Suasana di antara mereka kian memanas, apalagi Naomi masih belum juga berhenti menangis. Syifa yang sedang merangkul Naomi pun angkat suara.
"Bagas, Randy, lo berdua apa-apaan sih. Lepasin tangan lo, Gas!" perintahnya.
Bagas menoleh. "Gak! Sebelum Aliesha duduk, gue gak bakal lepasin tangan gue!" Bagas dengan tegas menolak.
Takut suasana bertambah kacau, Rizky menarik tangan Randy supaya pria itu duduk. Untung saja Randy menurut sehingga Rizky bisa menghela napas lega.
Ratna membanting tangannya ke meja. Gadis itu menatap Bagas tajam. "Gas! Lo tuh cowok ya. Lo gak sadar apa kalau lo nyakitin Aliesha?"
Bagas tersentak. Pria itu mengangkat pandangannya, menatap lurus wajah Aliesha. Saat melihat Aliesha mengernyit menahan sakit, pria itu sedikit melonggarkan cengkeramannya.
"Maaf, Lis. Tapi gue mau lo jelasin dulu alasan lo pindah sekolah," ucap Bagas dengan raut bersalah.
Setelah Aliesha duduk, Bagas akhirnya melepaskan tangan gadis itu. Aliesha menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Aku pindah sekolah karena orang tuaku yang minta. Lagipula, ini adalah pilihan terbaik untuk kita semua," jelas Aliesha singkat.
Naomi menghentikan tangisannya. Gadis itu menatap Aliesha kesal. "Pilihan terbaik apanya, Lis? Bagi gue ini pilihan terburuk!"
"Ini emang pilihan terbaik, Nao. Bukan buat aku aja, tapi Arisha juga." Aliesha menunjukkan senyum tipis.
"Jadi, ini semua gara-gara Arisha?" tanya Bagas geram.
"Kenapa bukan dia aja yang pindah? Kenapa harus lo, Lis?" Naomi memegang tangan Aliesha erat.
Aliesha menggeleng. "Aku yang udah putusin buat pindah. Kalau kalian percaya sama aku, please, kalian gak boleh nyalahin Arisha atas kepindahanku ini."
Semuanya membuang napas pasrah mendengar permintaan Aliesha. Karena itu adalah hari terakhir mereka bertemu, ketujuh orang itu memutuskan untuk pergi ke tempat karaoke.
Di sana, mereka meluapkan semua emosi mereka dengan bernyanyi. Terutama Bagas dan Naomi yang benar-benar mencurahkan perasaan mereka melalui lagu yang mereka nyanyikan.
***
Dua Minggu telah berlalu. Sudah waktunya ajaran baru dimulai. Aliesha menatap pantulan dirinya di cermin. Bibirnya melengkung ke atas, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
Aliesha memakai riasan tipis di wajahnya. Bibirnya yang berwarna pink alami telah diberi liptint yang membuatnya terlihat semakin cantik.
Aliesha yang sudah siap dengan seragam barunya berjalan keluar dari kamar. Sampai di ruang makan, Aliesha tersenyum cerah pada orang-orang yang ada di sana.
"Morning, Ma. Morning, Pa." Aliesha kemudian menelengkan kepalanya.
"Morning, Arisha," sapanya riang.
"Morning, Honey," balas Mama Yanti dan Papa Bimo bersamaan.
Arisha mendengus, namun gadis itu tetap menjawab, "Hm, morning!"
Orang tua Aliesha memang sudah pulang sejak seminggu yang lalu. Hubungan mereka pun semakin membaik hari demi hari, terutama hubungannya dengan Arisha.
Seperti hari ini, keduanya duduk berdampingan dan tidak ada cek-cok di antara mereka. Aliesha mengambil roti berisi selai kacang untuk ia makan, kemudian meminum susu yang dibuatkan Mbok Asih untuknya.
Selesai sarapan, Aliesha pamit pada orang tuanya untuk pergi ke sekolah. Gadis itu berjalan ke luar rumah dengan senyum mengembang. Hari ini ia akhirnya bisa mengendarai mobil yang baru saja dibeli Mama Yanti untuknya.
Ia tidak mengerti mengapa Mama Yanti memberikan mobil padanya, namun ia tetap menerimanya dengan senang hati.
"Senang banget lo yang baru dikasih mobil sama Nyokap," kata Arisha sinis.
Aliesha menoleh, gadis itu tertawa. "Iya, dong. Daripada lo yang pake mobil lama," ucapnya sembari memeletkan lidahnya pada Arisha.
"Awas aja lo! Gue bakal minta mobil baru sama Papa nanti," balas Arisha sombong.
"Nyenyenye, minta aja sana. Itupun kalau lo dikasih," ejek Aliesha.
Aliesha masuk ke mobilnya. Gadis itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebelum pergi, ia masih sempat memberikan jari tengahnya pada Arisha untuk membuat gadis itu kesal.
Begitu mobil Aliesha memasuki gerbang sekolah, tatapan semua orang tertuju pada mobilnya. Aliesha menunggu lima menit sebelum keluar dari mobil. Banyak pasang mata yang mengantisipasi kehadirannya.
Saat gadis itu turun dari mobil, ia mengibaskan rambutnya ke belakang. Suara seruan dari beberapa murid mulai terdengar.
"Gila! Itu siapa? Cakep banget anjir!"
"Sepertinya murid baru deh. Gue belum pernah lihat tuh cewek di sini sebelumnya!"
"Kiw, cewek! Mau gak jadi pacar gua?!"
"Sok kecakepan banget jadi orang! Cantikan juga gue!"
"Sasaran empuk nih!"
"Dia target gue selanjutnya!"
Aliesha mengabaikan seruan-seruan itu. Gadis itu berjalan angkuh memasuki gedung sekolah, tepatnya menuju ruang kepala sekolah. Pada saat itu, bel masuk telah berbunyi.
Tidak sulit bagi Aliesha untuk menemukan ruang kepala sekolah. Gadis itu mengetuk pintu dua kali. Saat terdengar seruan yang menyuruhnya masuk, Aliesha tanpa ragu membuka pintu dan masuk ke dalam.
Aliesha memperhatikan pria paruh baya yang duduk di belakang meja. Kacamata terlihat bertengger di hidungnya. Kepala sekolah mengangkat kepalanya, memperhatikan Aliesha dari atas sampai bawah.
"Aliesha Azkadina, betul?" tanyanya sembari menurunkan tatapannya pada kertas di tangannya.
"Betul, Pak."
"Mari ikut saya!"
Kepala sekolah keluar dari ruangan terlebih dahulu, Aliesha mengikuti di belakangnya. Mereka berjalan menuju kelas yang akan Aliesha tempati.
Berhenti di kelas XI IPA 1, kepala sekolah mengetuk pintu yang terbuka dan masuk ke dalam. Guru yang sedang mengajar memberi ruang untuk kepala sekolah berbicara di depan kelas.
"Anak-anak sekalian, hari ini kita kedatangan murid baru. Nak, silahkan perkenalkan dirimu pada teman-teman." Kepala sekolah menganggukkan kepalanya pada Aliesha.
Aliesha tersenyum tipis. Gadis itu menatap murid-murid di depannya satu per satu. "Saya Aliesha Azkadina, salam kenal."
"Baiklah, Aliesha. Silahkan duduk di bangku yang kosong," kata Pak guru yang masih belum diketahui namanya.
Aliesha melihat sekeliling, tatapannya berhenti di bangku yang berada di pojok kelas di samping jendela. Hanya bangku itu yang terlihat kosong di kelas itu.
"Baik, Pak." Aliesha melangkah dengan tatapan lurus.
Tiba di deretan ketiga, ada seorang murid perempuan yang menjulurkan kakinya ke samping, berharap Aliesha akan terjatuh ketika tersandung oleh kakinya.
Aliesha tersenyum miring. Gadis itu mengangkat kakinya, kemudian menginjak kaki perempuan itu yang membuatnya berteriak kaget.
"Ada apa itu?" tanya Pak guru setelah mendengar keributan yang terjadi.
Murid yang berencana mempermalukan Aliesha tadi meringis. Walaupun dia merasakan sakit di kakinya, dia tetap mengatakan tidak apa-apa. Dia takut guru akan menyalahkannya karena telah memiliki niat buruk terhadap murid baru.
Aliesha berdecak pelan saat ia duduk di bangkunya. Ia melirik pria yang duduk di seberang mejanya melalui ekor matanya. Pria itu terlihat sibuk dengan buku di tangannya. Terlihat jelas bahwa dia adalah siswa yang pintar dan ambisius dalam belajar.
Walau di matanya telah bertengger kacamata tebal, ketampanan pria itu tak bisa ditutupi. Gayanya pun tidak cupu seperti kutu buku pada umumnya.
Biasanya, orang seperti dia akan duduk di barisan paling depan di dekat meja guru, bukan di tempatnya sekarang yang terletak di baris paling belakang di dalam kelas.
Ketika bel istirahat berbunyi, Aliesha memasukkan hpnya ke dalam saku. Gadis itu melangkahkan kakinya ke luar kelas. Tujuannya saat ini adalah kantin. Setibanya ia di sana, gadis itu mengantre seperti murid-murid lainnya untuk mendapatkan makanan.
Aliesha mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk mencari meja kosong. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju meja yang terletak di pojok kantin.
Ia menyantap makanannya dengan tenang. Sayangnya, ketenangan itu tidak berlangsung lama saat mejanya tiba-tiba saja digebrak dengan keras. Aliesha mengangkat pandangannya, menatap orang yang menggebrak mejanya dengan alis terangkat.
Aliesha meneliti gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seragam yang dikenakan gadis itu begitu ketat sampai kancing seragamnya terlihat bisa lepas kapan saja. Rok yang dipakainya pun terlalu pendek, seperti bukan anak sekolahan.
"Lo murid baru kan di sekolah ini? Ambilin gue makanan gih! Gue laper banget," perintahnya seenak jidat. Dia dan dua orang temannya bahkan sudah duduk di bangku yang kosong.
"Sekalian punya kami juga," ucap salah satu temannya.
Aliesha tidak menggubris permintaannya. Ia tetap melanjutkan acara makannya seolah tidak ada yang terjadi. Merasa diabaikan, gadis itu menarik rambut Aliesha kasar sampai kepalanya mendongak ke atas.
"S*ngong banget ya lo jadi orang! Kalau gue suruh tuh langsung dikerjain!" Gadis itu mendorong Aliesha sampai ia jatuh dari kursi.
Hal itu mengundang rasa penasaran dari seluruh penghuni kantin. Semua pandangan kini tertuju pada mereka berdua.