Hari penerimaan laporan pendidikan telah tiba, namun orang tua Aliesha dan Arisha belum juga balik dari luar kota. Oleh karena itu, Mbok Asih akan menjadi wali menggantikan posisi orang tua mereka berdua.
"Mbok langsung ke kelas Arisha aja ya. Nanti aku ambil raporku sendiri," jelas Aliesha ketika mereka sudah sampai di sekolah.
Semua murid memang diwajibkan hadir saat penerimaan laporan pendidikan, namun Arisha tidak mau pergi. Gadis itu lebih memilih tinggal di rumah.
"Tapi, Non-"
Aliesha tersenyum kecil. "Udah, gak apa-apa, Mbok. Ada temanku juga yang ambil rapornya sendiri, soalnya orang tuanya juga lagi pergi ke luar negeri."
Mbok Asih terpaksa menganggukkan kepalanya setuju. Keduanya berpisah di tikungan karena letak kelas Aliesha dan Arisha lumayan jauh.
Aliesha bersama teman-temannya yang lain menunggu di luar kelas saat rapat orang tua diadakan.
Begitu tiba waktu pembagian laporan pendidikan, gadis itu bersama Naomi duduk di dalam kelas, menunggu nama mereka dipanggil.
Nama Aliesha dipanggil lebih dulu, karena ia mendapatkan rangking satu di kelasnya. Kemudian diikuti oleh Naomi, Syifa, Bagas, dan seterusnya. Setelah mengambil rapor dan mengucapkan terima kasih kepada wali kelasnya, Aliesha bersama teman-temannya pergi ke luar.
"Selamat ya, Lis."
"Selamat, Aliesha."
"Selamat, Lis."
Kalimat itu diucapkan oleh beberapa teman sekelasnya yang berpapasan dengannya di koridor. Naomi, Bagas, Syifa, Ratna, Randy, dan Rizky juga memberikan ucapan selamat padanya.
"Guys, kita ngerayain hari baik ini di cafe yuk. Atau kalau nggak, di tempat karaoke aja. Gimana? Kalian setuju gak?" tanya Ratna antusias.
Mereka bertujuh kini tengah berjalan menuju gerbang. Jam masih menunjukkan pukul sebelas siang, masih terlalu awal untuk pulang ke rumah.
"Gue sih setuju-setuju aja. Tapi, kita harus ganti baju dulu. Gue gak mau kita jalan ke luar masih dengan seragam," kata Naomi memberi saran.
Syifa mengangguk. "Gue setuju sama saran Naomi. Kita gak boleh pake seragam kalau mau main."
"Gak masalah. Gue juga gak bilang kita harus pake seragam. Siapa-siapa aja yang bakal ikut?" Ratna melihat teman-temannya satu per satu.
"Gue!" Semua orang mengangkat telunjuknya ke atas kecuali Aliesha.
"Lo gak mau ikut, Lis?" tanya Naomi saat melihat Aliesha diam saja.
Aliesha tersenyum. "Aku ikut, karena ada satu hal yang harus aku sampaikan pada kalian semua."
"Apa?" tanya mereka serempak.
Masih dengan senyum yang sama, Aliesha berkata lagi. "Nanti aja. Oh iya, kita nanti kan pulang dulu ke rumah, trus ngumpulnya di mana? Jam berapa?"
"Nah! Ini kan masih jam sebelas nih. Kita pulang, ganti baju, trus ngumpul di-" Ratna mengusap dagunya dengan mata yang mengarah ke atas.
"Bentar. Ini kita mau ke mana? Cafe atau karaoke?" Ratna mengangkat kedua alisnya saat gadis itu bertanya.
"Kita voting aja. Yang mau ke cafe angkat tangan, yang mau ke karaoke angkat tangan. Siap?" Bagas memberikan aba-aba.
Setelah semuanya mengangguk, voting pun dimulai. "Siapa yang mau ke cafe?" tanya Bagas.
Aliesha mengangkat tangannya. Semuanya saling bertukar pandang, mereka menyadari bahwa hanya Aliesha sendiri yang mengangkat tangannya.
"Siapa yang mau karaoke?" Bagas bertanya lagi saat pria itu mengangkat tangannya lebih dulu.
Setelah Bagas, mereka yang ada di sana semuanya mengangkat tangannya, selain Aliesha tentunya.
"Lis, kenapa lo mau kita ke cafe?" tanya Naomi saat mereka sudah menurunkan tangan mereka masing-masing.
"Aku milih cafe karena suasana di sana jauh lebih tenang dibanding tempat karaoke. Apalagi berita yang mau aku sampaikan ke kalian itu cukup mengejutkan buat kalian," jawab Aliesha cukup panjang.
"Ya udah, kalau gitu kita ke cafe aja," putus Ratna pada akhirnya. Semuanya mengangguk setuju.
"Wahh kalian mau nongkrong di cafe? Kita boleh join gak?" tanya Keenan yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat mereka.
Farzan dan Farrel menunjukkan senyum lebar pada Aliesha dan teman-temannya, sedangkan Kenzie hanya berdiri diam di samping. Semua orang menoleh serentak. Naomi mendelik ketika melihat keempat orang itu.
"Kalian nguping pembicaraan kita kan dari tadi?" tuduhnya.
Farzan kawan-kawan hanya cengengesan mendengar tuduhan itu. Mereka tidak berani membantah karena tuduhan itu benar adanya.
"Gue gak mau pergi kalau mereka ikut," ucap Syifa dengan tangan terlipat. Gadis itu menatap Keenan tajam.
"Gue juga," sahut Bagas, Randy, dan Rizky berbarengan.
"Yahh.. trus rencana kita gimana? Masa gak jadi?" Ratna menekuk wajahnya cemberut.
"Tuh! Lihat tuh teman kalian. Masa kalian tega sih batalin janji gitu aja," kata Farzan mulai memanas-manasi keadaan.
"Iya. Kalian gak kasihan apa sama, siapa sih nama lo?" Farrel melihat name tag di baju Ratna. "Ratna ya? Nah, iya Ratna!" seru pria itu dengan wajah iba yang dibuat-buat.
"Syifa, lo gak boleh egois. Masa gara-gara kita ikut kalian gak jadi pergi," tambah Keenan yang menggelengkan kepalanya prihatin.
Syifa menghembuskan napas kasar. "Kenapa sih lo selalu gangguin gue. Gak di rumah, gak di sekolah. Bikin gue kesel, b*ngs*t!"
Keenan menutup mulutnya penuh drama. "Syifa, gak boleh ngomong kasar loh. Nanti dimarahin nyokap," tegurnya.
Aliesha dan lainnya saling bertukar pandang. Interaksi Keenan dan Syifa terlihat cukup akrab.
"Lo ada hubungan apa sama Keenan, Syif?" tanya Ratna menyuarakan kebingungan semua orang.
Farrel menepuk pundak Keenan. "Lo ada hubungan rahasia ya sama nih cewek? Gila! Gak nyangka gue lo mainnya sembunyi-sembunyi," katanya dengan sorot kecewa.
Syifa memutar matanya malas, begitupula dengan Keenan.
"Dia sepupu gue," jawab Syifa datar.
"Tuh, denger! Kita sepupuan." Keenan membalas Farrel dengan memukul bahunya.
"Santai, Bro. Gue kan cuma menduga," ucap Farrel tanpa rasa bersalah.
"Non," panggil Mbok Asih pelan.
Wanita paruh baya itu sudah menunggu Aliesha sejak tadi, namun gadis itu belum juga menghampirinya. Dengan terpaksa Mbok Asih mendekati gadis itu untuk mengajaknya pulang bersama.
Aliesha menoleh. Gadis itu akhirnya ingat bahwa ia sedang ditunggu oleh Mbok Asih dan Pak Jarwo.
"Eh iya, Mbok. Guys, aku duluan ya." Aliesha melambaikan tangannya ketika ia berjalan bersama Mbok Asih menuju mobil.
"Rencana kita gimana, Lis?" teriak Naomi sebelum Aliesha masuk ke dalam mobil.
"Chat aja kalo jadi," balas Aliesha berteriak.
***
Kini Aliesha bersama teman-temannya sudah berada di cafe. Tepat saat Aliesha sampai di rumah, Naomi menelepon untuk memberitahunya bahwa mereka jadi pergi ke cafe.
Farzan dan kawan-kawan tidak ikut, sebab mereka tidak tahu ke cafe mana mereka pergi. Selesai memesan, ketujuh orang itu duduk di meja paling ujung dalam ruangan.
"Lis, gue udah gak tahan. Berita apa yang sebenarnya mau lo sampaikan ke kita-kita?" Bagas menatap Aliesha lekat ketika pria itu bertanya.
Sedari tadi ia sudah menahan rasa penasarannya. Sekarang ia ingin mendengar berita mengejutkan apa yang membuat Aliesha tidak ingin ikut dengan mereka ke tempat karaoke.
Aliesha dengan tenang menyeruput minumannya. "Gue harap kalian gak kaget denger berita ini."
Semuanya mengangguk. "Gak akan, Lis. Gue janji gue gak bakal kaget," kata Naomi pede.
"Cepetan, Lis. Gue udah gak sabar," pinta Bagas sedikit memaksa.
Aliesha menarik napas dalam-dalam. Ditatapnya wajah teman-temannya yang sebentar lagi tidak akan pernah ia lihat dalam waktu lama.
"Kita gak akan ketemu lagi di sekolah, karena aku akan pindah ke sekolah baru," ucap Aliesha cepat.
Bagas dan Naomi terdiam. Keduanya mencoba mencerna ucapan Aliesha barusan. Empat orang lainnya nampak tertegun, namun mereka masih bisa berpikir jernih, tidak seperti Bagas dan Naomi.
"Kok tiba-tiba?" Syifa adalah orang pertama yang bersuara.
Aliesha tersenyum tipis. "Gak tiba-tiba kok. Aku emang udah ada rencana buat pindah sejak lama."
Naomi menunduk, bahunya kelihatan bergetar. "Kenapa lo baru bilang sekarang, Lis?" tanya Naomi lirih. Suara isakan mulai terdengar.
Aliesha menatap Naomi sendu. "Karena sekarang adalah waktu yang tepat, Nao."
Naomi mengangkat kepalanya. Air matanya mulai berjatuhan membasahi pipi. "Gue sahabat lo atau bukan sih, Lis?!"
"Kamu sahabat aku, Nao. Tapi-" Aliesha memalingkan wajahnya, menolak melihat wajah Naomi.
"Tapi apa?!" Naomi berteriak.
Syifa bergegas merangkul bahu Naomi yang semakin bergetar. Sesak di dada Naomi semakin menjadi.
"Lo itu sahabat gue, Lis. Udah gue anggap seperti saudara gue sendiri. Kenapa lo mau ninggalin gue?"
Aliesha tidak tahu harus menjawab apa. Ia juga tidak ingin pergi, tapi ia harus. Ada alasan kuat kenapa ia harus pindah ke SMA Kivandra. Ia tidak ingin meninggalkan Naomi, karena ia juga sudah menganggap Naomi seperti saudaranya sendiri.
Tapi, apa boleh buat? Ia harus pergi untuk memecahkan misteri dibalik kematiannya.
Sekarang mereka telah menjadi pusat perhatian di cafe itu. Semua tatapan mengarah ke meja mereka. Rasanya Aliesha ingin kabur. Ia tidak ingin melihat sahabatnya menangis.
"Aku, aku duluan." Aliesha meraih tas dan hpnya saat gadis itu berdiri.
Bagas dengan cepat meraih tangannya. "Lo mau ke mana, Lis? Mau kabur?"
Aliesha melepaskan tangan Bagas dari tangannya. "Tolong tenangin Naomi, Gas. Aku gak tahu harus berbuat apa di situasi seperti ini."
"Itu berarti lo mau kabur, Lis." Randy berdiri, ia tidak terima Aliesha main pergi begitu saja setelah membuat kekacauan.
"Lo gak bisa pergi sebelum lo cerita alasan lo pindah sekolah, Lis!" Bagas kembali meraih tangan Aliesha. Kali ini ia mencengkeramnya kuat agar Aliesha tidak bisa melepaskannya.