Chapter 28: 27. Ketemu Liam

Aliesha The ProtagonistWords: 9030

Aliesha terjatuh dengan kepala tertunduk. Rambutnya yang sengaja ia gerai kini telah menjadi kusut dan berantakan. Ia menyeringai.

Melihat dari reaksi orang-orang di sekitar, sepertinya kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Karena tidak ada seorangpun yang berani menolongnya, ia bisa menebak bahwa gadis yang baru saja mendorongnya adalah anak orang penting di sekolah itu.

Setelah merapikan rambutnya dengan jari-jari lentiknya, Aliesha beranjak dari lantai. Ia kini berdiri berhadapan dengan gadis yang baru saja mendorongnya.

Aliesha melihat sekeliling. Kantin adalah tempat favoritnya ketika ia membully orang lain, tentunya itu dulu saat ia masih berada di tubuh lamanya.

Aliesha tersenyum. Di sekolah yang ia kenal sebagai miliknya, daerah kekuasaannya, berani-beraninya ada orang asing yang berniat membully nya.

Aliesha terkekeh. "Gue penasaran. Status lo di sekolah ini tuh apa sih? Anak kepala sekolah? Atau, anak pemilik sekolah?"

Pertanyaan Aliesha membuat gadis itu terkesiap. Dia akan menjawab, namun Aliesha sudah lebih dulu menghentikannya. Aliesha meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.

"Gak usah dijawab. Harusnya lo emang anak orang penting sih di sekolah ini. Makanya, lo berani bully gue. Karena apa? Karena gue murid baru?" Aliesha tersenyum sangat manis saat mengatakan itu.

Gadis di depannya menunjuk wajah Aliesha. "Lo!"

"Gue kenapa?" tanya Aliesha cepat. "Lo gak suka karena gue bisa ngelawan lo, sedangkan orang lain semuanya takut sama lo. Iya?" lanjutnya lagi.

Arabella Maheswari atau kerap kali disapa Abel merupakan anak perempuan satu-satunya dari Galih Maheswari, kepala sekolah di sekolah itu. Abel memiliki sikap manja dan suka cari masalah, terutama pada murid baru dan anak-anak cupu yang bersekolah disitu.

Abel mengepalkan tangannya kuat saat mendengar perkataan Aliesha barusan. Tidak ada seorangpun yang berani melawannya sebelumnya. Sebagai anak kepala sekolah, dia selalu mendapat perlakuan khusus dari para guru, apalagi ayahnya sangat memanjakannya.

Ia bebas melakukan apa saja di sekolah itu. Ayahnya tidak pernah marah, paling-paling hanya menegurnya sesekali. Menghadapi Aliesha, Abel tidak bisa berkata apa-apa.

Di pintu kantin, datang tiga siswa laki-laki yang merupakan murid paling populer di sekolah itu. Dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, ketiga orang itu berjalan memasuki kantin.

Ketiganya mengernyit kala tidak ada suara teriakan yang mengiringi langkah mereka. Padahal biasanya, banyak siswi perempuan akan menjerit histeris saat melihat kedatangan mereka.

"Kok pada aneh ya?" ucap salah seorang di antara mereka.

"Iya. Gak biasanya kantin hening kek gini," sahut yang lainnya.

Mengikuti pandangan semua orang, tatapan ketiga pemuda itu berhenti di satu titik. Mereka melihat dua murid perempuan yang menjadi pusat perhatian di depan sana.

"Kayaknya Abel lagi bully murid baru deh. Denger-denger sih katanya murid baru itu cantik banget," ucap Dhafin yang merupakan salah satu dari tiga laki-laki itu.

"Hm? Masa sih? Gue jadi penasaran," timpal Liam. Pasalnya, ia tidak bisa melihat wajah Aliesha karena posisi gadis itu yang membelakangi mereka.

"Lo gak berniat belain Abel?" tanya Xander dengan alis terangkat sebelah.

Liam mengernyit. "Buat?"

Dhafin memutar matanya malas. "Ya kan Abel sepupu lo, Yam."

"Jangan panggil gue Yam, b*ngke! Gue bukan ayam! Panggil gue Liam! L_I_A_M! LI-AM!" balas Liam ngegas.

Dhafin terkekeh. "Santai aja kali, nyet. Mau bantuin Abel gak nih?"

Liam mendengus. "Nggaklah. Itu kan masalah mereka. Lagipula juga, males banget gue kalau harus lihat mukanya si Ara."

Ara, mantannya Liam itu memang salah satu dari temannya Abel. Pria itu muak karena Ara masih mengejar-ngejarnya sampai sekarang.

Xander menepuk bahu Liam pelan. "Kalau gitu, kita lihat dari dekat aja yuk. Gue penasaran sama tuh murid baru," katanya seraya berjalan lebih dulu.

Liam dan Dhafin saling melirik. Keduanya akhirnya mengikuti Xander dari belakang. Pada saat itu, Abel yang terdiam sejak tadi mengangkat tangannya untuk menampar Aliesha.

Aliesha tidak tinggal diam. Gadis itu menahan tangan Abel, kemudian memberikan tamparan yang menyakitkan di wajah gadis itu.

Abel terkesiap. Baru kali ini ia ditampar oleh orang lain. Butuh waktu lama bagi Abel untuk menyadari apa yang terjadi. Setelah ia sadar, gadis itu menatap Aliesha tajam.

"Lo berani nampar gue?" tanyanya dengan raut tak percaya.

Aliesha memasang wajah polos andalannya. "Masa aku gak berani. Kan kamu yang mulai duluan," ucapnya dengan tatapan meremehkan.

"Lo!" Abel dibuat tidak bisa berkata-kata lagi oleh Aliesha.

Gadis itu menatap kedua temannya satu per satu. "Kenapa kalian diam aja dari tadi? Kalian gak bisu kan?!"

Sadar bahwa Abel sedang marah, Ara melangkah maju untuk melawan Aliesha. Ketika diperhatikan lebih jelas, rupanya wajah Aliesha terlihat familiar. Ara berpikir cukup lama, di mana sebenarnya dia pernah bertemu dengan gadis itu.

Saat potongan-potongan ingatan itu muncul, Ara menatap Aliesha terkejut. Sedetik kemudian, gadis itu menerjang Aliesha, membuat keduanya jatuh ke lantai.

"Kurang ajar ya lo! Gue inget sekarang. Lo kan cewek yang jalan sama Liam waktu itu?!" Ara berusaha menjambak rambut Aliesha sekuat tenaga.

Aliesha dengan cekatan memegang tangan gadis itu supaya tidak menyentuh rambutnya. Liam yang mendengar namanya disebut mempercepat langkah kakinya.

Entah bagaimana firasatnya mengatakan bahwa murid baru itu adalah orang yang dia kenal. Ketika cukup dekat, Liam memperhatikan wajah murid baru itu. Matanya melotot tak percaya saat melihat wajah cantik itu.

Wajah yang tidak bisa ia hilangkan dari ingatannya walau sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Liam bergegas menarik Ara agar gadis itu menjauh dari Aliesha.

"Lo apa-apaan sih, Ara?" Liam membentak Ara setelah gadis itu sudah cukup jauh dari Aliesha.

Tidak menunggu Ara membalas ucapannya, Liam dengan cepat membantu Aliesha berdiri.

"Aliesha, lo gak apa-apa kan? Gak ada yang luka kan?" tanya Liam khawatir.

Aliesha merapikan rambutnya yang lagi-lagi berantakan. Ia lalu menunjukkan senyum manis pada Liam.

"Gue baik-baik aja kok. Tuh, mantan lo. Urusin dulu gih. Liar banget kayak hewan," balasnya dengan wajah malas.

Liam menunduk. "Gue minta maaf. Kenapa lo gak bilang kalau lo bakal pindah sekolah ke sini sih? Kan gue jadinya bisa jagain lo dari tiga nenek lampir ini," katanya merasa bersalah karena belum sempat menceritakan tentang pembullyan di sekolah itu.

Aliesha berdacak. "Ck. Harusnya lo bilang aja walau gue gak nanya," ucapnya sewot.

Interaksi keduanya mendapatkan tatapan terkejut dari semua orang, terutama dua teman dekat Liam yang kini saling bertukar pandang.

"Tuh anak kenal sama murid baru?" ucap keduanya berbarengan.

"Lahh, pertanyaan kita sama," ucap keduanya lagi, tentunya secara bersamaan.

Abel yang shock melihat keduanya tampak akrab segera menarik tangan Liam untuk menarik perhatiannya.

"Lo kenal sama nih cewek? Sejak kapan?!"

Liam menautkan kedua alisnya, jelas sekali bahwa ia tidak menyukai sikap Abel. "Emang kalau gue kenal sama dia kenapa? Apa hubungannya sama lo?"

"Lo gak lihat tadi dia nampar gue? Gue ini sepupu lo anjir!" gerutu Abel kesal.

"Oh ya? Tapi, gue gak pernah tuh anggap lo sebagai sepupu gue," balas Liam ketus.

Abel mencebikkan bibirnya saat ia dengan keras mengepalkan tangannya. "Lihat aja lo. Gue bakal laporin lo ke Bunda!" ancamnya yang mengacu pada ibunya Liam.

"Laporin! Gue gak takut!"

Abel menatap Liam dan Aliesha dengan tatapan tajam. Gadis itu lalu berkata, "Cabut, guys!" Ia kemudian berjalan keluar dari kantin, diikuti oleh dua orang temannya.

"Lo beneran gak apa-apa kan?" tanya Liam lagi pada Aliesha.

Dhafin dan Xander yang sedari tadi menonton mendekati keduanya.

"Sejak kapan lo kenal sama murid baru, Yam?" tanya Dhafin kepo.

Liam mendengus. "Udah berapa kali gue bilang jangan panggil gue Yam?!"

"Btw, ini Aliesha. Cewek yang gue ceritain ke kalian waktu itu," lanjutnya.

"Oh, ini! Halo, Aliesha. Gue Dhafin, sahabat Liam. Kalau dia namanya Xander," ucap Dhafin memperkenalkan dirinya sendiri dan juga Xander.

"Hai," balas Aliesha singkat.

Keempat orang itu lantas duduk di meja yang Aliesha tempati tadi. Orang-orang yang ada di kantin sudah kembali sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing sejak Abel dan kawan-kawan pergi.

"Lo di kelas mana, Lis? Btw, gue panggil Lis aja gak apa-apa kan?" tanya Liam saat ia tersenyum malu.

Aliesha mengangguk. "Gak apa-apa. Gue dari kelas XI IPA 1. Lo?"

"Kalau kita sih udah kelas XII. Wahh, lo adek kelas kita nih." Dhafin mengedipkan sebelah matanya pada Aliesha.

Xander langsung memukul belakang kepala pria itu. "Jangan aneh-aneh, Dhaf. Liam jadi pengen bunuh lo tuh."

Dhafin menoleh. Pria itu bergidik melihat Liam menatapnya tajam. Pria itupun mulai cengengesan tidak jelas.

"Gue bercanda, Yam. Sumpah, gak bohong!" ucapnya dengan dua jari berbentuk huruf V.

Liam memilih mengabaikan Dhafin. Pria itu kembali menatap Aliesha.

"Lis, gue mau nanya sesuatu. Boleh gak?"

Aliesha mengangguk. "Boleh. Mau nanya apa?"

"Apa alasan lo pindah sekolah ke sini?"