena penasaran, Aliesha mengikuti pandangan pria itu. Ia melihat ada seorang gadis yang berjalan sambil berpegangan tangan dengan seorang pria yang sepertinya adalah pacarnya.

Tanpa aba-aba, pria itu berlari menghampiri kedua sejoli itu. Aliesha tetap berdiri di tempat, ia tidak ingin ikut campur dalam hubungan orang lain.

"Jadi gini kelakuan lo kalau lagi gak sama gue?" Pria itu menarik tangan sang gadis agar berbalik menghadapnya.

"Liam?!" Gadis itu terlihat shock ketika melihat pria itu juga ada di sana.

"Iya, ini gue. Liam, pacar lo!" Pria itu menatap tajam gadis di depannya.

Pria yang berjalan bersama gadis itu mengangkat sebelah alisnya. "Lo pacarnya Ara?"

Liam menoleh. Pria itu menilai pria lain dari atas sampai bawah.

"Gak. Mulai sekarang nih cewek udah bukan pacar gue lagi. Have fun ya kalian," ucap Liam sinis.

Mendengar ucapan Liam, gadis itu refleks melepaskan tautan tangannya dengan pria di sampingnya. Ia meraih tangan Liam dengan wajah memohon.

"Liam, aku minta maaf ya. Ini gak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku sama dia cuma-"

Liam dengan cepat memotong ucapan gadis itu. "Cuma apa? Teman? Gebetan? Gue udah tahu kelakuan lo ya, Ara. Lo tuh emang semurahan itu."

Pria yang jalan bersama Ara meraih kerah kemeja Liam. "Jaga ya mulut lo!"

Liam dengan kasar melepaskan tangan pria itu darinya. "Gak usah pegang-pegang, anj*ng! Jijik gue."

Pria yang belum diketahui namanya itu meraih tangan Ara. "Udah, Ra. Mending kita pergi aja dari sini."

"Tapi-" Ara menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Ia akan mendekati Liam lagi, namun pria itu sudah mundur satu langkah.

"Kita pergi, Ra!"

Ara akhirnya mengangguk. Setelah keduanya pergi, Aliesha berjalan mendekati Liam.

"Kak," panggilnya pelan.

Liam mengepalkan tangannya, rasa kesal yang ia rasakan masih ada. Saat mendengar suara Aliesha, Liam langsung menoleh. Tatapan pria itu terlihat ganas.

"Apa!" bentaknya.

Aliesha memegang dadanya yang berpacu kuat. Ia kaget saat Liam berteriak padanya. Aliesha melangkah mundur tanpa sadar. Ia akan jatuh ke bawah karena kakinya terasa lemas seperti jelly, beruntung Liam dengan cepat meraih pinggangnya.

"Sorry," kata Liam setelah membantu Aliesha berdiri tegak.

Aliesha tersenyum kaku. "Gak apa-apa, Kak."

Keduanya lantas pergi dari sana. Sebagai permintaan maafnya, Liam mengajak Aliesha ke cafe. Keduanya memilih tempat duduk di lantai dua yang berdekatan dengan jendela.

Setelah pesanan mereka datang, Aliesha menyeruput minumannya sambil bermain hp. Ia tidak tahu harus berbicara apa dengan pria di depannya. Suasana di antara mereka sangat canggung.

"Lo lihat cewek tadi kan? Dia itu pacar gue. Maksud gue, mantan pacar gue," ujar Liam tiba-tiba.

Aliesha mendongak, ia lalu mengangguk. Liam berkata lagi, "Gue sama dia udah pacaran lama. Gue juga tahu dia sering jalan bareng cowok lain di belakang gue."

Aliesha hanya diam. Ia membiarkan Liam mengeluarkan unek-uneknya. Pria itu terus bercerita tentang kisah cintanya dengan gadis bernama Ara.

Setelah pria itu selesai bercerita, Aliesha dengan ragu bertanya. "Maaf, Kak. Kalau lo emang udah tahu cewek lo sering jalan sama cowok lain, kok lo masih bertahan?"

"Itu karena gue sayang banget sama dia. Pikir gue selama ini, dia jalan sama mereka ya cuma sekedar jalan aja. Gue gak nyangka dia bakal ganjen ke cowok lain disaat gue gak ada."

Aliesha menunduk. Ia tida tahu apakah harus tertawa atau menangis. Apakah benar pria yang sudah mengenal cinta akan menjadi bodoh seperti dia?

"Btw, kita belum kenalan nih. Gue Liam, lo?"

Aliesha mengangkat kepalanya lagi. Ia tersenyum saat menjabat tangan Liam. "Gue Aliesha."

"Aliesha? Hm, gue kayaknya pernah denger nama lo deh. Tapi di mana ya?" ucap Liam dengan pose berpikir.

Aliesha terkekeh. "Nama Aliesha bukan cuma gue kali. Mungkin aja di sekolah lo juga ada yang namanya Aliesha."

Liam mengangguk. "Benar juga ya. Oh iya, lo dari sekolah mana?"

"Gue dari SMA Cempaka. Kalau lo?"

"Wahh.. Di SMA Cempaka kan cecan sama cogannya banyak banget. Kalau gue dari SMA Kivandra. Di sana juga banyak cecan sama cogan lohh."

Aliesha tertegun mendengar nama SMA Kivandra disebut. Sepertinya ia punya peluang untuk mengenal sekolah itu sebelum masuk ke sana.

"Oh ya? Em, setahu gue nih ya, sekolah itu kan dulunya bukan nama Kivandra. Kok namanya tiba-tiba diubah?" tanya Aliesha dengan wajah polos.

Liam tampak berpikir sejenak. Pria itu kemudian menjawab, "Gue gak pernah nanya sih. Tapi, gue denger-denger katanya pemilik sekolah yang lama udah meninggal. Makanya sekolah itu diberikan ke cucu satu-satunya."

"Pemilik sekolah itu udah meninggal?!" Aliesha tersentak. Ia tidak percaya ternyata kakeknya sudah meninggal.

Jika apa yang dikatakan Liam itu benar, mungkinkah tubuhnya yang asli masih hidup? Lantas, jiwa siapa yang ada di dalam tubuhnya? Mungkinkah itu adalah jiwa Aliesha yang asli?

"Lo kenapa?" tanya Liam heran. Pasalnya, gadis itu bersikap berlebihan setelah mendengar ucapannya barusan.

Aliesha kembali ke kenyataan. Gadis itu dengan cepat menggeleng. "Gue gak apa-apa kok."

Setelah berbincang cukup lama dengan Liam, Aliesha akhirnya pulang ke rumah. Gadis itu bahkan sempat bertukar nomor dengan pria itu sebelum mereka berpisah.

Keinginannya untuk pindah ke SMA Kivandra semakin besar. Perasaan buruk yang ia rasakan juga semakin membuncah di hatinya.